Azyumardi Azra Bilang, “Itu Fitnah…”

 

SEBUAH tulisan adakalanya menempuah perjalanan yang panjang, ibarat burung yang terbang tinggi dan jauh menempuh angkasa kembara, sampai akhirnya hinggap juga di pekarangan sejumlah organisme yang jadi objek pembicaraan pada tulisan tersebut. Contohnya adalah tulisan berjudul Gejala Bahaya Laten Neo Komunisme di UIN yang dipublikasikan nahimunkar.com pada November 2, 2008 9:44 pm.

Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, tulisan itu ternyata hinggap juga di mailbox Pak Azyumardi Azra, Direktur SPS (Sekolah Paska Sarjana) UIN (Universitas Islam Negeri – dahulu IAIN) Jakarta, melalui perantaraan Pak Hidayat Syarief ([email protected]) dan Pak Setyanto P.S. ([email protected]). Ketika itu, Pak Azyumardi Azra menjawab sebagai berikut:

 

Yth Kang Dayat dan pak Setyanto;

Terus terang saya dan kawan2 di UIN Jakarta malas menanggapi fitnah-fitnah seperti itu; kami sudah kenyang, karena fitnah-fitnah seperti itu sudah ada sejak zaman Prof Harun Nasution sampai sekarang dan juga di hari-hari datang. Sejak dulu selalu ada orang-orang di kalangan umat, yang membuat hal sejengkal menjadi sehasta dan bahkan lebih; mengambil kesimpulan yang memvonis tanpa tahu duduk masalah sesuatu hal, dan kemudian menyebarkan fitnah-fitnah tersebut kepada publik. Semoga para penyebar fitnah yang bahkan mendapat nafkah dari penyebaran fitnah tersebut melalui artikel2 yang ada honornya dan buku2 yang dijual di pasaran, mendapat ampunan dari Allah SWT.

 

Saya juga yakin, UIN Jakarta telah dan terus tidak goyah dengan fitnah-fitnah tersebut; karena pendidikan yang kita berikan tidak lain untuk membangun SDM Muslim yang unggul, trampil dan beriman-berakhlak mulia, yang mampu menyongsong masa depan dengan kepala tegak; bukan mereka yang kerjanya hanya senang mengganggu dengan macam-macam tindakan (fitnahan) yang kontra-produktif untuk kemajuan umat.

 

Wassalam,

 

Azyumardi Azra

 

Demikian tulisan Azra yang berkali-kali menyebut fitnah-fitnah, tanpa mendudukkan masalahnya secara benar, cukup dia klaim bahwa: “pendidikan yang kita berikan tidak lain untuk membangun SDM Muslim yang unggul, trampil dan beriman-berakhlak mulia, yang mampu menyongsong masa depan dengan kepala tegak …” 

Perlu diketahui, dalam satu kamus,  lafal   fitnah dalam bahasa Indonesia berarti: tuduhan tanpa bukti yang sifatnya memberi mudharat  kepada pihak yang difitnah. (Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Artaloka Surabaya, 1994, halaman 180).

 

Prof. Dr. HM Rasjidi pengkritik Harun Nasution

Apakah para pengkritik UIN/ IAIN itu memang memfitnah, sedangkan UIN/ IAIN itu justru Islami, menegakkan Tauhid, menolak sepilis? Ataukah sebaliknya, UIN/ IAIN itu gudang bahkan pabrik sepilis (sekulerisme, pluralisme agama alias kemusyrikan model baru, dan liberalisme) yang gejalanya semakin berani menentang Islam atau menjauhkan mahasiswanya dari Islam?

Seandainya para pengkritik UIN/ IAIN –terutama dalam masalah yang ditanggapi Azra itu adalah dilarangnya mahasiswa paska sarjana UIN Jakarta menulis Nabi dan SAW mengiringi nama Muhammad, dan dilarang menulis SWT di belakang lafal Allah— itu fitnah, maka kenapa pihak Pascasarjana UIN Jakarta ada yang berpayah-payah mengemukakan kilah –sekenanya— mengenai   larangan itu? (kutipannya lihat di bagian agak bawah di tulisan ini).

