Aqidah Syiah: Beberapa Contoh Pilar Agama Syiah (Syirik, Taqiyyah, Mut’ah)

 


 

 

*Bismillaahirrohmannirrohiem*

 

Rasululloh ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam bersabda ;

 

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا اْلأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَـا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ.

 

” Sesungguhnya akan datang kepada manusia masa-masa penuh dengan kepalsuan,

pada masa itu pendusta dibenarkan dan orang benar didustakan,

pengkhianat diamanahi dan orang yang amanah dianggap pengkhianat.

Dan pada masa itu para Ruwaibidhah berbicara”. Beliau ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam ditanya, “Apa itu Ruwaibidhah? ;Jawab beliau ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam, “Orang bodoh berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” [Musnad Imam Ahmad (XV/37-38), syarh dan ta’liq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya hasan, dan matannya shahih.”]

Sudah merupakan sunnatullah yang berlaku pada sekalian manusia,

bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menimpakan cobaan kepada mereka

dengan adanya kebenaran dan kebatilan, pembela-pembela kebenaran

di satu kubu dan pengekor kesesatan pada kubu yang lain, agar tampak

dengannya siapa dari mereka orang-orang yang sabar dan istiqomah di atas jalan-Nya.

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ 

 

” Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.

Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).

Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (Qs. Al Anbiya’: 35) 

 

 

*Dasar ajaran Syi’ah adalah kesyirikan*

 

Telah maklum diketahui bahwa Islam dibangun di atas tauhid,

penghambaan total kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala semata, dan menolak segala bentuk

kesyirikan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, Alloh Ta’ala berfirman ;

 

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ 

 

” Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya

dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat;

dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Qs. Al Bayyinah: 5).

 

Adapun yang menjadi dasar ajaran Syi’ah Imamiyah adalah kesyirikan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala,

penghambaan kepada kuburan-kuburan dalam bentuk tawassul atau meminta-minta kepada selain

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Padahal Alloh Subhanahu Wa Ta’ala telah menerangkan di dalam Al Qur’an bahwa perbuatan meminta sesuatu kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dengan perantara orang-orang shalih yang telah meninggal, para wali yang telh wafat atau kuburan adalah kesyirikan kepada-Nya. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman ;

 

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللّهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ 

 

” Dan mereka menyembah selain daripada Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Alloh”. Katakanlah:”Apakah kamu mengabarkan kepada Alloh apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi” Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Qs. Yunus: 18) 

 

Kesesatan Syi’ah Dalam Bertaqiyah ;

 

Seseorang belumlah dikatakan mengenal hakekat Syi’ah Rafidhah dengan sebenar-benarnya bila belum mengetahui hakekat taqiyyah disisi mereka. Padahal dengan taqiyyah inilah, mereka berhasil mengelabui sekian banyak kaum muslimin, maka janganlah kita tercengang kalau mendengar atau membaca sedemikian ragam tanggapan positif sebagian kaum muslimin terhadap mereka seperti, perkataan mereka:

Para penganut Syi’ah Rafidhah merupakan bagian dari kaum muslimin,

Negara Iran yang resmi berasaskan aqidah Syi’ah Ja’fariyah (bagian dari sekte Syi’ah Rafidhah) adalah negara Islam, Khomeini merupakan tokoh revolusi Islam Iran, gagasan untuk diadakan taqrib (persatuan pandangan) antara Syi’ah dan Sunni (Ahlus Sunnah), anggapan bahwa aqidah Syi’ah Rafidhah yang menyatakan bahwa para sahabat Nabi telah kafir, Al Qur’an telah mengalami perubahan hanyalah sekedar tuduhan Ahlus Sunnah semata.

