Astaghfirullah… Bupati Jember Datangi Korban Banjir, Usai Diliput Media Bantuan Ditarik Lagi


Bantuan Korban Banjir Jember Hanya Simbolis, Setelah Selesai Ditarik

Asrama Mahad Baitul Ilmi yang terkena banjir, bantuan selimut dan kasur dijanjikan 18, hanya diberi dua (KOMPAS.com/istimewa) 14/02/2020, 14:43 WIB

Kejadian unik terjadi di Jember, Jawa Timur. Bantuan yang diserahkan Bupati Jember dr Faida kepada korban banjir ditarik kembali sesaat setelah dia pulang. Namun setelah ramai dibicarakan, bantuan kembali diserahkan kepada warga.

Peristiwa penyerahan bantuan banjir itu terjadi pada Jumat 7 Februari 2020 lalu. Dari rilis yang dimuat di website resmi Pemkab Jember, Bupati Faida mengunjungi warga di dua RT yang terdampak banjir, yang ada di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates. Lokasi tersebut, malam sebelumnya tergenang banjir. Dalam kunjungan pada Jumat pagi itu, Faida menyerahkan sebanyak 40 paket sembako, 40 kasur lipat, selimut serta nasi bungkus. Lokasi yang tergenang banjir tepat berada di sekitar kampus IAIN Jember.

“Banjir masuk perkampungan warga, sehingga 52 kepala keluarga terdampak. Setelah dikunjungi, rumahnya memang terendam. Barang-barang juga basah karena air masuk hampir satu meter,” ujar Faida sebagaimana dikutip dari website Jemberkab.go.id.

Salah satu titik yang dikunjungi Faida adalah sebuah pesantren bernama Baitul Ilmi, yang diasuh oleh Ustaz Mastur. “Saya tidak tahu persis, warga waktu itu ramai-ramai, ternyata ada kunjungan bupati. Lalu Bu Faida ke tempat kita dan sempat berdialog,” ujar Mastur saat dikonfirmasi, Jumat 14 Februari 2020

Dalam dialog itu, Faida bertanya tentang jumlah penghuni pesantren yang diasuh Mastur. Kebetulan pesantren kecil itu masih mengontrak di salah satu rumah warga. Para santri seluruhnya merupakan mahasiswa IAIN Jember.

“Saya jawab, santrinya ada 18 anak. Lalu spontan beliau perintahkan ke anak buahnya agar (seluruh santri) dikasih bantuan satu-satu,” tutur Mastur menirukan dialognya dengan Faida. Saat berkunjung ke korban banjir itu, Faida juga membawa rombongan wartawan cetak, elektronik dan televisi.

“Saat itu juga ada Pak Camat, Lurah, dan RT-RW. Lalu diserahkan bantuan secara simbolis berupa selimut, kasur dan paket sembako,” ujar pria yang juga dosen di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH) IAIN Jember ini.

“Saya hitung untuk simbolis, masing-masing ada lima kasur, lima selimut dan dua dus paket sembako,” lanjut Mastur. Seperti lazimnya bantuan Pemkab Jember selama ini, seluruh bantuan juga tertera foto Bupati Faida pada kemasannya.

Namun, keunikan terjadi sesaat setelah Faida dan rombongan wartawan pulang dari lokasi banjir. “Kemudian setelah bubar, ada salah satu petugas yang datang ke saya. Dia bilang, “Mohon maaf, ini sementara saya tarik kembali ya pak,” ujar Mastur.

Kepada Mastur, pegawai Pemkab yang menarik kembali bantuan itu beralasan, bantuan nanti akan diserahkan kembali, sesuai data yang ada. “Saya pikir, kalau bantuan sudah ditarik lagi, masak iya bisa kembali lagi,” tutur Mastur.

Semua bantuan ditarik kembali, tanpa ada yang tersisa sedikit pun. “Padahal kita sudah terlanjur senang. Sebab saat banjir, salah satu tembok jebol, sehingga air masuk ke pesantren. Imbasnya, anak-anak tidak bisa tidur dengan nyaman,” jelas Mastur.

