Komunis Berkedok Agama Liberal

Gejala Bahaya Laten Neo Komunisme pun Merambah ke Perguruan Tinggi Islam

Jauh sebelum dilantik menjadi Presiden RI, 20 Oktober 2014, Presiden Joko Widodo yang lebih populer dipanggil Jokowi; dicurigai banyak pihak mempunyai kaitan dengan komunis bawah tanah. Kecurigaan ini dibuktikan dengan visi-misi pemerintahan yang diajukan ke KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang seratus persen menjiplak konsep Partai Komunis China atau RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dalam pembangunan negara, menurut seorang pengamat di Jogja.

Rakyat Indonesia harus menyadari bahaya ini, dan tidak melupakan akibat buruk pemberontakan G 30 S PKI. Rakyat Indonesia jangan lengah untuk ketiga kalinya, setelah terbantainya sejumlah jenderal AD tahun 1965.

Di tahun 2015, pemerintahan Jokowi mengarahkan pembangunan infrastruktur skala besar di bidang maritim, transportasi darat dan pertanian. Pembangunan di tiga bidang ini sepintas menunjukkan keberpihakan pada rakyat. Tapi hendaknya diwaspadai target tersembunyi program pencarian dana raksasa dari proyek tersebut, yang akan dikelola oleh para taipan, dan kelak dialirkan ke perjuangan kebangkitan komunis di Indonesia.

Inilah ulasannya.

***

Komunis Berkedok Agama Liberal

kaum liberal 

Kaum liberal yang memuluskan gerak komunis di Indonesia (Foto: RM)

YOGYAKARTA– Paham komunis kian bercokol di Bumi Pertiwi. Jika dahulu mereka terang-terangan membuat partai (PKI), kini mereka berlihai-lihai memasang kedok agama liberal untuk operasinya.

Berikut ulasan Ustadz Muhammad Thalib mengenai sepak terjang komunis dalam menggunakan kendaraan agama liberal guna memporak-porandakan Indonesia, pada Risalah Mujahidin, Jum’at (3/7/2015). 

Bismillah.

Pada dekade 80-an terjadi kehebohan di Amerika Serikat. Ketika itu muncul sekte Kristen dengan label Children of God. Sekte ini mempunyai doktrin bahwa setiap orang Kristen adalah anak Tuhan, bukan hanya Yesus saja. Mereka juga menolak otoritas kependetaan yang memberikan sakramen dan doktrin penebusan dosa.

Children of God (COG) sempat berganti nama menjadi Family of Loves (Keluarga Kasih), adalah sebuah gerakan agama sesat yang dimulai pada 1968 di Huntington Beach, California, Amerika Serikat. Gerakan ini adalah bagian dari Jesus Movement (Gerakan Yesus) pada akhir tahun 1960-an. Sebagian besar anggotanya berasal dari gerakan hippie, yaitu salah satu sekte dari banyak sekte pelaku seks bebas dan pengguna narkoba di Amerika dan Eropa.

Pada 1974, sekte ini mulai bereksperimen dengan metode penginjilan yang disebut Menjala dengan Lirikan (Flirty Fishing) dengan mengobral seks untuk menggaet pendukung dan anggota baru. Sebagaimana halnya Syi’ah yang menggunakan mut’ah untuk mencari pengikut. Sekte ini mengembangkan dokktrinnya dengan kebebasan tanpa kendali, termasuk kebebasan seks (kumpul kebo).

Belakangan diketahui bahwa yang membidani sekte Children of God adalah seorang komunis Amerika Serikat bernama David Berg. Sekte Children of God digunakan agar tetap eksis secara terbuka, karena Komunisme dilarang di Amerika. Sekte sesat dan cabul ini pernah muncul di Jakarta dan Bandung pada era 1980-an. Konon masih aktif dan berpindah-pindah tempat sampai sekarang.

