BM siswi kelas 1 SD sedang menunggu kakaknya yang duduk di kelas V. Tiba-tiba seorang siswi dari kelas 3 menghampiri. VA siswi kelas 3 ini menghardik dan mendorong-dorong BM sampai-masuk ke toilet siswa.

Di dalam toilet, kepala BM dibenturkan ke dinding dan wajahnya ditendang. VA memaksa korban menanggalkan pakaian lalu seragam tersebut disiram dengan air keran agar tidak bisa lagi dipakai korban.

BM menangis dan minta VA berhenti menyiksa, tetapi diabaikan.

BM mengerang kesakitan, tetapi sang kakak kelas bukannya kasihan malah semakin menjadi-jadi. “Saya haus! Saya ingin minum,” teriak korban sambil bercucuran air mata. VA menyodorkan selang keran toilet ke mulut BM. VA memaksa BM minum air keran.

Inilah berita selengkapnya:

***

Siswi SD Kelas 1 Disiksa Senior

Ilustrasi Gambar / okeZone.com

KU tak mau lagi sekolah. Takut…” pekik

BM, 6. Siswi kelas satu SD Quantum Indonesia di Jalan Kalimanggis, Kecamatan Jatisampuma, Kota Bekasi, itu terus menolak pergi ke sekolah.

Orangtuanya, San, 44, dan Arf, 34, sudah berusaha meyakinkan sang buah hati bahwa kondisi sekolah sudah aman. Tidak ada yang perlu ditakutkan, tetapi BM sukar diyakinkan.

“Dia minta dicarikan sekolah baru,” ujar Arfina, kemarin, dengan nada gusar. Bagaimana ia tidak gusar, putrinya sudah seminggu tak bersekolah karena trauma dengan perbuatan seniornya. “Anak saya ketakutan. Dia terlihat murung.”

BM sepertinya masih trauma dengan insiden yang terjadi Senin (24/10) siang. Bayang-bayang sang senior, VA, 8, terus menghantui putri kedua dari tiga bersaudara itu. BM tok lagi ceria seperti dulu. Ia suka sendirian atau mengurung diri dalam kamar.

Trauma yang merenggut keceriaan BM bermula saat bermain-main di halaman sekolah. Ia asyik bermain sendirian karena memang sedang proses belajar-mengajar.

Sebagai siswa kelas paling bawah, ia hanya bersekolah sampai pukul 11.45 WIB.

Proses belajar kelas tiga hingga enam sampai pukul 14.00. Saat itu, BM sedang menunggu kakaknya yang duduk di kelas V. Tiba-tiba seorang siswi darimenghampiri. VA menghardik dan mendorong-dorong BM sampai-masuk ke toilet siswa.

Di dalam toilet, kepala BM dibenturkan ke dinding dan wajahnya ditendang. VA memaksa korban menanggalkan pakaian lalu seragam tersebut disiramdengan air keran agar tidak bisa lagi dipakai korban.

BM yang ketakutan hanya bisa melihat wajah VA dengan harapan dikasihani. Tatapan itu diartikan VA melototi dirinya dan diminta supaya menutupi mata dengan rambut. BM menangis dan minta VA berhentimenyiksa, tetapi

diabaikan. BM mengerang kesakitan, tetapi sang kakak kelas bukannya kasihan malah semakin menjadi-jadi. “Saya haus! Saya ingin minum,” teriak korban sambil bercucuran air mata. VA menyodorkan selangkeran toilet ke mulut BM. “VA memaksa anak saya minum air keran,” tutur Arfina lagi.

Setelah puas memperlakukan korban tanpa terlihat orang lain sekitar 10 menit, VA bergegas meninggalkan tempat kejadian perkara. BM pun memakaikan kembali seragamnya yang telah basah kuyup.

Karena tidak terima anaknya disiksa sedemikian rupa. Arf melaporkan kasus kekerasan itu ke Polres Metro Bekasi. Kasus nomor laporan 2748/K/XX/2011/ SPKT itu ditangani unit pelayanan perempuan dan anak (PPA).

Mengapa sekolah diam saja? “Kami berusaha memediasi dua pihak, yakni orangtua BM dan VA. Tetapi, kondisi saat ini tidak memungkinkan karena orangtua BM masih terlihat emosi,” jelas Wakil Kepala SD Quantum Indonesia Ayi Listriani.

Pihak sekolah akan berusaha mempertemukan kedua pihak dan mencari solusi,” terangnya. Ia menambahkan, VA dan BM sama-sama tidak masuk sekolah. Tercatat sejak Rabu (26/10) keduanya tidak mengikuti kegiatan belajar tanpa keterangan yang jelas. “Keduanya alpa. Namun, sekolah dapat memaklumi,” imbuhnya. (Colda Eksa/J-1) 01 Nov 2011, Media Indonesia, Nasional

***

Akibat negeri ini tidak menggubris agama, bahkan ada gejala memusuhi Islam

Betapa jauhnya dari sifat lembut dan kasih sayang yang diajarkan agama, karena kemungkinan memang di sekolah maupun di keluarga dan masyarakat sudah kurang memperhatikan agama.

Yang terjadi di masyarakat, ada polisi berkomplot membunuh guru ngaji dengan menembaknya hingga korbannya tewas terkapar di jalanan dalam mobil.

Sebegitu ganasnya kekejaman yang terjadi, kesewenang-wenangan. Yang lain justru melarang beredarnya buku yang menuntun Ummat Islam agar keimanannya jadi benar. Sementara itu buku yang merusak dengan aneka corak ragamnya dibiarkan. Jadi apakah sebenarnya manusia Indonesia ini biar berakhlak bejat? Wallahu a’lam.

Yang jelas, kekejaman satu sama lain akan berlangsung, bahkan kenyataannya masih kelas 3 sekolah dasar dan bahkan perempuan pula, sudah sekejam itu; semuanya adalah gara-gara tidak diterapkannya hukum Allah Ta’ala. Karena sudah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ “4019 (ابن ماجة ) مسند الصحابة في الكتب التسعة – (ج 17 / ص 194)

“…dan selagi pemimpin-pemimpin (pemerintahan, bangsa, masyarakat) mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka tidak  memilih dari apa yang diturunkan Allah (maka tiada lain) kecuali Allah menjadikan keganasan satu sama lain di antara mereka (HR Ibnu Majah no 4019, hasan menurut Al-Albani dalam As-Silisilah As-Shohihah 106/ 4009)

Semua itu telah nyata di hadapan kita.

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 3.722 kali, 1 untuk hari ini)