Terkait Tips Jadikan Musa Hafizh Cilik Tingkat Dunia, Ini Dialog Saya Bersama Ayahnya, La Ode Abu Hanafi

Untuk acara Temu Hafizh Cilik Indonesia La Ode Musa di Ma’had Assunnah, Rabu (3/8) kemarin, saya ‘melamar’ dijadikan tim penjemput. Gayung bersambut, Ustadz. Mashun yang didapuk sebagai orang nomor satu untuk mengatur acara menerima pinangan saya. Kenapa saya lamar bagian ini? Berikut alasannya.

Sebagai tim penjemput pasti akan mengondisikan saya bertemu muka langsung dengan sang hafizh dan ayahandanya. Hal ini sudah terbaca di benak, lebih dari itu, saya akan dapat mewawancarai langsung La Ode Abu Hanafi, ayah Musa terkait bagaimana memoles anak jadi hafizh layaknya Musa.

Tiba di hotel Idoop Mataram, orang yang dijemput sudah menanti di bibir gerbang. Bertemu haamilul Qur’an cilik nomor wahid di Nusantara, memiliki kenikmatan tersendiri. Tanpa banyak cerita, usai salam dan menanyakan keadaan, saya dan Ustadz. Mashun dengan lembut mempersilahkan tamu istimewa tersebut naik mobil.

Melihat matahari sudah setinggi tombak, meluncur dari Mataram, Lombok Barat menuju Ma’had Assunnah, Lombok Timur akan memakan waktu cukup lama, sekitar satu setengah jam, sebab akan banyak kendaraan sepanjang jalan. Namun situasi serupa ini justru yang diharapkan, di mana waktu tersebut akan memberikan kesempatan bagi saya untuk bertanya berbagai hal.

Agar lebih enak dibaca, coretan ini akan saya bagikan seperti dialog saya bersama beliau. Tuntas ngobrol renyah terkait perjalanan Musa mengkuiti MTQ Nasional di Mataram, saya mulai bertanya satu demi satu dengan pertanyaan yang sudah saya set di otak…hehe…

Saya: Ustadz, mengenai teori mungkin ada banyak cara meracik seorang anak jadi hafizh, yang saya sangat penasaran adalah, bagaimana tips antum membuat Musa tunduk, manut dan nurut diajar, padahal kan kita tahu, anak seusianya biasanya susah diatur?

La Ode Abu Hanafi: Pertama, sebagai orangtua, waktu kita untuk anak harus lebih banyak daripada yang lain. Amat mustahil anak tiba-tiba nurut, sementara kita jarang bersama. Saat bersama, kita juga harus bisa menjadi teman, sahabat dan ayah sekaligus dengan mendalami karakter, kekuatan, dan jiwanya. Dengan demikian akan mudah bagi kita membuatnya patuh. Buktinya, ketika mereka asyik bermain saya biarkan, namun ketika saat mulai belajar mereka serius. Saya ditakuti namun juga disukai.

Kedua, sejak dini tanamkan Sunnah pada mereka, dari mulai hal-hal kecil seperti makan minum dengan tangan kanan, adab masuk WC disertai doa-doanya. Sebab hal ini akan mendatangkan keberkahan. Bukankah para salaf dahulu, sejak kecil anak-anak mereka diajari Sunnah, Al-Qur’an hingga jadi hafizh dan ulama.

Saya: Bagaimana awal mula Musa ditalqin Al-Qur’an, apakah antum mengalami kesulitan?

La Ode Abu Hanafi: Ya, bahkan Surah pertama yang saya talqinkan, yakni Annas, untuk ayat pertama saja saya ulang bacakan selama tiga hari. Maka keliru bila ada orangtua bilang anak saya tidak cerdas, tidak pinter, akan susah seperti Musa. Jangan salah, Musa juga seperti anak kebanyakan.

Saya: (Sambil mengelus pundak Musa yang duduk di sebelah saya)…Ustadz, untuk menjadikan Musa hafal Al-Qur’an, apakah merupakan cita-cita antum sebelum atau sesudah menikah?

La Ode Abu Hanafi: Setelah menikah. Namun awalnya begini, saya pikir sebagai muslim anak-anak saya harus bisa dan hafal Al-Qur’an minimal surah-surah pendek, tidak terpikir kelak agar ia menjadi hafizh atau ulama. Juga sama sekali tidak ada tujuan menjadikan Musa Hafizh untuk ikut Lomba, namun baru saat tersiar kabar Musa hafal, Pemda setempat minta agar Musa diikutkan Lomba saja untuk menguji hafalannya.

Saya: Kabarnya, antum hingga 8 jam/hari untuk menalqin Musa, benar ya?

La Ode Abu Hanafi: Bahkan kadang 10 jam/hari.

Saya: Durasi belajar yang begitu lama, apakah antum tidak merasa jenuh, dan bagaimana Musa?

La Ode Abu Hanafi: Saya dan istri kadang bergantian, saat menalqin dan muroja’ah kami kadang duduk, berdiri. Hebatnya Musa tetap kuat. Dan kami juga Musa tidak merasa jemu, justru menikmati.

Saya: Hafalan Musa dikenal begitu kuat, setiap pertanyaan dijawab 100 % dan tanpa loading. Bagaimana cara antum menguatkan hafalannya?

La Ode Abu Hanafi: Musa, setiap surah diulang ribuan kali. Itulah mengapa saya sering bilang kepada orangtua yang mengeluhkan lemahnya hafalan anak mereka. Ya karena jarang mengulang, kalau pun diulang hanya beberapa kali. Untuk satu surah saja, Musa ulang hingga ribuan kali.

Saya: Dekat sudah, dirayu juga sudah, namun kadang anak seusia Musa sulit nurut, apa perlu dengan paksaan?

La Ode Abu Hanafi: Perlu. Musa dulu sempat ngeyel. Akhirnya saya paksa dan berhasil. Anak kalau sulit disuruh lantas kita menyerah, selanjutnya pasti akan susah dan ujungnya gagal. Namun sekali saja antum bisa memaksanya, selanjut akan mudah dan insyaAllah berhasil.

Demikian di antara isi percakapan saya bersama Ustadz. La Ode Abu Hanafi dalam perjalanan penjemputan yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat!

Catatan:

Konten dialog ini insyaAllah utuh sesuai yang saya simak, namun bahasanya sedikit diolah.

Kamis, 4/8/2016

[Marwan AM, حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

FB Mar Wan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.718 kali, 1 untuk hari ini)