 

 

Definisi Taqiyyah ;

Taqiyyah menurut etimologi bahasa Arab bermakna:

Menyembunyikan dan menjaga. (Lisanul Arab 15/401 dan Al Qamus Al Muhith hal. 1731)

 

Sedangkan secara terminologi syariat, taqiyyah memiliki arti:

Menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya ditengah-tengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan dan hartanya dari kejahatan mereka. (Disarikan dari Atsarut Tasyayyu’ hal 33 – 34)

 

Taqiyyah Menurut Tinjauan Syariat Islam

 

Islam sebagai agama yang sempurna dan penuh rahmat telah mengatur hubungan penganutnya dengan orang-orang kafir yang zhalim dan menguasai kehidupan keagamaan kaum muslimin. Pada saat yang sama, Islam juga sangat memperhatikan kelangsungan hidup para pemeluknya.

 

Dalam rangka mencapai dua keadaan itu, Islam memberikan salah satu solusi kepada umatnya berupa taqiyyah berdasarkan bimbingan dalil-dalil syar’i. Di dalam dalil–dalil tersebut terdapat kriteria-kriteria yang membolehkan seorang muslim melakukan taqiyyah.

 

Kriteria-kriteria tersebut adalah:

 

1. Dia tidak mampu melakukan hijrah syar’i dari negeri orang kafir yang dia tinggal di dalamnya, karena alasan (udzur) yang syar’i pula. (An Nisaa’: 97-98)

 

2. Taqiyyah dilakukan dihadapan orang-orang kafir. (Ali Imran: 28)

3. Taqiyyah ditempuh karena dia benar-benar dalam keadaan dipaksa untuk mengucapkan atau mengerjakan kekufuran. (An Nahl: 106)

4. Bersamaan itu, dia benar-benar merasa ketakutan dari kejahatan orang-orang kafir. (Ali Imran: 28)

5. Walaupun demikian, hatinya tetap tenang dan kokoh diatas keimanan. (An Nahl: 106)

 

*Taqiyyah Menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah*

 

Atas dasar riwayat-riwayat batil yang ada pada mereka, maka dapat dipastikan bahwa mereka telah berbuat 3 kesalahan fatal:

 

A. Definisi Taqiyyah Yang Bertentangan Dengan Definisi Taqiyyah Secara Syar’i.

 

Di dalam Al Kasykul 1/202 karya Yusuf Al Bahrani mengatakan:

 

” Yang dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kesamaan dengan keyakinan agama orang-orang yang menyelisihi mereka karena adanya rasa takut”.

 

Al Kulaini meriwayatkan -dengan dusta- dari Abu Ja’far, beliau berkata:

 

” Berkumpullah dengan mereka (orang-orang yang menyelisihi Syi’ah Rafidhah -red) secara dhahir namun selisihilah mereka secara batin”.

 

Al Khomeini di dalam Kasyful Asrar hal. 147 mendefinisikan makna taqiyyah: “Seseorang yang mengucapkan atau mengamalkan sesuatu, berbeda dengan kenyataan (hatinya) yang membatalkan timbangan-timbangan syariat …”.

 

Tampak dari ucapan-ucapan mereka bahwa definisi taqiyyah menurut Syi’ah Rafidhah:

 

1. Tidak membedakan apakah taqiyyah mereka amalkan dihadapan kaum muslimin atau orang-orang kafir.

Lalu apa bedanya mereka dengan orang-orang munafik di jaman Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wassallam ?!.

 

2. Apa yang mereka sembunyikan bukanlah keimanan namun justru kekufuran tatkala berkumpul dengan kaum muslimin.

 

3. Taqiyyah mereka tidak memperhatikan timbangan-timbangan atau kriteria-kriteria syar’i.

 

B. Kedudukan dan Keutamaan Taqiyyah yang Berlebihan Menurut Syi’ah Rafidhah ;

 

1. 90 % agama Syi’ah adalah Taqiyah [ BERDUSTA ] .

 

Taqiyyah adalah pokok agama mereka.Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/174 menukilkan –dengan dusta- ucapan Abu Ja’far:

 

” Taqiyyah merupakan agamaku dan agama para pendahuluku. Tidak ada keimanan bagi seseorang yang tidak bertaqiyyah”.

 

Dalam riwayat lain -dengan dusta- dari Abu Abdillah:

 

” Tidak ada agama bagi seorang yang tidak bertaqiyyah “.

