Astaghfirullah, Baru Sepekan Usai Mengagungkan Allah di Hari Raya Idul Fitri, Mereka Ramai-ramai Pesta Kemusyrikan Akbar Lomban Larung Sesajen Kepala Kerbau di Jepara Jawa Tengah.

 

Jauh sebelum hari ini, ulama telah membahas hukum pelaku sesajen. Salah satunya adalah Mbah Sholeh Darat, guru daripada KH. Hasyim Asy’ariRaisul Akbar Nahdlatul Ulama, dengan vonis yang sangat berat yakni murtad bagi pelakunya.

Foto/kuasakatacom

Sesaji/ sesajen kepala kerbau dilarung ke laut di Jepara Jawa Tengah dalam upacara Lomban Larung Sesaji. Acara kemusyrikan akbar (kemusyrikan besar yang menurut Kyai Sholeh Darat gurunya pendiri NU Mbah KH hasyim Asy’ari, merupakan perbuatan yang mengakibatkan pelakunya murtad/ keluar dari Islam) itu malah dilestarikan dan dimeriahkan, setelah Idul Fitri 1443H dilaksanakan Senin 8 Syawal 1443H/ 9 Mei 2022.

Puasa Ramadhan sebulan penuh kemudian berhari raya Idul Fitri itu adalah ibadah untuk Allah Ta’ala. Namun sepekan kemudian, mereka ramai-ramai mengusung sesajen kepala kerbau untuk setan alias upacara kemusyrikan akbar (besar) mempersembahkan sesajen untuk jin makhluk halus yang sangat dilarang dalam Islam. Para pelakunya bila terhitung sebagai orang musyrik akbar maka copot imannya, keluar dari Islam, dan bila mati belum bertobat, maka kekal di neraka, haram masuk surga.

Allah berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَ مَأْوَاهُ النَّارُ وَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah maka telah Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka Jahanam dan tidak ada penolong baginya.” QS. Al-Maidah: 72.

***

Sesajen dan Tumbal Adalah Kesyirikan

Ustadz Yulian Purnama

 

Oleh Ustadz Yulian Purnama

SESAJEN DAN TUMBAL ADALAH KESYIRIKAN

Allah Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

” Shalatlah untuk Rabb-mu dan menyembelihlah (untuk Rabb-mu) ” 
(QS. Al Kautsar: 2)

Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan:

قَالَ الرَّافِعِيُّ وَاعْلَمْ أَنَّ الذَّبْحَ لِلْمَعْبُودِ وَبِاسْمِهِ نَازِلٌ مَنْزِلَةَ السُّجُودِ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ أَنْوَاعِ التَّعْظِيمِ وَالْعِبَادَةِ الْمَخْصُوصَةِ بِاَللَّهِ تَعَالَى الَّذِي هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ فَمَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِهِ مِنْ حَيَوَانٍ أَوْ جَمَادٍ كَالصَّنَمِ عَلَى وَجْهِ التَّعْظِيمِ وَالْعِبَادَةِ لَمْ تَحِلَّ ذَبِيحَتُهُ وَكَانَ فِعْلُهُ كُفْرًا كَمَنْ يَسْجُدُ لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى سَجْدَةَ عِبَادَةٍ

“Ar Rafi’i mengatakan: 
Ketahuilah, bahwa menyembelih kepada suatu sesembahan itu semakna dengan sujud kepadanya. Keduanya merupakan bentuk pengagungan dan ibadah yang khusus bagi Allah Ta’ala semata. Allah lah yang semata-mata berhak ditujukan kepada-Nya semua ibadah. Maka barangsiapa yang menyembelih untuk selain Allah semisal untuk hewan atau untuk benda mati seperti berhala dalam rangka pengagungan dan ibadah, maka tidak halal daging sembelihannya tersebut dan perbuatannya merupakan kekufuran, sebagaimana orang yang bersujud kepada Allah Ta’ala dengan sujud ibadah” 
(Al Majmu’ Syarhul Muhadzab, 8/409)

Semestinya yang dilakukan oleh seorang Muslim adalah sebagaimana yang dikatakan Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ

“Sesungguhnya shalatku, sembelihan, hidupkan dan matiku, hanya untuk Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu baginya” 
(QS. Al An’am: 162)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

يَأْمُرُهُ تَعَالَى أَنْ يُخْبِرَ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ يَعْبُدُونَ غَيْرَ اللَّهِ وَيَذْبَحُونَ لِغَيْرِ اسْمِهِ، أَنَّهُ مُخَالِفٌ لَهُمْ فِي ذَلِكَ، فَإِنَّ صَلَاتَهُ لِلَّهِ وَنُسُكَهُ عَلَى اسْمِهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Allah Ta’ala memerintahkan Ibrahim untuk mengabarkan kaum Musyrikin yang menyembah selain Allah dan menyembelih dengan nama selain Allah, bahwasanya ia menyelisihi perbuatan tersebut. Karena shalatnya hanya untuk Allah, sembelihannya hanya dengan nama Allah semata, tidak ada sekutu baginya” 
(Tafisr Ibnu Katsir, 3/381)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

