Kreativitas untuk merusak Islam tambah satu lagi. Mobil Esemka ditunggangi ritual kemusyrikan baru.

Mestinya Ummat Islam lebih-lebih para ulama semakin gencar memberantas kemusyrikan, agar terkikis habis, tetapi justru laju kemusyrikan semakin kencang dan ada lagi yang baru. Padahal kaum nabi-nabi terdahulu sampai dihancurkan gara-gara mereka nekat melestarikan kemusyrikan. Lha ini bukan hanya melestarikan kemusyrikan tetapi juga mengembangkan dengan kreasi baru. Sehingga adanya mobil esemka bagi Ummat Islam bukan menambah apa-apa secara maknawi, tetapi justru menambah terancamnya aqidah Islam. Itu saja ancaman paling besar, yakni kemusyrikan, dosa terbesar yang tidak diampuni bila pelakunya sampai akhir hayat tidak bertaubat dengan taubatan nashuha, taubat yang sebenar-benarnya taubat.

Inilah beritanya, yang membuat Ummat Islam yang masih ada ghirah islamiyahnya mengelus dada sambil istighfar, astaghfirullahal ‘adhiem…

***

Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan Kemusyrikan

Jum’at, 24 Feb 2012

SOLO (voa-islam.com) – Kemajuan teknologi yang diraih anak-anak bangsa tak menambah rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Prestasi wiswa SMK memproduksi Mobil Esemka malah diiringi dengan ritual kemusyrikan.

Sehari menjelang keberangkatan Mobil Esemka ke Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong Tangerang, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan dan Jamasan Mobil Esemka, Kamis malam (23/02/2012). Layaknya upacara selamatan dalam adat Jawa, Wali Kota Solo Joko Widodo juga menyiapkan satu set tumpeng lengkap yang berisi nasi gurih, ingkung, sambel goreng ati dan kedelai hitam.

Bejana perak berukuran cukup besar berisi air dan bunga setaman tujuh warna pun sudah disiapkan untuk menjamasi mobil yang fenomenal tersebut.

Suasana sakral semakin terasa di ruang Teaching Factory SMK, Jl Ki Hajar Dewantara Jebres Solo, tempat digelarnya ritual tersebut. Mobil Esemka AD 1 A pun dihias dengan untaian kembang setaman di seluruh bagian mulai dari kap depan, atap mobil, hingga bagian belakang mobil.

Diiringi alunan lagu Dandang Gula dalam balutan tari putri sesaji, Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari utama atau “pancer” dikelilingi empat penari putri, memulai “jamasan”, Kamis malam di Solo Techno Park (STP).

Secara perlahan air bunga tujuh rupa dalam bejana perunggu disiramkan ke bagian depan mobil. Alunan lagu dan gending Jawa terus dimainkan dengan pelan sehingga memberikan rasa khidmat prosesi “jamasan”. Secara berturut-turut Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo ikut menyiramkan air bunga ke badan mobil Esemka Rajawali.

Enam tokoh agama Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu dan Konghucu menyaksikan seksama prosesi budaya Jawa  tersebut. Begitu juga para tamu undangan yang terdiri dari para budayawan, seniman, kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan pejabat terkait. Tampak hadir dalam prosesi Jamasan Esemka Rajawali menjelang keberangkatan menuju Tangerang untuk uji emisi, Sekda Solo, Budi Suharto; Ketua DPRD, YF Sukasno, anggota DPR, Roy Suryo.

Enam pemuka bermacam-macam agama itu kemudian memanjatkan doa secara bergantian bagi kesuksesan dan keselamatan misi uji emisi Esemka Rajawali. Para pemuka agama itu kompak mendoakan kelancaran perjalanan rombongan Esemka Rajawali menuju Tangerang. Tidak itu saja, mereka juga mendoakan supaya mobil rakitan para siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Solo itu lulus uji emisi dan menjadi embrio mobil nasional (mobnas).

Joko Widodo mengatakan ritual jamasan biasanya dilakukan terhadap benda yang dianggap penting dan memberi pengaruh pada jiwa seseorang. Ritual masyarakat Jawa ini sering diselenggarakan di Keraton Kasunanan Surakarta pada momentum khusus. “Pada dasarnya kita berdoa untuk keselamatan Esemka dalam perjaanan dan kesuksesan uji emisi Esemka,” kata pria yang akrab disapa Jokowi itu.

Jamasan mobil, kata Jokowi, memang jarang dilaksanakan. Namun untuk mobil Esemka, dirinya menilai sangat layak menerima doa yang diwujudkan melalui prosesi jamasan. Jokowi dan Rudy yang malam itu kompak mengenakan baju beskap lurik khas Solo, bersama-sama mengguyur mobil esemka dengan air suci selepas doa-doa dipanjatkan.

Senada itu, koordinator proses Jamasan Esemka Rajawali, Bambang Suhendro, saat ditemui wartawan menjelaskan esensi acara yakni doa kawilujengan atau keselamatan. Berharap perjalanan rombongan untuk uji emisi Esemka lancar, begitu juga Esemka lulus uji emisi. Perihal adanya ingkung, beras putih, sambal goreng, kerupuk rambak, kedelai hitam, jajan pasar dan air bunga setaman, menurut Bambang, merupakan bagian dari prosesi tradisi.

Selain sesaji, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala. ”Hiasan aksesori ini sebagai hiasan sebagai simbol bahwa Esemka ini benar-benar menjadi poin utama dari prosesi. Kembang setaman mawar jambon, mawar merah dan putih, kantil kuning dan kantil putih, kenanga dan melati untuk membersihkan dari sukerto atau halangan selama perjalanan,” terangnya. [taz/slo, trb]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.989 kali, 1 untuk hari ini)