 

2. Taqiyyah adalah kemuliaan agama seseorang.

 

Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/176 meriwayatkan –dengan dusta- ucapan Abu Abdillah kepada Sulaiman bin Khalid:

 

” Wahai Sulaiman, sesungguhnya engkau diatas agama yang apabila seseorang menyembunyikannya (bertaqiyyah), maka Alloh akan muliakan dia. Barangsiapa menampakkannya maka Alloh akan hinakan dia”.

 

3. Taqiyyah merupakan sebuah ibadah yang paling dicintai Alloh.

Abu Abdillah mengatakan di dalam Al Kafi 2/219 karya Al Kulaini –dengan dusta- :

 

” Tidaklah Alloh diibadahi dengan suatu amalan yang lebih Dia cintai daripada Al Khab’u.

Aku (periwayat) bertanya: “Apa itu Al Khab’u ? Beliau menjawab: “Taqiyyah”.

 

4. Taqiyyah merupakan seutama-utama amalan hamba.Di dalam Tafsirul Askari hal. 163 dinukilkan -dengan dusta- bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

 

” Taqiyyah merupakan salah satu amalan mukmin yang paling utama. Dia menjaga diri dan saudaranya dengan taqiyyah dari orang-orang jahat (kaum muslimin -red).

 

5. Taqiyyah merupakan semulia-mulia akhlak.Dari Al Baqir, dia berkata:

” Semulia-mulia akhlak para imam dan orang-orang mulia dari kelompok kami adalah taqiyyah”. (Al Ushul Ashliyah hal. 320 karangan Abdullah Syabbar).

 

6. Hukum taqiyyah setingkat tauhid dan shalat wajib. Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat mengatakan:

” Taqiyyah hukumnya wajib. Barangsiapa meninggalkannya maka kedudukannya seperti meninggalkan shalat wajib”.

 

Dia meriwayatkan didalam kitab tersebut dari Ali bin Hasan –dengan dusta– beliau berkata:

 

” Alloh mengampuni seluruh dosa seorang mukmin dan mensucikannya di dunia dan akhirat kecuali 2 dosa: meninggalkan taqiyyah dan meninggalkan hak-hak saudaranya (saudara sesama Syi’ah Rafidhah –red)”.

 

7. Mereka membatasi kewajiban bertaqiyyah sampai munculnya Imam Mahdi. Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat juga mengatakan: “Taqiyyah hukumnya wajib. Tidak boleh menghapus kewajiban itu sampai muculnya Imam Mahdi…”.

 

C. Munculnya Amalan-Amalan Kemungkaran Sebagai Realisasi Pandangan Sesat Mereka Terhadap Taqiyyah

 

1. Pengkafiran kaum muslimin yang tidak melakukan taqiyyah ala Syi’ah Rafidhah. Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat ketika menyebutkan tentang kewajiban taqiyyah, mengatakan: “… Barangsiapa meninggalkan (taqiyyah) sebelum munculnya Imam Mahdi maka dia telah keluar dari agama Alloh, agama Imamiyyah dan menyelisihi Alloh, Rasul serta para imam mereka”.

 

2. Pembolehan untuk melakukan taqiyyah didalam segala keadaan walaupun dalam keadaan tidak terpaksa. Ath Thusi meriwayatkan –dengan dusta– di dalam Al Amaali hal. 229 dari Ash Shadiq, beliau berkata:

 

” Bukanlah dari golongan kami, seseorang yang tidak menjadikan taqiyyah sebagai syiar dan bajunya walaupun ditengah orang-orang yang dia percayai. Hal itu tetap dia lakukan agar selalu menjadi tabiatnya ketika ditengah orang-orang yang mengancamnya”.

 

3. Ibadah yang diiringi dengan taqiyyah memiliki keutamaan besar. Ash Shaduq di dalam Man Laa Yahdhuruhul Faqih 1/266 meriwayatkan –dengan dusta– dari Abu Abdillah, berkata:

 

” Tidaklah salah seorang diantara kalian menunaikan shalat wajib sesuai waktunya lalu shalat lagi dengan taqiyyah bersama mereka (kaum muslimin) dalam keadaan berwudlu’ kecuali Alloh tulis (keutamaan) baginya sebesar 25 derajat. Oleh karena itu berharaplah kalian untuk mendapatkannya”.