Komunis di balik Liberalisme

Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah mengklaim beranggota 15 juta orang, dan pada Pemilu 1955 menjadi partai ke empat di Indonesia, yang berantakan setelah terjadinya gerakan 30 September 1965, tidak ingin terkubur mati begitu saja. Namun peristiwa biadab G30S PKI, mengundang kebencian rakyat Indonesia, maka rezim orde baru pimpinan Jenderal Soeharto membubarkan PKI dan melarang segenap aktivitasnya di seluruh wilayah Indonesia.

Apakah pembubaran dan pelarangan ini, lalu PKI menyatakan takluk? Ternyata tidak. Sekalipun puluhan ribu para pengikut PKI yang dipenjarakan di masa orde baru, tapi anak keturunan mereka tetap mengembangkan jaringan agar tidak terkubur sia-sia di Nusantara ini. Bahkan ada yang tampil terbuka menyatakan, “Saya bangga jadi anak PKI”.

Dalam menghadapi situasi yang serba sulit dan bermusuhan di Indonesia, mereka menggunakan politik akal bulus; berlindung di balik kegiatan spiritual ataupun keagamaan. Lahirnya mereka bergabung dengan Islam atau Kristen atau kelompok-kelompok kebatinan, tapi sebenarnya mereka mempunyai agenda sendiri yang menyimpang dari ajaran agama-agama tersebut. Bahkan mereka juga membaur melalui ormas atau partai politik tertentu.

Komunis dengan mudah menjadi Islam, sorenya jadi Kristen, besok paginya jadi Buddha. Mereka enjoy saja, karena mereka tidak percaya Tuhan. Luarnya menampakkan aktifitas spiritual keagamaan, sekadar kamuflase menghindari kecurigaan masyarakat. Tapi sebenarnya mereka adalah atheis sejati.

Untuk menjaga eksistensi ideologi, agar aktifitas mereka tidak terpantau masyarakat, mereka mencoba berimprovisasi berkedok liberalisme atau ‘agama liberal’. Agama liberal maksudnya, cara hidup yang bertuhan pada hawa nafsu, yang tidak terikat dengan semua ajaran agama. Semboyan mereka, “Bebas beragama dan bebas tidak beragama. Itu hak asasi”.

Di Indonesia, kehadiran ‘agama liberal’ ini, tidak lepas dari upaya PKI untuk meninggalkan pengalaman pahit dan penuh tindakan sadisme setelah gagalnya G30S PKI. Secara normatif ‘agama liberal’ yang mereka ciptakan ini untuk memenuhi tuntutan rasa aman dan memberikan citra kesantrian, sehingga selamat dari kecurigaan dan pengawasan masyarakat serta aparat keamanan.

Sekalipun para ‘mantan’ keluarga komunis ini melakukan ritual-ritual keagamaan bersama dengan masyarakat sekitarnya, namun mereka juga menggeluti dunia magis (perdukunan). Dengan mencampur adukkan ritual keagamaan dan perilaku magis para keluarga komunis ini berharap dapat diterima oleh masyarakat dan memperoleh kembali kedudukannya secara wajar.

Namun mereka berhadapan dengan kesulitan besar untuk melangsungkan kehidupan di bidang ekonomi, karenanya mereka berupaya mencari jalan pintas. Sebab lapangan usaha yang halal, seperti jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) atau melakukan usaha-usaha yang memerlukan perizinan pemerintah sangat sulit. Lalu mereka memilih cara-cara yang oleh agama diharamkan, tetapi secara materi dengan cepat dapat meraup duit banyak.

Bagi keluarga-keluarga komunis persoalan halal haram, jahat atau keji, busuk dan buruk adalah soal persepsi, bukan hal yang prinsip. Tidak penting cara mendapatkan kekayaan selama hal itu dapat memberikan kebanggaan dan harta yang banyak. Cibiran masyarakat tidaklah membuat mereka malu, tetapi justru dengan keberanian mereka menanggalkan norma-norma keagamaan dan nilai kemasyarakatan, lama-kelamaan membuat masyarakat itu sendiri berubah pandangan.

