Siapakah Abdul Qadir Al-Jailani?

Tahukah anda siapa itu Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani? Ya, semua orang tahu siapa itu Abdul Qadir Jailani. Mulai dari anak-anak kecil sampai orang-orang tua pun tahu tentang Abdul Qadir Jailani, sampai para tukang becak pun tahu akan siapa tokoh ini. Sampai-sampai jika ada orang yang bernama Abdul Qadir, maka orang akan mudah menghafal namanya disebabkan namanya ada kesamaan dengan nama Abdul Qadir Jailani. Yang jelas, selama orangnya muslim, pasti tahu siapa itu Abdul Qadir Jailany. Ya minimal namanya.

Jika nama Abdul Qadir disebut atau didengarkan oleh sebagian orang, niscaya akan terbayang suatu hal berupa kesholehan, dan segala karomah, serta keajaiban yang dimiliki oleh beliau menurut mereka. Orang-orang tersebut akan membayangkan Abdul Qadir Jailani itu bisa terbang di atas udara, berjalan di atas laut tanpa menggunakan seseuatu apapun, mengatur cuaca, mengembalikan ruh ke jasad orang, mengeluarkan uang di balik jubahnya, menolong perahu yang akan tenggelam, menghidupkan orang mati dan lain sebagainya.

Apakah semua itu betul, ataukah semua itu hanyalah karangan dan kedustaan dari para qashshash (pendongeng) yang bodoh?

Berikut sedikit keterangan mengenai siapakah Abdul Qadir Al-Jailani. 

Nama lengkap beliau

Seorang ahli sejarah Islam, Ibnul Imad menyebutkan tentang nama dan masa hidup Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany: “Pada tahun 561 H hiduplah Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan bin Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailany”. (Lihat Syadzarat Adz-Dzahab (4/198) oleh Ibnul Imad Al-Hanbaly) 

Tempat kelahiran beliau

Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany adalah salah seorang ulama ahlusunnah yang berasal dari negeri Jailan. Kepada negeri inilah beliau dinasabkan sehingga disebut “Al-Jailany”, artinya seorang yang berasal dari negeri Jailan. Jailan merupakan nama bagi beberapa daerah yang terletak di belakang Negeri Thobaristan. Tidak ada satu kota pun terdapat di negeri Jailan kecuali ia hanya merupakan bentuk perkampungan yang terletak pada daerah tropis di sekitar pegunungan. (Lihat Mu’jam Al-Buldan (4/13-16) Oleh Abu Abdillah Yaqut bin Abdillah Al-Hamawy) 

Komentar para ulama tentang beliau

Para ulama memberikan pujian kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany termasuk orang yang berpegang-teguh dengan sunnah dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, Qodar, dan semisalnya, bersungguh-sungguh dalam membantah orang yang menyelisihi perkara tersebut. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany berkata dalam kitabnya Al-Ghun-yah yang masyhur: [Allah berada di bagian atas langit, bersemayam di atas Arsy, menguasai kerajaan, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, kepada-Nya lah naik kata-kata yang baik dan amalan sholeh diangkatnya. Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, lalu urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang sama dengan seribu tahun menurut perhitungan kalian.Tidak boleh Allah disifatkan bahwa Dia ada di segala tempat. Bahkan Dia di atas langit, di atas Arsy sebagaimana Allah berfirman, “Ar-Rahman (Allah) tinggi di atas Arsy”. 

Kitab Al-Ghun-yah di atas, judul lengkapnya adalah: “Ghun-yah Ath-Tholibin” sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud (3/300), dan Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7/430)  Imam Muwaffaquddin Ibnu Qudamah berkata, “Kami masuk Baghdad tahun 561 H. Ternyata Syaikh Abdul Qadir termasuk orang yang mencapai puncak kepemimpinan dalam ilmu, harta, fatwa dan amal disana. Penuntut ilmu tidak perlu lagi menuju kepada yang lainnya karena banyaknya ilmu, kesabaran terhadap penuntut ilmu, dan kelapangan dada pada diri beliau. Orangnya berpandangan jauh. Beliau telah mengumpulkan sifat-sifat yang bagus, dan keadaan yang agung. Saya tak melihat ada orang yang seperti beliau setelahnya.” (Lihat Dzail Thobaqot Hanabilah (1/293) karya Ibnu Rajab.)

