(Arsip) Hari syakk haram puasa, tapi An-Nadzir di Gowa dan Tarekat Naqsabandiyah Padang sengaja melanggarnya

Posted on 19 Juli 2012

by Nahimunkarcom

 

  • Larangan puasa di hari syakk (diragukan, belum pasti masuk bulan Ramadhan), hadits-haditsnya jelas. Diriwayatkan Al-Bukhari (1914), Muslim (1082) dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْ }

Jangan kalian dahului Ramadhan dengan puasa sehari dan jangan pula dua hari kecuali orang yang tadinya sudah puasa suatu puasa maka hendaklah dia berpuasa.

Riwayat At-Tirmidzi (686), An-Nasai (2188) dari Ammar bin Yasir radhhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يَشُكُّ فِيهِ النَّاسُ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Siapa yang puasa pada hari yang diragukan oleh orang-orang (belum pasti masuk Ramadhan) maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Abal Qasim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Jama’ah An-Nadzir di Gowa Sulawesi mulai puasa Ramadhan hari Kamis, bahkan di hari sebelumnya yang dalam Islam disebut hari syakk yang oleh Nabi dilarang berpuasa  justru mereka berpuasa untuk menyambut bulan Ramadhan. Apakah mereka sengaja bermaksiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang telah diancam dalam hadits tersebut?
  • 8000-an jamaah Tarekat Naqsabandiah di Padang Sumatera Barat juga memulai puasa Ramadhan di hari syakk, dua atau tiga hari sebelum Ramadhan. Para pemimpinnya apakah memang sengaja menjerumuskan para jama’ahnya sembari menentang Rasulullah? Tidak ingatkah bahwa selagi mengaku sebagai Muslim maka seharusnya mengikuti petunjuk Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam,  bukan sebaliknya, sengaja menjerumuskan para manusia sambil menentang utusan Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.

Inilah beritanya.

***

Jama’ah An Nadzir mulai puasa Ramadhan hari Kamis

GOWA  – Berbeda dengan 2 pendapat mayoritas yang kemungkinan memilih hari jum’at (20/7) atau hari sabtu (21/7) sebagai jatuhnya awal 1 Ramadhan. Jamaah An-Nadzir di Mawang, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa yang identik dengan pakaian surban dan rambut pirang, justru mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadan, Kamis (19/7/2012). An-Nadzir beranggapan 1 Ramadan jatuh pada 19 Juli, Kamis besok.

Menurut Ulama An-Nadzir, Ustads Lukman saat dihubungi, ada beberapa indikator yang dapat dilihat untuk mengetahui awal puasa atau 1 Ramadan. Salah satunya adalah melihat atau mengintai bulan.

“Melihat bulan pada bulan Sya’ban sangat penting untuk mengetahui kapan berakhirnya bulan ini, yang juga pertanda dimulainya bulan Ramadan,” ujar pria yang akrab disapa Ustad Lukman ini seperti dirilis inilah.com.

“Melihat bulan purnama pada bulan Sya’ban itu sangat penting. Dari purnama 15 malam itulah kita mulai menghitung hingga ke-27 malam. Selebihnya yang tiga hari kita ikuti, itulah indikator 1 Ramadan,” imbuhnya.

Lukman mengatakan, hari ini, berdasarkan penghitungan tim Rukyat Jamaah An-Nadzir antara pukul 09.00 – 11.00 Wita, terdapat 54 menit jeda antara bulan terbenam dan munculnya Fajar, jika dibagi dua 27 menit. Jika selisihnya 10 menit maka itu pertanda mulai 1 Ramadan.

“Untuk lebih meyakinkan lagi, kita bisa melihat air pasang naik dan pasang turun. Jika anda perhatikan, hari ini adalah puncaknya pasang surut terjadi,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, pada bulan Juli ini, hanya sampai 29 hari saja, tidak sampai 30 hari. Meski demikian, mereka yang berdiam di satu tempat dengan komunitasnya sendiri ini, telah menjalankan ibadah puasa hari ini, sebagai puasa menyambut bulan Ramadan. (bilal/arrahmah.comRabu, 18 Juli 2012 23:00:09

 ***

Tareqat Naqsabandiyah mulai puasa sejak Selasa kemarin

PADANG  – Penganut Jamaah Tarekat Islam Naqsabandiyah di Padang, Sumatera Barat, sudah memulai berpuasa Ramadan, Rabu 18 Juli 2012. Jamaah ini selalu memulai puasa lebih awal dari jadwal yang ditetapkan pemerintah.