Oleh karena itu mereka mencari jalan aman dengan menampakkan diri aktif pada kegiatan yang bersifat kesantrian, tetapi tetap menggeluti usaha-usaha haram seperti pelacuran (prostitusi), perdagangan miras, perjudian.

Sekitar tahun 1983 pernah dilakukan penelitian di beberapa desa yang dahulunya basis PKI di suatu Kabupaten di Jawa Timur, didapati kenyataan bahwa orang-orang yang terikat hubungan suami istri juga menggeluti dunia prostitusi sebagai mata pencaharian. Bahkan si suami dengan enjoy saja mengantarkan istrinya untuk menjajakan diri sebagai pelacur. Anehnya, kaum perempuan di desa tersebut merasa bangga disebut PSK (Pelaku Seks Komersial), lantaran hal ini dapat memberikan jalan pintas memenuhi kebutuhan ekonomi.

Ketika masyarakat melihat orang-orang yang berkecimpung di dunia prostitusi dapat menggaet kekayaan dengan gampang, status mereka pun menjadi merubah. Masyarakat yang semakin lama jauh dari agama justru memberikan rangsangan kepada mereka untuk secara terus terang membuka usaha-usaha prostitusi di pinggir-pinggir jalan. Keberanian kaum komunis Indonesia melakukan penistaan simbol-simbol agama bukan hanya membuat mereka enjoy melakukan segala bentuk kemaksiatan, bahkan mereka juga mendapatkan sumber dana yang besar untuk kegiatan PKI di bawah tanah.

Melalui kegiatan haram ini mereka dapat meluluhkan kalangan pejabat dalam mengawasi kebangkitan komunis. Bahkan mereka juga tidak segan-segan untuk tetap menampilkan perilaku kesantrian seperti semaan Qur’an, majelis dzikir, shalawatan, kelompok doa dan sebagainya. Dengan menggabungkan berbagai kegiatan yang kontroversial ini, PKI dapat menciptakan Agama Liberal yang memberikan peluang kepada generasi muda masuk ke dalam jebakannya.

Lenin Indonesia

Kini, mereka memanfaatkan pemerintahan baru pasca SBY. Apalagi, jauh sebelum dilantik menjadi Presiden RI, 20 Oktober 2014, Presiden Joko Widodo yang lebih populer dipanggil Jokowi; dicurigai banyak pihak mempunyai kaitan dengan komunis bawah tanah. Kecurigaan ini dibuktikan dengan visi-misi pemerintahan yang diajukan ke KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang seratus persen menjiplak konsep Partai Komunis China atau RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dalam pembangunan negara.

Mungkin saja, obsesi politik untuk menjadi ‘Lenin Indonesia’ menghidupkan cikal bakal budaya komunis di Asia Tenggara. Diilhami masa-masa kejayaan Lenin 1917, dengan negara adi daya Uni Soviet yang gulung tikar di tangan Presiden Gorbachev, 1989, nampaknya mengendalikan orientasi pemerintahan baru reformasi. Atau, sebuah mimpi melunasi dendam Muso maupun DN Aidit yang terbunuh dalam aksi pemberontakan menggulingkan pemerintahan yang sah di Indonesia?

Rakyat Indonesia harus menyadari bahaya ini, dan tidak melupakan akibat buruk pemberontakan G 30 S PKI. Rakyat Indonesia jangan lengah untuk ketiga kalinya, setelah terbantainya sejumlah jenderal AD tahun 1965.

Di tahun 2015, pemerintahan Jokowi mengarahkan pembangunan infrastruktur skala besar di bidang maritim, transportasi darat dan pertanian. Pembangunan di tiga bidang ini sepintas menunjukkan keberpihakan pada rakyat. Tapi hendaknya diwaspadai target tersembunyi program pencarian dana raksasa dari proyek tersebut, yang akan dikelola oleh para taipan, dan kelak dialirkan ke perjuangan kebangkitan komunis di Indonesia.