Kehebatan-kehebatan yang dinisbatkan kepada beliau  Adapun khurafat yang biasa dinisbahkan kepada beliau sebagaimana yang telah kami sebutkan contohnya di atas, maka Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata: “Akan tetapi Al-Muqri’ Abul Hasan Asy-Syanthufi Al-Mishri telah mengumpulkan berita-berita, dan keistimewaan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany sebanyak tiga jilid. Ia telah menulis di dalamnya suatu musibah, dan cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta jika ia menceritakan segala yang ia dengar. …. Di dalamnya terdapat keanehan, malapetaka, pengakuan dusta, dan ucapan batil, yang tak bisa lagi dihitung. Semua itu tak bisa dinisbahkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany rahimahullah. Kemudian saya mendapatkan Al-Kamal Ja’far Al-Adfawy telah menyebutkan bahwa Asy-Syanthufi sendiri tertuduh dusta dalam berita yang ia riwayatkan dalam kitab ini.” (Lihat Dzail Thobaqot Hanabilah (1/293) karya Ibnu Rajab)

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: Mereka telah menyebutkan dari beliau (Abdul Qadir Al-Jailany) ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, pengungkapan urusan gaib, yang kebanyakannya adalah ghuluw (sikap berlebih-lebihan). Beliau orangnya sholeh dan wara’. Beliau telah menulis kitab Al-Ghun-yah, dan Futuh Al-Ghaib. Dalam kedua kitab ini terdapat beberapa perkara yang baik, dan ia juga menyebutkan di dalamnya hadits-hadits dha’if, dan palsu. Secara global, ia termasuk di antara pemimpin para masyayikh (orang-orang yang berilmu)”. (Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (12/252) oleh Ibnu Katsir)

Kesimpulannya:  Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah seorang ulama ahlussunnah wal jamaah, salafi. Mempunyai karya-karya ilmiah di antaranya kitab Al-Ghun-yah dalam masalah tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat, yang di dalamnya beliau menjelaskan tentang akidah ahlussunnah. Sebagian ulama belakangan menyebutkan bahwa memang beliau mempunyai beberapa karamah, hanya saja sebagian orang-orang jahil lagi ghuluw kepada beliau terlalu memperbesar-besar kejadiannya dan banyak menambah kisah-kisah palsu lagi dusta lalu menyandarkannya kepada beliau -rahimahullah-. Wallahu a’lam bishshawab

[Ringkasan dari muqaddimah tulisan Al-Ustadz Abu Faizah Abdul Qadir yang berjudul Biografi Abdul Qadir Al-Jailani Sebuah sosok yang dikultuskan ahli tasawwuf] Sumber: Al-atsariyyah.com

Akidah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Di sini akan disebutkan dengan ringkas apa yang menjadi akidah Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, berdasarkan keterangan yang terdapat di dalam kitab beliau al-Ghunyah dan yang lainnya.

Syaikh Jailani Mengikuti ‘Akidah Salaf

Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani seringkali menyatakan: “Akidah (keyakinan) kami adalah ‘akidah (kaum) Salafush Soleh dan akidah para Sahabat.” (Siyar A ‘lamin Nubala’, XX/442)

Imam Az-Zahabi berkata: “Tidak ada seorangpun para ulama terkemuka yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi”. (Siyar A’lamin Nubala XX/451).

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136:

“Aku telah mengenal pasti akidah beliau (Syaikh Abdul Qadir Al Jailani) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94). Maka aku mengetahui bahawa dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan akidah-akidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syiah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Zulkaidah 1415 H/ 8 April 1995 M.)

Beliau juga berkata dalam kitabnya Fat-hur Rabbani hal. 35 (majlis ke-10):
“Hendaklah kamu berittiba’ dan janganlah kamu berbuat bid’ah, dan hendaklah kamu juga mengikuti mazhab Salafush Soleh, berjalanlah kamu di jalan yang lurus.” (Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, hal. 76.)

Mengikuti Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Dalam kitabnya al-Ghunyah (1/80), beliau mengatakan:

“Wajib bagi setiap orang yang beriman untuk mengikuti (Ahlus) Sunnah wal Jamaah, yang dimaksud dengan Sunnah adalah Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan yang dimaksud dengan Jamaah adalah kesepakatan para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada masa Khulafaa-ur Rasyidin yang empat (Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallaahu ‘annum) -mudah-mudahan Allah merahmati mereka semua-.”

Kewajiban mengikuti akidah yang benar -yakni akidah Salafush Soleh-

Syaikh mengatakan di dalam kitabnya al Ghunyah hal. 455:

“Perkara yang diwajibkan atas setiap para pemula yang baru mengikuti tarekat (al-Qadiriyah) ini untuk memiliki akidah yang shahih. Dan hal itu merupakan dasar (yang harus dimiliki), dan akidah yang shahih itu adalah akidah Salafush Soleh. (Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, hal. 637.)

Tentang Iman

Beliau juga telah mengatakan di dalam kitab al-Ghunyah hal. 80:
“Kami meyakini bahawasanya iman itu adalah ucapan dengan lisan, meyakini dengan hati, dan amal perbuatan anggota badan, dan iman itu dapat bertambah dengan ketaatan serta dapat berkurang dengan perbuatan dosa dan maksiat, dan iman itu juga dapat menjadi kuat dengan ilmu, dan juga dapat melemah dengan kebodohan, dan hanya dengan taufik dari Allah Ta’ala iman itu akan terwujud.”

