• Kini neo komunis banyak yang jadi pejabat, bahkan di DPR. Mereka itu militan. Manuver yang mereka lakukan sangat berbahaya.

Keberadaan salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang berani menulis buku “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” merupakan contoh konkrit penyusupan yang berada di lembaga legislatif.

“Penulis buku itu bernama Ribka Ciptaning. Dia adalah putri Sucipto yang merupakan tokoh PKI di Sala. Bahkan, Ribka Ciptaning berani menyatakan bahwa PKI belum pernah membubarkan diri,” ungkap Sekretaris MUI DIY, KRT Drs. H. Ahmad Muhsin Kamaludiningrat.

Anak gembong komunis seperti Goenawan Mohamad yang suka menjajakan faham marxisme serta pendapat yang merusak agama pun ternyata kini justru dimasukkan dalam jajaran penyusun kurikulum sekolah di Indonesia untuk tahun 2013. (Innaa LilIahi… Goenawan Mohamad Penjaja Marxisme dan Paham Merusak Agama Dilibatkan Susun Kurikulum https://www.nahimunkar.org/18629/innaa-liliahi-goenawan-mohamad-penjaja-marxisme-dan-paham-merusak-agama-dilibatkan-susun-kurikulum/).

 “Sekalipun  komunis internasional berubah, namun yang lokal belum berubah. Kini neo komunis banyak yang jadi pejabat, bahkan di DPR. Mereka itu militan. Manuver yang mereka lakukan sangat berbahaya,” ungkap kiai Hasyim Muzadi.

Inilah berita tentang pentingnya mewaspadai bahaya ideology komunis yang merasuk ke mana-mana.

***

Umat Islam DIY Waspadai Ideologi Komunis yang Masih Berkembang

Sabtu, 01 Desember 2012

Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta umat Islam untuk mewaspadai perkembangan ideologi komunis, karena pengikutnya dinilai telah menyusup ke berbagai instansi pemerintah maupun organisasi masyarakat ormas.

Hal tersebut dikemukakan Sekretaris MUI DIY, KRT Drs. H. Ahmad Muhsin Kamaludiningrat pada Konferensi Ormas Islam DIY di Hotel Wisanti Yogyakarta.

Menurut Ahmad Muhsin, keberadaan salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang berani menulis buku “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” merupakan contoh konkrit penyusupan yang berada di lembaga legislatif.

“Penulis buku itu bernama Ribka Ciptaning. Dia adalah putri Sucipto yang merupakan tokoh PKI di Sala. Bahkan, Ribka Ciptaning berani menyatakan bahwa PKI belum pernah membubarkan diri,” ungkapnya.

Keberanian generasi komunis saat ini menurut Ahmad Muhsin tidak lepas dari Orde Reformasi yang cenderung mengusung kebebasan tanpa batas. Bahkan, kelompok ini selalu berlindung di balik payung Hak Asasi Manusia (HAM) dalam setiap tindakannya.

“Saya justru khawatir kepada kalangan remaja dan mahasiswa, yang telah jadi sasaran empuk penyebaran ideologi komunis ini. Apalagi kalangan ini tidak pernah mengalami kekejaman komunis di masa lalu, baik di tahun 1928 maupun 1965,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi semakin berkembangnya ideologi ini, Ahmad Muhsin meminta pemerintah agar tidak lagi lalai dalam memproteksi masyarakatnya. Sebab menurutnya, dua kali PKI melakukan pemberontakan, dan dua kali itu pula pemerintah lalai.

“Jangan sampai terjadi pemberontakan PKI yang ketiga,” ungkapnya lagi.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Kesatuan Bangsa Badan Kesbanglinmas DIY, Drs. Rudiyanto, MM, yang menyebutkan indikasi bangkitnya ideologi komunis melalui upaya pelurusan sejarah kelompok kiri (komunis). Mereka ingin menciptakan opini bahwa peristiwa G30 S/ PKI merupakan konspirasi yang didalangi oleh Soeharto dan TNI Angkatan Darat.

