Jokowi Jalani Ritual Kendi Nusantara di Titik Nol IKN

Ritual Jokowi Kumpulkan Tanah dan Air di Titik Nol IKN Nusantara/ CNBC Indonesia

  • Ada yang sangat prihatin, kenapa musibah agama berupa praktek perdukunan terang-terangan ini terjadi justru ketika di antara petinggi negeri ini adalah seorang kyai NU.
  • Pertama, Di Antara Unsur Kemusyrikan dalam Rangkaian Ritual Kendi Nusantara di IKN
  • Kedua, Kacau! Sudah Bayar Mahal Pawang Hujan, Gelaran MotoGP Mandalika Tetap Diguyur Hujan Lebat
  • Sedangkan Mengundang Pawang Hujan Hukumnya Syirik, Dapat Mengeluarkan dari Islam

 

Silakan simak ini.

***

Di Antara Unsur Kemusyrikan dalam Rangkaian Ritual Kendi Nusantara di IKN

n Jokowi Diperciki Air Beras Kunyit Sebelum Ritual Kendi di IKN, agar Terhindar dari Marabahaya
n Padahal mempercayai sesuatu untuk mendapatkan keselamatan atau menolak bahaya, tanpa ada dalil atau bukti ilmiah, bisa menjurus ke kemusyrikan.
n Ritual khusus dengan dipersatukannya tanah-tanah dan air-air dari berbagai daerah (ada yang mengungkapkan kekeramatan tanahnya ataupun akan terwujudnya kesatuan dan keadilan sosial dsb) itu menjurus seperti keyakinan orang kafir dalam hadits tentang “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) yang ditolak langsung oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
n Allah Ta’ala berfirman:
n
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
n “Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72).

Silakan simak berikut ini.
***
Jokowi Dipercikkan Air Beras Kunyit Sebelum Ritual Kendi di IKN, Agar Terhindar dari Marabahaya

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjalani prosesi adat tepung tawar dan ketikai lepas di Titik Nol Ibu Kota Nusantara atau IKN di Kalimantan Timur pagi ini, Senin 14 Maret 2022. Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Adji Muhammad Arifin, memimpin prosesi adat tersebut.

“(Prosesi adat ini) untuk melindungi, membersihkan, permohonan agar dijauhkan dari marabahaya, selalu mendapat rahmat, lindungan dari Yang Maha Esa,” ujar pembawa acara Karina Lakshimingrum dalam acara yang disiarkan secara daring, Senin, 14 Maret 2022.

Dalam prosesi tersebut, Jokowi dengan istrinya, Iriana, dipercikan air campuran beras kunyit, beras putih, beras bertih, air tepung tawar, dan gilingan inai, ke tangan dan pundaknya. Percikan menggunakan daun daun perinjis yang dilakukan oleh Adji.
Jokowi juga disambut dengan Tarian Ganjuro yang dibawakan oleh penari Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Ia kemudian menemui gubernur dari 34 provinsi yang telah membawa tanah serta air untuk disatukan dan ditaburkan di IKN. Hal ini disebut sebagai ritual Kendi Nusantara.

Seluruh gubernur dari 34 provinsi sebelumnya telah hadir di Kalimantan Timur dan membawa tanah serta air yang melambangkan kekhasan serta kearifan lokal daerah masing-masing.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa misalnya, membawa tanah dari lokasi situs Keraton Kerajaan Majapahit. Hal itu tak lepas dari penamaan Nusantara untuk IKN. Kata Nusantara pernah disebutkan oleh Patih Majapahit, Gajah Mada, dalam Sumpah Palapa.

Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono menyatakan akan ada prosesi doa bersama dengan para tokoh adat setempat, agar proyek pembangunan Ibu Kota baru tersebut bisa berjalan lancar.

Jokowi dan para gubernur juga dijadwalkan menanam pohon bersama di lokasi yang tak jauh dari tugu titik nol kilometer. Nantinya setiap gubernur akan menanam pohon khas daerahnya masing-masing.

Pada malam harinya Jokowi dijadwalkan untuk berkemah di lokasi IKN. Dalam acara ini Jokowi bakal ditemani Kepala Otorita IKN Bambang Susantono dan Wakil Kepala Otorita IKN Dhony Rahajoe beserta 5 gubernur se-Kalimantan.

Sumber: tempo
Foto: Jokowi Dipercikkan Air Beras Kunyit Sebelum Ritual Kendi di IKN/gelora
oposisicerdas.com, Senin, Maret 14, 2022 Nasional, Trending Topic

***
Mempercayai sesuatu untuk mendapatkan keselamatan atau menolak bahaya, tanpa ada dalil atau bukti ilmiah, bisa menjurus ke kemusyrikan.

