Ilustrasi /ist

.

  •  Dari 12.000 video porno yang ditemukan, banyak pemeran (zina) dalam video tersebut masih berusia sekitar 10-12 tahun
  • Atas perbuatannya Deden dijerat dengan pasal 29 UndangUndang No 44 tahun 2008 tentang pornografi dengan sanksi hukuman paling lama 12 tahun dan denda paling banyak Rp 6 miliar, pasal 27 ayat (1) jo pasal 52 UU ITE dengan sanksi hukuman maksimal 8 tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar.
  • Terhadap kedua pasal tersebut pun ditambah 1/3 dari maksimum ancaman pidana, karena pelaku melibatkan anak-anak dalam kegiatan dan atau menjadikan anak sebagai objek.

Satuan reserse Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Senin (24/2) dinihari, berhasil membekuk pengelola bisnis video porno anak via online di Jalan H Akbar Nomor 46, Kelurahan Pasir Kalili, Cicendo, Bandung, Jawa Barat.

Pelaku bernama Deden Martakusumah ditangkap, setelah petugas melakukan penyelidikan selama dua hari. “Dari hasil penyelidikan kami sebagai pelaku bisnis pornografi online,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Arief Sulistyanto.

Dijelaskan Arief, pelaku mengelola tiga website porno yakni NU…..com, BO…com dan SA….Co…..com yang berisi kurang lebih 14 ribu video porno.

Adapun video porno yang kebanyakan diperankan oleh anak di bawah umur itu didapat pelaku dari internet lantas  diupload di website yang dikelolanya.

“Tidak semua orang bisa mengakses, karena dengan metode tertentu dan dia bisa leluasa menjual gambar porno yang dilakukan anakanak, maka kita sebut child pornografi online,”paparnya.

Setiap orang yang akan mendaftar untuk membuka dan mendownload videovideo porno anak tersebut dikenakan biaya sebesar Rp 30.000 hingga Rp 80.000. Pelaku sudah menjalani bisnis ini sejak tahun 2010 lalu.

“Setiap member harus mendaftar, setelah mendaftar nanti pelaku memberikan kode akses kepada pembeli berupa angka,”bebernya.

Dalam kasus ini pihaknya menyita 2 buah handphone, satu buah laptop, satu buah modem, tiga buah kartu ATM (BCA, Mandiri dan BRI, dan 3 buku tabungan.

Atas perbuatannya Deden dijerat dengan pasal 29 UndangUndang No 44 tahun 2008 tentang pornografi dengan sanksi hukuman paling lama 12 tahun dan denda paling banyak Rp 6 miliar, pasal 27 ayat (1) jo pasal 52 UU ITE dengan sanksi hukuman maksimal 8 tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar. (ans/dom) berita8.com

Terhadap kedua pasal tersebut pun ditambah 1/3 dari maksimum ancaman pidana, karena pelaku melibatkan anakanak dalam kegiatan dan atau menjadikan anak sebagai objek./ terasjakarta.com.

Dalam kesempatan sama, Kasubdit Cyber Crime Kombes Pol Rahmat Wibowo menye but kan, dari 12.000 video yang di temukan banyak pemeran dalam video tersebut masih berusia sekitar 10-12 tahun. “Bahkan baru lepas dari 10 tahun. Ada yang sengaja membuat ada juga yang candid (tersembunyi) dan ada yang kelihatannya dalam keadaan tidak sadar,” katanya.

Rahmat mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Kementerian Ko mu  ni kasi dan Informasi terkait ka  sus tersebut. Menurut dia, pelaku melanggar Pasal 29 Un  dangUndang Nomor 44/2008 tentang Pornografi dengan sanksi hukuman paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp6 miliar dan Pasal 27 ayat (1) Pasal 52 UndangUndang In for  masi dan Transaksi Elektronik dengan sanksi hukuman mak  simal delapan tahun dan atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Selain itu, pelaku terancam dikenakan Pasal 3, 4, dan 5 UndangUndang Nomor 28/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang apabila terbukti ada hasil kejahatan yang di kaburkan. Tim Cyber Crime yang berada di bawah Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bares  krim Mabes Polri menyatakan transaksi pengelola situs porno grafi anak di bawah umur yang dilakukan Deden Mar takusumah mencapai Rp100 juta per tahun. Rahmat mengatakan, dalam menjalankan aksinya pelaku membandrol harga Rp30.000 sampai Rp800.000 per paket video. (/ okezone/ant/sindo)

