Sabtu 12 Maret 2016, Aparat Polsek Kepil Wonosobo Jawa Tengah berhasil menggagalkan pernikahan pasangan LGBT, antara sesama laki-laki, yang sudah berpasangan di kursi pengantin. Kanit Reskrim Aiptu Harsono, S.H., (berkumis dua dari kanan) memberikan pemahaman kepada kedua calon mempelai LGBT./ foto tribratanewswonosobo.com

Polisi bertindak menggagalkannya.

Kapolsek Kepil AKP Surakhman, S.H membenarkan bahwa pihaknya memang langsung mendatangi lokasi dan menggagalkan pernikahan sejenis tersebut. “Kami menerima laporan dari masyarakat tentang rencana dilakukannya pernikahan sejenis. Karena kegiatan ini jelas melanggar hukum dan meresahkan masyarakat sekitar, Kami langsung  bertindak dan menggagalkan pernikahan tersebut” ucap Kapolsek Kepil.

Inilah beritanya.

***

KETAHUI KEDUA CALON PENGANTIN MERUPAKAN LGBT, POLSEK KEPIL GAGALKAN PERNIKAHAN

calon mempelai adalah laki - laki

Ketahui kedua calon mempelai adalah laki – laki, Polsek Kepil gagalkan pernikahan

tribratanewswonosobo.com – Berkat laporan warga Desa Teges Wetan Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo,  Sabtu 12 Maret 2016, Aparat Polsek Kepil berhasil menggagalkan pernikahan sejenis, antara sesama laki-laki, dengan cara persuasif dan kekeluargaan.  Dibantu oleh Kepala Desa Teges Wetan,  Hendri Puryanto, bersama perangkat desa dan beberapa tokoh masyarakat serta tokoh agama, akhirnya kedua calon mempelai berikut orang tua masing-masing menyadari kemudian mengurungkan niat untuk melangsungkan pernikahan.

Andi Budi Sutrisno alias Andini, 27 Th,  si calon pengantin yang diasumsikan sebagai pengantin perempuan telah berpakaian pengantin putri. Bahkan orang tuanya sudah mengumumkan pernikahan anaknya kepada jamaah pengajian sejak 3 hari sebelumnya. Pihak keluarga Andini juga sudah memberitahukan akan menerima rombongan pengantin laki-laki yang bernama Didik Suseno dari Pituruh, Kabupaten Purworejo. Lebih parahnya lagi,  Andini dan keluarga sudah membagi – bagikan nasi kenduri kepada warga sekitar sebagai wujud syukur pernikahannya.

Aparat Polsek Kepil

Aparat Polsek Kepil mendatangi rumah yang akan melaksanakan pernikahan sejenis

Di lain pihak, keluarga calon mempelai laki – laki sudah meminta surat numpang nikah (NA) dari KUA Kecamatan Pituruh serta telah mengurus berkas pernikahan di  KUA Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo. Namun  karena mengetahui bahwa calon mempelai perempuannya ternyata berjenis kelamin laki – laki, permohonan tersebut langsung ditolak. Surat penolakan dari KUA Kepil juga sudah disampaikan kepada pihak keluarga Suroso, orang tua Andini. Akan tetapi pihak keluarga tertap bersikeras melanjutkan rencana pernikahan. Hal itu diketahui oleh warga sekitar sehingga menolak dan melaporkannya ke Polsek Kepil.

Anggota Polsek Kepil yang terdiri dari Kanit Reskrim Aiptu Harsono, S.H. dan 2 anggota langsung mendatangi rumah keluarga Suroso, di Dukuh Mejing Rt 04 Rw 02  Desa Teges Wetan Kecamatan Kepil Kabupaten  Wonosobo. Di lokasi, Polisi kemudian mengumpulkan Kepala Desa dan Perangkat  Desa serta tokoh masyarakat  dan tokoh agama guna memberikan penjelasan kepada calon mempelai dan keluarga untuk mengurungkan niatnya. Kanit Reskrim memberikan pemahamn tentang Hukum perkawinan menurut UU No. 1 tahun 1974. “Dalam undang – undang tersebut, dijelaskan, bahwa pernihakan di Indonesia harus dilakukan antara seorang laki – laki dengan seorang perempuan. Untuk satu laki – laki dengan dua perempuan atau lebih saja ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Apalagi ini. Antara laki – laki dengan laki – laki. Hukum jelas melarangnya” ujar Kanit Reskrim kepada kedua calon mempelai dan keluarga.

Bahkan, diundang pula salah seorang tokoh agama yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Iman Tanjunganom, K.H. Ismail. ” Jadi Allah hanya menciptakan laki-laki dan perempuan. Mereka lahir sudah tegas bahwa seorang laki-laki atau seorang perempuan. Tidak ada waria atau banci. Jika pada pertumbuhannya  ternyata ada waria atau banci, itu merupakan salah satu penyakit kejiwaan yang perlu disembuhkan.  Sedangkan pernikahan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan,  hukumnya adalah haram.” ujarnya. ” Allah sudah menerangkan dalam surat Al Hujurat ayat 13.

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣ [سورة الحُـجُـرات,١٣]

yang artinya:  Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal [Al Hujurat13],” lanjut K.H. Ismail.

