Artikel berikut ini dapat dimaknakan, menyindir keras MUI Pusat yang sampai kini masih belum mengeluarkan fatwa tentang sesatnya syiah. Padahal sudah berkali-kali dilabrak oleh para ulama dan tokoh Islam untuk memfatwakan, karena Umat Islam telah resah.

Apakah mereka yang duduk di MUI Pusat itu tidak ada yang takut dosa ya. Dimintai fatwa, padahal tugasnya memfatwakan, kok ga’ mau-mau. Padahal soal kodok saja difatwakan oleh MUI. Lha kok soal syiah yang membahayakan bagi umat malah tidak.

Ketika rombongn MUI Jatim dan para Ulama Madura melabrak MUI Pusat krn ga’ segera mengeluarkan fatwa syiah sesat, maka justru ada isyarat melemparkan agar rombongan itu datang saja ke Mbah Anu (ketum MUI saat itu) di Pati Jawa Tengah. Tapi rupanya sampai kini sepeninggl Mbah Anu itu, fatwa sesat syiah belum2 juga dikeluarkan oleh MUI Pusat. Padahal sudah dilabrak berkali-kali oleh para ulama. Apakah org2 MUI tidak takut ancaman Nabi saw tentang org yg menyembunyikan ilmu bakal dipancing dg pancing dr neraka ya?

عَنْ اَبِى هُرَيـْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَـتَمَهُ اُلـْجِمَ يَوْمَ اْلـقِيَامَةِ بِلـِجَامٍ مِنْ نَارٍ. ابو داود و الترمذى وحسنه وابن ماجه و ابن حبان فى صحيحه و البيهقى

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu dia menyembunyi-kannya, maka pada hari qiyamat ia akan dikendali dengan kendali api neraka”. [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan ia menghasankannya, Ibnu Majah, Ibnu Hibban di dalam shahihnya dan Baihaqi).

Di Malaysia negeri Jiran sudah sampai melarang syiah, sementara itu di Indonesia, MUI Pusatnya masih membisu, belum berfatwa. Makanya sampai ada tulisan berikut ini.

***

AHAD, 16 MUHARRAM 1436H / NOVEMBER 9, 2014

Kebenaran yang Bisu Bukanlah Sebuah Kebenaran

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran

Oleh : Abu Muas Tardjono

PANJIMAS.COM – Suatu saat, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, salah seorang sahabat Rasul, Abu Dzar Al Ghifari menghadap Rasul dengan membawa rombongan orang-orang dari Ghifar dan Aslam yang sudah masuk Islam. Digambarkan karena begitu sangat banyaknya, jika saja orang melihat mungkin mereka mengira yang dilihatnya adalah pasukan orang-orang musyrikin, ternyata yang memimpin rombongan tersebut adalah Abu Dzar.

Melihat kehadiran rombongan yang dipimpin Abu Dzar, Rasul pun menyambut mereka dengan menyatakan: “Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah” dan “Suku Aslam telah diberi keselamatan dan kesejahteraan oleh Allah”. Sedangkan secara khusus kepada Abu Dzar, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Tidak akan pernah diketemukan di kolong langit ini seorang manusia yang sangat benar ucapannya, sangat tajam dan sangat tegas dalam hal mengucapkan kebenaran kecuali Abu Dzar”.

Jika Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan hal tersebut, tentu merupakan jaminan kebenaran apa yang telah dinyatakannya. Pertanyaannya, kenapa Rasul harus menyatakan demikian secara khusus kepada Abu Dzar? Jawabnya, tidak lain karena Abu Dzar memiliki prinsip bahwa: “Kebenaran itu tidak boleh bisu, kebenaran yang bisu bukanlah sebuah kebenaran”.

Diakui atau tidak, prinsip yang telah teguh dijadikan prinsip hidup sosok sahabat Rasul yang satu ini, kini, sudah mulai pudar, lentur dan luntur oleh sebagian para penegak kebenaran seiring kehidupan yang hedonisme yang telah mengelilinginya. Padahal, menurut Abu Dzar, kebenaran harus berbicara, tampak dan dinyatakan serta tidak boleh dipendam atau disembunyikan.

Hal ini merupakan sebuah pelajaran berharga bagi kita, karena saat ini tidak sedikit mereka yang membisu untuk menyatakan kebenaran, sehingga fungsi Al Qur’an sebagai Al Furqon (pembeda) mana yang haq dan mana yang bathil (QS. Al Baqarah,2:185) kini sudah sangat kabur karena bisunya orang-orang yang berilmu untuk menyatakan kebenaran.

Bagi Abu Dzar, kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran, kebenaran itu harus terungkap walaupun untuk mengungkapkan kebenaran itu beliau harus menebusnya dengan nyawa sekalipun. Wahai, para penegak kebenaran, siapkah menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil dengan siap menerima berbagai macam risikonya?

Bagi para ‘Ulama sebagai panutan ummat, apakah tidak ikut andil dalam kesesatan jika tidak sedikit ummat yang akhirnya tersesat karena diamnya atau tidak beraninya para ‘Ulama untuk menyatakan sesat dari sebuah aliran sesat yang ada? Wallahu a’lam.

(nahimunkar.com)