Menanggapi kepala desa dan tokoh desa yang menandatangani penolakan autopsi jenazah Siyono dan soal pengusiran istri Siyono, Suratmi istri Siyono berkata: ”Tidak apa. Saya ikhlas pergi dari sini. Tanah milik Allah luas.”

Muhammadiyah akan tetap melakukan autopsi pada jenazah Siyono, yang tewas setelah ditangkap dan diperiksa Densus 88.

“Kita akan bantu otopsi Siyono untuk ke proses hukum selanjutnya. Jika Indonesia tidak bisa selesai, kalau perlu ke Mahkamah Internasional adanya pelanggaran hukum, karena hal ini pelanggaran HAM yang luar biasa,” kata Dahnil Anzar Simanjuntak dari PP Muhammadiyah.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak bahwa pihaknya melakukan advokasi permintaan keadilan terhadap keluarga Siyono, seperti dilansir antarajateng.com.

PP Muhammadiyah menghargai permintaan warga dan keluarga Siyono dalam menjaga kuat toleransi. Suratmi istri Siyono yang minta keadilan juga tidak mempermasalahkan soal jasad Siyono jika ditolak dimakamkan di desa ini.

Kendati demikian, pihaknya akan membantu apa yang dibutuhkan oleh keluarga Siyono untuk mencarikan tempat untuk pemakaman jasad Siyono dan pindah rumah keluarga Suratmi.

“Kita akan bantu otopsi Siyono untuk ke proses hukum selanjutnya. Jika Indonesia tidak bisa selesai, kalau perlu ke Mahkamah Internasional adanya pelanggaran hukum, karena hal ini pelanggaran HAM yang luar biasa,” katanya, dikutip antarajateng.com Rabu, 30 Mar 2016 17:32:49  WIB

Inilah beritanya.

***

Muhammadiyah Akan Tetap Autopsi Jenazah Siyono, Siap Tampung Istri dan Anak Almarhum

pp pemuda muhammadiyah

Foto: istimewa/ Ketum PP Pemuda Muhammadiyah berdialog dengan Kades

Jakarta – Muhammadiyah akan tetap melakukan autopsi pada jenazah Siyono, yang tewas setelah ditangkap dan diperiksa Densus 88. Muhammadiyah mendapat aduan dari Suratmi yang meminta keadilan.

“Almarhum Siyono dan Suratmi istrinya bukan kader Muhammadiyah. Kami membantu siapapun, apapun agamanya selama mereka mencari keadilan,” jelas Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar yang datang ke Klaten sebagai perwakilan Muhammadiyah, Rabu (30/3/2016).

Dahnil menjelaskan sejak pagi hingga sore dia berada di Klaten. Kedatangannya menemui Suratmi dan kelima anaknya. Kemudian juga menemui warga serta kepala desa. Apalagi ada kabar adanya penolakan dari warga soal autopsi jenazah Siyono dan ancaman pengusiran Suratmi dan kelima anaknya yang masih kecil.

“Tadi saya bertemu warga sekitar dan tidak ada yang menolak soal autopsi. Kemudian saya berdialog dengan kepala desa, karena kepala desa dan tokoh desa yang menandatangani penolakan autopsi dan soal pengusiran istri Siyono,” jelas Dahnil.

Hingga akhirnya, dialog digelar dengan kepala desa. Dan memang ada penolakan soal autopsi. Muhammadiyah bergeming dan akan tetap melakukan autopsi untuk keadilan Suratmi.

“Autopsi terhadap jenazah almarhum akan dilakukan dalam waktu dekat, secepatnya. Terkait penolakan warga, Muhammadiyah sangat menghormatinya namun proses autopsi tetap akan dilakukan,” tegas dia.

Sekali lagi, Dahnil menegaskan kalau Muhammadiyah hanya membantu mereka yang lemah dan mencari keadilan. Suratmi juga sudah siap apabila diusir.

“Kata dia, bumi Allah luas, saya sampai merinding mendengarnya,” imbuh Dahnil.

Namun Muhammadiyah tidak akan tinggal diam dan akan membantu Suratmi.

“Jika pasca autopsi, Bu Suratmi diusir oleh warga, pengurus Muhammadiyah Klaten siap mencarikan dan membuatkan rumah untuk beliau sekeluarga. Muhammadiyah akan menanggung seluruh beban ekonomi yang ditanggung oleh keluarga almarhum,” tutupnya.

