Cecep Solihin saat bertobat (Foto: Tri Ispranoto/Okezone)

.

 

JAKARTA – Heboh kasus nabi palsu di Kota Bandung yang melibatkan Cecep Solihin berakhir dengan adegan pertobatan. Cecep mengaku bersalah dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Kalimat syahadat pun diucapkan sebagai bukti telah kembali ke ajaran yang benar.

Pertobatan Cecep lantas dianggap sebagai klimaks kasus nabi palsu. Kalangan ulama, masyarakat, dan aparat menganggap kasus telah selesai. Padahal sejatinya akar persoalan perkara ini sama sekali belum disentuh.

Sekjen NII Crisis Center Ken Setiawan menduga pertobatan Cecep Solihin hanya akal-akalan semata. Ini hanya siasat agar bisa lepas dari jeratan hukum dan di kemudian hari dapat terus melestarikan ajarannya.

Syahadat ulang tidak menyelesaikan persoalan. Terlebih lagi dalam berbagai kesempatan Cecep menyatakan tidak menyesali perbuatannya dan menegaskan tidak pernah mengaku sebagai Nabi. Ideologi tak pernah mati karena ini menyangkut pemikiran,” ujarnya kepada Okezone di Jakarta, Jumt (4/4/2014).

Penerimaan ulama dan aparat atas pertobatan sang nabi palsu, bagi Ken juga bisa jadi hanya siasat untuk meredam masyarakat agar tidak bergejolak. “Ini hanya untuk ngademin masyarakat,” singkatnya.

Dalam kaitan ini, secara terang-terangan dia menyatakan kecewa dengan akhir dari drama nabi palsu yang bermula dari penggerebekan rumah di Jalan Cinta Asih, RT 1 RW 11, Kelurahan Samoja, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung pada Rabu, 02 April 2014. Apalagi dari hasil penggerebekan dan penyelidikan ditemukan dokumen dari Abu Bakar Ba’asyir yang diduga dijadikan pedoman kelompok Cecep Solihin.

Fakta bahwa Cecep mengajarkan sikap anti NKRI, melakukan rekrutmen anggota, memperbolehkan berutang ke bank tanpa membayar, memprediksi kiamat bakal datang Mei 2014, serta menafsirkan Alquran secara berbeda dari kalangan mainstream juga menguatkan dugaan bahwa kelompok yang beranggotakan puluhan orang ini memiliki afiliasi dengan jaringan NII. “Tapi bukan NII Panji Gumilang. Ini pecahannya lagi yang agak nyeleneh. Pengajian biasa tak seperti itu,” ulas Ken.

Sikap lunak aparat serta masyarakat dikhawatirkan akan membuat kelompok-kelompok serupa seperti Cecep Solihin menuai angin segar. Dalam kasus ini pun bisa jadi Cecep akan kembali beraksi kala situasi sudah terkendali. Tidak ada jaminan Cecep tidak mengikuti jejak Ahmad Musaddeq yang mengumumkan dirinya sebagai nabi setelah bertapa salama 40 hari 40 malam di Gunung Bunder Pamijahan Bogor pada 2006 silam.

Mussadeq yang menafsirkan kitab suci dengan cara sendiri dan tidak mewajibkan pengikutnya salat, puasa dan ibadah wajib lainnya, memang pada akhirnya bertobat dan menjalani hukuman di penjara. Namun selepas itu dia tidak tinggal diam. Usai Al Qiyadah Al Islamiyah divonis sesat dan dibubarkan, dia membuat komunitas Millah Abraham yang kemudian juga dinyatakan sebagai aliran sesat oleh MUI. Dia pun tidak menyerah dengan membuat organisasi baru yang secara legal formal terdaftar di Kemendagri. “Karena ini era demokrasi bermetamorfosa menjadi lembaga legal formal agar tak disentuh pemerintah. Saya rasa (Cecep) tak jauh-jauh dari Ahmad Musaddeq,” tegas Ken Setiawan.

Pola serupa menurut dia juga dipraktekkan Panji Gumilang. Dulu struktur organisasi pimpinannya jelas mulai dari tingkat rukun tetangga sampai Presiden. Namun karena disorot akhirnya bermetamorfosa menjadi Ormas Masyarakat Indonesia Membangun dengan program serupa dan dijalankan orang-orang yang sama untuk menyiasati agar tak dibubarkan pemerintah.

“Gerakannya tetap berjalan, sekarang fokus membangun sentra ekonomi. Targetnya dia (Panji Gumilang) maju capres, tapi terganjal banyak kasus. Akhirnya dua anaknya didorong menjadi caleg dari PPP dengan target menjadi pimpinan DPR dan nanti dapat mengubah undang-undang. Mereka akan mengerahkan massa agar dua orang ini jadi (anggota DPR),” ungkap Ken Setiawan.

