Inilah bertanya.

***

Pembakaran dan penjarahan terjadi lagi di Desa Muslim Rohingya

MAUNGDAW – Para personel Nasaka (polisi keamanan perbatasan Burma) dan Hluntin mengepung desa warga Rohingya, Sawmawna Para di dekat Myothu Gyi di Maungdaw dengan dalih mencari senjata yang disembunyikan di desa itu, pada Sabtu (16/6/2012) pagi.

Desa tersebut dibakar oleh polisi, Hluntin dan etnis Rakhine. Beberapa rumah dibakar hingga menjadi abu dan rumah-rumah yang tersisa dituduh menyembunyikan senjata, sementara dilaporkan tidak ada pria di desa itu. Hanya ada perempuan yang melindungi rumah mereka dari penjarahan, lapor Kaladan Press.

Sementara di desa Apukwa di kota Kyauk Taw sekitar 20 rumah dibakar oleh ekstrimis Rakhine pada Jum’at (15/6) pagi. Pasukan keamanan mendatangi desa itu dan berusaha memadamkan api. Tidak ada informasi korban akibat insiden tersebut. Tentara juga dikerahkan ke desa-desa Rohingya di selatan dan utara Kyauk Taw.

Selain itu para personel Nasaka dari kamp 16 Shwezar, Maungdaw memangil warga Rohingya berdasarkan daftar keluarga mereka dan kemudian merampas perkakas dapur dari rumah-rumah warga Rohingya pada Sabtu (16/6) pagi. Di tempat lain di Banga para di desa Zawmatat, etnis Rakhine beserta Hluntin dan polisi juga menjarah harta milik warga Rohingya, merampas makanann seperti beras dan makanan-makanan lainnya dari rumah Rashid Ahmad pada hari yang sama. (siraaj/arrahmah.com) Ahad, 17 Juni 2012 07:54:19

 ***

Bangladesh menyuruh pergi puluhan pengungsi Rohingya di tengah cuaca buruk

TEKNAF (Arrahmah.com) – Polisi penjaga perbatasan Bangladesh (BGB) dan penjaga pantai Bangladesh menyuruh 43 pengungsi Rohingya yang berusaha memasuki Bangladesh melalui pulau St. Martin dengan sebuah perahu pada Rabu (13/6/2012) untuk  kembali ke tempat tinggal mereka di Rakhine (Arakan), Myanmar.

Namun mereka tertahan pergi karena perahu mereka rusak ketika sedang mencoba untuk menambat dalam keadaan angin kencang dan hujan deras. Pada keesokan harinya Kamis (14/6) pagi, seorang bayi lahir di perahu itu. Para pengungsi itu akhirnya tetap tinggal di pantai dibawah penahanan penjaga pantai di pulau itu ketika bayi tersebut lahir.

Kemudian pada hari Jum’at (15/6), BGB dan penjaga pantai memberikan para pengungsi perahu baru dan mengirim 44 pengungsi (setelah kelahiran bayi) kembali ke laut sekitar pukul 4:30 waktu setempat.

Seorang pria tua dari kelompok pengungsi itu mengatakan kepada Kaladan Press, “kami melarikan diri ke Bangladesh dari Burma karena desa-desa kami dibakar dan banyak Muslim Rohingya yang dibunuh oleh polisi, Hluntin dan orang Rakhine di Sittwe (Akyab).”

Dia juga mengatakan bahwa mereka pikir Bangladesh adalah negara Muslim dan independen, sehingga mereka melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari pembunuhan oleh polisi, Hluntin (polisi anti huru-hara) yang berkomplot dengan etnis Buddha Rakhine, dan mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan perlindungan dari otoritas Bangladesh.

Lebih jauh pria itu mengatakan, “setidaknya, otoritas Bangladesh harus memberikan kami sebuah tempat kecil di tengah hujan deras dan angin sebagai manusia. Bangladesh mendorong kami kembali dalam cuaca buruk, padahal mereka dapat mendorong kami kembali ketika cuaca telah normal. Hal itu akan baik bagi kami.”

Ada sejumlah perahu yang masih terombang-ambing di muara sungai Naf, dimana berisi para pengungsi yang termasuk wanita dan anak-anak yang terluka.

Ribuan pengungsi Rohingya telah diusir dari Bangladesh dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya pada hari Selasa (12/6) BGB pun telah mengusir tiga perahu pengungsi Rohingya yang berusaha menyelamatkan diri ke tanah Bengali itu. (siraaj/arrahmah.com) Ahad, 17 Juni 2012 07:25:05

(nahimunkar.com)

(Dibaca 802 kali, 1 untuk hari ini)