Awas! Gerakan Feminis Radikal Mau Rombak Agama dan Keluarga Melalui Pendidikan


Henri Shalahuddin

Di bbrp negara Barat sekular yg akrab dg budaya pemerkosaan, solusi terhdp kekerasan seksual adalah dg mengajarkan sexual consent (aktivitas seks suka sama suka) di lembaga pendidikannya.

Dulu, saat bermukim di Bangkok bbrp tahun lalu, ada teman yg minta pendapat saya ttg pelajaran pendidikan seksual untuk anaknya yg belajar di sebuah sekolah internasional tingkat SMA. Pelajar boleh mengikuti pelajaran ini jika orang tuanya mengizinkan.

Saya katakan, lebih baik tidak diizinkan. Sebab biasanya pendidikan seksual di sekolah sejenis ini hanya mengajarkan hal-hal yg bersifat teknis ttg proses aktivitas seksual. Jadi siswa hanya dikenalkan fungsi organ reproduksi, dan akibat yang bisa terjadi pasca melakukan aktivitas seksual, termasuk apa yang dilakukan jika “mau enaknya tapi nggak mau anaknya”.

Saya tidak yakin di sekolah seperti ini gurunya akan mengajarkan juga hal-hal yang terkait dg nilai dan norma; misalnya ttg hubungan seksual di luar nikah, larangan seks sejenis, dll. Sebab sekolah yg menganut sistem netral agama, pastinya juga mengabaikan hal-hal yg bersifat spiritual keagamaan yg memahamkan inti kemanusiaan seorang manusia.

Akhirnya ia tidak mengizinkan anaknya ikuti pelajaran tersebut, dan malah bbrp minggu kemudian ia pun memindahkan anaknya ke sekolah internasional Islam yang cukup baik .

Anak adalah aset kita terbesar. Dari ilmu & kesalehan mereka, amal jariyah tidak berhenti mengalir untuk orang tuanya di saat nafas keduanya tlh terhenti dan berkalang tanah.

Pendidikan seksual gaya bebas merupakan salah satu faktor utama pengrusak generasi muda. Mereka akan tumbuh kembang menjadi “anak zamannya” yang semakin jauh dari nilai-nilai yang dipegang teguh orang tuanya.

Dulu sewaktu di Melbourne, ada wali murid SMP yg cerita ada guru anaknya yg mengingatkan para siswa agar tidak lupa membawa alat kontrasepsi waktu acara farewell. Di kampus, mahasiswa S1 melakukan kampanye free sex dg bagi2 alat kontrasepsi.

Ini sungguh tdk terbayang pilunya para orang tua & pendiri negara ini jika hal serupa terjadi di negeri kita tercinta.

Maka perlu diwaspadai geliat pergerakan feminis radikal merombak agama, dan keluarga melalui lembaga pendidikan

Via fb

Henri Shalahuddin

2ue2t SSndporaeptenmalbtseerdi leeepeocuSmkgular e1dd6g.um06

 

Aldi Ari Fandi

2ue2t SSndporaeptenmalbtseerdi leeepeocuSmkgular e1dd6g.um29  · 

(nahimunkar.org)


 


 

(Dibaca 584 kali, 1 untuk hari ini)