Ilustrasi : santrigaul.net


Bagi kami, bahasa Arab lebih complicated dan lebih berat daripada bahasa Inggris. Ditinjau dari beragam sisi:

[1] Dari sisi lexicon, yaitu kosakata dan pemaknaannya. Pemaknaan menentukan tepat atau tidaknya penggunaan. Di satu kata dalam Arabic, bisa sampai 10 lebih makna dengan penggunaan yang berbeda. Dan itu tidak sedikit. Anda bisa lihat di kitab Tahdzib al-Lughah karya Abu Manshur al-Azhary (w. 370 H), Lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur (w. 711 H), Taj al-Arus karya Murtadha az-Zabidy (w. 1205 H) dan lainnya. Jadi, jika Anda sudah hafal ribuan kosakata English, jangan jumawa di depan Arabic students. Arabic jauh lebih banyak kosakatanya dan varian maknanya.

[2] Dari sisi morpholgy, atau dikenal di istilah Arabic: sharf. Semacam perubahan kata disesuaikan dengan konteks. Trust me. English ga ada apa-apanya. Dalam Arabic, satu kata yang berunsur huruf kaf, ta’ dan ba’ (كتب) misalnya. Satu kata itu, bisa terhasilkan darinya ratusan kata. Itu setelah digoreng dengan morphology Arabic, yaitu sharf. Seramnya, itu baru satu kata. Iya. Satu asal kata. Gimana kalau ternyata di Arabic ada ratusan kata, yang masing-masing bisa bercabang menjadi ratusan lagi? Satu kasus saja, English memiliki satu kata: go. Kata kerja go, maksimal cuma bisa menjadi went, atau gone, sesuai konteks. Atau anggaplah bisa juga jadi going. Sudah berapa? Tapi kata Arabic, dzal, ha’ dan ba’, cukup untuk kata kerja saja, bisa mencapai lebih dari 20 cabang. Gimana? Jadi, jika Anda sudah hafal ribuan kosakata English, jangan jumawa di depan Arabic students.

[3] Dari sisi syntax, atau dikenal di istilah Arabic: nahwu. English juga tidak seberapa. Saya dulu kursus English, ‘ditakut-takuti’ bahwa grammar English itu rumit, complicated dan seterusnya. Tapi setelah saya cek, ternyata tidak seberapa. Arabic jauh lebih complicated. Saya bisa tunjukkan kitab-kitab i’rab al-Qur’an, satu judul saja bisa sampai 7 atau 8 atau 9 atau 10 jilid, membahas kata per kata secara syntax di al-Qur’an. Apa ada kitab khusus menjabarkan syntax untuk Bible versi English? Tell me.

[4] Dari sisi derivation, atau dikenal di istilah Arabic: isytiqaq. Ini erat kaitannya dengan sharaf juga. Kalau menguasai sharaf, maka insya Allah ini bisa terkuasai. Cuma ya tetap butuh hafalan; karena untuk satu kata, ulama Arabic bisa berselisih pendapat mengenai derivasinya. Misal: lafal ‘ism’ (nama) dalam Arabic. Ulama Nahwu teritori Kufah dan Bashrah saling berselisih pendapat. Yang satu bilang: derivasinya dari kata ‘wasm’, yang satunya bilang dari kata ‘sumuww’. Dan tiap pendapat di atas, dengan derivasinya, memiliki filosofi, alasan dan hujjah secara linguistik yang kuat. Itu Arabic. Itu dibahas selalu oleh ulama, turun temurun. Itu menunjukkan kekayaan. Gimana?

[5] Dari sisi rhetoric, atau dikenal di istilah Arabic: balaghah. Sudahlah, orang Inggris atau Amerika, kalau mau mengkhayal, ngegombal, dan berpuitis ria, mundur saja kalau ketemu pujangga Arab. Mungkin Anda selalu melihat syair Arab susunan baitnya begitu-begitu saja, terlalu kaku mempertahankan qafiyah, persamaan huruf di akhir baris. Itu salah satu seninya. Tapi lebih makjleb lagi bahasanya. Kenapa al-Qur’an turun dengan bahasa Arab? Karena sisi rhetoric Arabic itu paling kuat dibandingkan rhetoric bahasa manapun. Cuma ya, untuk memahaminya, perlu belajar sungguh bahasa Arab dulu. Anda mungkin keren terlihat bersyair dengan English, dan…comot dari lirik lagu…tapi kerennya itu kan karena banyak orang paham. Coba kalau mayoritas orang paham Arabic, segala macam ilmu bahasa dan kesusastraannya, satu ayat saja di al-Qur’an dia baca, dia akan tahu tidak ada bahasa yang lebih indah dari bahasa al-Qur’an, yang keindahannya akan terkikis jika sekadar baca terjemahan.

Ke depannya, kalau ada yang bilang English lebih complicated daripada Arabic, jangan percaya. Kalau dibilang ‘saya udah mempelajari kedua bahasa tersebut’, bisa jadi benar, tapi baru belajar kulitnya saja. Belum mendalami.

Belum lagi yang keenam:

[6] Dari segi pronounciation, atau dikenal di istilah Arabic: nuthq. Orang pada bilang: English susah banget pronounciation-nya. Iya, bagi wong ndeso. Tapi Arabic sebenarnya lebih susah. Setiap huruf ada makhraj yang bisa dipelajari. Banyak orang Sunda, Jawa, Betawi, Madura, Aceh, Melayu, dan sebut semuanya….gagal dalam membaca huruf dengan benar. Bahkan, ustadz-ustadz dan para guru bahasa Arab saja, tidak sedikit yang masih mempertahankan kemedoakannya. Lebih gondok lagi, kalau guru ngaji dan imam masjid di perkotaan tapi pembacaan hurufnya ra’ genah.

Juga:

[7] Dari segi bentuk tulisan. Mana yang lebih susah? Jelas. English memakai huruf latin. Walau kita tidak bisa membaca dengan benar, tapi kita pasti tahu mana huruf a, b, c dan d. Tapi kalau Arabic, beda drastis dengan huruf yang kita pakai.

Sudahlah. Anda yang merasa jumawa sudah bisa berbahasa Inggris, baiknya kursus lagi. Kursus bahasa Arab.

Tapi, Anda yang sudah bisa bahasa Arab, amat sayang, tidak bisa memahami English sama sekali. Padahal, jika Anda bilang bahasa Arab itu mudah pada murid-murid Anda, maka English jauh lebih mudah. Kok, Anda tidak mau belajar memahami?

Bagi saya: Arabic itu susah; English itu tidak terlalu susah. Selalu saya bilang begitu ke pelajar. Kalau Arabic itu mudah, ya belajar saja sana sendiri. Bagi sebagian guru, kalimat itu memotivasi. Bagus memang. Tapi, saya lebih suka memotivasi dengan: “Arabic itu susah. Maka belajarlah!”

Nelayan hebat itu tidak terlatih di air laut yang tenang.

Via FB Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 242 kali, 1 untuk hari ini)