 

4. Riwayat-riwayat para Imam mereka yang bertolak belakang dengan aqidah mereka dianggap sebagai taqiyyah (diringkas dari Firaqusy Syi’ah hal. 85-87 karya An Naubakhti).

 

5. Penafsiran yang batil terhadap ayat-ayat Alloh Ta’ala Surat Fushshilat 34 :

 

وَلاَ تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِي احسن 

 

” Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejelekan. Balaslah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik”.

 

Abu Abdillah berkata:

 

” Kebaikan itu adalah taqiyyah, sedangkan kejelekan itu adalah terang-terangan di dalam beragama”.

(Al Kafi 2/173 karya Al Kulaini)

 

Sedangkan ‘ cara yang lebih baik ‘ itu adalah taqiyyah. (Al Kafi hal. 482 karya Al Kulaini)

 

Surat Al Hujurat 13 :

 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

 

” Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Alloh adalah yang paling taqwa.”

 

Ash Shadiq – seorang syi’i – berkata: “Yaitu orang-orang yang paling mengetahui tentang taqiyyah.” (Al I’tiqadaat karya Al Qummi)

 

*Aqidah Taqiyyah [ BERDUSTA ] Merupakan Ciri Khas Syi’ah Rafidhah*

 

Di dalam Al I’tiqadaat karya Al Qummi diriwayatkan –dengan dusta– dari Ali bin Husain, beliau berkata:

 

” Kalau seandainya tidak ada taqiyyah maka wali-wali kami tidak akan dikenal diantara musuh-musuh kami”.

 

Hakekat Taqiyyah Syi’ah Rafidhah Sama Dengan Kemunafikan [ KAFIR YANG BERSEMBUNYI ]

 

Sangat tepat untuk dinyatakan bahwa hakekat taqiyyah mereka tidaklah beda dengan kemunafikan di masa kenabian Rasul ShallAllohu ‘alaihi wassallam.

Padahal Alloh Ta’ala banyak memperingatkan sifat-sifat mereka (kaum munafik) di dalam kitab-Nya, diantaranya:

 

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

 

” Dan jika mereka (kaum munafik) bertemu dengan orang-orang beriman mereka berkata:

‘Kami beriman.’ Namun bila mereka bertemu dengan para syaithan, mereka berkata:

‘Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanyalah mengejek mereka (kaum muslimin).” (Al Baqarah: 14)

 

Alloh juga berfirman :

 

يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ

 

” Mereka (orang-orang munafik) mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di hatinya.” (Al Fath: 11)

 

Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wassallam mengingatkan tentang keadaan mereka:

” Dan kalian akan dapati sejelek-jelek manusia adalah yang bermuka dua, yaitu dia mendatangi suatu kaum dengan satu wajah dan mendatangi kaum yang lain dengan wajah yang lain pula|”.(Muttafaqun ‘alaihi)

 

*Sungguh Ahli Bait Berlepas Diri Dari Taqiyyah Mereka*

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Minhajus Sunnah 2/46 menyebutkan bahwa Alloh membersihkan kaum mukminin dari kalangan Ahli Bait dari perbuatan taqiyyah. Bahkan mereka merupakan manusia paling jujur dalam keimanan. Agama mereka adalah ketaqwaan dan bukan taqiyyah.

 

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 39/III/II/1425. Diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli Syi’ah dan Taqiyyah)

 

 

*USTADZ SYI’AH DOYAN NIKAH [KAWIN ] KONTRAK [ MELACUR ]*

 

Ali radhiyallaahu ,anhu berkata : Nikah Mut’ah adalah Haram!.

 

Tetapi seluruh ulama dan ustadz syi’ah yang ada melanggar larangan Ali dan memfatwakan halalnya nikah mut’ah, bahkan mencari kambing hitam bahwa yang mengharamkan adalah Umar, jangan-jangan…… ah.. lihat aja selengkapnya..