***

Astaghfirullah! “Generasi Facebook” ABG Gunung Kidul Jogja Banyak yang Zina dan Hamil

By nahimunkar.com on 6 August 2011

إنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah: diabaikannya ilmu (agama) dan bercokolnya kebodohan, diminumnya khamr (minuman keras), dan merebaknya zina.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Dari Ibnu Abbas rhadhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu desa maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi).

Banyak gadis ABG (anak baru gede) belum umur 16 tahun berani zina, lalu hamil, kemudian mengajukan proses persidangan ke Pengadilan Agama untuk nikah. Itu gara-gara kenalan lewat facebook, menurut Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Gunung Kidul, Siti Haryanti.
Inilah berita selengkapnya:

Karena Facebook, Banyak Gadis Gunung Kidul Hamil Luar Nikah

“Facebook” atau situs jejaring sosial diduga salah satu pemicu nikah usia dini atau di bawah umur di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pernyataan ini disampaikan Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Gunung Kidul, Siti Haryanti.

“Saat di persidangan kami selalu menanyakan apakah pasangan di bawah umur berkenalan melalui “Facebook”. Pasangan tersebut ternyata mengakui berkenalan lewat situs itu dan melanjutkan hubungan hingga hamil di luar nikah,” kata dia di Wonosari, dikutip KBR Antara, Kamis.

Menurut dia, “Facebook” menyebabkan permohonan nikah usia dini di kabupaten itu melonjak drastis pada tahun ini.

Remaja usia sekolah, kata dia, di kabupaten itu menjalin pergaulan secara bebas melalui situs itu.

“Situs itu mudah diakses bahkan hingga ke pedesaan sehingga akibat hubungan yang intensif memicu remaja hamil di luar nikah,” katanya.

Dia mengatakan lonjakan pengajuan nikah di bawah umur terjadi dalam dua tahun terakhir.

Pada 2011, kata dia, tercatat sebanyak 130 pasangan di bawah umur mengajukan pernikahan di Pengadilan Agama.

Jumlah pemohon nikah usia dini pada tahun ini, menurut dia, mengalami kenaikan drastis, yakni sebesar 100 persen dibandingkan sepanjang Tahun 2010.

“Pada tahun lalu, pasangan di bawah usia yang menikah sebanyak 120 pasangan,” katanya.

Dia mengatakan, pemohon nikah rata-rata berusia di bawah 16 tahun untuk perempuan dan di bawah 19 tahun untuk laki-laki.

“Sesuai Undang Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 batas usia pernikahan adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun laki-laki,” katanya.

Namun, kata dia, Pengadilan Agama (PA) Gunung Kidul harus menerima pengajuan nikah usia dini karena rata-rata pasangan hamil di luar nikah.

“Setiap tahun angka pernikahan usia dini di kabupaten tersebut terus meningkat, padahal Pemkab Gunung Kidul telah melakukan banyak sosialisasi untuk menguranginya,” kata dia.

Ia mengatakan, dampak dari nikah usia dini adalah pasangan mengalami putus sekolah dan menanggung beban psikologis.

“Pasangan yang menikah di bawah umur tidak siap secara ekonomi sehingga memicu terjadinya perceraian,” katanya.

Untuk menekan tingginya angka nikah usia dini, kata dia, pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten lebih gencar menyosialisasikan dampak nikah usia dini kepada seluruh masyarakat.

“Sosialisasi bisa dilakukan melalui Forum Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (FPK2PA),” kata dia.*

Sumber : ant
Rep: Ainuddin Chalik
Red: Cholis Akbar
Hidayatullah.com – Sabtu, 06 Agustus 2011

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.888 kali, 1 untuk hari ini)