لعن اللهُ مَن ذبح لغيرِ اللهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” 
(HR. Muslim no. 1978)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

الذبح لغير الله منكر عظيم وهو شرك أكبر سواء كان ذلك لنبي أو ولي أو كوكب أو جني أو صنم أو غير ذلك

“Menyembelih untuk selain Allah adalah kemungkaran yang besar dan termasuk syirik akbar. Baik sembelihan tersebut dipersembahkan untuk Nabi, atau untuk wali, atau untuk bintang-bintang, atau untuk jin, atau untuk berhala, atau untuk makhluk yang lain” 
(Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 6/360).

Maka demikian juga jika tumbal atau sesajen dipersembahkan kepada jin penunggu laut, jin penunggu gunung, atau semisalnya, ini semua merupakan kesyirikan yang nyata.

Baca selengkapnya: https://bit.ly/3pyC0pF

@fawaid_kangaswad

_____________________________________
Direpost @ Yulian Purnama

Tsulasa 2 Jumadal Ula 1443 / 7 Desember 2021

http://www.salamdakwah.com/artikel/4714-sesajen-dan-tumbal-adalah-kesyirikan

***

Berikut ini berita tentang kemusyrikan besar (syirik akbar) berupa tradisi lomban di Jepara Jawa Tengah dengan ratusan kapal mengantar sesajen laut berupa kepala kerbau.

***

Meriahnya Tradisi Lomban di Jepara, Ratusan Kapal Antar Sesaji Laut

Dian Utoro Aji – detikJateng

Senin, 09 Mei 2022 09:15 WIB

Kapal nelayan berebut sesaji kepala kerbau dalam tradisi Pesta Lomban di Jepara, Senin (9/5/2022)/ 8 Syawal 1443H. Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Jepara – 

Prosesi larung kepala kerbau dalam rangka Pesta lomban di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah berlangsung meriah. Seratusan kapal nelayan turut ikuti proses larung sesaji ke tengah laut.

Pantauan detikJateng di lokasi, Senin (9/5) prosesi larung sesaji kepala kerbau dimulai pukul 07.00 WIB. Acara dimulai dari tempat pelelangan ikan (TPI) Kelurahan Ujungbatu Kecamatan Jepara.

Rangkaian acara mulai pembacaan doa hingga sambutan Bupati Jepara, Dian Kristiandi. Setelah itu miniatur kapal yang terdapat sesaji kepala kerbau dibawa ke atas kapal untuk dilarung di tengah laut.

Pelarungan sesaji ini pun diikuti seratusan kapal nelayan. Warga sekitar pun antusias menyaksikan secara langsung rangkaian Pesta Lomban tersebut. Apalagi dua tahun belakangan tradisi larung sesaji kepala kerbau dilakukan secara sederhana dan tanpa pengunjung.

Sesaji kepala kerbau pun diperebutkan oleh para nelayan. Tampak sejumlah awak kapal pun turun untuk berebut sesaji kepala kerbau tersebut.

Dalam sambutannya Bupati Jepara, Andi Kristiandi mengatakan bersyukur karena prosesi Pesta Lomba tahun ini digelar secara meriah dan dapat disaksikan oleh masyarakat. Andi sapaannya mengajak masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Kembali melaksanakan masyarakat Jepara, mesti kita banggakan Pesta Lomban dan budaya untuk kita melestarikan peninggalan nenek moyang yaitu mengucap rasa syukur kita,” kata Andi ketika memberikan sambutan di TPI Ujungbatu, Senin (9/5/2022).

 

Andi mengatakan Pesta Lomban ini bentuk syukur nelayan kepada Allah SWT. Apalagi diberikan hasil tangkapan ikan selama setahun ini.

“Dua tahun terakhir hasilnya tidak beberapa, tetap kita syukuri,” ujar dia.

Lebih lanjut kata dia, ada beberapa rangkaian Pesta Lomban tahun ini. Mulai dari pemotongan hewan kerbau hingga ada hiburan wayang kulit yang digelar secara meriah.

“Mulai pertama potong kerbau, wayang kulit semalam dan hari ini kita larung kepala kerbau itu. Semoga dengan harapan kegiatan setiap tahun, memang beda tidak seramai ini,” ujar dia.

“Dengan ini tidak hanya Jepara kota, ini semua masyarakat di Jepara. Semoga Allah akan memberikan apa yang kita harapkan, tangkapan ikan yang melimpah,” harap dia.

Sedangkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sudiyatno mengatakan Pesta Lomban ini bukan hanya milik masyarakat Jepara. Namun kata dia juga telah diakui oleh dunia.

Para nelayan menurutnya sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ada lebih dari 100 kapal nelayan yang ikut memeriahkannya.

“Ini juga ada 109 kapal nelayan yang mengikuti larung pagi ini. Kita imbau agar tetap mematuhi aturan pemerintah,” tambah dia.

detikJateng

Senin, 09 Mei 2022 09:15 WIB

***

Sesajen berupa kepala kerbau (sembelihan untuk selain Allah Ta’ala) itu termasuk syirik akbar

Sesajen berupa kepala kerbau (sembelihan untuk selain Allah Ta’ala) itu termasuk syirik akbar (yang mengeluarkan pelakunya dari Islam), yang bila seseorang mati dalam keadaan musyrik akbar (belum bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat) maka tempatnya kekal di neraka dan haram masuk surga.

 

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَ مَأْوَاهُ النَّارُ وَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah maka telah Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka Jahanam dan tidak ada penolong baginya.” QS. Al-Maidah: 72.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

الذبح لغير الله منكر عظيم وهو شرك أكبر سواء كان ذلك لنبي أو ولي أو كوكب أو جني أو صنم أو غير ذلك

“Menyembelih untuk selain Allah adalah kemungkaran yang besar dan termasuk syirik akbar.
Baik sembelihan tersebut dipersembahkan untuk Nabi, atau untuk wali, atau untuk bintang-bintang, atau untuk jin, atau untuk berhala, atau untuk makhluk yang lain” 
(Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 6/360).

***

Hukum Sedekah Bumi, Larung Sesajen dan Labuhan Gunung


Posted on 15 Oktober 2018

by Nahimunkarcom

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-5 Di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M. Lihat halaman : 56-57.

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya mengadakan pesta dan perayaan guna memperingati Jin penjaga desa (Mbaureksa: jawa). Untuk mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan dan kadang terdapat hal-hal yang mungkar. Perayaan tersebut dinamakan “Sedekah Bumi” yang biasa dikerjakan penduduk desa (kampung), karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dahulu kala ?

Jawab:

Adat kebiasaan sedemikian itu H A R A M.


___________________________________________

Dikutip dari buku : “Masalah Keagamaan” hasil Muktamar/Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang, Kata Pengantar Menteri Agama Maftuh Basuni.

___________________________________________

 

 https://www.slideshare.net/zikoardiansyah/kelompok-5-66326937

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالأنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. Al An Aam : 136)

Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Maidah : 49)

PANDANGAN ISLAM

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَلْمَانَ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: «دَخَلَ رَجُلٌ الْجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ، وَدَخَلَ آخَرُ النَّارَ فِي ذُبَابٍ»، قَالُوا: وَكَيْفَ ذَاكَ؟ قَالَ: ” مَرَّ رَجُلَانِ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ عَلَى نَاسٍ مَعَهُمْ صَنَمٌ لَا يَمُرُّ بِهِمْ أَحَدٌ إِلَّا قَرَّبَ لِصَنَمِهِمْ، فَقَالُوا لِأَحَدِهِمْ: قَرِّبْ شَيْئًا، قَالَ: مَا مَعِي شَيْءٌ، قَالُوا: قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا، فَقَرَّبَ ذُبَابًا وَمَضَى فَدَخَلَ النَّارَ، وَقَالُوا لِلْآخَرِ: قَرِّبْ شَيْئًا، قَالَ: مَا كُنْتُ لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ دُونَ اللهِ فَقَتَلُوهُ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ ” [رواه أحمد].

Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah bersabda :

“Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana hal itu, ya Rasulallah. Beliau menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorangpun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: “Persembahkanlah kurban kepadanya”. Dia menjawab: “Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya.”Merekapun berkata kepadanya lagi: “Persembahkan, sekalipun hanya seekor lalat. Lalu orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanannya. Maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: “Persembahkanlah kurban kepadanya.”Dia menjawab : Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.” Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk surga.” (HR. Ahmad dengan sanad yang lemah)

Status hadits:

Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud hal. 15, dari Thoriq bin Syihab dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 1: 203, Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya 6: 477, 33028. Hadits ini mauquf shahih, hanya sampai sahabat. Lihat tahqiq Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal. 49, terbitan Darus Salam.

Al Hafizh mengatakan bahwa jika Thoriq bertemu Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka ia adalah sahabat. Kalau tidak terbukti ia mendengar dari Nabi, maka riwayatnya adalah mursal shohabiy dan seperti itu maqbul atau diterima menurut pendapat yang rojih (terkuat). Ibnu Hibban menegaskan bahwa Thoriq wafat tahun 38 H. Lihat Fathul Majid, hal. 161, terbitan Darul Ifta’.

