Said Aqil Siraj (SAS) dalam bukunya, memasukkan Syiah sebagai Ahlus Sunnah dan tidak sesat. Said (SAS) juga membela Ahmadiyah yang telah difatwakan murtad oleh para ulama internasional dan MUI.

Faham yang membahayakan aqidah itu SAS sebarkan lewat bukunya berjudul “ Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi”, setebal 472 halaman.

Di samping itu Said (SAS) juga membela faham sesat liberal, dengan menampilkan pendapat bahwa semua agama sama. Namun ketika ditanyakan kepada Said (SAS), dia berkilah, bahwa dia itu hanya mengutip Ibnu Arabi tokoh tasawuf yang dia sanjung. Sebagaimana tokoh tasawuf sesat lainnya yang Said (SAS) sanjung yaitu Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar yang kedua-duanya telah dihukum mati oleh para ulama (di Baghdad dan di Jawa) karena kesesatannya, namun dijunjung oleh Said lewat bukunya.

Perlu diketahui, Al-Hallaj, tokoh tasawuf sesat dibunuh di Baghdad tahun 309H/ 922M atas keputusan para ulama, karena Al-Hallaj mengatakan anal haqq (aku adalah al-haq/ Allah). Lontaran pendapat Al-Hallaj itu merusak Islam, maka dihukumi dengan hukum bunuh.

SAS dalam membela kesesatan, bukan hanya dituangkan dalam buku, namun juga dalam ceramh yang divideokan. Pernah videonya menggegerkan karena berisi fitnah.

Bahkan fitnah terhadap Nabi saw dan lembaga-lembaga Islam. Sebagaimana telah diberitakan:

Video Said Aqil Siradj Anggap Rasulullah Hijrah karena Ingin Punya Tanah Air

Beredar video Said Aqil Siradj (SAS) Ketum PBNU Ceramah Maulid 11 Januari 2015 di Sidoarjo Jawa Timur. Dalam ceramahnya, SAS mengatakan, Mengapa Rasulullah mati-matian hijrah pindah dari Makkah ke Yatsrib Madinah…, karena ingin punya tanah air. (lihat menit ke 29.02 dst).

Ceramah SAS di acara Maulid di PP Ahlus Shofa wal Wafa Sumo Ketawang Wono Ayu Sidoarjo Jawa Timur itu dapat diakses di link ini:

Di antara isi ceramah itu terdapat fitnah yang tampaknya perlu dipertanggung jawabkan, memojokkan lembaga-lembaga Islam di berbagai kota dengan isu negatif. Hingga SAS menyebut sebuah yayasan yang dikatakan dipimpin oleh seorang yang kemudian dipenjara; padahal apa yang diucapkan SAS itu tidak sesuai kenyataan, dan sudah pernah dibantah di media. Rupanya SAS tidak kapok membuat fitnah murahan semacam itu.

Menyayangkan dirinya belum lahir untuk membela Syekh Siti Jenar

Di samping itu, (maaf dengan sombongnya) SAS dalam video ceramah di Sidoarjo Jatim itu mengemukakan tekadnya membela Syekh Siti Jenar.

Dikatakan, Syekh Siti Jenar divonis harus dipancung, harus dibunuh oleh Sunan Kudus karena berkata “AnalLah”, aku adalah Allah. SAS menyayangkan, saat itu dirinya belum lahir, kalau sudah, maka akan jadi advokatnya, pembelanya Syekh Siti Jenar. (Lihat menit ke 35 dst).

Bagi yang faham Tarikh Islam, ungkapan SAS yang menentang keputusan Wali (Ulama) itu tampak mendudukkan diri pada jajaran berseberangan dengan para Ulama pewaris para Nabi. Padahal SAS memimpin NU yang dari segi namanya seharusnya berada di barisan ulama. Karena NU (Nahdlatul Ulama) maknanya adalah kebangkitan ulama. Kenapa justru memprovokasi untuk duduk berseberangan dengan Wali yakni Ulama?

