Hari Asyura (10 Muharram) ada perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk puasa. Bahkan dijanjikan, menghapus dosa (kecil) setahun yang lalu.

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ ». رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Dalam hal ini Syiah justru bersikap lain. Pakar Syiah Ustadz Farid Ahmad Okbah, Lc, MA Hafidzhahulloh mengemukakan bahwa

Husain Syahab di TV Hadi (televisi syiah) menyatakan bahwa bani Umayyah membeli ahli hadist untuk memalsukan hadist puasa 10 Muharram sedang syiah menampilkan hari duka atas kematian imam Husain.

Itulah kedustaan syiah. Rasululloh Shallallohu Alaihi wa Sallam memerintahkan ummat Islam shaum 10 muharram awal hijrah ke Madinah. Sedang syahidnya imam Husain tahun  61 Hijriah oleh orang orang syiah syiah sendiri dari Kuffah bukan dari Syam. Karena Rasululloh Shallallohu Alaihi wa Sallam melarang meratapi orang mati, maka  kita menolak peringatan Ratapan itu dan Menolak kegiatan Syiah.

Demikianlah. Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan puasa asyura, tetapi golongan sesat Syiah di Indonesia justru mengadakan acara nasional, Asyura untuk apa yang mereka sebut bersedih bersama atas kematian Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Bersedih sendirian (bukan mengajak orang-orang) yang kaitannya kematian dengan aksi-aksi itu sudah disebut niyahah, perbuatan jahiliyah, sangat dilarang dalam Islam dan diancam neraka oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika orang-orang syiah Indonesia malah mengadakan apa yang mereka sebut bersedih bersama secara nasional, itu berarti menyeret bangsa ini ke perbuatan jahiliyah yang telah dilarang Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Berarti Umat Islam Indonesia menghadapi bahaya syiah yang menyeret Umat dan bangsa ini untuk melawan ajaran Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apakah Umat Islam Indonesia rela diseret menjadi orang-orang yang melawan ajaran Rasulullah alias melawan Islam, yang berarti sama dengan melawan Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Mentaati Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam berarti mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedang sebaliknya, melawan Rasulullah adalah perkara yang sangat besar, diancam oleh Allah Ta’ala untuk dimasukkan ke neraka jahannam. Inilah ayat-ayatnya.

{مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا } [النساء: 80]

 80. Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka[321]. (QS An-Nisaa’/ 80).

[321] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا } [النساء: 115]

115. dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’: 115).

[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

Meratap secara beramai-ramai yang dilakukan syiah bukan ajaran Islam. Bahkan menentang Islam, mengikuti tingkah jahiliyah.

Relakah Umat Islam Indonesia diseret oleh Syiah ke tingkah jahiliyah, menentang Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang telah diancam untuk dimasukkan ke neraka jahannam oleh Allah?

Berikut ini uraian tentang betapa kerasnya larangan meratapi mayat alias niyahah yang merupakan warisan jahiliyah. Selamat menyimak, semoga bermanfaat.

***

DOSA BESAR BAGI YANG MERATAPI KEMATIAN

.

475- وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ : – لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اَلنَّائِحَةَ , وَالْمُسْتَمِعَةَ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد

dari Abu Said alKhudry radhiyallaahu anhu beliau berkata: Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam melaknat wanita yang meratap dan wanita yang mendengarkannya (riwayat Abu Dawud)<< al-Munawy menyatakan sanadnya lemah (atTaisiir bi syarhi Jaamiis Shoghir(2/570), dilemahkan juga oleh Syaikh al-Albany>>

PENJELASAN:

Hadits ini adalah lemah, namun terdapat dalil-dalil yang menunjukkan bahwa meratap adalah perbuatan dosa besar.

النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Wanita yang meratap jika tidak bertaubat sebelum meninggal, pada hari kiamat akan diberdirikan (di hadapan para makhluk) dengan memakai pakaian dari ter dan pakaian kudis(H.R Muslim 1550).

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek saku, dan berseru dengan seruan Jahiliyyah (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Meratap adalah perbuatan menangis yang diiringi dengan ucapan, teriakan, atau perbuatan yang menunjukkan ketidakrelaan atas musibah yang ditakdirkan Allah. Termasuk meratap adalah menangisi kematian mayit sambil menyebutkan kebaikan-kebaikannya dengan harapan juga semakin banyak yang menangisinya.

