“Saya kaget, saya di suruh menurunkan celana dalam,” kata Ummu Nauzah.

Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi pertama kali membezuk suaminya, pada 10 Mei 2013 lalu. Awalnya sipir hanya meraba-raba tubuhnya sebagai prosedur pemeriksaan pembezuk. Namun, selanjutnya petugas jaga dengan nada ketus menyuruhnya menurunkan celana dalam yang ia kenakan. Sipir beralasan bahwa hal tersebut adalah prosedur pemeriksaan kepada setiap pengunjung.

“Ibu kalau nggak mau diperiksa, nggak usah bezuk suami,” kata sipir yang ditirukan Ummu.

Dilarang membawa al-Qur’an

Selain pelecehan seksual, para istri ini juga mengeluhkan pelayanan Mako Brimob Depok yang berlebihan. Salah satunya melarang para tahanan menyimpan al-Qur’an.

Inilah beritanya.

***

Petugas Jaga Rutan MAKO Brimob Paksa Pengunjung Wanita Lepaskan Celana Dalam

ummu nauzahUmmu Nauzah sat mengadukan pelecehan yang dialaminya kepada Komnas HAM, 23 Agustus 2013

Jakarta – Para istri dari nara pidana kasus terorisme, mengaku mengalami tindak pelecehan saat membezuk suami mereka di Rumah Tahanan Markas Komando Brigade Mobil, Polri, di Kelapa Dua, Depok, Jawab Barat. Salah satunya dialami oleh Ummu Nauzah, istri dari Agus Suprianto, saat masuk ke ruangan bezuk, ia diminta,oleh sipir wanita yang memeriksanya untuk menurunkan celana dalam yang dipakainya.

“Saya kaget, saya di suruh menurunkan celana dalam,” kata Ummu kepada kiblat.net saat melaporkan peristiwa itu kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jumat (23/8/13).

Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi pertama kali membezuk suaminya, pada 10 Mei 2013 lalu. Awalnya sipir hanya meraba-raba tubuhnya sebagai prosedur pemeriksaan pembezuk. Namun, selanjutnya petugas jaga dengan nada ketus menyuruhnya menurunkan celana dalam yang ia kenakan. Sipir beralasan bahwa hal tersebut adalah prosedur pemeriksaan kepada setiap pengunjung.

Ummu menolak permintaan sipir wanita tersebut. Sehingga petugas jaga tidak membolehkannya membezuk karena tidak memenuhi permintaa tersebut. “Ibu kalau nggak mau diperiksa, nggak usah bezuk suami,” kata sipir yang ditirukan Ummu.

Perlakuan serupa juga dialaminya ketika kunjungan bezuk untuk kedua kalinya pada tanggal 24 Mei 2013. Sipir beralasan bahwa ada beberapa pembesuk tahanan yang sengaja membawa uang dan telepon genggam sehingga harus dilakukan pemeriksaan secara ketat. Namun Ummu tetap menolak menurunkan celana dalamnya.

“Saya baru nurunin barang belum sempat diperiksa dan diraba-raba, petugas langsung tanya saya, ibu masih ingat saya? Saya jawab iya, dia langsung bilang, ya sudah turunkan celana dalam Ibu” ungkap Ummu dengan nada marah.

“Terpaksa saya dua kali menjenguk nggak bisa masuk,” tambah dia.

Ummu Nauzah sempat memberikan argumentasi perlawanan terhadap sipir wanita tersebut, ia mengatakan kepada sipir bahwa alasan pemeriksaan dengan menurunkan celana dalam tidak logis mengingat petugas memiliki alat pemeriksaan yang canggih.

“Saya bilang ke dia, kenapa harus turunkan celana? Bukannya anda punya metal detecktor? Katanya alanya modern? Jadi buat apa alat itu tidak digunakan,” tegasnya.

Selain tidak masuk akal, menurut Ummu Nauzah pemeriksaan dengan menurunkan celana dalam hanya dilakukan oleh regu jaga yang dipimpin oleh sipir bernama Dwi Martini.

“Hanya grupnya dia aja yang sangat ketat seperti itu, grup yang lain tidak. Sampai sekarang masih berlangsung cara seperti itu,” katanya.