Ini penjelasannya.
Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya:
“Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93).
Bandingkan fatwa tersebut dengan berita diatas: dipercikkan air campuran beras kunyit, beras putih, beras bertih, air tepung tawar, dan gilingan inai,….. ke tangan dan pundaknya (tujuannya adalah:) agar dijauhkan dari marabahaya, selalu mendapat rahmat,…
(Merujuk pada fatwa tersebut): diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan.
Di situlah persoalan besarnya.
Mencari berkah kepada pohon, batu dan lainnya termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits:
عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ بِسِلَاحِهِمْ بِسِدْرَةٍ وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).
Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut:
Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574). (nahimunkarcom dalam judul News Maker from Jombang February 20, 2009 8:25 pm)
Dari penjelasan tersebut di atas, kalau batu atau benda lainnya (dan air) dipakai untuk menggosok daki-daki di badan agar hilang dan bersih, misalnya, maka boleh saja. Karena sesuai dengan sifatnya, batu itu memang bisa untuk menggosoki badan, menghilangi daki. Tetapi kalau batu atau benda lainnya itu dicelupkan ke air lalu airnya diminum atau dipercikkan ke bagian badan kemudian diyakini akan memberikan kesembuhan, padahal tidak ada dalil syar’i tentang itu atau tidak ada bukti ilmiah bahwa batu atau lainnya itu tadi ada unsur-unsur obat, maka berarti menjadikan batu dan lainnya itu sebagai tamiimah alias jimat. Itu termasuk kemusyrikan.

Jadinya percikan air ramuan dalam berita tu yang diyakini sakti (untuk menolak bahaya dan melindungi agar selamat) itu jelas bentuk kemusyrikan.
Dalilnya:
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : { إنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتُّوَلَةَ شِرْكٌ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ .
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat, dan pelet (aji pengasihan, mantra ataupun jimat untuk menjadikan cinta atau pisahnya lelaki-perempuan) adalah syirik.? (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Larangan menganggap benda sebagai barang yang sakti:
عن عمران بن حصين رض{ : أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً – أَرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ – فَقَالَ : وَيْحَك مَا هَذِهِ ؟ قَالَ : مِنْ الْوَاهِنَةِ . قَالَ أَمَّا إنَّهَا لَا تَزِيدُك إلَّا وَهْنًا , انْبِذْهَا عَنْك فَإِنَّك لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْك مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا } . (رواه أحمد بسند لا بأس به).
“Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, celaka kamu, apa ini?? Orang itu menjawab: menolak lemah (wahinah)?. Maka Nabi berkata kepada orang itu, dapun sesungguhnya ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, maka lepaskanlah gelang itu darimu, karena sesungguhnya apabila kamu mati sedangkan ia masih ada padamu, tentulah engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.? (HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba’sa bih).

Tujuan Serta Makna Ritual Kendi Nusantara yang Dilakukan Presiden Jokowi di IKN Nusantara
Selasa, 15 Maret 2022 11:22
Tradisi Ritual yang Gunakan Kendi
Ritual Keagamaan
Pada ritual keagamaan yaitu agama Budha, biasa menggunakan 70 kendi berisi air suci yang akan diletakan di Candi Mendut, di Magelang, Jawa Tengah.
Ritual Peresmian
Kendi juga digunakan dalam ritual peresmian suatu acara.
Baca juga: Selain Tahu dan Tempe, Lima OIahan Makanan Ini Menggunakan Kacang Kedelai
Pada ritual itu, kendi akan dipecahkan atau di siramkan dengan harapan acara yang diselenggarakan berjalan lancar.
https://tribunkaltimwiki.tribunnews.com/…/tujuan-serta…

