Siapa yang tidak miris adanya kenyataan anak sekolah zaman sekarang d Indonesia. Sudah membunuh, masih bilang puas pula terhadap pertanyaan menteri pendidikan.

Apakah pendidikan di Indonesia ini sudah sempurna dalam membelakangi agama (Islam) sehingga hasilnya sejahat itu?

Atau masih akan disempurnakan lagi dalam hal mengosongkan jiwa anak didik dari agama dan akhlaq sehingga agar lebih buruk dari binatang?

Kejadian demi kejadian hampir tidak pernah jadi pelajaran bagi penyelenggara negeri ini. Seakan yang ada hanya berlomba untuk lebih menampakkan kejauhannya dari agama, atau kalau mampu lebih menentang agama. Dan itu jadi modal untuk naik jabatan.

Sudah ada contoh nyata, orang yang berani menentang Islam dengan cara menikahkan wanita Muslimah dengan lelaki kafir maka kini diangkat jadi dekan di Fakultas Ushuluddin (uculuddin?, kata seorang dosen di Surabaya menirukan orang memlesetkan)  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Juga yang menghujat Islam dengan cara menghujat Kitab Hadits Shahih Bukhari, kini diangkat jadi rector di IAIN Walisongo Semarang. Itu semua kalau bukan karena kenekatan negeri ini dalam menentang Islam tentu tidak akan terjadi. Mestinya justru manusia-manusia perusak itu dikenai hukuman, tetapi sebaliknya justru dipelihara untuk lebih efektif merusaknya.

Pendidikan tingkat menengah pun sudah diarahkan ke pendidikan multikulturalisme, yang intinya menganggap semua kultur itu sama dan sejajar, tidak ada yang boleh mengaku bahwa kulturnya sendiri lah yang paling benar. Kalau ada yang mengaku paling benar maka dianggap sebagai sumber konflik. Sedang agama (Islam) hanya dianggap sebagai sub kultur, bagian dari kultur. Maka ketika Agama Islam mengaku hanya Islam lah yang benar, tentu saja dianggap sebagai sumber konflik. Itulah cara-cara kafirin dan munafiqin serta manusia-manusia anti Islam dalam menyerang Islam lewat pendidikan.

Jadi kalau hasilnya justru membuktikan bahwa sudah ada yang berani membunuh dan bahkan bilang puas, itu sama halnya para pembunuh iman yang menjajakan aneka ajaran yang membunuh iman. Mereka pun tentunya merasa puas ketika iman Ummat Islam telah tewas bergelimpangan alias tidak lagi sesuai dengan Islam yang sebenarnya.

Benar-benar sadis dan ironis!

Inilah beritanya, tentang pelajar Indonesia mengaku dirinya telah puas membunuh itu.

***

JABODETABEK, Siswa Pencarok Puas Membunuh

Kamis, 27 September 2012 , 05:28:00

JAKARTA — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh mengaku sangat kaget saat bertemu pelaku pembacokan siswa Yake, AD di Polres Jakarta Selatan, Rabu malam (26/9). Pasalnya, remaja berusia 17 tahun itu mengaku sangat puas telah membacok korban Deny Yanuar hingga tewas.

Beberapa kali, Nuh mengungkapkan keheranan dan tak habis pikir siswa SMK Kartika Zeni itu dapat menjawab puas membunuh orang lain.

“Saya tadi sudah bertemu dengan tersangka memang saya surprise saya tanya puas mas telah membunuh korban, dia jawab “puas pak”. Siapa yang enggak kaget. Membunuh orang kok puas,” tutur Nuh sambil geleng-geleng kepala usai bertemu AD.

Nuh juga tak menyangka melihat wajah AD yang tak menunjukkan ekspresi penyesalan saat ia bertanya demikian. Nuh bahkan bertanya sekali lagi, karena masih tak percaya dengan jawaban AD.

“Saya tanya lagi sudah bener puas setelah membunuh? Jawabnya, Puas pak tapi agak menyesal. Ini tampilan yang luar biasa, saya enggak habis pikir. Ini kalau sekolah dibebani anak-anak seperti ini, terus terang bebannya luar biasa,” akunya.

Menurutnya, masalah pelajar yang menjadi brutal dan melakukan kekerasan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah semata, tapi semua masyarakat. Masyarakat diminta berpartisipasi dalam menanggulangi tindakan remaja yang kian merajalela.

“Ini tidak hanya urusan sekolah  tetapi urusan sosial. Tolong kita bantu sekolah, masyarakat. Sekolah tidak hanya mendidik di luar kapasitasnya. Saya terus terang juga pernah jadi guru, kalau mendidik anak seperti itu terus terang berat,” tuturnya.(flo/jpnn)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 675 kali, 1 untuk hari ini)