“Tidak apa-apa shalatnya tidak komplit, yang penting mencoblos PKB, insyaAllah husnul khatimah”.

“Nggak popo salate ora pepek, sing penting nyoblos PKB, Insya Allah husnul khotimah,” ujar Cak Imin (Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar) berulang kali dalam Konsolidasi Kader PKB se-Jatim di DBL Arena Surabaya, Sabtu (29/9/2018).

Omongan Cak Imin itu bagaimana menurut Islam?

Dalam Islam, orang yang shalatnya tidak komplit dalam melaksanakan kewajiban shalat 5 waktu sehari semalam, tentu saja sangat diancam oleh Allah Ta’ala sebagai orang yang lalai terhadap shalatnya. Karena telah ada peringatan tegas dalam Al-Qur’an:

 فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. al-Ma’un: 4 -5).

Makna ‘Celakahlah orang yang shalat’ adalah mereka yang lalai dari shalatnya.

Bentuk lalai dalam shalat, beraneka ragam. Secara umum, bisa kita bagi menjadi beberapa tingkatan,

[1] Lalai hingga meninggalkan shalat.

Seperti mereka yang tidak pernah shalat sama sekali, atau mereka yang bolong-bolong shalatnya, atau mereka yang menunda-nunda shalat hingga keluar waktu.

Model semacam ini yang diceritakan para sahabat.

وقال ابن مسعود : والله ما تركوها البتَّة ولو تركوها البتة كانوا كفاراً ، ولكن تركوا المحافظة على أوقاتها . وقال ابن عباس : يؤخِّرونها عن وقتها

Ibnu Mas’ud mengatakan, demi Allah, mereka tidak meninggalkan semua shalat. Andai mereka sama sekali tidak shalat, mereka kafir. Namun mereka tidak menjaga waktu shalat. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makna ayat’ adalah mereka mengakhirkan shalat hingga keluar waktu. (Zadul Masir, 6/194).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut shalatnya orang munafik. Dia secara sengaja menunda-nunda waktu shalat, hingga mendekati berakhirnya waktu shalat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

Itulah shalatnya orangn munafik.. duduk santai sambil lihat-lihat matahari. Hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), dia baru mulai shalat, dengan gerakan cepat seperti mematuk 4 kali. Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit. (HR. Muslim 1443 & Ahmad 11999).

Read more https://konsultasisyariah.com/29238-makna-celakalah-orang-yang-shalat.html

Meremehkan shalat, meninggikan coblos PKB

Dari sisi lain, perkataan Cak Imin:

“Tidak apa-apa shalatnya tidak komplit, yang penting mencoblos PKB, insyaAllah husnul khatimah” itu dapat dimaknakan meremehkan shalat, dianggapnya yang lebih penting adalah mencoblos partai yang dia pimpin yakni PKB.

Perkataan itu betapa kurangajarnya. Karena shalat adalah hak Allah. Untuk memberikan garansi seperti itu, mesti harus berlandaskan wahyu dari Allah. Dan sama sekali tidak mungkin ada wahyu seperti itu. Maka ketika Cak Imin berani bilang seperti itu, dapat dimaknakan sebagai mengaku mendapatkan mandat dari Allah, atau justru merebut hak Allah.

Itu pasti Allah tidak ridho. Ketika Allah tidak ridho, maka silakan nikmati ancaman ini:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya.(HR. Tirmidzi. Beliau berkata: hadits ini hasan gharib)

Masih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang diridhai Allah yang ia anggap biasa, lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka yang ia anggap biasa lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.(HR. Bukhari).

Resikonya, orang yang berada di situ dan mendengarnya tetapi tidak memperingatkan omongan yang sangat menentang Allah Ta’ala itu, maka mereka akan terkena beban tanggung jawab (dosa besar) pula. Lebih-lebih bila orangnya itu berjulukan ulama. Dan ternyata memang ada “bekas” ulama di samping Cak Imin itu.

Berita tentang omongan Cak Imin selengkapnya silakan simak berikut ini.

***

Cak Imin: Salat Tak Lengkap, Coblos PKB, Husnul Khotimah

Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mengajak seluruh kader NU dan elemen bangsa yang ingin bergabung ke PKB. Ini karena PKB bisa dimasuki atau didukung seluruh elemen bangsa.

Cak Imin juga meminta doa khusus kepada beberapa kiai khos yang hadir dalam Konsolidasi Kader PKB se-Jatim di DBL Arena Surabaya, Sabtu (29/9/2018). Di antaranya adalah KH Anwar Mansur, KH Anwar Iskandar (Gus War), KH Zainuddin Jazuli dan KH Abdus Salam Mujib.

“Semoga yang nyoblos PKB didoakan husnul khotimah. Bareng sama kiai-kiai di Surga. Sing salate nggak pepek (salat tidak lengkap lima waktu), sungkan nyoblos PKB, ojok khawatir, karena sudah didoakan husnul khotimah,” kata Cak Imin di atas podium.

“Nggak popo salate ora pepek, sing penting nyoblos PKB, Insya Allah husnul khotimah,” ujarnya berulang kali.

Di depan Cawapres KH Ma’ruf Amin, Cak Imin berani menargetkan 80 persen kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Jatim. Dia meminta seluruh kader PKB solid dan mencoblos nomor 1 pada Pilpres 2019.

“Pak Jokowi pada Pemilu 2014 dulu di Jatim menang 60 persen. Nah, pada 2019 ini Pak Jokowi-Ma’ruf bisa menang 80 persen. Apa kalian siap dan sanggup?” teriak Cak Imin.

Ribuan kader PKB yang hadir menjawab siap dan sanggup memenangkan 80 persen suara Jokowi-Ma’ruf di Jatim.

Menurut Cak Imin, ada alasan utama kenapa Jokowi memilih Kiai Ma’ruf sebagai cawapresnya. Di antaranya karena Ma’ruf akan melengkapi program revolusi mental Jokowi.

“Kerja Jokowi sebagai presiden untuk memajukan negara sudah menampakkan arahnya. Namun negeri yang maju tidak ada artinya tanpa kekuatan SDM-nya. Karena itu Pak Jokowi perlu berdampingan dengan ulama yang akan menentukan ke mana arah bangsa ini harus berjalan,” pungkasnya. [tok/suf]

Reporter : Rahardi Soekarno J. / m.beritajatim.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 13.919 kali, 1 untuk hari ini)