• … jika terjadi konflik demonstran dengan aparat keamanan, kondisi itu memang disengaja aparat kepolisian. “Masak rakyat bentrok dengan polisi. Itu polisi yang memprovokasi. Di kepolisian itu ada kelompok ‘Krisna’ yang ditugaskan untuk menganggu dan memprovokasi demonstran,” ungkap Wibisono kepada itoday (26/3).

***

Pelibatan aparat TNI dalam pengamanan demonstrasi menolak kenaikan BBM justru ditujukan agar demonstran tidak dimainkan oleh aparat kepolisian. Kepolisian telah memanfaatkan kelompok “Krisna” untuk mengganggu dan memprovokasi demonstran.

“Siapa yang menyusup dalam demonstrasi BBM. Kalau ada penyusupan, itu pelakunya aparat kepolisian sendiri. Pihak TNI bisa mengantisipasi masalah ini. TNI bersama rakyat,” tegas pengamat intelijen Mulyo Wibisono.

Menurut Wibisono, pro-kontra kenaikan BBM adalah hal biasa. Justru jika terjadi konflik demonstran dengan aparat keamanan, kondisi itu memang disengaja aparat kepolisian. “Masak rakyat bentrok dengan polisi. Itu polisi yang memprovokasi. Di kepolisian itu ada kelompok ‘Krisna’ yang ditugaskan untuk menganggu dan memprovokasi demonstran,” ungkap Wibisono kepada itoday (26/3).

Wibisono menegaskan, aparat TNI yang diturunkan mengamankan demonstrasi tidak dibekali dengan senjata api. Untuk mengantisipasi konflik demonstrasi, di Amerika Serikat, aparat militer tak bersenjata juga diturunkan.

Terkait penolakan sejumlah politisi soal pelibatan TNI, Wibisono mengingatkan, bahwa pengerahan TNI tidak dimaksudkan untuk berhadap-hadapan dengan demonstran. “TNI itu di belakang posisinya. Di DPR itu yang ada hanya uang. Kalau politisi ngomong masalah ini, itu hanya bagian dari pencitraan partai untuk 2014,” ungkap Wibisono.

Reporter : Achsin/ itoday, Penulis: F. Hadiatmodjo

Senin, 26 Maret 2012 20:42

***

Di Yogya, SBY-Boediono Disodori Keranda Mayat

Kawasan Malioboro dan halaman DPRD DIY ‘dikuasai’ massa Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) DIY, Gerakan Rakyat Anti Kenaikan BBM dan Gerakan Pemuda Progresif, massa PMII DIY dan GMNI DIY, yang menggelar aksi demo kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Dalam aksinya, masa Forum BEM membawa sebuah keranda terbalut kain putih bertuliskan ‘Kubur SBY-Boediono Sekarang Juga”. Massa juga membawa dua buah ban bekas yang siap dibakar.

Mahasiswa menuntut kenaikan harga BBM dibatalkan dan Presiden SBY-Boediono turun.

Massa Forum BEM DIY sempat tidak diperkenankan masuk gedung dewan. Terjadi negosiasi yang alot antara koordinator pengamanan gedung DPRD, aparat Polresta Yogyakarta dengan koordinator aksi Abdul Khalid. Namun akhirnya massa diperkenankan masuk dan menggelar orasi di halaman.

Tidak lama berselang, massa Gerakan Rakyat Anti Kenaikan BBM yang datang berikutnya, langsung bergabung. Massa pun kemudian bergantian orasi untuk menolak kenaikan harga BBM dan menuntut presiden SBY-Boediono turun.

“BBM turun, SBY turun,” teriak massa saat meneriakkan yel-yelnya.

Massa juga menuntut nasionalisasi aset perusahaan asing, tolak intervensi asing, renegosiasi kontrak karya dan revisi UU Migas.

Saat aksi berlangsung, sekitar gedung DPRD dijaga ratusan aparat kepolisian. Polisi menyiapkan dua tabung gas penyemprot kebakaran.

Selain gedung DPRD DIY yang dijaga aparat, kantor Pemasaran Pertamina wilayah Yogyakarta di Jl Mangkubumi juga dijaga ketat aparat./ itoday Penulis: Pambudidoyo

Selasa, 27 Maret 2012 11:46

(nahimunkar.com)

(Dibaca 848 kali, 1 untuk hari ini)