Untuk itulah maka kemudian Syaikh membawakan sebuah hadits sebagai dalil dalam masalah ini:
“Iman itu memiliki 70 cabang/tingkatan lebih, yang tertinggi dari cabang-cabang keimanan itu adalah dengan mengucapkan “laa ilaaha illallaah” (tidak ada ilah yang berhak untuk disembah dengan benar kecuali Allah) dan cabang/tingkatan terendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”

Syaikh Jailani membedakan antara Iman dan Islam

Beliau juga membezakan antara Iman dan Islam, di mana beliau menyatakan di dalam al-Ghunyah hal. 81:
“Adapun Islam, maka masuk ke dalam pengertian Iman, oleh kerana itu, setiap Iman itu pasti Islam, akan tetapi (tidak sebaliknya; yakni) tidak setiap Islam itu Iman.”

Sifat Istiwa’ (bersemayam di atas ‘Arsy)

Syaikh mengatakan di dalam al Ghunyah hal. 73:
“Wajib hukumnya untuk memutlakkan Sifat Istiwa’ (bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy) bagi Allah, tanpa takwil, dengan meyakini bahawa Zat Allah bersemayam di atas ‘Arsy, dan bukan dengan makna duduk dan mumarasah (kebiasaan), sebagaimana yang telah diucapkan oleh kaum Mujassimah (mereka yang telah mensifati Allah dengan jism/tubuh.) dan Karamiyah, dan juga bukan dengan makna ketinggian Martabat (‘uluw war rifah) sebagaimana yang difahami oleh kaum Asyariah, dan juga bukan dengan makna istila’ (penguasaan) dan ghalabah (mengalahkan yang lain), sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Muktazilah, kerana tidak ada dalil yang menunjukkan kepada semua arti tersebut. Dan juga tidak pernah dinukil dari keterangan para Sahabat dan Tabi’in dari kalangan Salafush Soleh, dari para ulama Ash-habul Hadits, bahkan sebaliknya bahwa yang telah dinukil keterangannya dari Salafush Soleh dan para ulama Hadits itu adalah bahawa mereka memahami ayat-ayat dan hadits-hadits Sifat secara mutlak (apa adanya, tanpa takwil dan ta’thil).”

Kemudian pada hal. 73, beliau berkata:
Keterangan yang menyebutkan bahawa Allah bersemayam di atas Arsy-Nya itu juga telah disebutkan di dalam setiap Kitab yang pernah Allah Turunkan kepada setiap Nabi yang pernah diutus (ke muka bumi ini), tanpa disebutkan tentang kaifiah (hakikat bentuk)nya, kerana Allah akan tetap memiliki Sifat ketinggian (‘uluw) dan kemampuan (qudrah), dan Allah juga memiliki Sifat menguasai dan mengalahkan (ghalabah) atas setiap hamba-hamba-Nya, seperti: Arsy dan yang lainnya dari makhluk ciptaan Allah. Akan tetapi Sifat istiwa’ itu tidak boleh untuk diartikan dengan menguasai (istaiilaf) dan mengalahkan (ghalabah), kerana Sifat istiwa’ (bersemayamnya) Allah di atas ‘Arsy itu merupakan Sifat Zatiah (Yang dimaksud dengan “Sifat Zatiyah” adalah sifat yang selalu ada dan akan terus ada pada Allah, dan tidak mungkin berpisah dari-Nya.) bagi Allah, sebagaimana Allah telah mengkhabarkan sendiri tentang hal itu (di dalam Al-Qur’an) kemudian Allah memperjelas lagi hal ini di dalam 7 ayat yang terdapat di dalam Al-Qur-an. (Tujuh tempat tersebut dalam Al-Qur-an adalah al-A’raaf: 54, Yunus: 3, ar-Ra’d: 2, Thaha: 5, al-Furqaan: 59, as-Sajadah: 4, dan al-Hadid: 4) begitu juga (telah diterangkan oleh Rasul-Nya) di dalam Sunnah beliau yang datang dari beliau shallallaahu ‘alailu wa sallam, dan Sifat ini adalah Sifat yang terus-menerus ada dan sesuai bagi Allah ‘Azza wa Jalla, seperti halnya dengan Sifat Tangan, Wajah, Mata, Pendengaran, Penglihatan, Hidup dan al-Qudrah (Kemampuan).”

Sifat Ketinggian (al ‘Uluw)

Syaikh mengatakan di dalam al Ghunyah hal. 71:
“Allah berada di atas, bersemayam di atas ‘Arsy, menjaga dan memelihara kerajaan, Yang Ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, (dimana Allah Ta’ala telah berfirman:) “Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” [Fathir (35): 10], (dan Allah ‘Azza wa Jalla juga telah berfirman:) “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”[QS. As-Sajadah (32): 5].”

Beliau juga mengatakan di dalam al Ghunyah hal. 72:
“Arsy Allah Yang Maha rahman berada di atas air, dan Allah Ta’ala berada (bersemayam) di atas ‘Arsy.”

Beliau juga mengatakan di dalam al Ghunyah hal. 106:
“Kecuali apa yang telah kami sebutkan bahawasanya (Allah Bersemayam) di atas ‘Arsy.”