Benar-benar tak masuk akal. Mereka telah berbuat bahkan membela perbuatannya itu sampai menulis segala, tetapi mereka ingkari perbuatannya itu sambil melontarkan kecaman kepada orang lain dianggap sebagai memfitnahnya. Itu namanya dalam pergaulan sehari-hari, ungkapan yang pas adalah: maling teriak maling! Dia dengan menggunakan lembaganya yang memfitnah Islam, kemudian justru ditambah dengan memfitnah orang yang mempertahankan Islam (yakni mengkritik UIN yang menolak Islam. Tentang menolak Islam, insya Allah bisa disimak di akhir tulisan ini) dianggapnya sebagai orang yang memfitnah UIN.

 

Pernyataan yang tidak sopan, telah dilontarkan Azra:

“kami sudah kenyang, karena fitnah-fitnah seperti itu sudah ada sejak zaman Prof Harun Nasution sampai sekarang dan juga di hari-hari datang.”

“Semoga para penyebar fitnah yang bahkan mendapat nafkah dari penyebaran fitnah tersebut melalui artikel2 yang ada honornya dan buku2 yang dijual di pasaran, mendapat ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.”

Perlu diingat, yang mengkritik secara tajam terhadap Harun Nasution dan juga terhadap Nurcholish Madjid itu adalah Prof Dr HM Rasjidi, mantan menteri agama dan seniornya Harun Nasution sendiri waktu di Mesir maupun di Canada. Kritikan tajam buku-buku Harun Nasution yang dijadikan buku (wajib?) bagi mahasiswa IAIN padahal mengandung penyesatan yang sangat bertentangan dengan Islam dan membahayakan aqidah Islam itu dimulai oleh Pak Rasjidi dengan mengirimkan surat ke Departemen Agama. Setelah berbulan-bulan ditunggu ternyata tidak ada jawaban dari Departemen Agama yang membawahi IAIN se-Indonesia itu, maka baru kemudian kritikan terhadap buku Harun Nasution tersebut dicetak dalam bentuk buku.

          Kemudian tiba-tiba kini ada tuduhan dari penerus Harun Nasution di UIN Jakarta  yakni Azra yang sekeji itu. Secara akal sehat saja tidak masuk akal. Seandainya hanya karena untuk mendapatkan honor dari penulisan naskah atau pencetakan buku, kenapa berpayah-payah menyampaikannya ke Departemen Agama dalam bentuk surat?

          Orang umum, tidak usah sampai bertitel Prof Dr pun tentunya faham, bahwa apa yang dilakukan Pak HM Rasjidi itu untuk menyelamatkan aqidah ummat Islam. Bukan seperti tuduhan (fitnah) Azra.

Fitnah Azra itu masih pula ditambahi kata-kata tak sopan: “mengambil kesimpulan yang memvonis tanpa tahu duduk masalah sesuatu hal, dan kemudian menyebarkan fitnah-fitnah tersebut kepada publik.”

Pertanyaan yang perlu diajukan kepada Azra: Apakah Pak Prof Dr HM Rasjidi yang jelas-jelas mantan menteri agama dan bahkan seniornya Harun Nasution itu tidak tahu duduk masalah suatu hal?

          Meskipun demikian, kita perlu menghargai pernyataan Pak Azra itu, sebagaimana dimaklumi, ada kata-kata: mengukur baju orang lain pakai ukuran baju sendiri. Maka almarhum HM Rasjidi yang telah mengkritik Harun Nasution lewat menyurati Departemen Agama itupun dituduh (difitnah) sebagai orang yang mencari duit belaka dengan memfitnah IAIN sejak zaman Harun Nasution.

Kenapa disebut-sebut nama Pak Rasjidi, sedangkan Azra tidak menyebutnya? Karena, justru yang paling pertama dan menonjol dalam mengkritik Harun Nasution dalam hal bukunya yang untuk IAIN itu adalah Pak Rasjidi. Maka ungkapan Azra itu tidak dapat dinafikan begitu saja bahwa dia tidak memfitnah Pak Rasjidi.