“Kita yakin jika seluruh Gubernur dari setiap Provinsi juga membawa tanah dan air yang diambil dengan asal-muasal sumber yang bisa mewakili daerahnya. Dan melalui proses penyatuan ini, semoga saja seperti yang kita harapkan, bisa menyatukan Indonesia, berkah dan guyub,” kata Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad. (klikwartacom, Senin, 14/03/2022 – 14:35).
Ketika dilakukannya suatu adat apalagi ritual itu diyakini mengandung sesuatu yang dipercayai, maka Islam melarangnya. Karena kepercayaan itu akan menjurus ke kemusyrikan, menganggap adanya tandingan bagi Allah Ta’ala. Dalam contoh berita ini: [“Tanah dan air dari daerah Flobamora ini bisa wujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Gubernur NTT Viktor Laiskodat dikutip media ini dari Antara.]. Keyakinan macam itu bertentangan dengan Islam.
Ungkapan tersebut bertentangan dengan ayat dari Allah Ta’ala yang menegaskan:
وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Artinya: Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. )Surat Yunus Ayat 107(
Tafsirnya:
Jika Allah menimpakan keburukan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia menghendaki untuk memberimu kenikmatan, maka tidak ada yang dapat menghalanginya darimu. Allah memberi kenikmatan dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, dan Maha Mengasihi mereka.) Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah)/ tafsirweb.com
https://www.facebook.com/photo/?fbid=3076977685893914…
Dalam kutipan berita2 tersebut ada yan meyakini, melalui proses penyatuan (tanah dan air dari berbagai daerah) ini, semoga saja seperti yang kita harapkan, bisa menyatukan Indonesia, berkah dan guyub.
Itu mengandung makna mengambil berkah dari tanah dan air dengan disatukan pakai ritual.
Ketika kendi yang dijadikan alat ritual dengan sebutan Kendi Nusantara itu ternyata ada jejak bahwa kendi itu biasa dipakai ritual dalam agama Budha, dan juga upacara presmian2 dengan upacara pecah kendi dengan harapan agar proyek itu lancar; maka dipilihnya kendi itu sendiri rupanya seolah meniru agama Budha dan upacara2 adat yang ‘minta berkah’ sesuatu, tanpa dalil yang shahih. Itu merupakan larangan dalam Islam. Karena mengharapkan berkah dari sesuatu tanpa dalil itu jurusannya ke kemusyrikan, dan keyakinan orang kafir.
Dipersatukannya tanah-tanah dan air-air dari berbagai daerah (ada yang mengungkapkan kekeramatan tanahnya ataupun akan terwujudnya kesatuan dan keadilan sosial dsb) itu menjurus seperti keyakinan orang kafir dalam hadits tentang “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) yang ditolak langsung oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas.

Yang lebih drastis lagi adalah ungkapan kemusyrikan yang jelas bertabrakan dengan ayat suci, kita ulangi:
[“Tanah dan air dari daerah Flobamora ini bisa wujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Gubernur NTT Viktor Laiskodat dikutip media ini dari Antara.]
Keyakinan macam itu bertentangan dengan Islam.
Ungkapan tersebut bertentangan dengan ayat dari Allah Ta’ala yang menegaskan:
وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Artinya: Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. )Surat Yunus Ayat 107(

Kami berharap, semoga siapapun yang terlibat dalam upacara yang mengandung kemusyrikan itu bertaubat.
Mumpung masih hidup hendaknya mereka bertobat dengan taubatan nasuha, se benar2 tobat, agar tidak terhitung mati dalam keadaan masih terhitung sebagai orang yang melakukan kemusyrikan yang ancaman nerakanya sangat dahsyat. Bahkan kalau sampai mati dalam keadaan batal Islamnya karena melakukan kemusyrikan akbar (mati dalam keadaan musyrik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam) maka kekal di neraka, haram masuk surga. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72).

Semoga tulisan ini bermanfaat.
Hartono Ahmad Jaiz 

https://www.facebook.com/hartonoahmadjaizy/photos/a.107957398152215/288393250108628/

***

Mengundang Pawang Hujan Hukumnya Syirik, Dapat Mengeluarkan dari Islam

Posted on 21 Maret 2022

by Nahimunkar.org

Kacau! Sudah Bayar Mahal Pawang Hujan, Gelaran MotoGP Mandalika Tetap Diguyur Hujan Lebat

  • Mengundang Pawang Hujan Hukumnya Syirik, Dapat Mengeluarkan dari Islam

Silakan simak ini.

***

Kacau! Sudah Bayar Mahal Pawang Hujan, Gelaran MotoGP Mandalika Tetap Diguyur Hujan Lebat

GELORA.CO – Gelaran MotoGP Mandalika 2022 resmi digelar Minggu (20/3/2022) di Sirkuit Pertamina Mandalika hari ini. Berbagai persiapan dilakukan, termasuk membayar jasa pawang hujan.

Ajang adu balap motor paling bergengsi di dunia itu diawali dengan race Moto3 mulai pukul 11.00 WIB. Disusul sesi kedua balapan Moto2.

Di saat dua balapan itu berlangsung hingga pukul 13.00 WIB, cuaca tampak panas menyengat di kawasan Sirkuit Pertamina Mandalika.

