Tafsir At-Tahrir wat-Tanwir adalah tulisan Ulama Az-Zaitunah

  • Majelis ilmu Zaitunah di Tunis akan resmi dibuka kembali pada pertengahan bulan depan. Sejarahnya yang menyedihkan, setelah Burqibah menyuruh Muslimin yang berpuasa agar berbuka, lalu dikritik oleh ulama Zaitunah maka mereka dipenjarakan, dipecat bahkan ada yang dibunuh.
  • Zaitunah Tunis di masa keemasannya merupakan pusat kajian keislaman seperti Al Azhar di Mesir. Dan lembaga itu sendiri telah menghasilkan ulama besar semisal Syeikh Thahir bin Asyur (penulis Tafsir at-Tahrir wat-Tanwir, lihat artikel bagian bawah) dan Syeikh Al Khadzr Al Husain yang pernah menjabat sebagai Syeikh Al Azhar meski beliau bukan ulama Mesir.

Inilah beritanya.

***

Kenapa Kajian Ilmu Zaitunah Dilarang?

Dewan Keilmuan Masjid Zaitunah Tunis mengungkap beberapa penyebab hingga para penguasa Tunis  para ulama Zaitunah dan masjidnya yang berakhir dengan pelarangan kajian ilmu di masjid bersejarah itu.

Dalam jumpa pers yang digelar oleh Dewan Keilmuan Masjid Zaitunah yang juga menghadirkan para ulama dan menteri, Syeikh Husain Al Ubaidi Ketua Dewan Keilmuan Zaitunah menyampaikan bahwa penentangan penguasa terhadap Zaitunah mulai setelah Syeikh At Thahir bin Asyur mengkritik pernyataan Burqibah,”Siapa yang percaya bahwa tongkat Musa menjadi ular”.

Masih menurut Syeikh Al Ubaidi, penentangan penguasa dengan Syeikh Asyur semakin kuat tatkala Burqibah berkata dengan nada melecehkan,”Berbukalah kalian dari puasa hingga kalian kuat menghadapi musuh kalian”, yang ditanggapi oleh Syeikh Asyur dengan khutbah beliau,”Barang siapa mengingkari rukun dari rukun-rukun Islam maka ia kafir dan dibunuh serta tidak dimakamkan di pemakaman Muslim”. Burqibah pun membalas dengan mencopot Syeikh Asyur dari aktivitas mengajar di masjid Zaitunah serta mencekal beliau.

Bahkan Syeikh Al Ubaidi menjelaskan bahwa permusuhan Burqibah terhadap Zaitunah dan ulamanya tidak hanya sampai tahapan itu, hingga ia tidak segan-segan menggunakan kekuatan politik dengan menghentikan gaji mereka melalui pihak perwakafan serta mengusir mereka dengan menggunakan kelompok milisi. Hingga menyebabkan sebagian dari ulama seperti Syeikh Muhmmad An Naifar memilih hijrah ke Aljazair dan Syeikh Umar Al Adasi ke Libya. Bahkan sebagain ulama pun dipenjara dan lainnya dibunuh seperti Syeikh Ar Rahumi Abdul Azizi Al Akrami. Di masa Zain Al Abidin nasib Zaitunah belum pulih, Zaitunah ditutup selama setahun dan dibuka kembali pada tahun 1988. Namun setelah 2500 pencari ilmu berada di Zaitunah, pemerintah kembali menutup ruang belajar dan penginapan pelajar.

Syeikh Al Ubaidi juga menegaskan bahwa majelis ilmu Zaitunah akan resmi dibuka kembali pada pertengahan bulan depan. Dan Zaitunah berjalan dengan madzhab Maliki dan akidah Asy’ariyah dengan meminta dukungan kepada ulama Al Azhar dan Al Qairawan.

Sebagaimana diketahui bahwa Zaitunah di masa keemasannya merupakan pusat kajian keislaman seperti Al Azhar di Mesir. Dan lembaga itu sendiri telah menghasilkan ulama besar semisal Syeikh Thahir bin Asyur serta dan Syeikh Al Khadzr Al Husain yang pernah menjabat sebagai Syeikh Al Azhar meski beliau bukan ulama Mesir.

Rep: Sholah SalimRed: Thoriq , Senin, 23 April 2012 Hidayatullah.com—

***

Mengenal Tafsir at-Tahrir wat-Tanwir

Wednesday, November 26, 2008

Kitab yang terdiri dari tiga puluh juz dan terbagi kepada dua belas jilid ini merupakan sebuah tafsir kontemporer. Tampilan unik dan berbeda dengan kitab lain secara kasat mata.

Dari sederetan buku tafsir yang ada dalam khazanah penafsiran Al-Quran, termasuk dalam daftar tafsir terkemuka adalah karangan Ibnu ‘Asyur yang satu ini. Muhammad at-Thahir ibn ‘Asyur adalah seorang ulama kontemporer, wafat pada sepuluh tahun terakhir ini tepatnya sekitar tahun 2001. Memulai petualangannya menuntut ilmu pengetahuan Islam dengan bergabung dalam lembaga pendidikan az-Zaitunah, Tunis. Azzaitunah ini setaraf dengan al-Azhar di Mesir, dari model pendidikannya yang berpusat pada sebuah masjid dan begitu pula usia berdiri atau eksisnya lembaga pendidikan tersebut.