Bagaimana kalau yang dimaksud itu sosok yang lain? Sosok lain pun kalau jawaban Azra seperti itu, maka justru menurunkan bobot Azra sendiri, bahwa orang yang gencar mengkritik UIN/ IAIN itu dia anggap bukan memperjuangkan aqidah Islam tetapi hanya untuk dapat duit. Seakan-akan justru menampakkan jati diri Azra sendiri bahwa dirinya selama ini adalah seperti itu, sehingga menganggap orang lain ya seperti dia.

 

Antara kilah dan pelaksanaan

Hidayah memang hak prerogatif Allah subhanahu wa ta’ala. Peristiwa yang sama bisa saja dimaknai berbeda oleh yang lain. Sebuah kalimat sederhana bisa menambah keimanan seseorang, bisa menyadarkan seseorang; namun dari rangkaian kalimat yang sama bisa juga tidak bermakna apa-apa bagi yang lainnya. Seuntai kata, bisa dimaknai sebagai fakta yang menggugah bagi seseorang, tetapi bisa juga dimaknai fitnah tak berguna bagi yang lainnya.

Ada yang dengan hartanya mampu membuat orang lain menjadi semakin beriman, tetapi ada pula yang sebaliknya justru membuat orang lain menjadi kafir. Ada yang dengan kekuasaannya bisa membuat orang lain mendekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi ada yang sebaliknya justru membuat orang lain menjauh dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Penyebabnya bukan karena bertitel tinggi atau rendah. Bukan pula karena penampilannya pandai bicara atau tidak. Juga bukan karena ditokohkan atau tidak. But, money talks

Persoalan aqidah bukanlah urusan sehasta. Ibarat kasih ibu, ia sepanjang jalan. Ibarat samudera, ia luas tak bertepi. Ibarat sajadah panjang, ia terbentang dari maghrib hingga maghrib berikutnya.

Namun, kita harus menyadari ada keanehan yang sangat tidak wajar, adanya sejumlah organisme dengan membawa-bawa nama Islam tetapi menganggap aqidah tidak begitu signifikan dalam konteks keilmiahan. Sehingga, ketika ia bermaksud hendak melahirkan generasi Muslim yang menyongsong masa depan dengan kepala tegak, yang ditanamkannya justru inferiority complex. Ketika ia bermaksud hendak melahirkan generasi Muslim yang beriman-berakhlak mulia, maka yang ditawarkannya justru permissivisme: berkhalwat di tempat terang dan gelap, salah satu di antaranya.

Bila kita pernah dengar orang mengatakan Soekarno-Hatta sebagai founding fathers, kita kini juga mendengar, ada yang menjadikan The Asia Foundation (lembaga milik orang kafir berpusat di Amerika, di antaranya punya cabang di Indonesia) sebagai founding fathers bagi kelompoknya yang minoritas tapi punya banyak repeater itu. Ini bukan persoalan selera suka atau tidak suka. Ini bukan persoalan benar atau salah. Ini bukan persoalan jumud atau liberal. Ini bukan urusan iri dan dengki. Ini ‘hanya’ berkaitan dengan kenikmatan dan kekuasaan.

 

Siapa sebenarnya yang melakukan fitnah

Bagi Muslim yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, serta berilmu cukup –setidaknya cukup untuk mengerti kedudukan sebuah fitnah di dalam ajaran Islam– maka sudah pasti ia tidak akan gegabah menyebarkan fitnah kepada sesama Muslim. Juga, ia tidak akan gegabah menuduh orang lain telah menyebarkan fitnah kepada dirinya. Karena, sebuah fitnah atau rumours atau gunjingan atau apalah namanya, boleh jadi disebarkan oleh sosok yang anonim melalui mekanisme yang bersifat qola wa qila.