Yang diperbolehkan adalah sekedar menangis (berlinang air mata) dan menahan ucapan agar tidak keluar kata-kata yang bisa menimbulkan kemurkaan Allah.

Ketika putra Nabi Muhammad shollallaahu alaihi wasallam yang bernama Ibrahim meninggal dunia, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menangis dan ditanya oleh Abdurrahman bin Auf: dan engkau (menangis) juga wahai Rasulullah? Rasul menjawab: sesungguhnya ini adalah rahmat (kasih sayang), kemudian beliau menyatakan:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

Sesungguhnya mata berlinang, hati bersedih, dan kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kami (H.R alBukhari no 1120).

إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ

Sesungguhnya Allah tidaklah mengadzab karena air mata yang berlinang ataupun hati yang bersedih. Namun Ia mengadzab karena ini (beliau mengisyaratkan pada lisannya) atau Allah merahmati (H.R al-Bukhari dan Muslim).

476- وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ لَا نَنُوحَ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه

dari Ummu Athiyyah radhiyallaahu anha beliau berkata: Rasulullah mengambil perjanjian dari kami agar kami tidak bersikap meratap(menceritakan kebaikan-kebaikan mayit agar kerabat yang ditinggalkan menangisinya (Muttafaqun alaih)

PENJELASAN:

Demikian besarnya dosa meratap sampai Nabi shollallahu alaihi wasallam jika membaiat wanita yang masuk Islam, beliau juga mengambil perjanjian (baiat) agar wanita tersebut tidak meratapi kerabat/orang dekat  yang meninggal .

عَنْ أَسِيدِ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ عَنْ امْرَأَةٍ مِنَ الْمُبَايِعَاتِ قَالَتْ كَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَعْرُوفِ الَّذِي أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ لَا نَعْصِيَهُ فِيهِ أَنْ لَا نَخْمُشَ وَجْهًا وَلَا نَدْعُوَ وَيْلًا وَلَا نَشُقَّ جَيْبًا وَأَنْ لَا نَنْشُرَ شَعَرًا

Dari Asid bin Abi Asid dari wanita yang dibaiat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, ia berkata: Di antara perjanjian yang diambil oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dari kami  adalah agar kami tidak bermaksiat kepadanya, tidak mencakar wajah, tidak berseru : Celaka!, tidak merobek saku, tidak menjambak rambut (pada saat bersedih)(H.R Abu Dawud)

 .

MAYIT TERSIKSA KARENA DIRATAPI

 

477- وَعَنْ عُمَرَ – رضي الله عنه – عَنِ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – اَلْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ. وَلَهُمَا: نَحْوُهُ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَة

dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam : Mayit diadzab di kuburnya karena diratapi (Muttafaqun alaih). Diriwayatkan juga oleh alBukhari dan Muslim yang semisal dengan itu dari alMughirah bin Syu’bah radhiyallaahu anhu

PENJELASAN:

Mayit akan tersiksa di kuburnya jika kematiannya diratapi oleh orang-orang dekatnya. Hal itu terjadi jika:

  1. Ia mewasiatkan bahwa jika ia meninggal hendaknya ia diratapi (berharap agar orang yang masih hidup meratapi kepergiannya).
  2. Ia tahu kondisi keluarganya bahwa jika ia meninggal, keluarganya akan meratapinya, namun ia tidak mencegahnya.

Namun, siksaan yang dimaksud dalam hadits ini bukanlah siksaan hukuman, namun siksaan penderitaan tidak bisa beristirahat dengan tenang seperti safar yang disebut dalam sebagian hadits sebagai adzab juga (asy-Syarhul Mukhtashar ala Bulughil Maram karya Syaikh al-Utsaimin(4/67)).

