Awalnya Iseng Coba-coba Puasa, Sir Rowland Allanson Malah Masuk Islam

 



PADA suatu hari, seorang intelektual dan bangsawan asal Inggris, Sir Rowland George Allanson, menyaksikan kaum muslimin di Pakistan sedang berpuasa. Ketika itu kebetulan sedang musim panas yang sangat terik.

“Sungguh gila orang-orang ini,” bathinnya. “Di panas terik seperti ini mereka tidak minum dan tidak makan.”

Setelah menyaksikan mereka yang berpuasa ternyata bukannya lemah, tapi malah tampak lebih segar dan bahagia, tergeraklah hatinya ingin mencoba merasakan nikmatnya berpuasa.

Maka, ia pun mulai berpuasa, bukan karena iman, melainkan sekadar coba-coba belaka. Pada hari pertama dan kedua, ia merasakan kepayahan yang luar biasa: tangan dan kakinya gemetaran.

Ketika meneruskan berpuasa sampai hari ketiga, ia mulai terbiasa. Dan pada hari keempat ia sudah merasakan kenikmatan berpuasa. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya jernih, terbebas dari rangsangan dan keinginan aneh-aneh.

Karena penasaran dengan ajaran puasa ini, ia pun menyelidiki hakikat puasa sebagaimana diajarkan Islam. Sebagai ilmuwan, ia tak puas jika tidak mempelajari sesuatu sampai tuntas. Maka ia pun mempelajari dan meneliti Al-Quran.

Pada akhirnya, kepuasannya sebagai ilmuwan terpenuhi: ia menemukan kebenaran sejati. Hidayah Allah SWT pun menetes ke dalam qalbunya, hatinya melonjak bahagia. “Inilah agama yang selama ini aku cari-cari,” katanya.

Selang beberapa waktu kemudian, tepatnya 16 November 1913, ia pun membaca dua kalimah syahadat, dan mengganti namanya yang kemudian terkenal dengan panggilan “Syaikh Rahmatullah Al-Farooq”, sementara panggilan sehari-harinya “Lord Headly AlFarooq”.

Pengetahuan dan kekagumannya terhadap Islam kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku yang laris, A Western Awakening to Islam (Fajar Kebangkitan Barat Menyambut Islam).

Sir Rowland George Allanson (19 Januari 1855 – 22 Juni 1935) adalah seorang ‘Baron’ atau bangsawan. Maka dia biasa disebut ‘Baron Headly’.

Setelah masuk Islam, ia menjadi Tokoh Mualaf tekemuka di Inggris Raya.

Ia memimpin British Muslim Society untuk beberapa waktu.

[Video – Baron Headley. Great British Muslim]

 

https://youtu.be/-iTV4ol6tFc

[portal-islam.id]  Sabtu, 16 Mei 2020  Mualaf Story

***

 

Ini 4 Muslim Inggris yang Bersinar di Era Victoria

Sabtu 18 Jun 2016 17:33 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Ilham


Lady Evelyn Cobbold (1867-1963).

Lady Evelyn Cobbold atau yang kemudian mengganti namanya menjadi Zainab, merupakan bangsawan terakhir Victoria yang masuk Islam. Ia lahir di Edinburgh pada 1987 dan merupakan anak ketujuh dari Earl of Dunmore.

Pada 1933, saat berusia 65 tahun, ia menyatakan memeluk Islam dan menjadi wanita Barat pertama yang melaksanakan ibadah haji. Ia menulis sebuah buku berjudul “Pilgrimage to Mecca” yang mengisahkan perjalanannya.

Rowland Allanson-Winn (1855-1935)

Rowland Allanson-Winn atau lebih dikenal dengan Lord Headley, menjadi Muslim pertama yang duduk di House of Lords. Pada 1913 ia masuk Islam dan berganti nama menjadi Syekh Rahmatullah al-Farooq. Pada 1914 ia memimpin Komunitas Masyarakat Muslim Inggris.

Lord Headley melihat Islam sebagai agama toleransi dan belajar Islam dari mentornya seorang ulama Islam Khwaja Kamaludin. Ia berangkat haji ke Mekkah pada 1923. Saat sekarat ia sempat menulis wasiat pada anaknya yang meminta agar ketika meninggal ia dimakamkan di pemakaman Islam.

Cerita-cerita ini menunjukkan sebuah era di mana Islam dilihat sebagai cahaya yang jauh berbeda oleh masyarakat Barat dibanding sekarang. Berikut sejumlah Muslim era Victoria:

William Quilliam (1856-1932).

