Ahad sore 06 Oktober 2013 saya naik pesawat  Garuda GA 157 dari Batam ke Jakarta. Sebelumnya, kondisiku ketika berangkat menuju Bandara Batam tiba-tiba sakit. Perlu diobati, maka saya diantar ke klinik bekam. Ternyata darahku lagi naik, kata pembekam. Dalam tempo singkat karena mengejar waktu, pembekam tetap membekamku bahkan sampai 11 titik. Dengan segera kemudian langsung saya diantar ke Bandara Batam.

Di dalam pesawat, walau keadaan kurang sehat, tetap terdengar juga siaran yang diucapkan awak pesawat. Tiba-tiba saya malah mendengarkan secara seksama. Kenapa sakit-sakit kok menyempatkan diri mendengarkan? Karena siaran yang menjelaskan tentang pesawat yang akan terbang ke Jakarta itu dimulai dengan Assalamu’alaikum dan ditegaskan dengan kata insya Allah akan sampai di Jakarta pukul sekian. Lafal insya Allah itu diucapkan pula ketika siarannya pakai Bahasa Inggeris.

Sekali lagi, kenapa saya dalam keadaan sakit-sakit menyempatkan diri mendengarkan suara awak pesawat? Soalnya, saya baru saja selama dua hari diminta oleh Yayasan Fajar Ilahi di Batam untuk menatar para guru di sekolah-sekolah Islam tentang kepenulisan. Diantaranya adalah membahas tentang pentingnya menggunakan bahasa yang baik, benar, dan tepat. Siaran singkat di pesawat itu saya rasakan, bahwa yang saya tatarkan kepada para guru itu ternyata di pihak lain yakni perusahaan penerbangan ini mampu melaksanakannya, sehingga saya bisa menikmatinya.

Qadarullah, walau tensi darah saya dalam keadaan tinggi ternyata sehabis mendengar siaran singkat itu saya tertidur.

Sesampai di Bandara Jakarta, saya langsung ke klinik. Astaghfirullah, darah saya 197/116. Benar-benar tinggi. Langsung saya diberi tiga obat dan air hangat, agar segera saya minum. Di kamar klinik itu ada yang sakit, orang Bule mau terbang ke Amsterdam  hingga harus ditunda. Ketika orang Bule yang sakit bersama suaminya diantar ke hotel, saya masih istirahat, menunggu turunnya tensi darah. Setelah setengah jam, Alhamdulillah sudah turun, tinggal 165/ 104.

Sampai di rumah, saya diberitahu, bahwa Imam Masjid di dekat rumah telah beberapa hari tidak bisa datang ke Masjid karena tensinya naik hingga 200. Lalu beliau saya tanya, bagaimana rasanya? Dijawab, mau jatuh-jatuh… sambil beliau memperagakan badannya  bergerak sempoyongan.

Saya hanya berfikir sambil bersyukur, apakah karena yang saya alami adalah mendapatkan tutur kata yang baik, yaitu di penerbangan, di tempat saya menatar, dan di perjalanan ketika saya diantar beramai-ramai ke Bandara Batam, makanya saya Alhamdulillah tidak apa-apa, tidak merasa mau jatuh-jatuh, tidak mual, dan hanya sekadar kepala agak pusing saja. Kemudian diobati ya insya Allah sembuh.

Wallahu a’lam. Ini sekadar mengemukakan apa yang saya alami dan saya syukuri.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.633 kali, 1 untuk hari ini)