Beliau hidup sezaman dengan ulama ternama di Mesir, Muhammad al-Khadhar Husain at-Tunisy. Keduanya adalah teman seperjuangan, ulama yang sangat luar biasa, memiliki tingkat keimanan yang tinggi, sama-sama pernah dijebloskan ke dalam bui lantaran mempertahankan pemahaman dan ideologinya serta menanggung penderitaan yang sangat berat demi memperjuangkan negara dan agama. Pada akhirnya Muhammad al-Khadhar ditakdirkan oleh Allah menjadi mufti Mesir, beliau pun mendapat kepercayaan menjadi Qadhi di Tunis yang kemudian diangkat menjadi seorang penentu fatwa keagamaan di Tunis.

Dalam muqaddimah tafsir “at-Tahrir wat-Tanwir” beliau menuturkan, satu angan-angan terbesar dalam hidup beliau yang ingin dicapai adalah menafsirkan kitab Allah Swt. sebagai mu’jizat terbesar Nabi Muhammad Saw. Bercita-cita membuat sebuah tafsir yang lengkap dari segi kebahasaan dan maknanya, yang belum pernah ada sebelumnya. Tafsir yang mencakup kemaslahatan dunia dan akhirat. Bukan hanya sekedar mengumpulkan perkataan ulama sebelumnya, melainkan memiliki penjelasan-penjelasan yang berasal dari hasil pengetahuan sendiri yang lebih detail dan menyeluruh dalam penafsiran ayat-ayat Al-Quran. Beliau melihat beberapa tafsir yang ada hanya mengambil pendapat ulama sebelumnya. Seakan-akan sang pengarang tidak memiliki kontribusi pendapat sedikit pun kecuali hanya merunut pendapat ulama lain. Cuma berbeda dari porsi yang diambil, ada yang memaparkannya secara singkat sebaliknya ada yang panjang lebar. Berkat rahmat Allah Swt., angan-angan ini bisa tercapai. Karya beliau bisa rampung tersusun dan ikut meramaikan khazanah ilmu pengetahuan Islam.

Menilik tafsir karangan Ibnu ‘Asyur dari segi materi, kitab ini terdiri dari tiga puluh juz dan terbagi kepada dua belas jilid. Masih diterbitkan oleh penerbit tunggal yang masih cukup sulit kita dapati. Sebuah tafsir kontemporer yang memiliki ciri khas tersendiri dalam paparannya menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Memiliki tampilan unik dan berbeda dengan kitab lain secara kasat mata. Memiliki metode penyusunan unik, yang tidak mengkhususkan satu jilid untuk satu juz saja melainkan secara acak. Kadang memuat dua juz bahkan sampai lima juz perjilidnya.

Beliau memulai tafsirnya dengan sekelumit materi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan dasar memahami seluk beluk gaya bahasa Al-Quran secara singkat. Memaparkan muqaddimahnya sampai kepada sepuluh bagian pembukaan, mulai dari penjelasan tafsir dan ta’wil, penjelasan fenomena tafsir bil ma’tsur dan bir-ra’yi, asbâbunnuzûl, sampai kepada i’jâzuI Qurân. Itupun sampai menghabiskan seratus halaman pertama untuk penjelasan sesingkat ini. Mirip dengan uraian singkat Ulumul Quran yang sudah mencapai tingkat yang cukup rumit.

Mendeskripsikan cakupan bahasan dalam tafsir ini, beliau mengungkapkan dalam pendahuluan tafsirnya, “Saya benar-benar berusaha menampilkan dalam tafsir Al-Quran hal-hal langka yang belum digarap oleh ulama tafsir sebelumnya. Menempatkan diri sebagai penengah perbedaan pendapat ulama yang pada satu waktu sepaham dengan salah satunya dan pada waktu lain berseberangan pendapat dengan alasan tersendiri. Dalam tafsir ini, saya berusaha mengungkap setiap i’jazul Quran, nilai-nilai balaghah yang terkandung dalam sebuah kalimat Al-Quran serta menjelaskan uslub-uslub penggunaannya”.

Menjelaskan hubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya, terutama antara satu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Al-Quran telah didesain dengan sangat luar biasa, memiliki susunan yang unik namun tetap memiliki ketersambungan antara satu ayat dengan ayat lain. Tidak melewatkan satu surat pun dalam Al-Quran kecuali berusaha menjelaskan secara lengkap setiap maksud yang terkandung di dalamnya secara utuh. Tidak sebatas menjelaskan makna setiap kata dan kalimatnya saja secara parsial, melainkan merangkai kembali makna tiap kata dan kalimat yang telah diurai terpisah menjadi satu tujuan atau maksud yang diusung oleh setiap ayat maupun surah Al-Quran.

Dalam metode pemaparan tafsir ini, tidak terlewatkan penjelasan secara gamblang tinjauan bahasa setiap kata dalam Al-Quran, menyimak hikmah dari pemilihan kata yang digunakan sampai kepada sisi gramatikal setiap kalimat. Secara spesifik menilik setiap Al-Quran dari kacamata ilmu nahwu dan tashrif, turut melengkapi posisi i’rab dari penggalan kata-kata Al-Quran. 

Muhammad Amri, Mahasiswa Indonesia jurusan Tafsir Universitas al-Azhar, Mesir. Diterbitkan oleh www.hidayatullah.com

POSTED BY MUHAMAD ALI AT 9:51 PM/ muh-ali.blogspot.com/2008/11

(nahimunkar.com)

(Dibaca 520 kali, 1 untuk hari ini)