Jakarta- Beredar surat pernyataan dari Persekutuan Gereja-gereja Kabupaten Jayapura yang memberikan himbauan kepada umat Islam di Jayapura. Dalam surat yang dibuat pada tanggal 15 Maret ini, setidaknya memuat sepuluh permintaan.

Pendeta Robbi Depondoye, ketua Persekutuan Gereja-gereja Jayapura yang membubuhkan tanda tangan dalam surat tersebut, di antara himbauan dari gereja adalah bunyi azan harus mengarah ke dalam masjid. Ia menilai bahwa suara azan yang keluar masjid adalah tindakan yang tidak menghargai umat Kristen.

“Bunyi azan yang selama ini diperdengarkan dari toa kepada khalayak umum harus diarahkan ke dalam masjid. Tidak juga diperkenankan berdakwah di seluruh tanah Papua secara khusus di Kabupaten Jayapura” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa persekutuan gereja melarang ada ruang khusus seperti mushola pada fasilitas umum. Misalnya sekolah, rumah sakit, pasar, terminal, dan kantor-kantor pemerintah.

“Tinggi bangunan rumah ibadah dan menara agama lain juga tidak boleh melebihi tinggi bangunan gedung gereja di sekitarnya. ” tuturnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua, Saiful Islam Payage membenarkan surat tersebut. Namun, himbauan tersebut hanya bersifat aspirasi dan tidak bisa semerta-merta dilaksanakan.

“Masalah surat edaran dari teman-teman gereja itu memang benar. Namun, kita kan negara demokrasi, itu sah-sah saja, mereka mengeluarkan keinginan itu. Tapi tidak bisa serta merta bisa diaplikasikan, di Jayapura khususnya,” ujarnya saat dihubungi Kiblat.net pada Sabtu (17/03/2018).

Saiful juga menegaskan bahwa harus ada pertemuan dan dialog terkait aspirasi tersebut. Maka, ia menekankan bahwa umat Islam Papua siap jika diajak untuk melakukan pertemuan.

“Kami siap saja (pertemuan.red), inysaalah. Kalau ada pertemuan, kita siap. Tapi kita harus bertemu internal baru bertemu eksternal,” tukasnya.

Dalam surat dari gereja-gereja Jayapura tersebut, ada limabelas gereja yang mendukung isi surat itu. Di antara gereja-gereja tersebut adalah Gereja Kristen Kalam Kudus, Gereja Bethany Indonesia, Gereja Bethel Indonesia, Gereja Injili di Indonesia.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar / kiblat.net

***

Diprotes Gereja, Pembangunan Masjid Al-Aqsha Jayapura Tetap Berlanjut

Foto: Menara masjid Al-Aqsha Santani, Jayapura (sumber: viva.co.id)

Jakarta- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua, Saiful Islam Payage mengatakan bahwa surat himbauan dari gereja-gereja Jayapura bermula dari pembangunan masjid Al-Aqsha Sentani. Menurutnya, persekutuan gereja mempermasalahkan pembangunan menara masjid.

“Sebelumnya memang kasusnya itu adalah persoalan masjid Al-Aqsha, menaranya. Cuman, ini agak melebar kemana-mana,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Sabtu (17/03/2018).

Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan masjid Al-Aqsha Sentani sudah lama. Namun, saat ini sedang dilakukan perombakan. Salah satu perombakan adalah dengan membuat empat menara di sekitar masjid.

“Tiang menaranya itu ada empat, yang tiganya belum, yang satu yang jadi. Itupun belum sepenuhnya jadi. Teman-teman ini mempermaslahkan itu, agar dikecilkan menaarnya, itu nggak bisa. Karena menara itu, satu kesatuan dengan masjid. Memang teman-teman ini minta yang sesuatu yang mustahil,” jelasnya.

Dalam surat himbauan yang dikeluarkan oleh Persekutuan Gereja-gereja Jayapura (PGGJ), memang tercantum supaya pembangunan menara masjid Al-Aqsha dihentikan. Bahkan mereka meminta agar menara tersebut dibongkar.

“PGGJ meminta agar pembangunan masjid Al-Aqsha harus dihentikan dan dibongkar. Dab menurunkan tinggi gedung masjid Al-Aqsha sejajar dengan bangunan gedung gereja yang ada di sekitarnya,” kata ketua PGGJ, Pendeta Robbi Depondoye.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar / kiblat.net

(nahimunkar.org)

(Dibaca 455 kali, 1 untuk hari ini)