Ilustrasi Kegiatan Pembekalan dan Orientasi Perguruan Tinggi (OPT) yang diadakan untuk santri kelas akhir atau santri kelas 6 TMI Darunnajah Cipining, Bogor, 2016/ foto ist


Umat Islam wajib hati-hati dan waspada jangan sampai terjebur jadi murtad karena salam oplosan dan faham pluralisme agama.

Peringatan tegas itu disampaikan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz seorang penulis buku-buku Islam, dalam Kegiatan Pembekalan dan Orientasi Perguruan Tinggi (OPT) yang diadakan untuk santri kelas akhir atau santri kelas 6 TMI Darunnajah Cipining, Bogor,  Selasa 13 Sya’ban 1438H/ 9 Mei 2017.

Dijelaskan, salam oplosan yang dimaksud adalah pengucapan salam Islam, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, namun disertai dengan salam agama-agama lain. Pengucapan salam Islam memang dianjurkan dalam Islam. Namun tidak pernah ada contohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk disertai dengan pngucapan salam-salam dari agama-agama lain.

Selain tidak pernah ada contoh, masih pula membahayakan aqidah (keimanan). Karena dengan mengucapkan salam agama-agama lain itu berarti mengakui ketuhanan agama-agama lain, yang itu bisa membatalkan keimanan.

Dijelaskan, ketika seseorang telah mengucapkan salam Islam, namun kemudian mengucapkan pula salam agama Hindu, maka bermuatan mengutuk Allah Ta’ala. Karena salam Hindu itu mengandung pujaan terhadap Tuhan Hindu, sedang Tuhan Hindu itu mengecam keras Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dianggap sebagai Tuhan pemecah belah menjadi mukmin dan kafir. Dengan begitu berarti pengucapnya telah merusak keyakinan Islamnya sendiri. Bahkan ketika diucapkan di depan umum, maka sama dengan penyebaran perusakan keyakinan Islam secara terang-terangan.

 Sebuah buku terbitan Media Hindu menyatakan:

“Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (Buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara”, Media Hindu, 2010, hal. 214).  (lihat Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-mencopot-iman-miras-oplosan-mencopot-nyawa/ ).

Masalah yang tidak kalah gawatnya adalah faham pluralisme agama, lanjut Hartono Ahmad Jaiz. Faham pluralisme agama itu menyejajarkan Islam dengan agama-agama lain, dianggapnya paralel, menuju kepada keselamatan semua, hanya beda teknis, dan kita tidak boleh memandang agama lain pakai agama yang kita peluk. Itulah faham pluralisme agama.

Dijelaskan, Islam tidak dapat disejajarkan dengan agama-agama lain seperti itu. Karena Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى.

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” (HR. Ad-Daruquthni (III/ 181 no. 3564), tahqiq Syaikh ‘Adil Ahmad ‘Abdul Maujud dan Syaikh ‘Ali Mu’awwadh, Darul Ma’rifah, th. 1422 H) dan al-Baihaqy (VI/205) dari Shahabat ‘Aidh bin ‘Amr al-Muzany Radhiyallahu anhu. Lihat Irwaa-ul Ghalil (V/106 no. 1268) oleh Syaikh al-Albany rahimahullah/ https://almanhaj.or.id ).

Ketinggian Islam itu tidak bisa dibatalkan begitu saja dengan menyejajarkan Islam dengan agama-agama lain. Menyejajarkan Islam dengan agama-agama lain sama dengan membatalkan Islam secara keseluruhan. Itu resikonya menjadi musyrik. Karena mengikuti konsep dari selain Islam yakni pluralisme agama yang berakibat membatalkan seluruh Islam, disejajarkan dengan agama-agama lain.

Padahal, mengikuti konsep selain Islam yang membatalkan bagian kecil dari Islam saja, mengakibatkan pelakunya jadi musyrik.

Contohnya, ketika Islam mengharamkan bangkai, maka orang-orang Majusi Parsi membisiki kaum kafir Quraisy bahwa haramnya bangkai dalam Islam itu tidak benar. Orang Majusi membantah dengan, bahwa bangkai itu adalah binatang yang disembelih Allah pakai pisau emas milik Allah kok malah haram. sedang binatang yang dsembelih pakai pisau manusia malah dihalalkan. Itu Islam tidak benar.

Konsep Majusi itu langsung dibantah oleh Allah Ta’ala:

وَلَا تَأۡكُلُواْ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسۡقٞۗ وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١ [سورة الأنعام,١٢١]

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik [Al An’am121]

Ketika yang dibatalkan itu hanya haramnya bangkai saja ternyata kalau diikuti maka jadi musyrik وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik

[Al An’am121] ; maka lebih-lebih lagi pluralisme agama yang membatalkan seluruh Islam disejajarkan dengan agama-agama lain, maka lebih musyrik lagi. (lihat Bahaya Faham Inklusivisme, Pluralisme Agama, dan Multikulturalisme  )

Demikianlah, betapa bahayanya faham pluralisme agama yang jelas membatalkan keyakinan Islam hingga jadi murtad. Juga praktek buruk yang bisa menjadikan murtad, yaitu salam oplosan. Maka Umat Islam wajib hati-hati dan waspada, agar tidak tertipu oleh para penipu yang merusak agama dengan salam oplosan.

 Masalah salam oplosan itu rupanya diawali oleh “penggantian Assalmu’alaikum dengan selamat pagi” oleh Gus Dur, dan diteruskan oleh orang-orang dengan praktek salam oplosan. Bila ingin tahu sejarah Gus Dur mengganti Assalamu’alaikum dengan selamat pagi, silakan simak ini: Sejarah Gus Dur Mengganti Assalamu’alaikum dengan Selamat Pagi https://www.nahimunkar.org/sejarah-gus-dur-mengganti-assalamualaikum-dengan-selamat-pagi/ ).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.590 kali, 1 untuk hari ini)