(dra/dra) news.detik.com – Herianto Batubara – Rabu 30 Mar 2016

***

Ini 8 Point Hasil Pertemuan Keluarga Siyono dengan PP Pemuda Muhammadiya Terkait Otopsi dan Pengusiran

Di Kediaman Rumah Siyono

Di rumah almarhum Siyono

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak Hari ini (30/3) mengunjungi rumah almarhum Siyono. Beliau ditemani Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jateng, Zainuddin Ahpandi dan Ketua PW Pemuda Muhammadiyah DIY, Iwan Setyawan serta Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten, H.Abdul Rodhi.

Sekitar 40 orang pasukan KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) ikut mengamankan kunjungan ini. Dipimpin langsung oleh Komandan KOKAM Jateng dan DIY.

Keluarga korban diduga mendapatkan tekanan, bahkan ancaman untuk tidak boleh tinggal di Pogung, bila tetap melakukan otopsi. “Saya baru selesai berdialog bersama warga, Kepala Desa, Bu Suratmi, dan pihak Kepolisian” Ujar Bang Dahnil kepada redaksi SangPencerah.com

Berikut 8 Poin hasil pertemuan hari ini, Rabu 30 Maret 2016 :

  1. Muhammadiyah siap memberi advokasi kepada keluarga almarhum, khususnya Bu Suratmi (istri almarhum)
  2. Hal ini dilakukan semata untuk menegakkan keadilan tanpa melihat latar belakang yg bersangkutan karena almarhum bukan kader Muhammadiyah.
  3. Komnas HAM tidak diberi hak oleh aparat untuk melakukan investigasi sehingga perlu kerjasama dengan Muhammadiyah.
  4. Bahkan jika pemerintah mengabaikan hal ini, Muhammadiyah siap membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional.
  5. Autopsi terhadap jenazah almarhum akan dilakukan dalam waktu dekat/secepatnya.
  6. Terkait penolakan warga, Muhammadiyah sangat menghormatinya namun proses autopsi tetap akan dilakukan.
  7. Jika pasca autopsi, Bu Suratmi diusir oleh warga, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten siap mencarikan dan membuatkan rumah untuk beliau sekeluarga.
  8. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten akan menanggung seluruh beban ekonomi yg ditanggung oleh keluarga almarhum.

dakwahmedia.net/2016/03

***

”Tidak apa. Saya ikhlas pergi dari sini. Tanah milik Allah luas.”

Usai pertemuan, rombongan menunaikan shalat Zhuhur di Masjid Munirah yang melekat jadi satu dengan rumah orang tua Siyono. Dahnil menggelar konferensi pers usai menunaikan shalat.

Suratmi sempat meneteskan air mata. Dia dengan penuh keikhlasan siap angkat kaki meninggalkan Kampung Brengkungan. ”Tidak apa. Saya ikhlas pergi dari sini. Tanah milik Allah luas. Kami siap hidup dimanapun”.

Pernyataan tulus Suratmi menjawab tuntutan warga. Mereka menolak pembongkaran dan autopsi jenazah Siyono. Bila autopsi dilakukan, jenazah tidak boleh dimakamkan di sana lagi. Keluarga Siyono pun harus angkat kaki dari Dukuh Brengkungan. ”Saya trenyuh mendengar pernyataan Bu Suratmi. Nangis saya tadi. Haru saya tadi,” aku Dahnil.

Rasa trenyuh Dahnil juga terlihat ketika ia menyerahkan dua gepok uang yang diserahkan ke PP Muhammadiyah. Uang yang diperkirakan ratusan juta itu untuk membungkam Suratmi agar tidak melakukan upaya hukum atas kematian suaminya. ”Ternyata wanita mempunyai karakter, bersikukuh, tidak goyah dengan uang. Materi bukan segala-galanya”.

Menurut Dahnil, ini ‘PR’ (Pekerjaan Rumah) terberat yang harus dihadapi. Betapa tidak, Suratmi harus menyandang status janda dengan tanggungan lima anak yang masih kecil. Siapa yang harus tanggung-jawab membesarkan dan mendidik mereka, sementara negara tidak hadir dalam masalah ini.

Almarhum Siyono bukan warga maupun kader Muhammadiyah. Tapi, Muhammadiyah ingin hadir di dalamnya. Ingin melindungi, menuntut keadilan, memberi rasa aman, melakukan advokasi hingga tuntas./ dakwahmedia.net/2016/03

(nahimunkar.com)

(Dibaca 927 kali, 1 untuk hari ini)