 

Salah satu syarat untuk mencapai kesimpulan yang tepat adalah adanya data yang lengkap, di mana adanya kekurangan data pada bagian yang sangat vital dapat mempengaruhi pikiran yang akhirnya berperan membuat paradigma yang keliru terhadap suatu hal.

Paradigma yang keliru membuahkan sikap yang keliru yang berefek pada perbuatan yang keliru pula. Sebagai seorang yang mencari kebenaran tentang suatu hal, kita mutlak harus mengetahui semua data yang ada sebelum mengambil keputusan untuk bersikap dan berpihak pada suatu pendapat.

Tidak peduli data itu kecil atau besar, setiap data yang ada mutlak diperlukan dan diketahui oleh seorang yang sedang membahas sesuatu.

 

Kita bisa mengilustrasikan hal ini dengan kisah si kapten kapal yang melihat lampu, yang mana si kapten mengira lampu itu adalah lampu dari kapal yang berada di posisi dekat dengan kapalnya. Kapten kapal segera meminta “kapal” yang ada di depannya untuk mengalihkan kemudi agar tidak terjadi tabrakan.

Tetapi ketika terdengar suara “kami mercu suar” dari radio komunikasi segera si kapten mengalihkan kemudi menghindari lampu itu, karena dia barusan mendapat data bahwa lampu itu adalah mercu suar. Kisah serupa kita temui sehari-hari dalam kehidupan kita, ketika ada anak kecil yang bermain dengan pisau dan pisau itu kita ambil, dia marah karena tidak memahami data yang penting, yaitu pisau dapat melukai tubuhnya.

Seiring dengan bertambahnya usia paradigma si anak mulai berubah, ketika dia tahu bahwa pisau dapat melukai tubuh, dia tidak akan bermain-main dengan pisau lagi. Inilah pentingnya data dalam kehidupan kita.

 

Seringkali kita menjadi korban dari data yang tidak lengkap, kita salah mengambil kesimpulan dan bersikap karena data yang ada pada kita tidak lengkap. Di sini perlu kita perhatikan peranan media massa dalam pembentukan opini, tidak jarang media massa bermain dengan data untuk mengarahkan pembaca pada opini tertentu.

Contohnya adalah penggiringan opini massa di USA saat menjelang perang Iraq, di mana media massa gencar mengkampanyekan “data” berupa temuan senjata pemusnah massal di Irak yang digunakan untuk mengancam dunia. Akhirnya banyak masyarakat yang tertipu dan mendukung perang Irak.

Di kemudian hari, ternyata perang Irak memberi dampak yang sangat negatif pada USA sendiri. Cara-cara demikian sering digunakan di mana-mana untuk mempengaruhi opini pembaca.

Masih banyak lagi contoh di media massa yang sengaja memuat data yang tidak lengkap demi mempengaruhi opini massa.

 

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (QS. 107:4)

 

Begitulah Alloh mengancam mereka yang shalat dalam Al Qur’an.

Setelah membaca ayat di atas mungkin pembaca mengalami kebingungan, karena bagaimana Alloh mengancam orang yang mendirikan shalat, sedangkan dalam Al Qur’an banyak sekali ayat yang memerintahkan shalat.

Membaca ayat di atas dapat membuat pembaca memiliki paradigma yang keliru terhadap shalat, ada juga pembaca yang bingung, Tetapi pembaca tidak akan bingung dan memiliki paradigma keliru terhadap shalat ketika membaca ayat selanjutnya. Karena ayat selanjutnya berbunyi:

 

(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. 107:5) orang-orang yang berbuat riya. (QS. 107:6)

 

artinya, yang celaka adalah orang yang shalat, namun lalai dalam shalatnya, juga orang yang riya dalam shalat, yaitu tidak meluruskan niat shalat karena mencari keridhoan Alloh, tetapi hanya agar nampak alim atau niat-niat lainnya. Dengan membaca ayat yang tidak lengkap, seseorang bisa saja enggan shalat karena terancam akan celaka, karena dapat membentuk paradigma yang keliru yaitu setiap orang yang shalat akan celaka, tetapi setelah membaca lanjutannya, baru orang dapat memiliki pemahaman yang benar.