Beliau juga mengatakan di dalam kitabnya Tuhfatul Muttaqin wa Subulul ‘Arifin:
“Dan Dzat Allah bersemayam di atas ‘Arsy, sedangkan Ilmu-Nya mengawasi di setiap tempat.” (Lihat Ijtima’ul Juyusyal-lslamiyyah hal. 79, karya Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-jauziyyah.)

Syaikh melarang kita menyatakan bahwa Allah berada di mana-mana

Di dalam kitabnya al Ghunyah hal. 72, beliau mengatakan:
“Allah (bersemayam di atas ‘Arsy-Nya) terpisah dari Hamba-hamba-Nya, akan tetapi Ilmu Allah itu meliputi setiap tempat, dan tidak diperbolehkan (sama sekali) mensifati Allah bahwa Dia berada di setiap tempat, akan tetapi wajib untuk dikatakan bahawa Allah berada di atas langit (bersemayam) di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana Allah telah berfirman: “Rabb Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaha (20): 5].”

Kursi Allah

Syaikh mengatakan di dalam al Ghunyah hal. 72:
“Kursi Allah itu berada di sisi ‘Arsy-Nya, (yang mana Kursi Allah itu diumpamakan) seperti sebuah gelang yang dilempar di tengah tanah lapang yang luas.”

Sifat Jari-jemari Allah

Syaikh mengatakan di dalam al Ghunyah hal. 72:
“Hati-hati manusia itu berada di antara genggaman kedua jari dari jari-jemari Allah, yang mana Allah membolak-balikkan hati-hati itu ke mana saja Dia Kehendaki.”

[Sumber: Kutipan dari kajian Ustadz Rasul Dahri tentang “Akidah Syaikh Bdul Qadir Jailani”]

Kajian Akidah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Oleh Al-Ustadz Rasul Dahri

Kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani

Syaikh Abdul Qadir al Jailani merupakan tokoh sufi paling masyhur di Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyah ini lebih dikenal masyarakat lewat cerita-cerita karamahnya dibandingkan ajaran spiritualnya. Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran karamahnya, Biografi (manaqib) tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban. Seharusnya bagi pencari kebenaran dan penuntut ilmu adalah “wajib” membaca buku-buku yang beliau tulis sendiridisamping membaca manaqib yang ditulis oleh orang lain.

Buku-buku yang beliau tulis antara lain:

  1. Al Ghunyah Li thalibi Al Haq Azza wa Jalla.
  2. Futuh Al Ghaib.
  3. Al Fath Ar Rabbani wa Al Faidh ar-Rahman.

Kitab-kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani yang banyak beredar di Indonesia, pada umumnya disusun oleh penulis-penulis Indonesia yang maraji’nya (sumber pengambilan) dari kitab-kitab berbahasa Arab yang antara lain, seperti Tafrijul Khathir, Muzkin Nufus, Lujainid-Dani.

Buku-buku tentang BARJANZI versi Indonesia antara lain:

  1. Madarij Al-Su’ud ila Iktisah Al-Burud – Muhammad Nawawi Bin Umar Al-Jawi Al Bantani. Berbagai Terbitan.
  2. Sabil Al-Munji (berbahasa Jawa)- Abu Ahmad Abd Al-Hamid Al-Qandali (Kendal)
  3. Nur Al-Lail Al-Duji wa Miftah Bab Al-Yasar (berbahasa Jawa) – Hasan Al-Attas- Pekalongan.
  4. Munyah Al-Martaji fi Tarjamah Maulid Al Barjanzi (berbahasa Jawa) – Asrari Ahmad- Wonosari Tempuran.
  5. Al Qaul Al-Munji Ala Ma’ani Al Barjanzi (berbahasa Jawa) – Sa’ad Bin Nashir bin Nabhan. Surabaya
  6. Badr Al-Daji Fi Tarjamah Maulid Al-Barjanzi (berbahasa Indonesia) –M. Mizan Asrari Zain Muhammad (Sidawaya, Rembang).

Di bawah ini buku-buku Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani (asal terjemahan dari- Lujjain Al-Dani. Penulis, Ja’far Ibn Hasan Ibn ‘Abd Al-Karim Ibn Muhammmad (1690-1764) beliau juga menulis buku Al-Iqd Al Jawahir (al-Barjanzi) dan Qishshah Al-Mi’raj); di terbitkan di Indonesia dengan berbagai versi:

  1. Jauhar Al-Asnani ‘Ala Al-Lujjain Al-Dani Fi Manaqib Abd Al Qadir – Abu Ahmad Abd Al Hamid Al-Qandali (Kendal) : Semarang , Al Munawwir.
  2. Al-Nur Al Burhani Fi Tarjamah Al Lujjain Al-Dani – Muslih Bin Abd Al Rahman Al Maraqi (Mranggen) : Semarang, Toha Putra.
  3. Lubab Al Ma’ani Fi Tarjamah Lujjain Al-Dani –Abu Muhammad Salih Mustamir Al Hajaini (Kajen) : Kudus, Menara.
  4. Al Nur Al-Amani Fi Tarjamah Al Lujjain Al-Dani – M.Mizan Asrari Zain Muhammad (Sidawaya Rembang) ; Terbitan sendiri.
  5. Khulashah Al Manaqib Li- Al-Syaikh ‘Abd Al-Qadir ‘Abd Al Qadir Al-Jilani – Asrari Ahmad (Wonosari, Tempuran) Surabaya, ‘ Istiqomah.
  6. Wawacan Kangjeng Syaikh ‘Abd Al-Qadir Jilani R.A (berbahasa Sunda) Bandung, Sindangdjaja.
  7. Manaqib Syeikh Abdulqadir Jailani Radhiyallahu Anhu (berbahasa Arab dan Indonesia) –Abdallah Shonhaji. Semarang, Al-Munawir.
  8. Lubabul Ma’ani – Abi Shaleh Mustamir (Juana, Jawa Tengah)
  9. Miftahul Babil Amani -Moh. Hambali. (Semarang, Jawa Tengah)
  10. An Nurul Burhani – A. Lutfi Hakim dkk (Semarang, Jawa Tengah)
  11. Nailul Amani – A.Subhi Masyhadi. (Pekalongan, Jawa Tengah)

Koreksi Terhadap Kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani

Dalam kitab Manaqib tersebut tertulis:

– Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah duduk selama 30 tahun dengan tidak bergeser dari tempatnya karena ketaatannya kepada nabi Khidir.

Pada waktu pertama kali masuk Irak, Syaikh Abdul Qadir Jailani ditemani Khidir, dan Syaikh belum pernah mengenalnya sebelum itu. Kemudian Khidir memberikan isyarat kepadanya agar ia tidak disalahi dan kalau sampai hal itu terjadi maka akan menjadi sebab perpisahan antara keduanya. Maka berkatalah Khidir kepadanya : Duduklah di sini ! Maka beliaupun duduk ditempat yang ditunjuk oleh Khidir itu selama tiga tahun, yang selalu dikunjunginya setiap setahun sekali dan katanya lagi: Janganlah engkau bergeser dari tempat itu sampai aku datang [Lubabul Ma’ani hal. 20]

Bantahan :
Cerita ini terlalu mengada-ada. Duduk selama 3 tahun tanpa beranjak / bergeser dari tempat duduknya adalah mustahil. Bagaimana Syaikh Abdul Qadir Jailani mengambil air wudhu, Shalat Jum’at dan Shalat ‘Id?

– Diceritakan juga bahwa Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah bermimpi junub sebanyak 40 kali dalam waktu semalam. [Lubabul ma’ani, hal. 20-21]

Bantahan :
Kebohongan yang luar biasa, cukupkah waktu untuk 40 kali tidur, 40 kali bermimpi bersetubuh dan 40 kali mandi janabat? 

– 100 ulama merobek-robek baju sendiri [Lubabul Ma’ani, hal. 23-24] 

Bantahan : 
Sungguh tidak masuk akal dan tidak pernah terbayang dalam angan-angan orang yang normal akalnya bahwa seorang yang saleh dan ulama yang ikhlas seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani sampai hati melihat para ‘aimmah merobek-robek pakainnya dan bertingkah polah seperti orang yang tidak waras. 

– Di antara kekeramatan Syaikh Abdul Qadir Jailani, bahwa seekor burung Elang yang terbang di atas majlis syaikh, dimohon kepada angin agar dipenggal leher burung tersebut, maka putuslah leher burung Elang tersebut. [Lubabul Ma’ani, hal. 59]

Bantahan :
Burung adalah binatang yang tidak dibekali akal seperti manusia dan tidak dibebani tata tertib hidup serta tidak terikat dengan berbagai aturan sesamanya. Ia terbang mengikuti naluri hayawani tanpa memperdulikan apakah ada makhluk lain yang terganggu olehnya. Maka alangkah teganya hati Syaikh Abdul Qadir Jailani untuk membunuh burung Elang tersebut.

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (QS. Al Mulk : 19)

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. An Nur : 41) 

– Diantara kekeramatan lainnya. Matinya seorang pelayan karena sorotan mata Syaikh Abdul Qadir Jailani karena kesalahannya tidak sudi meletakkan kendi kearah kiblat. [Lubabul ma’ani, hal. 58-59]

Bantahan : 
Peristiwa kesalahan yang tidak patal sehingga membuat Syaikh Abdul Qadir Jailani untuk membunuh, apakah mungkin dilakukan bagi seorang syaikh yang berakhlaq mulia? 

– Syaikh Abdul Qadir Jailani meramal nasib [Lubabul Ma’ani, hal. 59-64]

Bantahan :
Mirip Mama Lauren aja. 