Setelah 50 tahun peristiwa G30S PKI berlalu, kita baru menyadari bahwa PKI tetap eksis dan kalangan pemerintah serta kaum muslimin merasa rumahnya dilanda kebakaran. Dampak dari meluasnya bisnis prostitusi, muncullah free sex di kalangan remaja, sehingga menciptakan pasar yang sangat besar bagi produk-produk anti kehamilan, keluarga berencana, kelangsingan tubuh, operasi kecantikan dan tempat-tempat kebugaran. Secara sepintas hal-hal tersebut tidak secara langsung tampak sebagai usaha pelayanan terhadap agama liberal yang dibidani oleh partai komunis, karena hal-hal tersebut dilakukan secara terbuka.

Akan tetapi orang-orang yang menyadari bahaya moral dan mental keagamaan dari hal-hal tersebut dapat melihat hubungan kausalitas dengan perjuangan komunis di Indonesia untuk bangkit kembali. Hal ini dapat disembunyikan oleh kaum komunis karena bersamaan waktu dengan sosialisasi penataran P4 yang juga memarginalkan peranan agama dalam kehidupan sehari-hari.

Begitulah gambaran agama liberal produk komunis di Indonesia, sebuah agama yang memanjakan penghambaan kepada seks, uang, hedonisme dan gemerlapnya materi. Bagi mereka yang penting: uang, perut dan yang di bawah perutnya (seks).

Realitas ini mengungkapkan kebenaran firman Allah Swt, “Wahai Muhammad, apa pendapatmu tentang orang yang mempertuhankan hawa nafsunya? Allah menyesatkan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah memateri pendengaran mereka, hati mereka, dan memasang tabir di depan penglihatan mereka. Karena itu, siapakah yang dapat memberikan petunjuk kepada mereka selain Allah? Mengapa orang-orang kafir itu tidak mau berfikir?” (Qs. Al-Jatsiyah [45]: 23)

(adibahasan/arrahmah.com) (Arrahmah.com) Adiba HasanSenin, 19 Ramadhan 1436 H / 6 Juli 2015 13:00

***

Gejala Bahaya Laten Neo Komunisme di UIN

MIRZAH Abdul Aziz mahasiswi jurusan pemikiran politik Islam di Pascasarjana UIN (Universitas Islam Negeri, dahulu IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengungkapkan sebuah fenomena baru di UIN yang membuatnya trenyuh.

Sebelum menempuh pendidikan di pascasarjana UIN, Mirzah adalah lulusan S1 pada program studi Arab FIB UniversitasIndonesia. Fenomena yang dimaksudnya itu, berhubungan dengan masalah penulisan dalam sebuah karya ilmiah. Misalnya, para mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak diperkenankan menulis kata Allah dengan lanjutan SWT(subhanahu wa ta’ala); tidak boleh menulis kata Muhammad dengan diakhiri SAW (shallallahu ‘alaihi wa sallam); tidak boleh menulis Muhammad dengan sebutan Nabi.

Pelarangan itu menurut Prof  Dr Suwito yang sehari-hari mengurus kampus pascasarjana UIN, karena yang menganggap Muhammad sebagai Nabi hanya orang Islam, sedangkan non-muslim tidak menganggap Muhammad Nabi. Begitu juga dengan Allah, yang mengakui Allah itu subhanahu wa ta’ala  hanya orang Islam, sedangkan mereka yang bukan Islam, tidak demikian.

 Menurut Mirzah pula, dalam sebuah karya ilmiah di Pascasarjana UIN tidak boleh ada kalimat-kalimat Islam sebagai agama yang sempurna atau Islam sebagai agama yang haq, dan kalimat-kalimat sejenis itu. Jika kalimat seperti itu ditemukan di dalam karya ilmiah (makalah, tesis atau disertasi), maka akan langsung dicoret! Mirzah sang mahasiswi pascasarjana UIN ini, sangat menyayangkan adanya aturan seperti itu. Apalagi, sepertinya Islam tidak dihargai, namun sebaliknya, pandangan orang-orang kafir menjadi lebih dimuliakan dan dihargai.

Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Mirzah akibat adanya ketentuan yang tidak lazim tersebut: “… mengapa sebuah universitas Islam yang terkenal menjadi anti-pati terhadap penulisan-penulisan seperti itu? Seolah penulisan seperti itu adalah hal yang memalukan dan aib di hadapan warga dunia. Sejak kapan pelarangan tersebut menjadi peraturan? Apakah ada aturan resminya? Atau ada SK Rektor atau dari Depag (Departemen Agama) ada instruksi demikian? UIN memang memiliki cita-cita besar untuk menjadi universitas internasional, dan saya acungi jempol akan mimpi tersebut. UIN memang ingin karya-karyanya diterima oleh masyarakat dunia, saya tidak menolak harapan tersebut. Tapi kita tidak bisa meninggalkan identitas sebagai Universitas Islam.” Begitu tulis Mirzah dalam satu situs.

Aneh atau ada maksud tertentu?

Memang terkesan aneh. Bukan sekedar aneh, tetapi ada muatan inferiority complex (minder). Atau, memang disengaja, untuk maksud-maksud tertentu?

Logika Dr Suwito di UIN Jakarta itu jika diimplementasikan untuk kehidupan sehari-hari akan terlihat kebodohannya. Misalnya, Si Pitung itu, bagi orang Indonesia khususnya masyarakat Betawi, adalah pahlawan. Tapi bagi orang Belanda, si Pitung adalah pemberontak. Nah, dalam rangka menjaga perasaan orang Belanda yang menganggap si Pitung bukan pahlawan tetapi justru pemberontak, maka masyarakat Indonesia terutama yang sedang menulis karya ilmiah, tidak boleh menyebut si Pitung dengan julukan pahlawan.

Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menjadi Presiden RI karena dipilih oleh 60% rakyat Indonesia yang mengikuti pemilu. Sedangkan 40% lainnya tidak memilih SBY. Masih ada lagi kalangan yang bersikap abstein, meski punya hak suara namun tidak menggunakan haknya, sehingga mereka tidak termasuk kalangan yang memilih SBY sebagai presiden. Nah, dalam rangka menjaga perasaan kalangan yang tidak memilih SBY sebagai Presiden, maka tidak boleh di dalam setiap karya ilmiah menyebut SBY dengan diawali “Presiden”. Bahkan, tidak boleh mengawali nama SBY dengan sebutan “Bapak” karena yang menganggap SBY sebagai bapak khan hanya anak-anaknya SBY saja.

Adanya ketentuan tidak tertulis seperti di atas, yang oleh Mirzah disebut sebagai fenomena terbaru di lingkungan UIN yang membuatnya trenyuh dan keheranan, sangat bisa ditafsirkan, bahwa Dr Suwito sedang melakukan satu tahapan cuci otak (brain washing), agar kemuliaan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW tidak lagi bersemayam di dalam benak mahasiswa UIN. Hal ini boleh jadi merupakan salah satu upaya merelatifkan keberadaan Allah SWT. Ini jelas-jelas merupakan upaya penganut neo-komunisme agar mahasiswa-mahasiswi UIN lambat-laun memposisikan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebatas sebuah fenomena sosiopsikologis. Padahal, Dia sendiri yang menyebut dirinya Allah.

Anjuran Dr Suwito itu ternyata juga sudah disosialisasikan oleh sejumlah orang penganut neo komunisme, sebagaimana bisa ditemukan pada milis faithfreedom. Pada edisi 05 September 2008, salah seorang anggota milis tersebut mengirimkan opininya bertajuk “Allah atau Tuhan?” Selengkapnya demikian:

ALLAH ATAU TUHAN?