 

Inilah contoh kecil dari pentingnya kita mendapatkan data yang lengkap tentang sebuah masalah. Sementara itu Alloh melarang kita untuk mengambil sebagian ajaran Islam dan membuang sebagian yang lain, karena dengan praktek demikian kita hanya melaksanakan sebagian ajaran Islam dan meninggalkan ajaran Islam yang lain.

Ajaran Islam termanifestasikan dalam ayat-ayat Al Qur’an dan ajaran-ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan syahadat kita Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul.

Mengambil sebagian ayat atau hadits Nabi SAW dan mengabaikan hadits lain yang membahas tentang sebuah topik tertentu menyebabkan kita kehilangan gambaran utuh dari topik itu, malah bisa jadi gambaran yang kita dapatkan bertolak belakang dari apa yang dimaksud dalam Al Qur’an.

 

Biasanya penulis syi’ah mengemukakan riwayat dari sahabat Jabir yang mendengar Umar melarang nikah mut’ah. Riwayat ini tercantum dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim

 

Salah satu contoh nyata adalah dalam masalah nikah mut’ah.Membahas masalah nikah mut’ah, kita sering mendapati data yang ditampilkan sangat sedikit dari seluruh data yang ada mengenai pembahasan nikah mut’ah.

Sehingga kurangnya data itu membuahkan kesimpulan yang keliru tentang nikah mut’ah.

 

Biasanya hadits yang ditampilkan hanyalah hadits yang mendukung pendapat si penulis, yang ingin menggiring pembaca pada kesimpulan yang diinginkannya, agar pembaca yakin bahwa nikah mut’ah dihalalkan oleh Alloh dan Rasul-Nya, sedangkan yang mengharamkan adalah Umar sendiri.

Sementara hadits yang tidak sesuai dengan keinginan si penulis sengaja tidak ditampilkan, padahal hanya berjarak beberapa halaman dari hadits yang dimuat oleh penulis.

 

Biasanya dalil yang dikemukakan adalah riwayat Jabir bin Abdillah :Dari Abu Zubair, saya mendengar Jabir bin Abdillah Al Anshari mengatakan, dulu kami melakukan nikah mut’ah dengan bayaran segenggam korma dan tepung, selama beberapa hari semasa hidup Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pada masa kekhalifahan Abubakar, sampai kemudian Umar melarangnya, berkaitan dengan Amr bin Huraits. Riwayat Muslim hadits no 3482.

 

Begitu juga riwayat dari Jabir dan Salamah bin Al Akwa’:Dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin Al Akwa’ mengatakan: datang kepada kami utusan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan: Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengijinkan kalian untuk nikah mut’ah. Shahih Muslim hadits no 3479.

 

Ada lagi riwayat dari Jabir:Atha’ mengatakan: Jabir datang ke kota Makkah untuk melakukan ibadah umrah, lalu kami berkunjung ke rumahnya lalu dia ditanya tentang beberapa hal di antaranya tentang mut’ah lalu dia menjawab: Ya, kami melakukan nikah mut’ah pada jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abubakar dan Umar. Shahih Muslim hadits no 3481.

 

Inilah dalil yang biasa digunakan oleh para ustadz syi’ah dan ulama syi’ah untuk menggiring opini pembaca agar meyakini bahwa nikah mut’ah adalah halal, serta menunjuk Umar bin Khattab sebagai kambing hitam yang konon mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh dan Rasul-Nya.

 

Dampaknya kita lihat di sekitar kita banyak wanita muslimah yang melakukan nikah mut’ah dengan anggapan bahwa mut’ah adalah halal, hanya diharamkan oleh Umar.

 

Dari mana ustadz syi’ah menemukan dalil-dalil itu?.Tentunya dengan merujuk pada kitab aslinya, yaitu shahih Muslim, karena setiap saat ustadz syi’ah selalu mengajak orang agar berpikir bebas dan ilmiah, sedangkan milai ilmiah menuntut kita agar merujuk ke kitab asli dalam menukil.