Selang tiga hari setelah kunjungan bupati, salah satu santri ada yang diminta oleh perangkat RW untuk mengambil bantuan. Namun bukan 18 paket seperti kata bupati, melainkan hanya dua paket yang terdiri dari kasur dan selimut.

“Pak Camat-nya bilang gini ke santri saya. Karena yang banjir bukan hanya di asrama kami, tetapi tempat-tempat lain juga kena, maka bantuan diratakan. Makanya kita hanya dapat jatah 2 kasur dan 2 selimut,” ujar Mastur.

Hingga beberapa hari kemudian, Mastur tidak lagi memikirkan perihal bantuan itu. Namun cerita tentang insiden bantuan yang ditarik kembali itu kadung menyebar di masyarakat.

“Ya mungkin karena pimpinan kan tidak tahu realitas yang di lapangan. Spontan saja kasih bantuan satu persatu. Saya tidak tahu, apa karena pencitraan jelang Pilkada,” ujar Mastur.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Kaliwates, Asrah Widono langsung tanggap. “Ini sekarang kita lagi di BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jember. Sebentar lagi akan kita berikan lagi bantuan tersebut,” ujar Asrah saat dikonfirmasi melalui sumbangan telepon, Jumat 14 Februari 2020.

Asrah membantah, penarikan karena bantuan itu hanya bersifat simbolis. “Memang di pesantren itu banyak yang KK (Kartu Keluarga) dari luar kelurahan Mangli. Tetapi kan instruksi bupati, suruh memberi, meski bukan warga Jember. Sekarang ini sedang dipenuhi,” ujar Asrah.

Namun Asrah kembali membantah bahwa penyerahan bantuan yang tertunda beberapa hari itu karena bantuan kurang. “Ini di kantor BPBD banyak sekali kasur dan selimut. Sebenarnya tadi pagi mau kita distribusikan. Cuma saya pas lagi banyak agenda kegiatan, macam-macam,” pungkas Asrah.

Sumber: Merdeka

[portal-islam.id]  Sabtu, 15 Februari 2020  Berita Nasional

 

***

Menarik kembali pemberian ibarat anjing muntah lalu menjilatinya

Rasulullah bersabda:


لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ الْعَائِدِ ِفيْ هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِيْءُ ثُمَّ يَعُوْدُ فِيْ قَيْئِهِ

“Tidak pantas bagi kita untuk memiliki sifat yang buruk. Orang yang menarik kembali hibahnya seperti seekor anjing yang muntah lantas memakan kembali muntahannya tersebut.” (HR. Bukhari no. 2622)

Hadits di atas merupakan sebuah permisalan untuk mencela dan melarang. Anjing merupakan hewan yang kotor dan najis, dan tatkala anjing tersebut muntah kemudian memakan kembali muntahannya, maka ini adalah sesuatu yang sangat menjijikkan. Meskipun bukan kita yang memakannya, namun tatkala kita melihat apa yang dilakukan oleh anjing tersebut, naluri dan akal kita pasti akan memungkirinya bahwa betapa buruknya apa yang dilakukan oleh anjing tersebut.

Inilah gambaran seseorang yang menghibahkan sesuatu kepada orang lain, namun setelah itu ia menarik atau mengambilnya kembali. Oleh karena itu, tatkala anda menghibahkan sesuatu, maka berikanlah dengan senang hati dan jangan sampai hatimu masih terpaut dengannya. Perumpamaan yang berisi celaan dalam hadits di atas menunjukkan bahwa mengambil kembali sesuatu yang telah dihibahkan hukumnya terlarang.

https://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=752

***

Sekadar mengingatkan, ada juga tingkah tercela di dekat lokasi banjir di Jember tersebut, yaitu di IAIN Jember, sebagai berikut.

***

Astaghfirullah! Dosen STAIN Jember Sengaja Mencopot Sepatunya untuk Menghapus Lafal Allah

Posted on 6 Januari 2012by Nahimunkar.com


 

 

STAIN Jember. Sekolah Tinggi Agama Islan Negeri (STAIN) Jember adalah salah satu STAIN di Indonesia yang berlokasi di Jl. WR. Supratman No. 5 Jember Jawa Timur / buku-on-line.com

 

Dosen filsafat STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Jember menulis lafal Allah dan nama dia sendiri (Win) di papan tulis.