– Syaikh Abdul Qadir Jailani menjamin para muridnya masuk surga [Lubabul Ma’ani, hal. 80-81] 

Bantahan :
Lebih hebat daripada Rasulullah 

– Syaikh Abdul Qadir Jailani mengejar Malaikat Maut untuk membatalkan kematian salah seorang muridnya, sehingga Malaikat Maut mengembalikan lagi ruh yang sudah dicabut tadi. [Dikutip dari Tafsir al manar, Rasyid Juz XI hal. 423, oleh HAS. Al Hamdani dalam bukunya Sorotan terhadap Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani] 

Bantahan : ???? 

– Syaikh Abdul Qadir Jailani mendapat sepucuk surat dari Allah. [Lubabul ma’ani, hal. 89] 

Bantahan : ??? Sungguh dusta dinisbatkan kepada beliau, kalimat-kalimat kekufuran!!

Catatan : Mohon diperhatikan agar tidak salah menanggapi artikel ini, bahwa keterangan-keterangan seperti tersebut di atas tidak dijumpai dalam kitab-kitab yang ditulis oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani sendiri.Beliau orang yang sangat mulia, rendah hati dan mempunyai aqidah yang bersih dan lurus insyAllah. Untuk lebih jelasnya silahkan membaca “Buku Putih Syaikh Abdul Qadir Al Jailani” oleh Dr. Said bin Musfir Al Qahthani, Penerbit Darul Falah.

[Sumber: Hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com]

Kesabaran Syaikh Abdul Qaidr Al-Jailani dalam Menuntut Ilmu 

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah Mengais Sisa-sisa Makanan Karena Lapar

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata dalam kitabnya Dzailu Thabaqatil Hanabilah,I:298, tentang  biografi Imam Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah (wafat tahun 561 H.), “Syaikh Abdul Qadir berkata, “Aku memunguti selada, sisa-sisa sayuran dan daun carob dari tepi kali dan sungai. Kesulitan yang menimpaku karena melambungnya harga yang terjadi di Baghdad membuatku tidak makan selama berhari-hari. Aku hanya bisa memunguti sisa-sisa makanan yang terbuang untukku makan.

Suatu hari, karena saking laparnya, aku pergi ke sungai dengan harapan mendapatkan daun carob, sayuran, atau selainnya yang bisa ku makan. Tidaklah aku mendatangi suatu tempat melainkan ada orang lain yang telah mendahuluinya. Ketika aku mendapatkannya, maka aku melihat orang-orang miskin itu memperebutkannya. Maka, aku pun membiarkannya, karena mereka lebih membutuhkan.

Aku pulang dan berjalan di tengah kota. Tidaklah aku melihat sisa makanan yang terbuang, melainkan ada yang mendahuluiku mengambilnya. Hingga, aku tiba di Masjid Yasin di pasar minyak wangi di Baghdad. Aku benar-benar kelelahan dan tidak mampu menahan tubuhku. Aku masuk masjid dan duduk di salah satu sudut masjid. Hampir saja aku menemui kematian. Tib-tiba ada seorang pemuda non Arab masuk ke masjid. Ia membawa roti dan daging panggang. Ia duduk untuk makan. Setiap kali ia mengangkat tangannya untuk menyuapkan makanan ke mulutnya, maka mulutku ikut terbuka, karena aku benar-benar lapar. Sampai-sampai, aku mengingkari hal itu atas diriku. Aku bergumam, “Apa ini?” aku kembali bergumam, “Disini hanya ada Allah atau kematian yang telah Dia tetapkan.”

Tiba-tiba pemuda itu menoleh kepadaku, seraya berkata, “Bismillah, makanlah wahai saudaraku.” Aku menolak. Ia bersumpah untuk memberikannya kepadaku. Namun, jiwaku segera berbisik untuk tidak menurutinya. Pemuda itu bersumpah lagi. Akhirnya, akupun mengiyakannya. Aku makan dengan tidak nyaman. Ia mulai bertanya kepadaku, “Apa pekerjaanmu? Dari mana kamu berasal? Apa julukanmu?” Aku menjawab, “Aku orang yang tengah mempelajari fiqih yang berasal dari Jailan bernama Abdul Qadir. Ia dikenal sebagai cucu Abdillah Ash-Shauma ‘I Az-Zahid?” Aku berkata, “Akulah orangnya.”

Pemuda itu gemetar dan wajahnya sontak berubah. Ia berkata, “Demi Allah, aku tiba di Baghdad, sedangkan aku hanya membawa nafkah yang tersisa milikku. Aku bertanya tentang dirimu, tetapi tidak ada yang menunjukkanku kepadamu. Bekalku habis. Selama tiga hari ini aku tidak mempunyai uang untuk makan, selain uang milikmu yang ada padaku. Bangkai telah halal bagiku (karena darurat). Maka, aku mengambil barang titipanmu, berupa roti dan daging panggang ini. Sekarang, makanlah dengan tenang. Karena, ia adalah milikmu. Aku sekarang adalah tamumu, yang sebelumnya kamu adalah tamuku.”