Bahkan, balapan Moto2 harus dipangkas dari 25 lap menjadi 15 lap saja karena panasnya aspal lintasan di Sirkuit Mandalika.

Hingga balapan Moto2 selesai, cuaca masih tampak cerah dan panas. Namun tiba-tiba, hujan lebat turun. Tepatnya sekitar sekitar pukul 13.30 WIB atau sekitar setengah jam sebelum jadwal balapan MotoGP dimulai di pukul 14.00 WIB.

Hingga berita ini ditulis, sekitar pukul 13.55 WIB atau lima menit sesuai jadwal dimulainya MotoGP belum ada tanda-tanda balapan MotoGP akan dimulai.

Dari tayangan televisi, beberapa pembalap seperti Fabio Quartararo bahkan masih mengenakan hem khas Yamaha miliknya.

Beberapa pembalap lain juga masih tampak berdiskusi bersama timnya. Belum ada tanda-tanda para pembalap masuk ke lintasan.

Pihak berwenang disebut masih menunggu kondisi hujan yang memang deras mengguyur sirkuit Mandalika siang ini.

Pakai Pawang Hujan Dibayar Jutaan

Kehadiran pawang hujan nyaris ditemukan di setiap perhelatan besar. Begitu juga dengan ajang dunia MotoGP 2022 di sirkuit Mandalika, ada pawang yang berperan agar kondisi cuaca terjaga tanpa hujan.

Salah seorang pawang hujan yang sudah berkali-kali dipercaya pemerintah untuk acara-acara nasional adalah Rara Isti Wulandari.

Sebelumnya, Rara juga pernah menjadi pawang hujan dalam perhelatan Opening Asian Games 2018 lalu.

Berapa bayaran yang didapat Rara selama menjadi pawang hujan untuk MotoGP Mandalika?

Rara sempat membeberkan honor yang diterimanya selama menjadi pawang hujan dalam ajang MotoGP Mandalika.

Melalui akun Facebook pribadi miliknya bernama Cahaya Tarot, Rara membagikan tangkapan layar berupa pesan notifikasi transfer.

Dalam tangkapan layar itu, diketahui Rara mendapatkan bayaran yang ditaksir mencapai jutaan rupiah. Namun untuk rinciannya, dia menutupi angka pertama.

“Alhamdulillah. Maturnuwun. Terima kasih. Rejeki Hoki All Universe Mandalika Street Circuit,” tulis Rara, dikutip dari Hops.id – jaringan Suara.com, Minggu (20/3/2022).

Sumber: suara

@geloranews

20 Maret 2022

***

HUKUM MENGUNDANG PAWANG HUJAN DALAM ISLAM

Hati hati, dengan alasan sholat idhul adha dilapangan, takut di guyur hujan, lalu pakai dukun pawang hujan..Baaathil!!

️ cateet!!

MENGUNDANG PAWANG HUJAN

Yang mengundang dan pelaku atau dukun itu adalah perbuatan Syirik !!

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui perkara ghoib kecuali Allah. Sedangkan turunnya hujan termasuk perkara yang ghoib. Maka mempercayai orang berkemampuan mengendalikan hujan berarti dia telah mengakui adanya pihak yang Mahatahu perkara ghoib selain Allah. Ini adalah keyakinan syirik dan bila pelakunya mati namun belum sempat bertaubat kepada Allah maka tempatnya di neraka kekal selama-lamanya. Allah berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ} [المائدة: 72]

“Barangsiapa yang berbuat syirik, maka sungguh Allah haromkan atasnya untuk masuk surga, dan tempatnya di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang zalim seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72)

Lalu bagaimana bila ternyata hujan benar-benar tidak turun? Jangan Anda terpedaya karena yang demikian itu adalah ujian dari Allah. Sesungguhnya syaithon hendak mempermainkan manusia agar mau menghambakan dirinya kepada selain Allah.

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan, bahwa syaithon dari kalangan jin mencuri dengar berita langit lalu dia sampaikan satu berita itu kepada pengabdinya dari kalangan dukun yang dicampur dengan seratus berita dusta. Oleh sebab itu terkadang ada berita dari para dukun yang tidak meleset terjadi, akan tetapi semua itu adalah ujian dari Allah.

Copas Akun ManhajSalaf

Read more at: https://www.fotodakwah.com/2021/07/hukum-mengundang-pawang-hujan-dalam.html

Via © @fotodakwah

https://www.facebook.com/hartonoahmadjaizy/photos/a.107957398152215/291661769781776/

(nahimunkar.org)