Selasa malam kemarin, mereka sudah memulai salat tarawih berjamaah di musala Baitul Makmur dan Surau Buluah di Pasar Baru, Kecamatan Pauh, Padang.

“Kita selalu berpedoman pada hisab munjit untuk memulai puasa,” kata Sekretaris Naqsabandiyah Sumatera Barat, Edizon Revindo seperti dilansir VIVAnews.

Penentuan awal Ramadan tahun ini ditetapkan pekan kemarin melalui sidang para ulama Jamaah Naqsabandiyah. Kalender berdasarkan hisab munjit ini juga diperkuat dengan melihat bulan pada pertengahan bulan Sya’ban.

Diperkirakan, ada 8.000 jamaah tarekat ini di Sumbar. Mereka tersebar di sejumlah daerah seperti Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Padang, dan Kabupaten Solok Selatan.

Meskipun Naqsabandi kerap berbeda dalam menetapkan awal ramadhan dan hari besar Islam lainnya, menurut Edizon, hal ini tidak perlu dipertentangkan. “Perbedaan itu kan rahmat,” ujar Edizon.

Diperkirakan, ajaran Tarekat Naqsabandiyah masuk ke Pauh, Padang, sejak awal abad ke-19. Dibawa oleh Maulana Syekh H Muhammad Thaib bin Ismail. Dia merupakan ulama asli Pauh yang menimba ilmu di Mekah. (bilal/arrahmah.com) Rabu, 18 Juli 2012 23:19:30

https://www.nahimunkar.org/hari-syakk-haram-puasa-tapi-an-nadzir-di-gowa-dan-tarekat-naqsabandiyah-padang-sengaja-melanggarnya/

***

Bolehkah Puasa pada Hari Syakk karena mengikuti Ormas?

Posted on 10 Juli 2013

by Nahimunkarcom

 

  • Hari Syak: Antara Pemerintah dan Ormas
  • Jika terjadi perbedaan antara pemerintah dan ormas, hari syak menjadi pembeda diantara mereka. Adanya ‘hari syak’ menjadi bukti bahwa ketika hilal tidak terlihat karena apapun sebabnya, metode tidak dilanjutkan dengan hisab, namun dilakukan penggenapan sya’ban menjadi 30 hari.
  • Jika ada ormas yang memiliki prinsip, ketika tanggal 29 Sya’ban hilal tidak kelihatan, kemudian beralih ke metode hisab, kemudian hisab menetapkan hilal sudah wujud meskipun belum terlihat, sehingga diputuskan besok adalah puasa, maka selamanya tidak akan ada hari syak dalam kamus fikih ormas ini. Karena semua telah ditekel dengan hisab. Dengan demikian, penggunaan hisab, jelas akan menganulir istilah puasa syak dalam syariat, sehingga hadis larangan puasa pada hari syak tidak lagi berlaku. Dan kita punya kaidah: suatu teori atau prinsip yang menihilkan syariat, berarti dia bukan bagian dari syariat.

 
 

Inilah jawabannya dalam saitus konsultasi syariah.

***

Hari Selasa, 9 Juli 2013, Tidak Boleh Puasa?

Pertanyaan:

Ada hadis yang melarang puasa pada hari syak. apa itu hari syak? dan Apa makna hadis itu? Hari Selasa, Tanggal 9 Juli besok, bolehkah puasa?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Siapa yang puasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari secara Muallaq, 3/27).

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

استُدل به على تحريم صوم يوم الشك لأن الصحابي لا يقول ذلك من قبل رأيه فيكون من قبيل المرفوع

“Hadis ini dijadikan dalil haramnya puasa pada hari syak. Karena sahabat Ammar tidak mungkin mengatakan demikian dari pendapat pribadinya, sehingga dihukumi sebagaimana hadis marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). (Fathul Bari, 4/120).

Apa itu hari syak?

Hari syak adalah tanggal 30 sya’ban, hasil dari penggenapan bulan sya’ban, karena hilal tidak terlihat, baik karena mendung atau karena cuaca yang kurang baik. (As-Syarhul Mumthi’, 6/478).