“Distabilitas nasional dewasa ini tidak lepas dari peran kelompok radikal kiri untuk mempersiapkan kebangkitannya dengan memanfaatkan kondisi sosial politik, keamanan, dan ekonomi yang rapuh,” jelas Rusdi.

“Kondisi tersebut adalah lahan subur tumbuhnya komunisme,” tambahnya.

Rusdi juga meminta Ormas Islam DIY mewaspadai perkembangan paham ini di Yogyakarta yang notabene sebagai Kota Pelajar. Kota ini menurutnya tidak hanya melahirkan intelektual yang konstruktif, namun juga desktruktif. Kondisi tersebut diperparah oleh tingkat tolerasi masyarakat DIY relatif tinggi, sehingga berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok kiri untuk mengembangkan ajarannya.

Sementara itu, acara yang diselenggarakan oleh Persaudaraan Dai Indonesia (Pos Dai) DIY ini direspon dengan antusias oleh sekitar 40 perwakilan Ormas DIY yang hadir pada konferensi ini. Umumnya mereka sepakat ideologi komunis ini harus diwaspadai pergerakannya, sehingga tidak memakan korban masyarakat DIY, khususnya generasi muda Islam.*/muh

Red: Cholis Akbar

***

Hasyim Muzadi : Bahaya Ancaman Cina Komunisme dan Liberalisme

04 Oktober 2012 09:44

Untuk menghadapi Islam, neo-komunisme dan liberalisme yang dulu berhadap-hadapan, kini bersatu padu. Kekuatan neo-komunisme dan liberalisme bergandeng tangan menghadapi Islam, yang dianggap mereka sebagai ancaman.

Perlu diketahui, neo komunisme itu paling lihai dan jitu dalam membuat strategi. Sebagai contoh, mereka suka menguak luka lama, berupaya membersihkan diri dari kesalahan, lalu melempar kesalahan kepada pihak lain.

Demikian dikatakan Ketua ICIS (International Conference of Islamic Scholars) KH. Hasyim Muzadi ketika beraudiens dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU di kantor ICIS, Jl. Dempo, Matraman, Jakarta.

 “Sekalipun  komunis internasional berubah, namun yang lokal belum berubah. Kini neo komunis banyak yang jadi pejabat, bahkan di DPR. Mereka itu militan. Manuver yang mereka lakukan sangat berbahaya,” ungkap kiai.

Lebih jauh Ketua Umum ICIS itu menjelaskan, pada tahun 1990-an, pasca perang dingin yang dimotori oleh AS dan Rusia, menyebabkan runtuhnya komunisme dan proletarisme (sama rasa sama rata), yang kemudian diganti dengan kebebasan beragama.

 “Namun, sebenarnya kemenangan Barat melawan Timur itu belum tentu kemenangan yang sesungguhnya. Karena saat ini Barat menjadi miskin pelan-pelan, dikarenakan kerusakan ekonomi kapitalismenya.

Cina pun mulai menguasai perekonomian dunia.  Setelah Marxisme dikalahkan, kapitalisme mulai rontok, dari Eropa hingga AS. Kini pertarungan selanjutnya, diarahkan ke dunia Islam,” kata kiai.

Ketika ada teori class of civilization (benturan peradaban Islam dan Barat) –dikemukakan oleh Samuel Huntington — KH. Hasyim justru menyebutnya sebagai class of interest (benturan kepentingan).  

 “Ingat, saat terjadi 11/9 tahun 2001, Presiden AS George Bush pernah membentuk pasukan elit al-Qaeda untuk menghadapi Soviet. Pasca runtuhnya Soviet, AS tak ingin Al Qaeda menjadi  kekuatan.

Bukan hanya  itu, AS juga tak ingin Irak yang dipimpin oleh Syiah  bergabung dengan Iran, yang dikhawatirkan menjadi kekuatan yang besar. Strategi AS selanjutnya, kini tidak lagi mengerahkan serangan militer, tapi menggunakan cara-cara infiltrasi,”jelas Kiai.