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/3014-hanya-karena-sesaji-berupa-lalat-membuatnya-masuk-neraka.html

QS. A L – B A Q A R A H

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

2:170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?

QS. A L – M A A I D A H

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

5:104. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?

QS. A L – A ‘ R A F

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

7:28. Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ رِجْسٌ وَغَضَبٌ أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاءٍ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا نَزَّلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

7:71. Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu”.

QS. Y U N U S

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الأرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ

10:78. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? kami tidak akan mempercayai kamu berdua.

QS. Y U S U F

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

12:40. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

QS. I B R A H I M

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

14:10. Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan) mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.

QS. A L – K A H F I

مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا

18:5. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

Wallahu ‘alam

Anwar Baru Belajar

https://www.facebook.com/notes/anwar-baru-belajar

(nahimunkar.org)

***

Hukum sesajen – KH Sholeh Darat, guru KH Hasyim Asy’ari

 

Untuk memahami hukum sesajen, terlebih dahulu perlu dipahami pengertian sesajen secara utuh.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, sesajen atau sajen adalah makanan (bunga-bungaan, buah, lauk-pauk matang, mentah dan sebagainya) yang disajikan kepada ‘makhluk halus’ dan sebagainya.

Sesajen berarti sajian atau hidangan, yang memiliki nilai sakral di sebagian besar masyarakat kita pada umumnya. Penyajiansajen dilakukan untuk ngalap berkah (mencari berkah) di tempat-tempat tertentu, atau menolak bahaya dari makhluk halus karena tempat tersebut diyakini keramat.

Sedangkan waktu penyajian, biasanya akan ditentukan pada hari-hari tertentu, seperti malam Jum’at Kliwon, Selasa Legi dan lain sebagainya.  Adapun bentuk sesajiannya, juga cukup bervariasi tergantung permintaan atau sesuai “bisikan ghaib” yang di terima oleh orang pintar, paranormal, dukun dan lain sebagainya.

Dari penjelasan tersebut, maka dapat digaris-bawahi bahwa sesajen merupakan sajian yang dipersembahkan kepada jin atau mahluk halus, yang diyakini dapat memberikan manfaat serta memberikan madharat (bahaya) kepada manusia.

Jauh sebelum hari ini, ulama telah membahas hukum pelaku sesajen. Salah satunya adalah Mbah Sholeh Darat, guru daripada KH. Hasyim Asy’ariRaisul Akbar Nahdlatul Ulama, dengan vonis yang sangat berat yakni murtad bagi pelakunya.

Dalam kitab beliau yang bertema “Majmu’ah Syar’iyah” dengan tulisan huruf Arab pegon bahasa Jawa, Mbah Shaleh Darat menjelaskan, yang terjemahannya adalah sebagai berikut :

Dan macamnya murtad yang no 3, adalah murtad secara perbuatan dan pakaian, seperti sujud kepada berhala, atau merawat danyangan parahiyangan, dengan menyediakan makanan pada tempat dupa, atau di persawahan, atau di mana saja tempat yang di sangka ada jin/dedemitnya, lalu di berikan sesajen agar demitnya memberikan berkah, atau menolak bahaya. Semua hal itu menyebabkan kekufuran.”

Dalam kajiannya, KH. Shaleh Darat juga memberikan penjelasan kepada orang awam, bahwasanya jin, setan, hewan, manusia bukanlah makhluk yang dapat memberikan manfaat atau madharat (bahaya) kepada manusia tanpa seizin dan kuasa Allah. Logikanya, jika jin atau setan memiliki kemampuan tersebut, tentunya tidak ada satupun manusia yang tersisa di bumi ini, karena setan adalah makhluk yang paling memusuhi dan membenci manusia.

Secara akidah, jika seseorang meyakini bahwa setan atau jin dapat memberikan manfaat atau madharat kepada manusia, maka hukumnya adalah murtad. Itulah sekelumit penjelasan dari ulama Nusantara yang merupakan Guru daripada KH. Hasyim Asy’ari, Raisul Akbar Nahdlatul Ulama.

Dengan demikian maka, problem sesajen ini adalah rusaknya akidah pelakunya. Sebagaimana definisi dari sesajen itu sendiri.

Sesajen – KH Sholeh Darat.jpg

Hukum sesajen – KH Sholeh Darat, guru KH Hasyim Asy’ari

https://hidayatullah.com/konsultasi/konsultasi-syariah/read/2022/01/13/223191/hukum-sesajen-untuk-mahluk-halus-haram-guru-kh-hasyim-asyari-menghukumi-murtad.html

 

(nahimunkar.org)