An-Nawawi mengatakan,

يوم الشك هو يوم الثلاثين من شعبان إذا وقع في ألسنة الناس إنه رؤى ولم يقل عدل إنه رآه

Hari syak adalah tanggal 30 sya’ban, dimana banyak orang membicarakan bahwa hilal sudah terlihat, padahal tidak ada satupun saksi yang adil, dirinya telah melihat. (Al-Majmu’, 6/401).

Hukum puasa pada hari Syak?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa syak. Sebagian ulama menilai makruh dan banyak diantara mereka yang mengatakan hukumnya haram.

Ibnul Mundzir menukil keterangan dari para sahabat yang melarang puasa pada hari syak, diantaranya Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ammar bin Yasir, Hudzaifah, Anas bin Malik, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum. Inilah pendapat Syafiiyah dan yang dipilih oleh Ibnul Mundzir dan Ibn Hazm.

Dalam bukunya Al-Muhalla, Ibnu Hazm mengatakan,

ولا يجوز صوم يوم الشك الذي من آخر شعبان

“Tidak boleh puasa pada hari syak, yang merupakan akhir sya’ban” (Al-Muhalla, 4/444).

Puasa Apakah yang Dilarang?

Al-Khithabi mengatakan,

اختلف الناس في معنى النهي عن صيام يوم الشك؛ فقال قومٌ: إنما نهي عن صيامه إذا نوى به أن يكون عن رمضان؛ فأما من نوى به صوم يومٍ من شعبان فهو جائز، وقالت طائفة لا يصام ذلك اليوم عن فرضٍ ولا تطوّع للنهي فيه، وليقع الفصل بذلك بين شعبان ورمضان

Ulama berbeda pendapat tentang maksud dilarang melakukan puasa pada hari syak. Sebagian mengatakan, larangan ini puasa syak jika diniatkan untuk puasa ramadhan, namun jika dia niatkan untuk puasa sya’ban maka itu diperbolehkan. Sementara ulama lain menegaskan, tidak boleh melaksanakan puasa pada hari syak, baik puasa wajib maupun puasa sunah, karena ada larangan dalam hal ini. sehingga hari itu menjadi pemisah antara sya’ban dengan ramadhan.

(Ma’alim As-Sunan, 2/99).

Hari Syak: Antara Pemerintah dan Ormas

Jika terjadi perbedaan antara pemerintah dan ormas, hari syak menjadi pembeda diantara mereka. Adanya ‘hari syak’ menjadi bukti bahwa ketika hilal tidak terlihat karena apapun sebabnya, metode tidak dilanjutkan dengan hisab, namun dilakukan penggenapan sya’ban menjadi 30 hari.

Jika ada ormas yang memiliki prinsip, ketika tanggal 29 Sya’ban hilal tidak kelihatan, kemudian beralih ke metode hisab, kemudian hisab menetapkan hilal sudah wujud meskipun belum terlihat, sehingga diputuskan besok adalah puasa, maka selamanya tidak akan ada hari syak dalam kamus fikih ormas ini. Karena semua telah ditekel dengan hisab. Dengan demikian, penggunaan hisab, jelas akan menganulir istilah puasa syak dalam syariat, sehingga hadis di atas tidak lagi berlaku. Dan kita punya kaidah: suatu teori atau prinsip yang menihilkan syariat, berarti dia bukan bagian dari syariat.

Hari selasa, tanggal 9 Juli 2013 adalah tanggal yang menjadi potensi polemik, apakah 30 sya’ban atau tanggal 1 ramadhan. Hasil hisab hakiki Muhammadiyah, telah terjadi ijtima’ jelang Ramadan 1434 H pada pukul 14:15:55 WIB, dan kurang dari 1 derajat.

Dengan menimbang kriteria yang diterapkan pemerintah, imkanur rukyah, sangat potensial terjadi perbedaan. Sangat jauh dari persyaratan untuk bisa terlihat, minimal 2 derajat dan usia bulan 8 jam sejak ijtima’. Sehingga kemungkinan untuk bisa terlihat sangat kecil.

Oleh karena itu, jika malam ini pemerintah memutuskan hilal belum terlihat maka selasa 9 Juli 2013 ditetapkan sebagai tanggal 30 sya’ban. Dan puasa pada hari ini adalah puasa yang terlarang karena itulah puasa hari syak, yang disebut oleh sahabat sebagai puasa maksiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

https://www.nahimunkar.org/bolehkah-puasa-pada-hari-syakk-karena-mengikuti-ormas/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 428 kali, 1 untuk hari ini)