Aku berkata kepadanya, “Bagaimana ceritanya?” Ia menjawab, “Ibumu telah menitipkan kepadaku uang 8 dinar untukmu. Aku menggunakannya karena terpaksa. Aku meminta maaf kepadamu.” Aku menenangkan dan menenteramkan hatinya. Aku memberikan sisa makanan dan sedikit uang sebagai bekal. Ia menerima dan pergi.” 

[Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah,  Zam-Zam Mata Air Ilmu, 2008. Judul asli: Shafahat min Shabril ‘Ulama’, Syaikh Abdul Fatah, Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah cet. 1394 H./1974 M.] Sumber:www.KisahMuslim.com

Wasiat Emas Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah, (bernama lengkap Muhyi al Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Al-Jailani). Lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M kota Baghdad sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata al Jailani atau al Kailani. Biografi beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab al Hambali.

Beberapa Nasehat Beliau untuk Ittiba’ Kepada Sunnah dan Menjauhi Bid’ah

“Janganlah berbuat bid’ah dan sesuatu yang baru dalam agama Allah. Ikutilah para saksi yang adil berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah karena keduanya akan mengantarkanmu kepada Tuhanmu ‘Azza wa Jalla. Jika kamu berbuat bid’ah, saksimu adalah akal dan hawa nafsumu sendiri. Keduanya akan mengantarkanmu kepada neraka dan mempertautkanmu dengan Fir’aun, Haman, beserta bala tentaranya. Jangan engkau berhujah dengan qadr, karena itu tidak akan diterima darimu. Engkau harus masuk Darul Ilmi dan belajar, beramal, lalu ikhlas”. (Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Al Fath Ar Rabbani, al Majlis 47) 

“Ber-ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah. Patuhilah dan janganlah membangkang. Bersabarlah dan jangan khawatir. Tunggulah dan jangan berputus asa”. (Al Sya’rani, al Thabaqat al Kubra hal. 129) 

“Hendaklah kalian ber-ittiba’ dan tidak berbuat bid’ah. Hendaklah kalian bermazhab kepada Salafus Shalih. Berjalanlah pada jalan yang lurus”. (Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Al Fath Ar Rabbani, al Majlis 4)

“Ikutilah sunnah Rasul dengan penuh keimanan, jangan membuat bid’ah, patuhlah selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar, junjung tinggi tauhid dan jangan menyekutukan Dia”. (Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam FUTUH GHAIB risalah 2).

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata; Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa berbuat sesuatu yangtidak kami perintahkan, maka perbuatnnya tertolak. Hal ini meliputi kehidupan, kata dan perilaku. Hanya Nabilah yang dapat kita ikuti, dan hanya berdasarkan al Qur’anlah kita berbuat. Maka jangan menyimpang dari keduanya ini, agar engkau tidak binasa, dan agar hawa nafsu serta setan tidak menyesatkanmu”. (Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam FUTUH GHAIB risalah 36).

[Sumber: Hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com]

Nasehat Syaikh Abdul Qadir al Jailani

Dimana Syukurmu?

Syaikh Abdul Qodir al Jailani rahimahullah berkata: Tidak baik bagimu jika engkau kagum dengan amal-amalmu, engkau bangga dengan dirimu sendiri, dan meminta imbalan dari setiap amal yang engkau lakukan. Padahal.. Engkau bisa beramal karena taufik dari Allah, pertolongan, kekuatan, kehendak dan karunia-Nya. Jika engkau bisa menjauh dari maksiat, maka itupun terjadi karena perlindungan, penjagaan dan pengayoman-Nya. Dimana dirimu dari sikap bersyukur, mengapa engkau tidak mengakui nikmat-nikmat yang diguyurkan kepadamu? [Lihat kitab Futuhul Ghaib]

[Dikutip dari buku ‘Nasehat Syaikh Abdul Qadir Jailani, Oleh: Syaikh Shalih Ahmad Syami] 

Gambaran Tawadhu’

Syaikh Abdul Qodir al Jailani rahimahullah menggambarkan tentang TAWADHU’:

Yaitu seseorang tidak berjumpa dengan yang lain kecuali ia berpandangan bahwa orang itu memiliki kebaikan atas dirinya, dan ia berkata: “Semoga ia lebih baik di sisi Allah dariku dan menganugerahkan kepadanya derajat yang tinggi.”

Jika ia lebih muda darinya, ia berkata: “Ia belum bermaksiat kepada Allah, sementara aku sudah banyak bermaksiat, tidak diragukan lagi ia lebih baik dariku.”

Jika ia lebih tua darinya, ia berkata: “Ia telah lebih dulu beribadah kepada Allah dariku.”

Jika ia lebih berilmu darinya, ia berkata: “Ia telah diberikan apa yang aku belum sampai kepadanya, ia telah memperoleh apa yang belum aku peroleh, ia seorang alim tapi aku seorang yang jahil, ia beramal dengan ilmunya.”

Jika ia lebih jahil darinya, ia berkata: “Ia bermaksiat kepada Allah karena kejahilannya, sementara aku bermaksiat kepada  Allah padahal aku berilmu, aku tidak tahu pasti dengan cara bagaimana Allah menutup hidupku. Serta dengan cara bagaimana Allah menutup hidupnya.”