 

Setelah merujuk pada kitab shahih Muslim, kita menemukan riwayat dari salah satu imam yang diklaim syi’ah yaitu Ali bin Abi Thalib, hanya selang beberapa halaman saja dari riwayat yang sering dinukil oleh ustadz syi’ah:

 

Dari Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari ayahnya (Muhammad) dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai jinak saat perang Khaibar. Shahih Muslim, riwayat no 3497.

 

Dari Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari ayahnya (Muhammad) dari Ali bin Abi Thalib, dia mendengar kabar bahwa Ibnu Abbas memperbolehkan nikah mut’ah, lalu Ali mengatakan: tunggu dulu wahai Ibnu Abbas, sungguh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan nikah mut’ah dan mengharamkan daging keledai jinak saat perang Khaibar. Shahih Muslim hadits no 3500.

 

Dari Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari ayahnya (Muhammad) , dia mendengar Ali bin Abi Thalib mengatakan pada Ibnu Abbas terkait nikah mut’ah, bahwa Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan nikah mut’ah dan daging keledai jinak saat perang Khaibar. Shahih Muslim hadits no 3501.

 

Kita perhatikan, hadits yang membolehkan mut’ah adalah nomor 3479 3481 dan 3482, sementara riwayat dari imam syi’ah yang (menurut syi’ah) terbebas dari salah dan lupa [ ma’shum ] adalah nomor 3497,3500 dan 3501.

Riwayat dari Ali ra akan merubah paradigma kita tentang nikah mut’ah, sekaligus menjawb keraguan yang mungkin muncul mengenai nikah mut’ah yang dibolehkan lalu diharamkan.

Seperti dikatakan oleh Ali ra saat menjelaskan pada Ibnu Abbas yang belum mendengar Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan nikah mut’ah. Ibnu Abbas yang belum mendengar lalu mengikuti Ali ra yang telah mendengar keputusan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Sebaliknya ustadz syi’ah berusaha meyakinkan orang bahwa Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarang nikah mut’ah, yang melarang adalah Umar.Selang beberapa halaman saja kita sudah menemukan riwayat yang melarang nikah mut’ah. Tetapi anehnya, riwayat-riwayat ini tidak pernah dibahas oleh ustadz syi’ah.

 

Pertanyaan yang muncul, apakah ustadz syi’ah belum membaca riwayat dari Ali ra?.Atau riwayat dari Keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja disembunyikan oleh ustadz syi’ah agar pembaca memiliki paradigma yang keliru tentang nikah mut’ah ?.

 

Jika ustadz syi’ah tidak menelaah kitab hadts lebih dalam, dan mengeluarkan fatwa yang serampangan, maka kita perlu meragukan validitas seluruh ulama syi’ah, karena kita akan melihat seluruh ulama syi’ah menghalalkan nikah mut’ah dan mengabaikan riwayat dari Ali ra , salah satu dari 12 imam yang diyakini syi’ah sebagai maksum dan tidak pernah keliru, hanya didasari oleh penelitian yang dangkal. Mengapa mereka tidak menelaah dalam-dalam?.

Apakah karena malas atau karena kitab Shahih Muslim tidak tersedia di pasaran seperti kitab Biharul Anwar, Al Kafi dan Mafatihul Jinan?.

 

Jika ustadz syi’ah menyembunyikan kebenaran yang diucapkan oleh imamnya sendiri ketika tidak sesuai dengan kepentingan, maka ini tidak jauh beda dengan perbuatan ulama ahli kitab yang menyembunyikan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci mereka tentang kenabian Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa Sallam.

 

Alloh berfirman :

 

” Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. (QS.Ali Imran:146)

 

” Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati “. (QS.Ali Imran :159)

 

Bagaimana dengan Umar?,Ternyata dia hanya mengikuti Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ali bin Abi Thalib.