Mirzah Abdul Aziz adalah sosok yang jelas. Begitu juga dengan Hartono Ahmad Jaiz. Apalagi Prof Dr HM Rasjidi walau sudah almarhum namun sosoknya jelas. Para pengkritik UIN/ IAIN yang masih hidup, termasuk Dr Daud Rasyid MA, Adian Husaini MA dan kawan-kawannya di dalam negeri maupun luar negeri, E-mail addres-nya juga jelas. Bahkan alamat ‘kopi darat’nya pun cukup jelas.

Pasca dipublikasikannya tulisan berjudul Gejala Bahaya Laten Neo Komunisme di UIN itu, Mirzah tidak saja dicari-cari oleh sekretarisnya Pak Azyumardi Azra, tetapi juga diajak “berdialog” oleh salah seorang petinggi UIN Jakarta yang masih bawahan Azyumardi Azra. Di antaranya Pak Fuad Jabali. Menurut Mirzah, beliau kala itu sudah memberikan beberapa alasan mengenai pelarangan penulisan SWT dan SAW. “Namun menurut saya, tetap saja tidak ada alasan yang kuat mengenai pelarangan penulisan SWT dan SAW ini.” Begitu komentar Mirzah.

Nampaknya, penjelasan itu hanyalah sebuah apologi belaka, sekedar untuk memberi kesan bahwa mereka tidak salah. Pada kesempatan “dialog” itu, juga disinggung sosok Hartono Ahmad Jaiz (HAJ), yang menurut mereka, HAJ tidak pernah ada upaya untuk tabayun atau mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya di UIN. Mereka juga mengatakan, bahwa HAJ tidak pernah datang ke UIN dan berdialog atau melihat langsung bagaimana proses belajar serta memahami jalan pikiran yang melahirkan kebijakan-kebijakan di UIN. Bahkan menurut mereka, HAJ tidak ada upaya atau niat baik dalam melihat UIN.

Sementara itu menurut HAJ, dia sudah mengamati adanya pembelokan arah IAIN (UIN) itu sejak tahun 1975-an, persisnya setelah Harun Nasution pulang dari McGill University, Canada. Saat itu Harun Nasution sendiri mengakui, perubahan kurikulum IAIN yang digagasnya tidak disetujui oleh para Rektor senior, namun karena para Rektor senior itu “sungkan” kepada Menteri Agama (kala itu) Mukti Ali, maka sepak terjang Harun Nasution tak terbendung. Hingga kini.

Selain itu, HAJ juga sudah berupaya, hingga mengumpulkan aneka makalah para dosen IAIN se-Indonesia ketika dibimbing langsung oleh Dr Harun Nasution di Jogjakarta 1977, bahkan HAJ langsung bergaul dengan mereka sebelum ada pasca sarjana (yang ada adalah SPS yaitu Studi Purna Sarjana).

Setelah lulus dari IAIN Jogjakarta, HAJ kemudian merintis karier sebagai wartawan. Ketika menjadi wartawan ia sering bertandang ke berbagai IAIN terutama IAIN Jakarta. Selama 10 tahun HAJ mengikuti acara-acara Menteri Agama mulai dari Pak Munawir Sjadzali, kemudian Pak Tarmidzi Taher, yang salah satu agendanya mengunjungi IAIN di seluruh Indonesia. “… kemudian sampai saya tua masih kuliah dan banyak dosennya yang dari IAIN/UIN Jakarta.”

HAJ juga menjelaskan, bahwa ia merupakan salah satu alumni IAIN yang punya sense of belonging (merasa ikut memiliki, melu handarbeni), dan berupaya agar pembelokan arah yang dirintis Harun Nasution sejak 1975 tidak semakin kebablasan. Dalam mengkritisi almamaternya, HAJ biasanya mengutip dari buku mereka, makalah mereka, artikel mereka, perkataan mereka dan berita-berita yang beredar.