Bila ia seorang hamba, ia berdoa: “Semoga Allah menghindarkan dirinya dari kesesatan.” [Lihat kitab Futuhul Ghaib]

[Dikutip dari buku ‘Nasehat Syaikh Abdul Qadir Jailani, Oleh: Syaikh Shalih Ahmad Syami]

Obat Kekerasan Hati

Syaikh Abdul Qodir al Jailani rahimahullah berkata:

Rendahkanlah hatimu dengan berdzikir.

Ingatlah Dia ketika datangnya Hari Kebangkitan.

Pikirkanlah nasibmu di alam kubur.

Pikirkanlah bagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menghimpun manusia di padang Mahsyar, dan mereka berdiri di hadapan-Nya. Jika engkau memikirkan hal ini maka kekerasan hatimu akan hilang, ia akan menjadi lembut dan suci.

[al Fathu Rabbani wal Faidhu Rahmani]
[Dikutip dari buku ‘Nasehat Syaikh Abdul Qadir Jailani, Oleh: Syaikh Shalih Ahmad Syami]

Menjalani Sebab

Syaikh Abdul Qodir al Jailani berkata:
“Rasakanlah pahitnya obat, dan berdirilah di depan pintu pekerjaan untuk memasukinya, sehingga engkau dapat bersungguh-sungguh dengannya.

Jangan sekali-kali hanya duduk di atas tempat pembaringan, atau tidur di balik selimut, atau bersembunyi di balik pintu kemudian engkau meminta pekerjaan. Itu suatu hal yang mustahil. [al Fathu Rabbani wal Faidhu Rahmani]

[Dikutip dari buku ‘Nasehat Syaikh Abdul Qadir Jailani, Oleh: Syaikh Shalih Ahmad Syami]

Berempatilah Kepada Kaum Fakir

Syaikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah berkata:

Berempatilah dengan kaum fakir dengan harta yang kalian miliki, jangan sekali-kali menolak dengan terang-terangan seorang yang sangat membutuhkan padahal kalian sanggup memberi, baik sedikit maupun banyak.

Perhatikanlah dengan seksama bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang senang memberi.

Bersyukurlah, karena Allah telah menganugerahkan kepada kalian untuk memberi dan berempati.

Celaka engkau, orang-orang butuh yang mengharapkan empatimu adalah hadiah Allah kepada, bagaimana mungkin engkau menolak hadiah itu, sementara engkau sanggup memberi sesuatu kepadanya.[*]

Dihadapanku engkau mendengar petuahku lalu menangis. Tapi, jika seorang fakir datang mengharapkan bantuanmu, hatimu tiba-tiba menjadi keras, itu artinya pendengaran dan tangisanmu belum bisa dikatakan ikhlas dihadapan Allah ‘Azza wa Jalla. [al Fathu Rabbani wal Faidhu Rahmani]

______

[*] Zainal Abidin apabila seorang peminta-minta datang kepadanya, beliau berkata kepadanya, “Selamat datang wahai saudaraku, engkau telah datang membawa bekal untuk akhirat kami.
[Dikutip dari buku Nasehat Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Shalih Ahmad Syami, Penerbit Tazkia]

Tanda-Tanda Ikhlas

Syaikh Abdul Qodir al Jailani rahimahullah berkata:

“Tanda-tanda keikhlasanmu adalah engkau tidak peduli dengan sanjungan makhluk dan tidak menoleh kepada cacian mereka, engkau tidak berambisi memperoleh apa yang berada di tangan mereka.” [al Fathu Rabbani wal Faidhu Rahmani]

[Dikutip dari buku Nasehat Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Shalih Ahmad Syami, Penerbit Tazkia]

Dengarkan Nasihat

Biasakanlah mendengarkan nasihat kebaikan, karena sesungguhnya hati jika terlampau lama tidak mendengar nasihat, ia akan menjadi berkarat dan buta.

Jangan memandang enteng ungkapan penuh hikmah yang keluar dari mulut para ulama, karena ia merupakan intisari dan buah dari wahyu Allah ‘Azza wa Jalla. [al Fathu Rabbani wal Faidhu Rahmani]

[Dikutip dari buku ‘Nasehat Syaikh Abdul Qadir Jailani, Oleh: Syaikh Shalih Ahmad Syami]

Berserah Diri Kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Syaikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah berkata:

“Berpaling dari Allah pada saat ketetapan-Nya turun adalah kematian agama, kematian tauhid, kematian tawakkal, dan kematian keikhlasan. Hati seorang Mukmin tidak mengenal kata, ‘Mengapa’ atau ‘Bagaimana’. [al Fathu Rabbani wal Faidhu Rahmani]

[Dikutip dari buku ‘Nasehat Syaikh Abdul Qadir Jailani, Oleh: Syaikh Shalih Ahmad Syami]

Sumber: Kisahislam.net/faisalchoir.blogspot.co.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 13.726 kali, 1 untuk hari ini)