 

Bagaimana dengan anda wahai kaum syi’ah ?, Apakah anda memilih keputusan Nabi yang diikuti oleh imam syi’ah yang maksum yaitu Ali ?,Atau siapa yang anda ikuti ?, Mengikuti ustadz syi’ah yang tidak maksum [juga doyan mut’ah = MELACUR ] berarti mengambil resiko besar, ketika ajarannya menyimpang dari keputusan imam maksum.

 

Tinggal satu pertanyaan lagi, mengapa para ulama dan ustadz syi’ah bersikeras menyelisihi keputusan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang dianggap maksum?.Jangan-jangan para ulama dan ustadz syi’ah doyan mut’ah, tapi ini jangan-jangan lho…

 

Jika tidak doyan mut’ah mengapa mereka bersikeras melanggar ucapan Ali radhiyallaahu ‘anhu ?.

 

” JADI TIDAK DIRAGUKAN LAGI BAHWA , AQIDAH SYI’AH ADALAH PERSIS YAHUDI & NASRANI = KAFIR “. 

 

• SEMOGA BISA MEMBANTU PARA IKHWAH YANG SEDANG MENCARI PENCERAHAN *

 

WAllohu A’lam bish Showab. Fastabiqul Khoirot, nun walqolami wamaa yasthurun

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

(حديث صحيح رواه ترمذي)

“Subhanakallohumma wabihamdika asyhadualla ilahailla anta astagfiruka wa’atubu ilaik”

Artinya : “Maha Suci Engkau ya Alloh, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”. (HR. Tirmidzi dengan Sanad Shahih).

 

 

✍🏻  Risalah ini Diambil dari berbagai Sumber bacaan dan penulusuran di Internet tentang Aliran sesat Syi’ah ini, Diantara Referensi Penulis Khususya Buku-buku Bacaan yang patut umat Islam Ketahui adalah: Buku Eksklusif *” Akhirnya Kutinggalkan Syi’ah “* (Testimoni Tokoh Syi’ah), Karya: Syaikh Abu Khalifah Ali bin Muhammad al-Qudhaibi, yang diterjemahkan Oleh: Ust. Ganna Pryadharizal Anaedi, Lc, Terbitan: Pustaka Imam Ahmad-Jakarta, November 2011, Buku *” Mengapa Saya Keluar Dari Syiah? “*, Penulis : Syaikh Al-Allamah Dr. Sayid Husain al-Musawi, Terbitan: CV. Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, Agustus 2002, Buku *”Mengapa Kita Menolak Syi’ah”* hal. 254-257, Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi’ah, LPPI/Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam, Jakarta, Juli 1998 M, Buku *Sekelumit,  Penyimpangan Syi’ah Kritik Atas Paham Beberapa Tokoh Syi’ah*, Penulis: Dr. Anung Al-Hamat, Lc, M.Pd, I, Pengantar Oleh Pakar Anti Syi’ah: *KH. Dr. Farid Ahmad Okbah, Lc, M.Ag* dan *KH. Dr. Achmad Rofi’i, Lc, M.MPd*, Terbitan: FS3I/Forum Study Sekte Sekte Islam, Bekasi, Cetakan Pertama, April 2013, Buku *Ahlussunah Waljamaah dan Dilema Syi’ah di Indonesia*, Penulis: Dr. Farid Ahmad Okbah, M.Ag, Terbitan: Perisai Qur’an, Jakarta, Cetakan Pertama, September 2012, dll.

 

والله أعلم,.وهو المستعان 

 

Babelan, Kab. Bekasi-Jawa Barat, 5 Januari 2020

 

Semoga Bermanfaat, Barokallohu fiikum

 

✍🏻 *Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd, I* Hafidzhahulloh Ta’ala

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Pendidikan, Domisili di Bekasi Jawa Barat)

 

Editor:

*Al Akh Turmudzi, S.Pd.I, M.Pd* Al Hafidz

(Ketua Divisi Tarbiyah dan Dakwah – Jundullah ANNAS/Aliansi Nasional Anti Syiah Pusat, Domisili di Bandung Jawa Barat)

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 702 kali, 9 untuk hari ini)