Ada “sesuatu” yang maha berkuasa di jagat raya ini. “Sesuatu” itu menciptakan dan mengatur tatanan seisi alam semesta. “Sesuatu” itu adalah sumber kehidupan sekaligus penentu kematian. “Sesuatu” itu tidak terlihat, tetapi keberadaannya sangat nyata.

“Sesuatu” itu dibahasakan oleh orang Arab sebagai “Allah”. Orang-orang yang berbahasa Inggris mengatakannya “God”. Dalam bahasa Indonesia ia disebut “Tuhan”. Ribuan bahasa lain di dunia ini mempunyai kosa katanya masing-masing untuk menyebut “sesuatu” itu.

Sebutan “Allah”, selain digunakan oleh orang Arab, juga digunakan oleh umat Islam di berbagai negara non-Arab termasuk Indonesia.

Penyebutan “Allah” oleh masyarakat Islam di Indonesia adalah hasil penyerapan istilah-istilah Arab yang masuk seiring dengan datangnya ajaran Islam ke Nusantara. Karena sebutan “Allah” itu awal datangnya melekat pada agama Islam, selanjutnya orang-orang Islam mengidentikkan sebutan “Allah” itu dengan identitas keislaman mereka. Nah, dari sini lah kemudian akan muncul bahaya.

Orang Arab, apapun agamanya, menyebut “Allah” untuk memaksudkan “Tuhan”. Ada pula istilah “ilah” yang bisa dimaknai sebagai apapun (termasuk patung berhala, pemimpin/ulama, keinginan) yang dipertuhankan. Tetapi untuk menyebut “sesuatu” yang serba maha itu (Tuhan), tidak ada kosa kata bahasa Arab selain “Allah”.

Sebutan “Allah” di benak orang Arab, sama dengan sebutan “Tuhan” di benak orang Indonesia. Sifatnya netral, dan tidak terkait dengan agama apapun. Kita bisa membaca di dalam Quran ayat 9:30 dan 8:32 penggunaan sebutan “Allah” oleh kaum Yahudi, kaum Nasrani, maupun oleh kaum yang ingkar (kafir).

Lain di Arab, lain pula di sini. Di Indonesia, dan di negara-negara lain yang tidak berbahasa Arab, umat Islam menyebut “Allah” untuk memberi kesan eksklusif sebagai “Tuhannya orang Islam”.

Adanya peng-eksklusif-an sebutan “Allah” ini dapat dilihat dari perilaku umat. Umat Islam lebih memilih untuk menyebut “Allah” daripada “Tuhan”. Seakan-akan sebutan “Allah” itu memiliki keterkaitan yang tak terpisahkan dengan keislaman. Sebaliknya,

sebutan “Tuhan” dirasa sebagai sesuatu yang kurang “islami”.

Selain itu, umat Islam merasa perlu melekatkan gelar “SWT” untuk membedakan “Allah” yang mereka sebut dengan “Allah” yang orang Nasrani sebut. Sejatinya, SWT (Subhanahu Wa Ta’ala) adalah sebuah sanjungan yang artinya “Tersanjung dan Tinggilah Dia”. Namun kemudian sanjungan tersebut mengkristal menjadi “nama belakang” yang digunakan untuk menandakan “Allahnya orang Islam”.

Upaya pembedaan lainnya –yang tampak dipaksakan– adalah dengan memodifikasi tulisan “Allah” menjadi “Alloh” (dengan “o”). Mereka ingin menegaskan bahwa yang mereka tulis itu dibaca dengan “L” tebal, bukan dengan “L” tipis seperti pengucapan orang Nasrani. Kami katakan ini sebagai upaya yang dipaksakan karena aksen Arab sendiri lebih condong kepada bunyi “Allah”, bukan “Alloh”.