Dalam sejarahnya, orang-orang yang divonis mati oleh para ulama itu karena pendapatnya merusak Islam. Kini ada orang (SAS) yang menyayangkan dirinya lahir terlambat hingga tidak bisa membela Syekh Siti Jenar yang divonis mati oleh Sunan Kudus karena ucapan Syekh Siti Jenar AnalLah (aku adalah Allah). Padahal, orang-orang sesat sebelumnya yang dibunuh oleh para Ulama karena pendapatnya yang merusak Islam juga ada, sehingga dengan membela Syekh Siti Jenar itu berarti SAS sama dengan membela perusak Islam sebelumnya yang dibunuh pula oleh para ulama; sekaligus memprovokasi untuk berseberangan dengan para ulama. (Dapat dilihat di link ini: https://www.nahimunkar.org/said-aqil-siradj-sebar-fitnah-lagi-soal-wahabi-dan-membela-tokoh-sesat-syekh-siti-jenar/ )

Selanjutnya, mengenai buku SAS, berikut ini dua tulisan kritikan tajam terhadap pendapat Said (SAS) yang dinilai merusak aqidah lewat bukunya.

  ***

Membedah Isi Otak Said Agil Siraj Lewat Buku Tasawufnya yang Liberal

said aqil siradj

JAKARTA (VoA-Islam) – Dalam perbincangan dengan VoA-Islam, mantan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi di pesantrennya di bilangan Depok, Ramadhan lalu, pernah membenarkan, bahwa Ketua Umum PBNU yang sekarang (KH. Said Aqil Siraj) memang berpikiran liberal. Meski, KH. Hasyim tidak menjelaskan secara panjang lebar apa saja pemikiran Said Aqil yang liberal itu.

Itulah sebabnya kenapa para habaib dan ulama besar NU mendesak Rois Aam PBNU agar meninjau ulang jabatan Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU. Surat teguran itu ditandatangani oleh delapan habib dan ulama kharismatik NU Jakarta, antara lain: KH Maulana Kamal Yusuf, KH Abdur Rosyid Abdullah Syafi’i, Habib Abdurrohman Al-Habsyi, Habib Idrus Hasyim Alatas, KH Saifuddin Amsir, KH Fachrurrozy Ishaq, KH. M. Rusydi Ali dan KH Manarul Hidayat.

Seperti dberitakan sebelumnya, surat yang ditandatangani oleh delapan ulama itu disampaikan langsung kepada Rois Aam PBNU, KH. Sahal Mahfudz. “Seiring akan dilaksanakannya MUNAS Alim-Ulama NU dan Konbes NU di Cirebon tanggal 14-17 September 2012, kami Ulama dan Habaib DKI Jakarta menghimbau kepada Ro’is Aam PBNU untuk menegur dan meninjau kembali kembali keberadaan Dr KH Aqil Siradj sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU,” desak para ulama, Rabu (12/9/2012).

Menyimak pemikiran Said Agil Siraj lewat buku-bukunya atau pun ucapannya dalam forum-forum tertentu, acapkali menimbulkan kontroversial di tengah umat. Tak heran, jika banyak pihak menilai, termasuk kiai-kiai NU sendiri, bahwa Said Agil adalah pewaris pemikiran Gus Dur yang liberal.

Sebagai contoh ia mendukung diresmikannya Abdurrahman Wahid Center (AWC) di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Setelah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, para pengasong liberal hendak menebar dan menghidupkan kembali pemikiran sesat Gus Dur di  Kampus UI Depok.

Juga masih segar dalam ingatan, ketika Ketua Umum PBNU itu bersikap tidak jelas, saat menyikapi  Lady Gaga. Ia katakan, sejuta Lady Gaga, iman warga NU tidak akan berubah.  Begitulah statemen seorang kiai yang ternyata tidak dipatuhi oleh warganya sendiri.

Dan benar saja, ternyata Said Aqil adalah seorang yang sekuler dan liberal. Betapa ia begitu anti dengan simbol-silmbol Islam, terjangkit syariat Islam Phobia, dan mengagung-agungkan sosok seperti al-Hallaj, Ibn Arabi, hingga Syekh Siti Jenar. Pemikirannya dibingkai atas nama tasawuf.

Saat mendeklarasikan Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) di Gedung PBNU, Said membagi-bagikan buku berjudul “ Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi”. Buku setebal 472 halaman tersebut diterbitkan oleh SAS Foundation bekerjasama dengan LTN PBNU. Buku itu isinya begitu sangat liberal dan menyesatkan.