Kenyataannya, pembelokan arah yang dikomandoi Harun Nasution kian tak terkendali, sampai-sampai ada lulusan pasca sarjana UIN yang menghalalkan nikah sesama jenis, menikahkan atau membimbing atau apalah namanya untuk pernikahan (yang diharamkan oleh Islam QS 60:10) wanita Muslimah dengan lelaki non Muslim dan sebagainya. Fenomena yang diungkapkan Mirzah sebagaimana tulisannya di situs warnaislam.com dan samarinda.com, hanyalah sebagian kecil saja dari proses pembelokan dan pemurtadan yang terjadi di IAIN (UIN).

Menurut HAJ pula, sikap kritisnya sama sekali tidak tertuju kepada lembaganya (UIN atau IAIN), tetapi kepada adanya indikasi menyimpang dari Islam yang digerakkan oleh petinggi UIN (IAIN) itu sendiri. Sebagaimana ketika selama bertahun-tahun HAJ mengkritik Pak Munawir Sjadzali, sama sekali bukan karena beliau Menteri Agama, tetapi karena Pak Munawir menganggap hukum waris Islam tidak adil. Begitu juga ketika ia mengkritik Nurcholish Madjid, bukan karena beliau merupakan dosen IAIN, tetapi karena Nurcholish Madjid pernah mengatakan, bahwa iblis kelak akan masuk surga bahkan di tempat yang tertinggi. “Perkataan itu menyalahi Islam.” Kata HAJ.

Saat HAJ mengkritik Gus Dur, sama sekali bukan karena NU-nya, tetapi karena penyimpangannya. “… Dalam masalah UIN, kalau yang mengaku niatnya baik (misalnya), namun kenyataannya merusak, ya sama dengan bohong kan?”

 

Pembelaan dari  petugas UIN

Penjelasan (dan pembelaan) sebagaimana dikemukakan Pak Fuad Jabali juga diuraikan oleh [email protected] yahoo.co. id. Selengkapnya sebagai berikut:

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

 

Memang tidak mudah menggunakan label sebuah agama tertentu (Islam), tapi aku menyadari saat UIN sebagai lembaga pendidikan berlabel Islam, sebenarnya mereka ingin merubah paradigma yang semula sebagai lembaga pendidikan setingkat Institut menjadi lembaga  Universitas. Yaitu semenjak mengkonversi diri dari IAIN menjadi UIN. Mungkin ini perlu kita amati, perubahan ini sudah pasti berimplikasi pada paradigma model pendidikan yang akan diterapkan disana. Karenanya ketentuan pelarangan terhadap penggunaan ”SWT” pada kata ”Allah” dsb sangat terkait dengan implikasi konversi kelembagaan tersebut…

 

Ada beberapa asumsi husnudzdzon saya pada kebijakan UIN Jakarta:

 

1. UIN ingin menciptakan iklim global dalam dunia keilmuan, karenanya “Islam dile-takkan sebagai obyek kajian, karenanya kuliah di UIN yang saya alami tidak bertu-juan untuk memperdalam keimanan, tapi memperdalam keilmuan yang memiliki daya saing..

2. UIN ingin meletakkan Islam dalam kerangka Islamic Science.. karenanya ”Islam” sejajar dengan ”Nasrani”, ”Yahudi”, jadi dalam konteks wacana keilmuan semua ”agama-agama” tersebut perlu diuji kebenarannya.

3. UIN ingin memperkenalkan ”Islam” sebagai ”Ilmu” kepada dunia Barat, mungkin dalam hal ini kebijakan UIN ada benarnya, kita berterima kasih pada UIN. Karena untuk memperkenalkan pada dunia Barat, ya ilmunya, bukan keimanan kita.. karena hidayah adalah urusan Allah SWT. Dalam konteks ini kebijakan tersebut merupakan salah satu strategi jangka panjang. Kita tidak perlu sedih dan trenyuh atas kebijakan UIN tersebut.