William Quilliam yang kemudian berganti nama menjadi Abdullah Quilliam merupakan anak seorang pendeta Methodist yang menonjol di Liverpool. Pada 1856, Quilliam masuk Islam. Ia telah melakukan perjalanan dari Inggris ke Maroko, Tunisia dan Aljazair untuk mencari iklim yang lebih hanya untuk membantu pemulihan penyakitnya.

Quilliam terpesona dengan Islam dan menenggelamkan diri mempelajarinya. Quilliam yang memeluk Islam saat berada di Maroko, kembali ke Liverpool dan mulai menyebarkan keyakinannya. Di usia 20an ia mendirikan masjid pertama di Inggris yang dibuka tepat pada hari Natal 1889 di Liverpool. Quilliam diangkat jadi pemimpin Muslim Inggris oleh Khalifah terakhir Ottoman.

Quilliam menulis buku untuk memperkenalkan Islam kepada warga Inggris. Ia bahkan mengirimkan salinannya ke Ratu Victoria yang dilaporkan menikmati buku itu dan membuat salinan untuk anak-anaknya.

Marmaduke Pickthall (1875-1936).

Muhammad Marmaduke Pickthall merupakan sarjana Inggris yang lahir sebagai pendeta Anglikan. Sebelum masuk Islam, ia bepergian ke India dan Timur Tengah.

Pickthall masuk Islam pada 1917 dan melanjutkan menerbitkan terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris modern. Terjemahannya itu kemudian disahkan oleh Universitas Al-Azhar Kairo dan menjadi standar penerjemahan Alquran dalam bahasa Inggris saat ini.

Dalam kata pengantar dari terjemahannya, Pickthall mengatakan Alquran tak bisa diterjemahkan. Menurutnya ini hanya upaya menghadirkan makna Alquran dalam bahasa Inggris. Namun terjemahan ini menurutnya tak akan pernah menggantikan dan tak bertujuan menggantikan arti Alquran dalam bahasa Arab

https://republika.co.id/

***

Tidak sama antara mukmin-muslim dan kafir-non muslim

Tafsir Al-Qurthubi menunjukkan ayat-ayat, tidak sama antara mereka yang beriman (Muslim-Mukmin) dengan mereka yang kafir (non Muslim).

قَوْلُهُ تَعَالَى: (لَا يَسْتَوِي أَصْحابُ النَّارِ وَأَصْحابُ الْجَنَّةِ) أَيْ فِي الْفَضْلِ وَالرُّتْبَةِ (أَصْحابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفائِزُونَ) أَيِ الْمُقَرَّبُونَ الْمُكَرَّمُونَ. وَقِيلَ: النَّاجُونَ مِنَ النَّارِ. وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِي” الْمَائِدَةِ” عِنْدَ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ «1». [المائدة: 100] وَفِي سُورَةِ” السَّجْدَةِ” عِنْدَ قَوْلُهُ تَعَالَى: أَفَمَنْ كانَ مُؤْمِناً كَمَنْ كانَ فاسِقاً لَا يَسْتَوُونَ «2» [السجدة: 18]. وَفِي سُورَةِ” ص” أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ «3» كَالْفُجَّارِ [ص: 28] فلا معنى للإعادة، والحمد لله «4».

 

{ أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ (18) أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلًا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (19) وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ } [السجدة: 18 – 20]

18. Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. [As Sajdah:18]

19. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. [As Sajdah:19]

20. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. [As Sajdah:20]

 

{لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ } [الحشر: 20]

20. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung. [Al Hashr:20]

{ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ } [المائدة: 100]

100. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. [Al Ma”idah:100]

{وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ (27) أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ} [ص: 27، 28]

27. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. [Sad:27]

28. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? [Sad:28]

***

Dengan meyakini Islam dan memahami ayat-ayat al-Qur’an bahwa memang jelas tidak sama antara mukmin -muslim
(tempatnya di surga) dan kafir -non muslim (tempatnya di neraka), maka ilmuwan bangsawan Inggris Lord Headley (Rowland Allanson-Winn (1855-1935) yang masuk Islam dan berganti nama menjadi Syekh Rahmatullah al-Farooq) saat sakaratul maut ia sempat menulis wasiat pada anaknya, meminta agar ketika meninggal ia dimakamkan di pemakaman Islam.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 863 kali, 1 untuk hari ini)