said aqil 22

SOLO (voa-islam.com) – Jika analogi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj MA. bahwa cikal bakal pemahaman radikalisme yang merupakan embrio adanya kelompok Khawarij adalah rajin shalat malam, puasa sunah, dan hafal Al-Qur’an, maka tentu saja Said Aqil tidak termasuk dari kriteria tersebut.

Selain itu, jika pemahaman para teroris menginduk pada kelompok Khawarij menurut cara berfikir Said Aqil Siradj, bisa jadi Said Aqil malah tidak pernah shalat malam, puasa sunah, dan hafal Al-Qur’an. Karena jika dia melakukan ketiga amal ibadah tersebut, maka dirinya akan masuk dalam kategori Khawarij.

“Jika cara berpikir Said Aqil seperti itu, jangan-jangan dia malah tidak pernah shalat malam, puasa sunah, dan menghafal Al-Qur’an?,” kata Ustadz Abu Fati’ah Al-Adnani kepada voa-islam.com di Solo, Jawa Tengah pada Selasa (14/5/2013).

…Jika cara berpikir Said Aqil seperti itu, jangan-jangan dia malah tidak pernah shalat malam, puasa sunah, dan menghafal Al-Qur’an?…

Ustadz yang merupakan salah satu pengajar di Pondok Pesantren (Ponpes) Darusy Syahadah, Simo Boyolali, Jawa Tengah inipun heran dengan statemen “tolol” Said Aqil tersebut. Menurutnya, ketiga amal ibadah yang disebutkan oleh Said Aqil sebagai ciri-ciri Khawarij dan teroris adalah amalan yang tinggi nilainya disisi Allah dan akan mendapatkan pahala yang besar.

Ketiga amaliyah itu, kata Ustadz Abu Fatiah yang hidup dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU atau Nadliyin) dan Muhammadiyah ini, juga merupakan amal ibadah yang sering dilakukan oleh para santri dan ustadz yang hidup dan berada di sebuah pondok pesantren.

Tak hanya pondok pesantren berfaham keras dan radikal menurut perkataan Said Aqil Siradj, namun pondok-pondok pesantren yang berlatarbelakang Nahdliyin dan Muhammadiyah juga menerapkan ketiga amaliyah tersebut.

“Dimana nalar Sadi Aqil itu? Amal ibadah yang dia sebutkan itu (shalat malam, puasa sunah, dan menghafal Al-Qur’an -red) adalah amalan rutinitas di lingkungan ponpes baik yang berfaham radikal menurut dia, maupun ponpes yang berlatar belakang NU atau Muhammadiyah. Coba dech dicek, pasti amalan itu ada dilingkungan ponpes,” tanyanya penuh heran.

…Dimana nalar Sadi Aqil itu? Amal ibadah yang dia sebutkan itu (shalat malam, puasa sunah, dan menghafal Al-Qur’an -red) adalah amalan rutinitas di lingkungan ponpes baik yang berfaham radikal menurut dia, maupun ponpes yang berlatar belakang NU atau Muhammadiyah…

Untuk itu, penulis best seller buku-buku bertemakan akhir zaman ini menghimbau agar warga NU, khususnya para santri yang berada di ponpes berlatarbelakang NU dan para kyai sepuh dijajaran pengurus PBNU mengambil sikap tegas terhadap Said Aqil Siradj dengan celotehannya yang selalu menghina Islam dan umat Islam itu.

“Sudah saatnya para kyai sepuh dalam jajaran NU untuk mempertimbangkan kembali kapasitas dan posisi Said Aqil menjadi Ketum PBNU. Jangan sampai citra NU rusak gara-gara statemen Said Aqil yang sering berseberangan dengan karakter Islam,” himbaunya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Saiq Aqil Siradj mengatakan bahwa Cikal Bakal Teroris itu Rajin Shalat Malam, Puasa dan Hafal Qur’an. Hal ini dia sampaikan dalam “Dialog Ormas-Ormas Islam dalam Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang diselenggarakan oleh Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), di Sahid Hotel, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/5/2013). [Khalid Khalifah]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.506 kali, 1 untuk hari ini)