Ilustrasi : Bangsa yang dimusnahkan Allah SWT – Kaum Nabi NUH Alaihissalam/Nasehat Sahabat


Oleh : Dr. Slamet Muliono (Dosen UIN Sunan Ampel & Direktur PUSKIP/Pusat Kajian Islam Dan Pendidikan)

Umat Islam yang lemah imannya, seringkali terkecoh dengan perilaku penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang menentang Islam. Perilaku menentang Islam yang semakin menjadi-jadi itu pada tataran tertentu, membuat sakit hati dan putus asa bagi sebagian kaum muslimin. Perilaku menyimpang itu dalam bentuk pengerdilan peran Islam dan menutupinya dari panggung dunia, membuat fitnah terhadap ulama dan memenjarakannya, menghinakan kaum muslimin dengan tuduhan-tuduhan yang merendahkan martabatnya. Bahkan membuat rencana besar untuk menghancurkan dan menghilangkan eksistensi Islam di muka bumi ini.

Anehnya, dengan perilaku yang menghinakan Islam, justru membuat hidupnya semakin nyaman dan leluasa dalam menekan posisi umat Islam, sehingga umat Islam semakin terhina. Kondisi ini membuat umat Islam semakin tersudut dan hancur mentalnya. Tetapi rencana Allah berbeda dengan pandangan manusia. Allah akan menjawab keraguan manusia, serta memperteguh orang-orang yang beriman untuk semakin percaya akan hukum Allah. Penyimpangan dan kejahatan yang semakin membesar justru sebagai pertanda dan pembuka akan hancurnya eksistensi penghina Islam. Hal ini ditunjukkan Allah sebagaimana firman-Nya :

ولا يحسبن الذين كفروا أنما نملى لهم خير لأنفسهم إنما نملى لهم ليزدادوا إثما ولهم عذاب مهين

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. Ali Imran : 178)

Kejahatan dan Kehancuran

Allah menunjukkan bahwa pemberian tangguh dengan memperpanjang umur dan semakin besar kemaksiatannya, sehingga mereka akan melakukan puncak kejahatan. Ketika di puncak kejahatan inilah Allah mengambil paksa nyawanya. Dalam sejarah tercatat dua manusia yang melakukan kejahatan  terbesar. Kejahatan besar itu adalah mengaku dirinya Tuhan.

Pertama, raja Namrud.  Raja di era Nabi Ibrahim ini bertindak kejam dan memerintah rakyatnya dengan semena-mena. Puncak kejahatan yang dilakukan Namrud adalah menyatakan dirinya Tuhan, tetapi Nabi Ibrahim berhasil mematahkan argumennya. Sebagaimana yang difirmankan Allah : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Baqarah : 258)

Kedua, raja Fir’aun. Raja di era Nabi Musa melakukan berbagai kejahatan yang mengancam eksistensi kehidupan siapapun yang menentangnya. Mendustakan ayat Allah dengan menolak apapun argumen yang dibawa Musa. Perilaku jahat Fir’aun di antaranya adalah membunuh anak-laki-laki. Langkah membunuh laki-laki ini sebagai bentuk kebijakan untuk mengamankan pemerintahannya. Dia telah bermimpi akan ada orang yang akan mengancam kekuasaanya. Sehingga dia merasa ketakutan akan hilangnya kekuasaan yang digenggamnya sekian lama. Puncak kejahatan yang dilakukan Fir’aun adalah mengaku dirinya Tuhan. Fir’aun mengumumkan dirinya sebagai penguasa yang kuat dan meminta rakyatnya mengakui dirinya sebagai tuhan. Allah mengabadikan kejahatan Fir’aun itu sebagaimana Firman-Nya :

وإذ فرقنا بكم البحر فأنجيناكم وأغرقنا ءال فرعون وأنتم تنظرون

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. (QS. Al-Baqarah : 50)

Waktu Nabi Musa a.s. membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar-kejar oleh Fir’aun dan tentaranya, hingga mereka berhadapan dengan laut merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga terbelahlah laut itu. Terbentanglah jalan raya di tengah-tengah laut itu, dan Musa melangkah melalui jalan itu sampai selamatlah dia dan kaumnya ke seberang. Sementara Fir’aun dan tentaranya melalui jalan itu pula, tetapi ketika mereka berada di tengah-tengah laut, menyatulah laut itu, dan tenggelamlah mereka.

Ketiga, Abu Jahal. Apa yang dilakukan Abu Jahal adalah menghalau dan menolak apapun yang dibawa Nabi Muhammad. Bahkan dia memotong jalur kehidupan orang kaya, dan menyiksa orang-orang lemah yang memeluk Islam. Tetapi Allah mengakhiri hidupnya ketika perang Badar. Dia mati terbunuh oleh 2 anak laki-laki yang masih belia. Kematiannya ini merupakan bentuk penghinaan terhadap musuh-musuh Islam yang terus menerus merongrong Islam dengan berbagai cara. Berbagai cara untuk menghentikan Islam, mulai dari mengganggu, mengancam, hingga rencana untuk membunuh Nabi telah dilakukan siang dan malam. Namun hal itu justru membuatnya mati terhina.

Berbagai kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang memusuhi Islam, cepat atau lambat akan mengalami kehancuran. Hanya waktu saja yang akan menjawab kapan Allah akan menghancurkan bagi siapapun yang menentang kebenaran dan cahaya Islam. Umat Islam hanya diminta bersabar dan tetap berjuang dalam menegakkan Islam. Allah akan membuat perhitungan terhadap upaya jahat dan makar yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam. Allah menghibur kaum muslimin untuk pasrah dan sabar terhadap berbagai perilaku jahat dari orang kafir dan Allah akan membalasnya dengan cara Allah sendiri, sebagaimana firman-Nya :

ولا يحزنك الذين يسارعون في الكفر إنهم لن يضروا الله شيئا يريد الله ألا يجعل لهم حظا في الأخرة ولهم عذاب عظيم

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir. Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS. Ali Imron : 176)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.369 kali, 1 untuk hari ini)