Ilustrasi/ foto hrntbt


(Catatan Hari Guru –Ngaji)

Asalnya, yang disebut guru itu justru guru ngaji. Yaitu mengajari ngaji Al-Quran atau kitab-kitab agama Islam. Hingga sebutan guru disematkan di depan nama orangnya. Maka orang Betawi (Jakarta) mengenal yang namanya Guru Mughni, Guru Udin dan sebagainya. Kadang sampai kini nama dengan sebutan Guru di depannya itu jadi nama jalan.

Entah karena bangsa ini memang mengidap gejala kufur ni’mat entah apa, sampai ada hari guru pun justru sepertinya tanpa guru ngaji.

Pahit getirnya jadi guru ngaji justru tidak dirasakan oleh guru pada umumnya. Di antaranya juga gejala menyingkirnya bangsa ini – padahal mayoritas Muslim— dari para guru ngaji. Padahal, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wajibnya menuntut ilmu bagi setiap Muslim itu maksudnya adalah ilmu agama Islam, bukan ilmu lainnya. Tapi entah kenapa, justru mereka tidak menyadarinya, hingga guru ngaji pun dibiarkan begitu saja.

Maka tidak mengherankan, guru ngaji sepertinya tidak dianggap dalam apa yang disebut hari guru. Padahal justru guru yang sejati adalah guru ngaji itu. Sedang selainnya justru boleh dibilang hanya numpang nama saja. Di negeri ini memang menuju arah kebalik-balik, sepertinya. Yang numpang atau jadi antek penjajah kini bisa jadi tuan, sedang yang tuan dan berjuang menyingkirkan penjajah kini bisa disingkirkan.

Mari kita simak, nasib guru ngaji di antaranya ada yang seperti catatan berikut ini.

***

 

Hasan Al-Jaizy/25 November pukul 14:53

[Hari Guru -Ngaji-]

Kala itu, sekian bulan sebelum putraku lahir, saya mencari kira-kira mushalla atau masjid mana yang membolehkan saya ‘numpang’ mengkaji kitab Kifayatul Akhyar ba’da Shubuh. 2 kali sepekan tidak apa-apa. Pesertanya cuma 2, 3 atau 4 juga tidak apa-apa. Karena kepingin sekali belajar bareng hamba-hamba Allah di mushalla/masjid buat kitab ini; kitab spesial.

Waktu itu sampai saya tanya ke rekan yang merangkap murid ngaji juga. Kira-kira mushalla/masjid mana yang mau terima ya? Lalu beliau usulin gimana kalau masjid A dekat rumahnya. Biasanya memang di sana ada kajian beberapa ustadz masyhur. Ah, boleh tuh. Saya sendiri tidak tahu itu masjid seperti apa bentuknya.

Beliau pun kabari ke pihak masjid. Hening setelah itu. Saya dikasih no WA salah satu orang penting di masjid. Saya salam, lalu perkenalkan diri. Eh, dicuekin, saudara-saudara. Agak sakit. Ya sudah, saya pendam saja keinginan ini.

Kepingin sekali sebenarnya ajak kaum muslimin melek ngaji kitab ba’da Shubuh, apalagi kalau bahasannya kitab tafsir. Segar sebenarnya. Tapi pada prepare kerja rata-rata atau hal lainnya. Padahal, indah sekali kalau kita ngumpul di masjid ba’da Shubuh, lalu ngaji, lalu shalat syuruq. Pahala haji sempurna.

Depan kediaman saya ada mushalla bagus. Tapi sejak lama qaddarallah penulis status ini diusir tidak boleh ngisi kajian apapun di sana. Malah kadang ditusuk dari belakang. Menjelang putraku lahir, saya berinisiatif ngaji sendiri saja deh secara online, suaranya toh terekam di YouTube. Ngajinya di mushalla tersebut. Ba’da Shubuh. Ini ide bagus. Alhamdulillah.

Alhamdulillah, awal-awal sih lancar. Diam-diam. Tidak ada orang mushalla yang sensi sama saya yang tahu. Karena semuanya setelah Shubuh pada langsung pulang. Lancar. Sip.

Tapi di hari ke sekian, akhirnya ketahuan. Salah satu dari mereka melihat saya sedang prepare meja dan kitab, juga laptop. Wah, ketahuan. Pikir saya, ah, saya serahkan ke Allah saja. Semoga saya ga diapa-apain.

Dan memang sayanya ga diapa-apain. Tapi esoknya, pas saya mau colok kabel charger Laptop saya, mampet. Tidak bisa. Saya coba ulang-ulang. Tidak masuk. Ternyata di dalamnya sudah disumpel. Allahul musta’an. Lalu saya pindah ke sisi ujung lainnya yang ada colokan listriknya. Ternyata di sana juga sudah disumpel.

Paman saya melihat ‘peristiwa’ ini. Yah, kita tertawa bareng deh. Duh, Pak Guru. Kasihan sekali memang Pak Guru ini. Ke sana ke sini serba salah.

AKhirnya, bikin sendiri lagi saja deh kajian di saung depan rumah. Tidak lagi di mushalla. Butuh waktu agak lama sepertinya untuk menyembuhkan ketidakenakan ini. Kok buat belajar dan transfer ilmu yang sebenarnya semua orang butuhkan malah pada enggan bahkan menghalangi ya? Malah giliran ada yang minat, justru orang jauuuuh sekali. Kadang, ada yang dekat, tapi pas tahu bahwa saya masih under 30 usianya, atau bukan muridnya ustadz fulan, beberapa menyingkir.

Jadi, bagaimana ya caranya saya mengucapkan ‘selamat hari guru’? Karena hari-hari saya adalah hari guru semua. Saya tidak sampai hati merayakan kehari-guruan saya kalau mengingat bahwa jeritan, jerih, tangisan, letih, senyuman dan haruan selama menjadi guru ‘ngaji-kitab’. Saya ga tega merayakan jabatan saya sendiri. Jabatan yang tidak tertera di KTP, KK, atau lainnya dari kertas-kertas kenegaraan.

Yang saya baru tahu, hari ini hari Guru, menurut ukuran nasional. Guru ngaji tidak termasuk. Hari ini, hari pertama kajian kitab Kifayatul Akhyar [https://www.youtube.com/watch?v=89gzFqcL18A]; yang dulunya kepingin sekali baca bareng-bareng pencari ilmu di mushalla atau masjid. Tapi apa yang Allah berikan, selalu yang cocok dan terbaik buat saya. Yang saya minta sekarang bukan karpet masjid apalagi celengannya. Yang saya minta dari Allah adalah taufiq, sehingga bisa istiqamah, dan kecukupan rezeki ilmu dan rezeki lainnya.

Hari guru -ngaji-, tak bisa mengutarakan isi hati guru -ngaji-.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.437 kali, 1 untuk hari ini)