Bentuk siksaan yang lain adalah celaan dari Malaikat kepada mayit setiap kali ia diratapi dan disebut-sebut kebaikannya. Malaikat akan berkata: Apakah engkau seperti itu?! Hal ini seperti yang terjadi pada Sahabat Nabi Abdullah bin Abi Rowaahah tatkala ia pingsan akan meninggal, saudara perempuannya meratapinya. Ketika ia siuman dari pingsan ia berkata bahwa ketika pingsan dan ia diratapi, Malaikat bertanya kepadanya: apakah engkau seperti itu. Dengan sebab penjelasannya tersebut, pada saat ia benar-benar meninggal dunia, tidak ada yang meratapinya (H.R alBukhari dari anNu’man bin Basyiir no 3934).

.

BOLEHNYA MENANGISI KEMATIAN ORANG YANG DICINTAI

478- وَعَنْ أَنَسٍ – رضي الله عنه – قَالَ: – شَهِدْتُ بِنْتًا لِلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – تُدْفَنُ , وَرَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – جَالِسٌ عِنْدَ اَلْقَبْرِ، فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ – رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ

Dari Anas radhiyallaahu anhu beliau berkata: Saya menyaksikan jenazah putri Nabi shollallaahu alaihi wasallam dimakamkan sedangkan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam duduk di sisi kubur dan aku melihat kedua mata beliau berurai air mata (riwayat alBukhari)

PENJELASAN:

Hadits ini merupakan dalil tentang bolehnya menangis berlinang air mata saat sedih dengan kematian orang yang tercinta. Sekedar menangis sebagai bentuk kesedihan adalah diperbolehkan, karena Nabishollallahu alaihi wasallam  juga menangis ketika kematian putri beliau sebagaimana dalam hadits ini.

(Dikutip dari sebagian tulisan Syarh Kitab al-Janaiz Min Bulughil Maram (Bag ke-9) April 16, 2013,  Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman, ZIARAH KUBUR UNTUK MENGINGAT AKHIRAT di link http://salafy.or.id/blog/2013/04/16/syarh-kitab-al-janaiz-min-bulughil-maram-bag-ke-9/ 0.

***

 

 

Larangan Meratap

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali

Dari al-Mughirah r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang ditangisi diiringi dengan ratapan, maka ia akan disiksa menurut kata-kata yang diucapkan dalam ratapan itu’,” (HR Bukhari [1291] dan Muslim [933]).

Dari Ummu ‘Athiyyah r.a. ia berkata, “Ketika bai’at, Rasulullah saw. meminta kami agar tidak meratapi mayit,” (HR Bukhari (1306) dan Muslim (936).

Dari Abu Malik al-Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Empat perkara yang terdapat pada ummatku yang termasuk perbuatan Jahiliyyah, yang tidak mereka tinggalkan, (1) Membanggakan kebesaran leluhur. (2) Mencela keturunan. (3) Menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang. (4) Meratapi mayit.” Lalu beliau bersabda, “Wanita yang meratapi orang mati, apabila tidak bertaubat sebelum meninggal, akan dibangkitkan pada hari Kiamat dan dikenakan kepadanya pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal,” (HR Muslim [934]).

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Dua perkara yang dapat membuat manusia kufur: mencela keturunan dan meratapi mayit’,” (HR Muslim [67]).

Dari ‘Amrah, ia berkata, “Aku mendengar ‘Aisyah r.a. berkata, ‘Ketika sampai berita gugurnya Zaid bin Haritsah, Ja’far dan ‘Abdullah. bin Rawahah r.a, Rasulullah saw. duduk berduka cita, dapat dilihat kesedihan pada diri beliau -aku mengintipnya dari celah pintu-. Lalu datanglah seorang lelaki dan berkata, ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya isteri dan putera-puteri Ja’far menangis -ia menyebutkan tangisan keluarga Ja’far-.’ Lalu Rasulullah saw. memerintahkan agar melarang mereka. Lalu lelaki itu pun pergi kemudian datang lagi dan berkata, ‘Aku telah melarang mereka!’ la menyebutkan bahwa mereka tidak mengindahkannya. Lalu Rasulullah menyuruhnya melarang mereka untuk yang kedua kali. Laki-laki itu pun pergi kemudian kembali dan berkata, ‘Demi Allah mereka tidak bisa kami kendalikan. Aku kira Rasulullah saw. berkata, ‘Lemparkanlah tanah ke mulut mereka! Aku pun berkata kepadanya, ‘Semoga Allah menghinakanmu, demi Allah engkau tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Engkau tidak membuat Rasulullah saw. beristirahat dari lelahnya’,” (HR Bukhari [1259] dan Muslim [935]).