Ketika peristiwa itu terjadi, Ummu Nauzah sempat ada orang yang menginformasikan hal tersebut kepada suaminya di tahanan, suaminya pun langsung melaporkan kepada otoritas Densus 88 di tahanan. Namun, petugas Densus 88 tidak mau menangani dengan alasan tidak memiliki otoritas.

“Waktu saya idsuruh turunkan celana dalam, saya nangis-nangis, lalu ada yang kasih tahu ke suami saya. Dia langusng beritahukan ketua Densus. Tapi, ketua Densusnya bilang ke suami saya, Maaf, Brimob..Brimob, Densus.. Densus.. kita beda,” ungkap Ummu.

Ummu Nauzah sendiri, akhirnya  baru bisa bertemu dengan suaminya setelah dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cibinong.

Pengakuan serupa juga dituturkan oleh Umi Latif dan Ahmah Nabilah. Kedua istri dari tahanan Mako Brimob itu juga disuruh menurunkan celana dalam lalu diperiksa sebentar, setelah itu dinaikan lagi. “Saya juga mengalami hal yang sama” ungkap salah satu dari wanita bercadar itu.

Pelecehan Terhadap Wanita

Menyikapi pengaduan tersebut, komisioner Komnas HAM Siane Indriani menyatakan bahwa kasus tersebut adalah kasus pertama kali yang diadukan dan menunjukkan sikap ketakutan berlebihan sipir tahanan.

“Ini kasus baru, baru pertama kali dilaporkan. Ini keterlaluan, paranoid, jelas ini pelecehan” cetusnya.

Ia minta petugas sipir tidak bersikap berlebihan. Sebab, pemeriksaan tanpa menyuruh membuka celana dalam pun, sudah meraba-raba pengunjung yang dirasa cukup memenuhi standar pemeriksaan.

“Jangan keterlaluan seperti itulah, kalau keterlalua itu menunjukkan sikap terlalu paranoid.

Senada dengannya, Farid Ghazali salah seorang pengacara Tim Pembela Muslim, mengatakan bahwa perbuatan tersebut jelas pelecehan terhadap harkat wanita meskipun dilakukan pula oleh sesama wanita.

“Jelas itu pelecehan, apa kalau laki-laki mau seperti itu celananya dibuka oleh lelaki lain? Pasti tidak mau” tegasnya. (qathrunnada/kiblat.net) Sabtu, 24 Agustus 2013 12:14

Dilarang membawa al-Qur’an

Selain pelecehan seksual, para istri ini juga mengeluhkan pelayanan Mako Brimob Depok yang berlebihan. Salah satunya melarang para tahanan menyimpan al-Qur’an.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini, dan kami akan tindak lanjuti,” jelas Sianne Indriyani kepada Hidayatullah.com setelah menerima pengaduan para istri-istri yang suami menjadi korban penangkapan Densus 88 ini.

Menurut Sianne, harusnya pihak Densus dan kepolisian juga memerhatikan hak-hak kemanusiaan keluarga yang dituduh kasus terorisme.

“Mereka belum terbukti bersalah, proses hukum masih berlanjut, jangan mempersulit kunjungan apalagi sampai melakukan pelecehan,” tambah Sianne.

“Apalagi sampai mengintervensi hak privasi dan melarang mereka menyimpan al-Qur’an,” jelasnya lagi.

Sementara kuasa hukum para istri tersebut Ahmad Michdan dari Tim Pengacara Muslim (TPM) menjelaskan. Kasus pelecehan seksual ketiga istri ini hanya sebagian kecil. Sebelumnya masih banyak hal-hal yang lebih parah dan insiden pelecehan tersebut.

“Masih ada banyak kasus lagi yang belum kami ungkap terkait pelecehan seksual karena para korban masih belum berani bicara,” jelas Ahmad Michdan melengkapi pernyataan Sianne kepada hidayatullah.com. Sabtu, 24 Agustus 2013 – 12:47 WIB

***

{وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9) إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ } [البروج: 8 – 10]

8. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,

9. yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.

10. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan[1568] kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (QS Al-Buruj/ 85: 8-10)

[1568] Yang dimaksud dengan mendatangkan cobaan ialah, seperti menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh dan sebagainya.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.223 kali, 1 untuk hari ini)