JAKARTA – Simbol kemusyrikan yaitu pohon ‘NATAL’ berdiri megah di Balai Kota DKI Jakarta. Ini semua bisa berlansung karena DKI Jakarta dipimpin seorang penganut Kristen, yaitu Ahok. Dengan tegaknya pohon NATAL itu, maka Balai Kota berubah menjadi lambang kemusyrikan.

Panitia, ujar Ahok, sudah meminta izin kepadanya untuk meletakkan pohon Natal di depan Pendapa Utama Blok B Balai Kota. “Saya bilang silakan saja,” tutur Ahok di Balai Kota, Senin, 22 Desember 2014.

Pohon Natal setinggi 3 meter diletakkan di salah satu sisi kolam air mancur di halaman Balai Kota. Pohon tersebut dilengkapi dengan ornamen dan lampu hias khas Natal. Lampu tersebut dinyalakan pada malam hari.

Staf rumah tangga Pemerintah DKI Jakarta, Mansyur, mengatakan pemasangan pohon Natal di halaman Balai Kota merupakan yang pertama kali. Sebelumnya, ujar dia, hanya ada pohon Natal setinggi sekitar 1,5 meter yang diletakkan di lobi Blok G.

“Tahun ini, pertama kalinya dipasang pohon Natal setinggi itu,” tuturnya di Balai Kota, Senin, 22 Desember 2014.

Ahok mengatakan hiasan Natal juga dipasang di rumah dinasnya di Jalan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Ahok juga memberi izin kepada tim Pembinaan Kesejahteraan Keluarga DKI untuk menghias halaman rumahnya.

Barangkali bukan Ahok memberi izin, tapi ‘memerintahkan’ pemasangan pohon NATAL yang berdiri megah setinggi 3 meter. Begitulah nasib DKI dipimpin Ahok. Bisa jadi suatu ketika puncak monas, saat Natal dipasangi pohon NATAL lambang kemusyrikan, kalau Ahok berkuasa terus.

Dibagian lain,  Ahok konon mendapat simpati rakyat NTT, saat mendampingi Jokowi berkuknjung ke NTT, dan di salah satu restoran makan daging babi dengan lahap, mirip anak Jokowi, saat pertamakali di Singapura, melanjutkan sekolah di negeri jiran itu, dan  Ahok bangga dengan makan babi itu. [jj/dbs/voa-islam.com] Selasa, 1 Rabiul Awwal 1436 H / 23 Desember 2014 07:44 wib

***

Menyakiti hati Umat Islam

Sedihnya hati ini… karena aku benci terhadap kemunkaran yang sangat munkar (symbol kemusyrikan adalah lambang kemunkaran paling puncak) lagi mencolok mata pula, namun pakai biaya (tentunya disedot dengan 1001 cara) dari penduduk yang mayoritasnya adalah Umat Islam. Itu lebih buruk dibanding isteri durhaka yang meminta duit ke suami namun untuk biaya menggugat cerai sang suami.

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.797 kali, 1 untuk hari ini)