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Ketika Ibrahim wafat, Usamah bin Zaid, ia berkata, Ketika Ibrahim, putera Rasulullah berteriak-teriak. Rasulullah saw. berkata, “Perbuatan seperti itu bukan dari petunjukku, berteriak-teriak seperti itu tidak benar. Hati memang bersedih, mata memang berlinang, namun kita tidak boleh mengucapkan perkataan yang membuat marah Rabb Azza wa Jalla,” (Hasan, HR Ibnu Hibban [3160] dan al-Hakim [I/382]).

Dari Abu Burdah dari ayahnya yang berkata, “Ketika Umar ditikam, maka Shuhaib berteriak, ‘Oh saudaraku!’ Maka ‘Umar berkata, Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah saw. bersabda,“Sesungguhnya seorang mayit akan diadzab karena tangisan orang yang hidup,” (HR Bukhari [1290] dan Muslim [930]).

Dari an-Nu’man bin Basyir r.a, ia berkata, “Ketika ‘Abdullah bin Rawahah r.a. tidak sadarkan diri meledaklah tangis saudara perempuannya sambil berteriak, ‘Oh pujaanku, oh ini dan ini…’ la menyebutkan bermacam-macam pujian. Ketika sadar ‘Abdullah berkata, Tidaklah engkau mengatakan suatu pujian melainkan dikatakan kepadaku, ‘Benarkah engkau seperti itu!?” Ketika ‘Abdullah bin Rawahah wafat, saudara perempuannya itu tidak menangisinya,” (HR Bukhari [4267] dan [4268]).

Dari Abu Musa r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang yang mati lalu orang-orang menangisinya dengan meneriakkan: Oh dambaan kami! Oh tuan kami! Atau kata-kata sejenisnya melainkan akan diutus dua Malaikat yang mendorong-dorongnya seraya berkata kepadanya, ‘Benarkah engkau seperti itu’?” (Shahih lighairhi, HR at-Tirmidzi [1003] dan Ibnu Majah [1594]).

Kandungan Bab:

  1. Haram hukumnya meratapi mayit, yaitu menangisi mayit dengan me-ngangkat suara dan menyebut-nyebut kelebihan si mayit. Dalil haramnya adalah sebagai berikut:
  2. Larangan tegas dan jelas yang menunjukkan keharamannya.
  3. Si mayit disiksa karena ratapan tersebut.
  4. Orang yang meratap apabila tidak bertaubat akan disiksa pada hari Kiamat nanti.
  5. Rasulullah saw. berlepas diri dari ratapan dan orang-orang yang meratap.
  6. Para ulama berbeda pendapat tentang diadzabnya mayit karena ratapan yang diucapkan terhadapnya dan karena tangisan orang-orang yang hidup. Ada beberapa pendapat yang berbeda dalam masalah ini. Menurutku, pendapat yang terpilih adalah ancaman yang disebutkan dalam hadits tersebut ditujukan kepada orang-orang yang menjadikan ratapan sebagai kebiasaannya atau orang yang mewasiatkan kepada ahli keluarganya agar meratapi jenazahnya. Atau ditujukan kepada orang yang tidak melarang keluarganya dari hal tersebut. Ini merupakan pendapat Jumhur ahli ilmu. Aku telah membahas panjang lebar masalah ini v ‘alam kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhis Shaalihiin (III/168-171).
  7. Meratap merupakan prilaku Jahiliyyah yang wajib dijauhi oleh seorang Muslim yang telah mengarnbil Islam sebagai jalan hidup.
  8. Meratap termasuk dosa yang dapat diampuni oleh Allah dengan bertaubat, inabah, menyesal dan istighfar.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 1/601-602.

Oleh: Fani,  Selasa, 21 Oktober 2008 21:21

http://alislamu.com/larangan/64-dalam-jenazah/1623-larangan-meratap.html

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 1.694 kali, 1 untuk hari ini)