Salah satu contoh, betapa bangganya Said Aqil Siraj ketika PBNU tidak ikut-ikutan membuat fatwa sesat Ahmadiyah, seperti yang difatwakan oleh MUI Pusat. Sungguh aneh, jika Said justru berempati pada Ahmadiyah. Ia justru melempar tuduhan, kelompok Islam yang mengawal fatwa MUI tentang sesatnya Ahmadiyah, dengan ungkapan: “Islam, dengan kata lain, sudah menjadi agama pembenaran bagi segenap tindakan yang tidak bermoral dan tidak beradab, dan bukan lagi sebagai sebuah “hikmah” atau moralitas..”(hal 28).

Kiai yang satu ini juga menolak perda yang bernuansakan syariat Islam. Bisa disimak dari tulisannya:“Singkatnya, semangat dasar dari syariat Islam adalah moralitas, dan bukan syariat yang identik dengan perda-perda (peraturan daerah) di era otonomi daerah seperti sekarang ini.” (hal 30).

Said Agil bahkan menolak fatwa MUI soal haramnya paham sepilis. Ia katakana begini: “… Jadi, tidak perlu misalnya dengan mengeluarkan fatwa-fatwa halal-haram, yang justru kian membuat bingung umat,”ungkap Said. (hal 291). Pada halaman 363, Said mengatakan, sekulerisasi dalam Islam lebih dekat dengan pengertian “islahuddin” atau pembaharuan agama. (hal 363).

Inilah pernyataan yang paling parah dari buku tersebut: Bicara soal Tuhan, Said Aqil menyatakan, agama manapun di muka bumi, pasti meyakini dan mengimani adanya Zat Mahakuasa yang menciptakan alam semesta dan seisinya. Perbedaan penyebutan nama Tuhan, apakah itu Allah, Sang Hyang Widi, Dewa, Thian ataupun lainnya, bukanlah penghalang bagi keimanan seseorang. Substansi Tuhan, sungguh pun disebut dengan beribu-ribu nama, hakikatnya satu, yaitu Zat Pencipta alam semesta dan seisinya, yang mengatur roda kehidupan segala makhluk di dunia hingga di akhirat kelak.” (hal 263).

“Tuhan pun tidak akan marah seandainya tidak dipanggil Allah, seperti halnya orang Jawa yang memanggil “Pangeran” atau “Gusti Allah”. Semua symbol dan realitas lahiriah bukanlah tujuan beribadah dan beragama. Terminal akhir dalam beragama dan beribadah adalah komitmen seseorang untuk menghambakan diri kepada Tuhan. Tidak sedikit orang yang mengatasnamakan agama, tapi hakikatnya justru mentuhankan dirinya dan melalaikan Allah.” (hal 310)

Sudah sangat jelas, apa isi otak seorang Said Aqil Siraj. Masih bisa disebut sebagai ulama kah?? (Desas) 14 September 2012 09:53 wib

***

Nyleneh; Said Aqil Anggap Syiah Termasuk Ahlus Sunnah

Syiahindonesia.com – Buku Said Agil Siradj, MA (SAS) yang berjudul “Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi” hingga hari ini masih menuai kontroversi. Dalam seminar “Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia”, Ahad (24/1) yang digelar di Pondok Pesantren Sidogiri, klarifikasi buku tersebut terungkap.

Dalam sesi tanya jawab, Ketua Umum NU GL KH. Muhammad Idrus Ramli yang Dewan Pakar Annajah Center Sidogiri mengatakan, pada tahun 2009 ia pernah tabayun kepada Kiai Said menjelang muktamar NU di Makassar mengenai buku-buku kontroversialnya.

“Waktu itu Kiai Said mengakui kesalahan bukunya dan akan merevisi,” ujar Kyai Idrus Ramli.

Ternyata, Tanpa direvisi pada tahun 2012 SAS Foundation bekerjasama dengan LTN PBNU menerbitkan lagi buku yang menyimpang tersebut dengan judul “Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi”.

Dalam buku tersebut pada halaman 84 terdapat pernyataan Said Agil bahwa Syiah, Muktazilah, Asy’ariyyah dan Maturidiyah adalah Ahlusunah. Bahkan Syiah dianggap tidak sesat dan termasuk Ahlusunah. Padahal Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam banyak bukunya mengatakan bahwa Syiah termasuk aliran sesat.