Kepada mahasiwanya, Win mengajukan pertanyaan, “lebih mulia mana antara alif, lam, lam ha’ (lafadz Allah) dengan Win ini,” sambil mengarahkan telunjuknya ke arah lafafdz Allah dan namanya sendiri yang memang ia tulis di papan.

Mendengar pertanyaan itu, spontan mahasiswa menjawab: “Ya jelas lebih mulia lafadz Allah”.

Sejurus kemudian, Win membuka sepatunya, lalu menghapus nama Allah itu dengan sepatunya, setelah itu sepatu tersebut dipakai lagi.

“Ini jelas penghinaan kepada Allah dan kitabnya,” komentar H. Misbah Sekretaris PCNU Jember.

Inilah beritanya

 

***

 

Hina Asma Allah, Dosen STAIN Jember Diprotes Mahasiswa

 

Jember, NU Online 04/01/2012 16:37

 

Nama Allah yang seharusnya diagungkan, justru direndahkan oleh umatnya sendiri. Inilah yang dilakukan oleh Dosen STAIN Jember, Win Ushuluddin. Menurut Sekretaris PCNU Jember, H Misbahussalam, penistaan nama Alah itu dilakukan Win ketika memberikan kuliah kepada mahasiswanya.

 

Kata Misbah, di hadapan mahaiswanya, dosen filsafat itu menyatakan bahwa menginjak Alqur’an itu tidak apa-apa, tidak berdosa kalau dipandang dari sudut hukum Islam, namun diakuinya itu memang tidak pantas jika dipandang dari sisi etika.

 

Tidak hanya itu, dosen kelahiran Ponorogo tersebut juga jelas-jelas merendahkan asma Allah. Kepada mahasiwanya, Win mengajukan pertanyaan, “lebih mulia mana antara alif, lam, lam ha’ (lafadz Allah) dengan Win ini,”.

 

Pertanyaan tersebut diajukan Win kepada mahasiswanya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah lafafdz Allah dan namanya sendiri yang memang ia tulis di papan. Mendengar pertanyaan itu, masih menurut H Misbah, spontan mahasiswa menjawab: “Ya jelas lebih mulia lafadz Allah”.

 

Sejurus kemudian, Win membuka sepatunya, lalu menghapus nama Allah itu dengan sepatunya, setelah itu sepatu tersebut dipakai lagi. “Ini jelas penghinaan kepada Allah dan kitabnya,” komentar H. Misbah.

 

Misbah menambahkan, keiadian tersebut sudah berlangsung beberapa waktu lalu, namun mahasiswanya baru melaporkan sekarang. Menurutnya, lambatnya pelaporan mahasiswa terkait ulah dosennya, bisa jadi lantaran mahasiswa takut kena sanksi oleh dosen bersangkutan jika hal trsebut sampai terungkap ke publik.

 

“Tapi STAIN, perlu cepat bertindak, karena bisa memancing kemarahan umat jika itu dibiarkan,” jelasnya.

 

Ketua STAIN Jember, Dr Khusnuridlo mbenarkan kejadian tersebut. Bahkan ia mengaku, pihaknya sudah memberikan sanksi kepada dosen tersebut berupa skorsing mengajar selama satu semester dan penundaan kenaikan pangkat. Namun Ridlo tidak serta merta menyalahkan anak buahnya itu. Menurutnya, apa yang dilakukan Win, secara akademik masih bisa dipertanggungjawabkan. Tapi secara aqidah cukup membahayakan, terutama bagi masyarakat awam.

 

“Ya, masih bisa dipertangungjawabkan secara akademik. Diskusi kalau di level doktor itu ‘kan sampai begitu parah,” tukansya.

 

Redaktur : Mukafi Niam

 

Kontributor: Aryudi A Razaq/ nu.or.id

https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-dosen-stain-jember-sengaja-mencopot-sepatunya-untuk-menghapus-lafal-allah/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 502 kali, 1 untuk hari ini)