Di Citos (Cinere Town Squere) Jakarta dari 30 restoran hanya 1 yang halal.

  • Mereka mencari jalan pintas dengan harapan lebih menghemat, namun mengorbankan umat Islam, karena mengabaikan kehalalannya.
  • Ada oknum pemilik restoran Padang ternama di Jakarta dan Indonesia menggunakan anciu (sejenis arak) dengan maksud ayam yang disajikan tetap empuk dan cepat dalam penyajiannya. Meski tidak menyebut namanya, Halal Watch menyebut ada tiga nama besar restoran Padang yang menggunakan anciu pada masakannya.
  • Dari hasil investigasi yang dilakukan Halal Watch, ditemukan, 90 resto di Central Park  Mall di Grogol hanya 5 resto yang halal, sedangkan di Casablanca dari 120-an resto hanya 5 resto yang halal, dan di Citos (Cinere Town Squere) dari 30 resto hanya 1 yang halal.
  • Ingat, kelak di kiamat nanti, mereka akan dituntut jika tidak bertobat.

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ} [البقرة: 168]

168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah: 168)

Inilah berita tentang restoran-restoran di Jakarta kebanyakan tidak halal.

***

Halal Watch: Ada Tiga Restoran Rumah Padang Terkenal Gunakan “Anciu”

Selasa, 26 Feb 2013

FOOD_82364523742

JAKARTA (voa-islam.com) – Semua orang Indonesia pasti suka masakan Padang. Tapi siapa sangka, ternyata ada oknum pemilik restoran Padang ternama di Jakarta dan Indonesia, yang gelap mata karena keserakahannya, menggunakan anciu (sejenis arak) dengan maksud ayam yang disajikan tetap empuk dan cepat dalam penyajiannya. Meski tidak menyebut namanya, Halal Watch menyebut ada tiga nama besar restoran Padang yang menggunakan anciu pada masakannya.

“Sebagai orang minang saya prihatin. Ada beberapa restoran Padang yang menambah zat perasa pada masakannya. Padahal tanpa itu, masakan Padang sudah pasti lezat. Jika mengikuti pola masakan Padang yang sebenarnya, daging ayam itu akan empuk jika dimasak dalam waktu yang lama, namun dengan alasan ekonomis, mereka mencari jalan pintas dengan harapan lebih menghemat, namun mengorbankan umat Islam, karena mengabaikan kehalalannya.” Demikian dikatakan anggota pengurus Halal Watch Keke Z Sugitahari dalam silaturahim dengan pimpinan ormas Islam di Gedung Mumtaz, Jakarta, belum lama ini (24/2).

Resto Padang, lanjut Keke, seharusnya tidak menggunakan anciu, arak, sari tapai dalam makanannya. Ingat, kelak di kiamat nanti, mereka akan dituntut jika tidak bertobat.

Penggunakan anciu pada masakan Padang, ditemui Halal Watch sejak 2006 yang lalu. Temuannya itu bahkan sudah dilaporkan ke jalur yang ada, seperti LPPOM MUI. Namun, karena pembuatan sertivikasi halal masih bersifat sukarela, tidak ada kewajiban bagi rumah makan, maka menjadi tidak jelas kehalalannya. Ke depan,  semua rumah makan harus mengurus sertifikasi halal. “Bila perlu, pemerintah memberanikan diri untuk mencantumkan atau memberi label haram pada resto yang tidak menyajikan makanan halal.”  desastian

***

Astaghfirullah! Dari 90 Resto di Jakarta Hanya 5 Resto yang Halal

JAKARTA (voa-islam.com) – Dari hasil investigasi yang dilakukan, Halal Watch, ditemukan, 90 resto di Central Park  Mall di Grogol hanya 5 resto yang halal, sedangkan di Casablanca dari 120-an resto hanya 5 resto yang halal, dan di Citos (Cinere Town Squere) dari 30 resto hanya 1 yang halal.

“Restoran itu bukan hanya tidak ada label halalnya, bahkan ada resto yang gunakan label halal, tapi makanannya bercampur dengan zat yang haram seperti arak, rum, juga yang bercampur antara daging ayam, sapi dengandaging babi,  terutama roti-rotian. Jika melihat data dari LPPOM MUI, jenis makanan di restoran, supermarket, maupun pasar tradisional, baru 1 % yang baru jelas kehalalannya, selebihnya subhat. Sungguh memprihatinkan,” ungkap anggota pengurus Halal Watch Keke Z Sugitahari kepada voa-islam di Jakarta.

Dikatakan Keke yang juga owner Mumtaaz Boutique ini, yang disebut dengan kehalalan itu adalah proses yang disajikan dari awal hingga akhir, mulai dari bahan masakannya, proses memasaknya, penyajiannya, hingga pemasarannya. Halal Watch sendiri baru konsen pada bahan dan hasil akhirnya.  “Yang kita lakukan adalah memastikan kehalalan produk halal dari segi produksi, kesadaran konsumen, dan prosesnya,” ujar Keke.

Saat ini, Halal Watch bernaung di bawah Yayasan Peduli Halal Indonesia, anggotanya terdiri dari para profesional dan lapisan masyarakat, meski tidak semua anggotanya mengerti makanan halal, tapi pihaknya memberi edukasi dan kesadaran kepada anggotanya tentang produk halal.

Menyinggung soal berdirinya Badan Halal NU, sikap Halal Watch adalah bersikap husnudzan. Tentu kita berharap tidak ada potensi konflik dengan hadirnya lembaga sertifikasi halal yang baru. Perpecahan tidak akan terjadi bila kepentingan yang dilakukan  untuk kepentingan umat. Sebaiknya memang, MUI tetap sebagai lembaga pemberi fatwa proses sertifikasi halal.

“Tentu LPPOM MUI dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tidak bisa bekerja sendiri, karena kurangnya SDM,  pola kerjanya perlu disupport oleh ormas islam dan pemerintah.

LPPOM MUI tidak akan sangggup untuk selesaikan permasalahaan sendirian untuk memberi kepastian produk makanan halal di Indonesia. Di negeri seperti Singapura saja,  makanannya lebih jelas kehalalannya. Wanita yang berjilbab bahkan ditolak masuk resto yang menyajikan masakan babi, karena bisa dituntut,” jelas Keke. Desastian/ voais, Selasa, 26 Feb 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.030 kali, 1 untuk hari ini)