Sebagai contoh, pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Timur Tengah telah disupport oleh Barat, hingga jatuhlah Tunisia, Mesir, Libya. Kini, Yaman mulai digoyang, begitu juga Suria. Tapi yang terjadi, pergolakan di negara-negara Arab (Arab Spring), sekarang dipimpin oleh sistem yang Islami.

Ikhwanul muslimin di Mesir yang tak pernah berkuasa, kini berkuasa. Sedang Suria masih tarik menarik, dimana AS tidak berani masuk melakukan serangan langsung, karena terlalu banyak faks-faksi di negara tersebut.

 “AS khawatir, jika dikerahkan kekuatan militer, faksi-faksi itu bersatu. Sehingga AS merasa nyaman menggunakan tangan lain dari negara lain untuk menggoyang Suria, seperti Turki dan Saudi.”

KH. Hasyim Muzadi berpandangan, tidak tertutup kemungkinan gerakan inflitrasi ini akan masuk ke Indonesia. Indikasi itu sudah terlihat ketika Indonesia berubah menjadi negara yang menerapkan demokrasi liberal. Serangan yang dilakukan tentu tidak dilakukan seperti di negara-negara  diktator. Mereka berselancar dengan sistem dan kondisi yang ada sambil menciptakan friksi-friksi.

Serangan Budaya

Selain serangan militer, infiltrasi, Barat juga melakukan serangan budaya dan pendidikan atas nama gerakan intelektual. Sosok Irshad Manji dan Lady Gaga yang mengkampanyekan nikah sejenis, adalah serangan yang dilakukan Barat. Tapi,anehnya pemikiran Manji oleh kaum liberal diterima sebagai gerakan intelektual, padahal jelas-jelas merusak dan melawan kodrat.

KH. Hasyim pernah ditanya, kenapa ia tidak setuju dengan pernikahan sejenis? Lalu dijawab, karena pernikahan sejenis sama saja kembali ke zaman batu. Anehnya, pernikahan sejenis dianggap sesuatu yang modern.  “Itulah kenapa Negara sekuler tidak bisa menangkap orang yang jelas-jelas menghina agama, dengan dalih kebebasan berpendapat.”

Seperti diketahui, disaat Islam dilecehkan dan Nabi Saw dihina, kaum liberal kerap melontarkan slogan “Islam, Allah dan Nabi tak perlu dibela”. Tapi, kata KH. Hasyim, umat Islam tak boleh diam menghadapi perkara nahi munkar. Tapi, tentu saja, ijtihad yang dilakukan, harus dengan cara yang ahsan (baik). Argumentasi harus dilawan argumentasi. Dan umat Islam harus mengungguli argumentasi musuh Islam.

 “Musuh Islam itu seperti menunggu kita untuk melakukan pelanggaran HAM besar, sehingga punya alasan untuk melakukan invansi. Ketika tentara Indonesia menghadapi gerakan separatis di Papua, umpamanya, tentara kita diberangkatkan ke sana, tapi tidak boleh menembak.

Tapi kalau tentara ditembak tidak dibilang pelanggaran HAM. Barat mengemas persoalan HAM menurut kacamata mereka sendiri secara sepihak. Jebakan-jebakan inilah yang harus diketahui.”

Bicara soal HAM, KH. Hasyim Muzadi sering ditanya tentang FPI (Front Pembela Islam) ketika ke luar negeri. “Ternyata FPI itu adalah organisasi Islam yang paling terkenal di dunia, Setiap kali ke luar negeri, saya selalu ditanya tentang aksi-aksi FPI.

Ini bukti, Barat sengaja menciptakan stigma-stigma. Ketika umat Islam masuk dalam jebakannya, mereka menunggu kita melakukan pelanggaran HAM berat untuk dijadikan alasan melakukan invansi,” kata kiai menekankan. Desastian/voa-islam.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.673 kali, 1 untuk hari ini)