kumpulan wong seneng bengak bengok
kadang ga’ punya malu bagai muka tembok
gusur sana gusur sini kerahkan barisan pentungan balok
bagai pendekar memainkan jurus mabok
diadukan ke pengadilan, palu hakim telah mengetok
sang durjana pun divonis berkali-kali keok
namun semuanya dianggap palu rongsok
keputusan hakim dipantati sambil tak peduli tengok

adigang adigung adiguno kata wong jowo
didukung para menungso yang angkoromurko
hingga tambah brangasan lagi arogan
sampai berani menista Al-Qur’an
masih didukung pula oleh syetan-syetan ngalasan
dengan dalih-dalih tidak memenuhi persyaratan tuduhan
padahal mereka sendiri tadinya telah mengiyakan
memang bagai kata orang, zamane zaman edan
ora ngedan ora kebagian
hingga yang dibela bukan kebenaran
tapi justru manusia yang berani menghina Al-Qur’an
bagai manusia ingkar, tidak takut azab Tuhan
karena banyak wadyabalanya dan sombong-sombong
nalar waras mereka sudah dibuang ke kolong
hingga mereka tak malu memuja penggoyang bokong
didukung ulama suu’ suka bohong
yang menjual agama demi dukung kecebong

giliran mereka adu jangkrik ternyata jagonya keok
padahal sudah nyebar sogok
lalu mereka saling tuding untuk nutupi borok
agar tidak tersingkap apa yang dibalik kedok
kepada sesama mereka pun saling plerak plerok
rancangan yang mereka gadang-gadang dengan riang
tahu-tahu bagai debu dibawa angin terbang
yang tadinya sudah berharap jabatan basah
berbalik jadi resah gelisah
mereka bukan pasrah tapi karena kalah
permainan pun menyisakan gundah

entah ke mana tempat mengadu
karena selama ini memang tidak mau tahu
bahwa hidup ini seharusnya mengikuti wahyu
yang telah dibawa oleh Rasulullah untuk semua manusia
tapi mereka sudah biasa terlena
sehingga ketika terjengkang di tikungan kekalahan
tidak mau sadar, selama ini tak pernah sandarkan hidup ke Yang Maha Kuasa

dianggapnya semua bisa diatasi dengan duit
kalau sudah ada duit pasti beres

ternyata mereka salah perhitungan
akibatnya di dunia pun klimpungan
entah seperti apa nasibnya di akherat
bila umur habis tidak sempat bertobat

itu semua pelajaran berharga bagi siapa saja
yang masih menyayangi dirinya
agar tidak keblangsak di dunia
apalagi di akherat yang pasti setiap manusia tak bisa lari darinya

sekarang mau apa
silakan saja

pelajaran berharga itu ada di depan mata
bila tak mampu menyadarkan diri kita
maka kejadian yang lebih memalukan bahkan sampai kudung-kathok pun takkan menjadi pelajaran apa-apa
karena berarti telah mati hatinya
sedangkan matinya hati itu kematian tragis paling rugi untuk selama-lamanya
semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita yang patuh kepadaNya dari segala kerugian seperti yang mereka derita akibat mati hatinya

aamiin ya Rabbal ‘alamiin

***
Ilustrasi: “Stop penggusuran warga miskin! Jakarta bukan hanya untuk orang kaya dan kelas menengah saja!”/ foto viva/konfrontasi

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.231 kali, 1 untuk hari ini)