4. UIN mungkin menganggap bahwa yang kuliah di Pasca UIN Jakarta adalah orang-orang yang sudah dianggap kuat basis dan khazanah klasiknya, jadi ”maaf” bagi kita yang awam mungkin mendengar kebijakan tersebut kaget dan terenyuh…

 

Aku sepakat dengan kebijakan UIN bila dalam kerangka demikian, karena yang kita jual ke mereka (yang enggan menerima agama Allah) adalah ilmu kita dan bukan doktrin kita. Dan yang kalau kita pasarkan adalah ”doktrin” kita, jelas mereka sejak awal sudah menolak lebih dulu. Yang mudah-mudahan ini dalam konteks strategi.

 

Di sisi lain, aku sepakat bahwa Islam adalah agama universal, tapi ini kan di mata Allah dan kita para hambanya. Dan mereka yang bukan golongan kita jelas menolak universalitas Islam. Oleh karena itu salah satu strategi dakwah kita adalah mari kita sementara ini menjadikan ”Islam” sebagai ilmu agar mereka dapat menerima. dan yang pasti toh kita masih istiqomah dan tuma’ninah dalam menjalankan ibadah-Nya.

 

Implikasi dari penegasan saya adalah, bila kita memasarkan Islam dengan ”ilmu”nya. Maka bisa jadi kita tidak perlu menulis kata ”Allah” dengan mengunakan ”SWT” dan kata ”Muhammad” tanpa ”SAW”, karena bila kita melabelkan itu, berarti kita memasarkan doktrin kita dan bukan memasarkan ilmu kita. toh tanpa kita labeli SWT, Allah pun tetap saja Maha Suci dan Maha Tinggi, tetap Tuhan kita, tuhan semesta alam, kita tidak perlu khawatir. karena selebihnya “hidayah” hak mutlak dan wewenang Allah SWT.

 

Wallahu a’lam bisshowab

 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Sebuah apologi yang terkesan cerdas dan humanis, namun mengandung kesalahan fatal. Penyimpangan, pembelokan, pemurtadan, dan atau apalah namanya, bukan baru saja terjadi ketika IAIN berubah nama menjadi UIN, sehingga membawa konsekuensi kepada adanya perubahan paradigma. Tetapi, sudah terjadi sejak 1975-an. Hal ini yang perlu diketahui generasi muda UIN.

Penjelasan Owie semakin memperkuat dugaan kita, bahwa petinggi UIN tidak ada urusan dengan aqidah, keimanan dan dakwah, karena mereka menempatkan Islam sebagai objek science semata, sebagaimana para orientaslis di Barat memposisikan Islam, Yahudi, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, dan sebagainya.

Padahal, Islam bukanlah “science” yang perlu dijual atau dijadikan sebagai kamuflase berdakwah. Islam adalah jalan hidup, millah, doktrin yang dengan jujur kita perlihatkan kepada dunia luar, kepada siapapun juga yang belum menerima Islam, tanpa harus berpura-pura, terserah mereka mau menerima atau tidak. Yang jelas, Islam bukan barang dagangan. Islam berisi nilai-nilai yang harus disampaikan tanpa harus berpura-pura “ilmiah” sebagaimana digagas para petinggi UIN.

Itu semua sejatinya hanyalah merupakan bukti dari perlawanannya terhadap Islam, sekaligus memprovokasi manusia yang  jadi bawahannya atau dianggap sebagai kadernya untuk melawan Islam. Di dalam Islam jelas-jelas ada perintahnya, ada ayatnya dan haditsnya yang telah ditabrak oleh penentang Islam itu. Mari kita lihat ayatnya:

 

لاَ تَجْعَلُوْا دُعَاءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءٍ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمِ الله الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الذِّيْنَ يُخَاِلُفْونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS An-Nuur: 63).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan: Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Mereka dahulu mengatakan: ‘hai Muhammad, Hai Abul Qasim’, kemudian Allah melarang mereka dari hal itu untuk mengagungkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah berkata: “Katakanlah: Ya Nabiyallah, ya Rasulallah.” Demikian  dikatakan oleh Mujahid dan Sa’id bin Jubair. Qatadah berkata: Allah memerintahkan agar memuliakan, mengagungkan, dan meninggikan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Ibnu Katsir Surat An-Nur: 63). 