Dalam buku yang sama Kiai Said mengatakan, percaya kepada patung dan barhala itu merupakan hakikat keimanan. Padahal kata Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur (Ulama terkemuka Timur Tengah, Yaman) yang juga narasumber dalam acara tersebut memaparkan, hakikat keimanan adalah apa yang ditanyakan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad mengenai iman itu sendiri yaitu Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Dan rosul rosul-Nya.

“Apakah ini disebut membenarkan semua agama? Kalau ini termasuk
membenarkan semua agama, maka na’ûdzubillâhh . Kitab fiqih dan turats mengatakan, membenarkan semua agama itu termasuk ajaran yang menyimpang yang pelakunya dianggap keluar dari Islam,” kata Gus Idrus Ramli.

Selain itu, lanjutnya, buku ini juga menafikan ukhuwah islamiyah karena yang penting tulis Kiai Said adalah persaudaraan antar umat beriman; Islam, Konghucu, Buddah, dsb. Sedangkan ukhuwah islamiyah dikatakan tidak ada dalam al-Quran. Menurut SAS al-Qur’an dan kitab-kitab hadis tidak menyinggung ukhuwah Islamiyah . “Kitab Sullam Taufiq menegaskan, Orang yang mentiadakan apa yang ada dalam al-Qur’an termasuk kategori murtad,” lanjut Gus Idrus Ramli.

Nah ini termasuk apa dalam buku yang diterbitkan oleh LPN PBNU yang isinya mengandung hal-hal semacam itu? Mengapa diterbitkan? Dan Kiai Said mengatakan itu tulisan Antum. Katanya mau direvisi. Sepertinya tidak sempat direvisi. Setelah itu terbit lagi, dan apakah selanjutnya akan diterbitkan buku yang lebih heboh lagi?

Kiai Said merespon pertanyaan Gus Idrus Ramli dan menanggapinya. Ia mengatakan, pernyataan semua agama itu sama sekali bukan pernyataannya, tapi hanya mengutip. “Itu saya lagi ngutip pendapat Ibnu Arabi,” katanya mengelak.

“Untuk apa mengutipnya, Kiai Said,” sela Habib Taufiq yang juga hadir dalam forum tersebut.

“Untuk menjelaskan,” jawab Kiai Said.

Jawaban Kiai Said agak tidak begitu mengarah, namun Habib Taufiq menasehati agar buku “Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi” segera direvisi ulang karena menimbulkan dampak negatif terhadap akidah.

“Buku kontroversial Kiai Said ini dibaca orang banyak. Seyogyanya Kiai Siad menulis buku yang bisa difahami halayak. Mengapa membuat pemahaman seperti itu? Sebenarnya kita (habib dan ulama.red) eman dengan Kiai Said. Antum ini seorang ulama. Artinya ulama yang lain nantinya dikira berlisan seperti itu (yang tertera dalam buku Antum.red).

karena Antum ini membawa gerbong yang sangat besar dan luar biasa (Pimpinan PBNU.red). Sedang penumpangnya adalah ulama seluruh Indonesia dan Antum adalah masinisnya. Kasian kan mereka (ulama) akhirnya disibukkan dengan hal demikian,” nasihat Habib Taufiq kepada Said Agil.

Lanjut Habib Taufiq, yang jelas, forum ini bukan untuk menjatuhkan. Kalau sampai ini dianggap menjatuhkan maka pihak yang dinasehati tidak akan mendengar dan menerima nasehat. Forum ini juga bukan untuk mendukung. Kita tidak mendukung. “Prinsipnya satu, selama Kiai Said benar dan di jalan yang haq kita dukung. Tapi kalau ada kesalahan kita ingatkan. Harapan kita antum (Kiai Said red) kembali ke KH. Hasyim Asy’ari,” pungkas Habib Taufiq.

Saat menjawab masalah syiah dibukunya yang menurut Said Agil Syiah adalah Ahlus Sunnah, Dengan mengelak lagi Said Agil menyatakan bahwa Syiah adalah Ahlus Sunnah menurut mereka sendiri karena kitab hadits Syiah Bihar Al Anwar tercetak 110 jilid. Artinya Syiah menurut Said Agil adalah Ahlus Sunnah tapi tidak memakai Bukhari Muslim. Wallahu Alam. (nugarislurus)/ syiahindonesia.com

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 14.628 kali, 1 untuk hari ini)