Dengan mempersepsi “Allah” sebagai “Tuhannya orang Islam” –yang tampak dari berbagai upaya pengeksklusifan di atas,– sebenarnya umat sudah terjebak pada kerangka berpikir yang sangat berbahaya.

Jika umat mengakui ada “Tuhannya orang Islam”, pasti sebaliknya diakui pula ada “Tuhannya orang non-Islam”. Dengan kata lain, terbentuk anggapan bahwa Tuhan itu ada lebih dari satu! Kerangka berpikir yang demikian telah menyalahi prinsip ketauhidan bahwa Tuhan itu Esa.

Ketahuilah bahwa yang menetapkan shalat dan ibadah-ibadah lainnya atas kita adalah Tuhan. Yang menurunkan kitab suci, nabi-nabi, dan mengutus para rasul adalah Tuhan. Yang memberi rezeki dan jodoh kepada kita maupun kepada rekan kita yang berlainan agama adalah Tuhan. Hanya ada satu Tuhan. Tidak pernah ada yang namanya “Tuhannya orang Islam”.

Racun pikiran yang lahir dari penggunaan sebutan “Allah” ini memang sangat halus, namun dampaknya sangat fatal. Semua itu berawal dari penggunaan bahasa Arab yang ditautkan dengan keyakinan.

Karena itu, mari kita sudahi penggunaan sebutan “Allah”, dan menggantinya dengan sebutan “Tuhan”. Dengan langsung menggunakan bahasa sendiri, kita akan terhindar dari salah persepsi yang membahayakan ketauhidan.

Itulah pemberedelan lafal Allah dari orang yang kacau pikirannya. Padahal Allah sendiri yang menamakan diriNya Allah. Dalam Al-Qur’an Surat Thaha: 14, Allah berfirman:

إِنَّنيِ أَنَا اللهُ لآ إِلَهَ إِلاَّ أَناَ فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِيْ (14) إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيْهاَ لِتُجْزَي كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى(15)

  1. Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
  2. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (QS Thaha: 14, 15).

Mengingkari Allah, doktrin neo komunisme

Semangat tulisan di atas sangat jelas, menafikan Allah, mengingkari Allah. Ini jelas-jelas doktrin neo komunisme, yang dibungkus dengan gagasan pluralisme dan sebagainya. Bahaya laten seperti ini sudah seharusnya disikapi dengan tegas oleh pemerintah dan aparat keamanan.

Para penganut neo komunisme ini, untuk menanamkan doktrinnya mengawali upayanya dengan gerakan pemurtadan, dengan menjual slogan pluralisme dan sebagainya. Bahkan mereka tidak sungkan-sungkan menuduh umat Islam sebagai biang kerok konflik horizontal, akibat pemahaman yang tekstual dan jumud. Padahal, sumber konflik horizontal adalah karena semakin leluasanya para penganut neo komunisme berkiprah di ranah politik nasional.

Di masa Orde Baru, penganut komunis sama sekali tidak bisa berkiprah di ranah politik, tidak bisa menjadi anggota parpol, dan sebagainya. Kini, mereka leluasa masuk ke berbagai parpol seperti PDI-P, Golkar dan sebagainya. Bagi komunisme, merebut kekuasaan adalah salah satu pokok ajaran yang wajib dilaksanakan. Maka, mereka berusaha merebut kekuasaan dari tingkat yang paling rendah melalui berbagai pilkada. Hasilnya, berbagai pilkada selalu diwarnai kericuhan.

Gagasan mengganti Allah dengan Tuhan, sudah pernah dijajakan Dr Nurcholish Madjid (salah seorang alumni IAIN –Institut Agama Islam Negeri). Gagasan itu ditawarkannya pada tahun 1985, dengan alasan agar Islam terkesan lebih mempribumi. Rupanya, tawaran itu masih terus dihidup-hidupkan oleh Dr Suwito dan organisme yang lebih muda darinya.