   Ayat itu telah dijelaskan oleh Ibnu Katsir, dahulunya orang-orang njangkar (memanggil nama langsung) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ada larangan dari Allah Ta’ala panggilan langsung nama seperti itu, dan diterangkan caranya yaitu dengan panggilan pakai Nabi atau Rasul. Sekarang dari UIN dengan alas kilah yang berdasarkan husnudzdzon (baik sangka?) berani-beraninya menerapkan kepada mahasiswa, suatu larangan menulis Nabi di depan nama Muhammad.  Itu jelas-jelas menentang ayat Al-Qur’an atau menolaknya. (itu bukti penolakan terhadap Islam. Satu ayat Al-Qur’an ditolak berarti Islam itu sendiri ditolak).

Di samping itu ada pula perintah Allah Ta’ala yang menyuruh untuk bershalawat kepada Nabi.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[1230].

 

[1229]  Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad.

[1230] dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi.

 

Dalam hadits, orang yang pelit adalah orang yang ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat kepadanya.

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْبَخِيلُ الَّذِى مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ.

Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: orang yang pelit yaitu orang yang aku disebut di sisinya lalu dia tidak bershalawat kepadaku. (HR At-Tirmidzi, dia berkata, ini hadits hasan shahih gharib).

Mengenai pelit dalam kaitan dengan sebutan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman:

3 وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ الذِّيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِاْلبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللهَ هُوَ اْلغَنِيُّ اْلحَمِيْدُ

dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Hadid: 23, 24).

 

Al-Wahidi menjelaskan, sebab turunnya ayat

(الَّذينَ يَبخَلونَ وَيأَمُرونَ الناسَ بِالبُخلِ)

orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir , kebanyakan para mufassir berkata: ayat itu diturunkan mengenai orang-orang Yahudi yang menyembunyikan sifat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka tidak menjelaskannya kepada manusia, sedangkan mereka mendapati sifatnya itu tertulis di sisi mereka dalam kitab-kitab mereka. Al-Kalbi berkata: Mereka adalah orang-orang Yahudi yang bakhil untuk membenarkan orang yang membawakan kepada mereka sifat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sifat-sifatnya dalam kitab mereka. (Al-Wahidi, Asbabun Nuzulil Qur’an, juz 1 halaman 53).

Orang-orang Yahudi telah mendahului pengelola UIN/ IAIN dalam hal menyembunyikan sifat-sifat Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam. Dan tingkah tu disifati oleh Allah Subahanu wa Ta’ala sebagai orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Kini para pengelola UIN nderek inggih sendiko (mengikut dengan tunduk dan patuh) sambil mengemukakan kilah-kilah, berupa melarang menulis Nabi di depan nama Muhammad, dan SAW (shallallahu ‘alaihi wa sallam) di belakangnya.

Apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mereka selisihi dengan menerapkan aturan ataupun gagasan yang berlawanan dengannya. Itu adalah bentuk pengingkaran ayat. Itulah bentuk penolakan Islam, dengan dalih apapun. Padahal telah ada penegasan dari Allah Ta’ala:

 

وَمَا كاَنَ لمِؤُمْنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إَذَا قَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْراً أَنْ يَكُوْنَ لَهُمُ اْلخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِيْناً

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab: 36).

 

Bila mereka, para petingi UIN itu beriman dan berilmu, seharusnya mereka bisa menjelaskan secara ilmiah mengapa Allah disebut SWT dan mengapa Muhammad diberi predikat SAW. Bukan justru melarang mahasiswa UIN menggunakan predikat itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini namanya minder. Maka, yang dihasilkan adalah CMM (Cendekiawan Muslim Minder) atau CMK (Cendekiawan Muslim Kiri atau Cendekiawan Muslim Kacau).