Akhirnya setelah diberikan penjelasan, para calon mempelai dan keluarganya menyadari akan kesalahan yang telah diperbuat serta bersedia tidak melanjutkan kegiatan pernikahan tersebut. Sementara itu, calon mempelai ‘perempuan’ yang ditemuitribratanewswonosobo.com menyampaikan kekecewaannya. “Sedih sih mas. Namun mau bagaimana lagi. Karena memang tidak boleh menurut undang – undang dan agama, ya saya cuma bisa pasrah.” ungkap Andini.

Sementara itu, Kapolsek Kepil AKP Surakhman, S.H membenarkan bahwa pihaknya memang langsung mendatangi lokasi dan menggagalkan pernikahan sejenis tersebut. “Kami menerima laporan dari masyarakat tentang rencana dilakukannya pernikahan sejenis. Karena kegiatan ini jelas melanggar hukum dan meresahkan masyarakat sekitar, Kami langsung  bertindak dan menggagalkan pernikahan tersebut” ucap Kapolsek Kepil. “Agar ke depan tidak lagi terjadi kejadian seperti ini, kami menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lain. Jadi, ketika ada kegiatan yang bertentangan dengan hukum, dapat dicegah dan tidak menimbulkan akibat yang fatal.” himbaunya.

By: tribratanewswonosobo.com/14 MARET 2016

***

Hukuman Berat bagi Pelaku Homosex ataupun Lesbian

Dalam Islam, haram dan dosa serta adzab atas pelaku homoseks telah dijelaskan di antaranya dalam Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 54 – 58.:

وَلُوْطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتًوْنَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتًمْ تُبْصِرُوْنَ ( 54) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ (55) فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوْا أَخْرِجُوْا ءَالَ لُوْطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُوْنَ (56) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاَّ امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِيْنَ (57) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطُرٌ الْمُنْذَرِيْنَ (58) النمل : 54-58

  1. Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia Berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah[1101]itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?”
  2. ”Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”.
  3. Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih[1102]”.
  4. Maka kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).
  5. Dan kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), Maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (An Naml: 54-58).

[1101] perbuatan keji: menurut Jumhur Mufassirin yang dimaksud perbuatan keji ialah perbuatan zina, sedang menurut pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum seperti : zina, homosek dan yang sejenisnya. Menurut pendapat Muslim dan Mujahid yang dimaksud dengan perbuatan keji ialah musahaqah (homosek antara wanita dengan wanita).
[1102] perkataan kaum Luth kepada sesamanya. Ini merupakan ejekan terhadap Luth dan orang-orang beriman kepadanya, Karena Luth dan orang-orang yang bersamanya tidak mau mengerjakan perbuatan mereka.

Homoseks adalah laki-laki mendatangi (melakukan perbuatan seks dengan laki-laki). Sedang lesbi adalah seorang wanita mendatangi wanita lainnya (melakukan perbuatan seks).

( 1138 ) – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : { مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ , وَمَنْ وَجَدْتُمُوهُ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ فَاقْتُلُوهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ , إلَّا أَنَّ فِيهِ اخْتِلَافًا .
.–الجزء :4 (سبل السلام) الصفحة :25

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ٍ”Siapa-siapa yang kamu dapati dia mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual, laki-laki bersetubuh dengan laki-laki), maka bunuhlah yang berbuat (homoseks) dan yang dibuati (pasangan berbuat homoseks itu); dan barangsiapa kamu dapati dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuhlah binatang itu.” (HR Ahmad dan Empat (imam), dan para periwayatnya orang-orang yang terpercaya, tetapi ada perselisihan di dalamnya).
Dalam Kitab Subulus Salam dijelaskan, dalam hadis itu ada dua masalah. Pertama, mengenai orang yang mengerjakan (homoseks) pekerjaan kaum Luth, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perbuatan dosa besar. Tentang hukumnya ada beberapa pendapat: Pertama, bahwa ia dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan (dianalogikan) dengan zina karena sama-sama memasukkan barang haram ke kemaluan yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dan jama’ah dari kaum salaf dan khalaf, demikian pula Imam Syafi’i. Yang kedua, pelaku homoseks dan yang dihomo itu dibunuh semua baik keduanya itu muhshon (sudah pernah nikah dan bersetubuh) atau ghoiru muhshon (belum pernah nikah) karena hadits tersebut. Itu menurut pendapat pendukung dan qaul qadim As-Syafi’i. Masalah kedua tentang mendatangi/ menyetubuhi binatang, hadits itu menunjukkan haramnya, dan hukuman atas pelakunya adalah hukum bunuh. Demikianlah pendapat akhir dari dua pendapat Imam As-Syafi’i. Ia mengatakan, kalau hadits itu shahih, aku berpendapat padanya (demikian). Dan diriwayatkan dari Al-Qasim, dan As-Syafi’i berpendapat dalam satu pendapatnya bahwa pelaku yang menyetubuhi binatang itu wajib dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan dengan zina. (Subulus Salam, juz 4, hal 25).

Dari ayat-ayat, hadits-hadits dan pendapat-pendapat itu jelas bahwa homoseks ataupun lesbian adalah dosa besar. Bahkan pelaku dan pasangannya di dalam hadits dijelaskan agar dibunuh. Maka tindakan dosa besar itu wajib dihindari, dan pelaku-pelakunya perlu dijatuhi hukuman.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.626 kali, 1 untuk hari ini)