Heboh kasus nabi palsu Cecep Solihin bermula dari laporan masyarakat yang resah dengan aktivitas pengajian di rumah di Jalan Cinta Asih, RT 1 RW 11, Kelurahan Samoja, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. Usai melakukan penyelidikan, polisi akhirnya melakukan penggerebekan pada Rabu, 02 April 2014.

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Mashudi, mengungkapkan, sebelum pindah ke lokasi saat ini Cecep pernah diusir oleh warga Cikalong Tengah, Kabupaten Bandung Barat lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat. “Pada Januari 2014 kemarin, dia pernah diusir dengan surat pernyataan yang ditandatangani oleh aparat setempat‎,” jelasnya.

Menurutnya, dalam surat pernyataannya itu Cecep disebut-sebut sebagai orang yang tidak mengakui keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Dia juga mengaku sebagai rasul,” terangnya.

Berikut ajaran-ajaran menyimpang Cecep:

Mengaku sebagai Nabi

Pria berambut gondrong itu mengaku sebagai nabi kepada jamaahnya. Namun belakangan Cecep mengaku khilaf lantaran nabi merupakan sosok yang membawa pesan.

Jihad ke Aceh

Selain mengaku sebagai nabi, Cecep juga menganjurkan para jamaahnya untuk pergi ke Aceh. Setelah pulang dari Negeri Serambi Makkah itu, nantinya para jamaah bisa menguasai perekonomian Indonesia.

Pinjam uang tanpa harus mengembalikan

Satu ajaran Cecep yang cukup ‘menyenangkan’ adalah para jamaahnya diperbolehkan meminjam uang ke bank. Namun, khusus bagi pengikutnya uang pinjaman tersebut tidak perlu dikembalikan.

Cuci otak jamaah

Para jamaah Cecep yang berjumlah sekira 60 orang tinggal satu atap di Jalan Cinta Asih, RT 01/11, Kelurahan Samoja, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Mereka rata-rata masih satu keluarga.

Banyak keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya. Bahkan ada istri yang meninggalkan suami dan anaknya beberapa hari. Istri yang mengikuti doktrin Cecep berkeyakinan lebih baik mencintai Allah daripada suami. Dalam ajaran Islam hal itu memang dibenarkan, namun secara garis besar menelantarkan suami dan anak juga tidak dibenarkan.

Ajaran mirip NII

Ajaran yang disebarkan Cecep hampir mirip-mirip dengan Negara Islam Indonesia (NII). Cecep menyebarkan doktrin yang menolak eksistensi NKRI.
(ful) Jum’at, 4 April 2014 – 14:55 wib, Mohammad Saifulloh – Okezone

***

Berikut 10 Butir Pernyataan Tobat Cecep Si Nabi Palsu

BANDUNG – Cecep Solihin akhirnya bertobat dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya kembali dengan mengaku-ngaku sebagai nabi. Hal itu dikuatkan dengan 10 pernyataan yang ditandatangani di atas materai.

Pernyataan tobatnya tersebut dibacakannya sendiri di hadapan sejumlah pihak dan perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dengan pembacaan surat itu akhirnya Cecep yang semula ditahan di Mapolrestabes Bandung akhirnya diperbolehkan pulang ke rumahnya.

Berikut pernyataan lengkap pertobatan Cecep Solihin:

Nama: Cecep Solihin bin MA Usman (Alm)
TTL: Bandung, 2 Agustus 1965
Pekerjaan: Swasta
Agama: Islam
Alamat: Jalan Cinta Asih No 7-8, RT 1 RW 11, Kelurahan Samoja, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Berjanji dan disaksikan Sekretaris MUI Kota Bandung dan Kapolrestabes Bandung beserta jajaran
1. Mengaku khilaf tentang pemahaman rasul.
2. Saya kira rasul itu hanya yang menyampaikan.
3. Tadinya menurut pemahaman saya, rasul itu setiap yang menyampaikan itu adalah rasul.
4. Saya tidak memberikan pemahaman kepada orang lain kecuali keluaga saya sendiri.
5. Saya minita maaf kepada seluruh umat Islam di Indonesia khususnya warga RT 1 RW 11, Kelurahan Samoja, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.
6. Saya siap dibina oleh MUI dan Kementerian Agama Kota Bandung.
7. Saya siap tidak mengulangi lagi pemahaman ini dan tidak akan menyebarkan pada siapapun.
8. Dan saya akan membubarkan seluruh pengikut saya dan menyuruh agar pengikut yang telah memiliki suami atau istri kembali ke rumahnya masing-masing.
9. Apabila saya mengulangi dan mengingkari perjanjian ini saya Cecep Solihin siap diproses secara hukum.
10. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada paksaan dari siapapun.

Bandung, 3 April 2014

(Tanda tangan bermaterai)

(put) Jum’at, 4 April 2014 – 02:11 wib, Tri Ispranoto – Okezone/ http://bebas.web.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.710 kali, 1 untuk hari ini)