Kalau toh gagasan itu tidak berhasil diimplementasikan, setidaknya sudah berhasil menyulut kemarahan kalangan Islam. Yang penting potensi konflik terus diproduksi. Pelarangan Suwito di atas juga bisa dimasukkan ke dalam ‘strategi’ seperti ini. Begitulah watak penganut komunis. Konflik harus terus diciptakan, sehingga terjadi instabilitas politik. Bila terjadi instabilitas politik dalam jangka waktu cukup panjang, akan menjadi momentum yang kondusif untuk merebut kekuasaan.

Aneh dan menghinakan Islam

Gagasan-gagasan aneh yang diproduksi petinggi dan mahasiswa IAIN-UIN tidak bisa hanya dipandang sebelah mata oleh aparat keamanan. Karena itu merupakan indikasi adanya penyelundupan doktrin komunisme ke dalam Universitas Islam Negeri. Orang-orang seperti Suwito, Kautsar Azhari Noer, atau Azyumardi Azra harus diwaspadai. Jangan justru diberi kursi mulia sebagai Rektor,  Direktur Sekolah Pascasarjana UIN, atau Penasihat Presiden.

Jangan lupa, sebelumnya dari UIN (IAIN) pernah lahir seruan untuk “bertakbir” dengan lafaz anjinghu akbar. Dan itu dibela oleh dekan fakultas Ushuluddin IAIN –kini UIN Bandung, dan Abdul Moqsith Ghazali dari UIN Jakarta. Dari kawasan ini juga pernah lahir pernyataan “kawasan bebas tuhan” dan “tuhan telah mati” yang dibidani para mahasiswanya. Selain itu, pernah ada dosen UIN yang berpendirian, karena Al-Qur’an secara fisik adalah makhluk, maka tidak apa-apa bila diinjak-injak. Begitu juga dengan lafaz Allah yang ditulisnya sendiri di atas secarik kertas, kemudian diinjak-injaknya sendiri di hadapan sejumlah mahasiswanya, bukanlah tindakan yang menistakan Allah SWT. Begitu pendirian sang dosen IAIN-UIN.

Secara fisik, kertas yang bertulisan Al-Qur’an memang makhluk. Begitu juga dengan secarik kertas yang ditulisi lafaz Allah, adalah makhluk. Tetapi Al-qur’an itu sendiri adalah Kalamullah, bukan makhluq. Dan siapa yang menyatakan bahwa Al-Qur’an Kalamullah itu makhluq, maka jelas keluar dari aqidah Ahlus Sunnah alias keluar dari keyakinan yang benar.

Yang tidak sampai menyangkut aqidah saja, coba kita bandingkan dengan bendera partai, misalnya PDI-P dan gambar Megawati pimpinan PDI-P, adalah jelas-jelas makhluk. Lha, kalau memang demikian, berani nggak sang dosen menginjak-injak bendera PDI-P dan gambar Megawati di hadapan massa PDI-P?

Dari contoh-contoh di atas, nampaknya bahaya laten neo komunisme sudah tidak laten lagi, tetapi sudah muncul dengan jubah pluralisme dan sebagainya. Ciri-cirinya sudah jelas, yaitu anti Tuhan, anti Agama, kalau toh berbicara soal agama tujuannya untuk membuat orang ragu-ragu, atau justru menafikannya. Karena neo kumunis jelas anti agama, maka tindakan mengkritisi agama sendiri adalah puncak keimanan dan ketauhidan yang tertinggi. Begitu pemahaman dan doktrin penganut neo komunisme. Padahal sebenarnya justru puncak penodaan terhadap keimanan dan ketauhidan yang tertinggi.

Fakta-fakta ini jelas memilukan. Lebih memilukan lagi, karena gejala-gejalanya marak justru di Universitas Islam Negeri alias IAIN, yang seharusnya menjadi pusat melawan komunisme gaya baru. (haji/ tede). https://www.nahimunkar.org/gejala-bahaya-laten-neo-komunisme-di-uin/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.291 kali, 1 untuk hari ini)