Kalau benar UIN itu pendidikannya seperti yang diklaim Azra: “…pendidikan yang kita berikan tidak lain untuk membangun SDM Muslim yang unggul, trampil dan beriman-berakhlak mulia, yang mampu menyongsong masa depan dengan kepala tegak; bukan mereka yang kerjanya hanya senang mengganggu dengan macam-macam tindakan (fitnahan) yang kontra-produktif untuk kemajuan umat.” Maka yang ditempuh selayaknya seperti yang ditunjukkan dalam ayat:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنَوُا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٌ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٌ عَلَى اْلكَاِفِرْينَ يُجَاهِدُوْنَ فيِ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَشَآءُ وَالله ُوَاسٍعٌ عَلَيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

 (QS Al-Maaidah: 54).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan,

يُجَاهِدُوْنَ فيِ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ

yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela, maksudnya, mereka tidak pernah mundur dari berbuat taat kepada Allah dan menegakkan hukum-hukum-Nya, juga memerangi musuh-musuh-Nya, serta menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Dan dalam menjalankan itu tidak ada yang dapat menolak mereka dan menghalangi mereka, dan tidak ada celaan seorang pencela pun yang menggoyahkan pendirian mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 halaman 136).

 

Dalam hadits disebutkan:

{ لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ }

Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang mereka itu membela kebenaran. (HR Muslim dan lainnya) artinya mereka menolong yaitu memenangkan atau menguasai (kebenaran itu) terhadap musuh-musuh agama. Dalam satu riwayat ditambah dengan  ungkapan:

لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ

tidak membahayakan mereka (celaan) orang yang merendahkan mereka. An-Nawawi berkata: boleh jadi thoifah (kelompok) itu adalah jama’ah yang berbilang-bilang (jumlahnya) dari macam-macam bangsa yang (berkisar) antara pemberani, ahli perang, faqih (ahli fiqih), mufassir (ahli tafsir), muhaddits (ahli hadits), dan pelaksana amar ma’ruf nahi munkar, zuhud (tidak cinta dunia) dan ‘abid (ahli ibadah). (Al-Munawi, Faidhul Qadir, juz 6 halaman 514, mengutip Imam An-nawawi).

Membangun Muslim yang unggul ya mestinya yang benar-benar istiqomah lagi alim agama serta tidak takut celaan orang yang mencela, seperti dalam ayat dan hadits tersebut. Lha ini UIN dalam pembelaan petingginya dengan ungkapan sebagus itu (yakni membina SDM Muslim yang unggul, tapi mereka sendiri takut pada orang kafir bahkan menjadikan orang kafir yang tidak percaya Allah tak percaya Nabi malah dijadikan rujukan kebijakan untuk melarang mahasiswanya berbuat yang mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya (dalam hal ini tentang penulisan Nabi, SAW, dan SWT dilarang oleh petingi UIN).

Ada dua kemungkinan, kenapa di UIN atau IAIN itu menempuh jalan yang mengherankan bagi kaum Muslimin, sampai-sampai melarang mahasiswanya (pascasarjana) menulis Nabi dan SAW mengiringi nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; dan melarang menulis SWT (Subhanahu wa Ta’ala) pada lafal Allah. Kemungkinan pertama, mereka menirukan atau memang dapat pesanan (?) orang-orang Yahudi yang telah menyembunyikan sifat-sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mengingkarinya sebagai nabi, seperti telah diterangkan tersebut di atas.

Kemungkinan kedua, untuk menunjukkan kepada musuh-musuh Islam atau orang-orang kafir yang memang tidak mengakui Islam, bahwa yang mereka tempuh selama ini adalah benar-benar Ingkar Allah Ingkar Nabi. Maka keberanian melarang mahasiswanya itu adalah sebagai salah satu bukti (sesaji) yang akan mereka larung lautkan (sajikan) kepada orang-orang yang mereka sendiri akui sebagai rujukan pertimbangan yaitu orang-orang kafir yang tidak mengakui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi dan tidak mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya.

Sudah lebih dari tiga dasawarsa terjadi kudeta ideologis di UIN (atau IAIN). Kini, identitas ideologis para pelaku kudeta itu semakin terlihat dengan jelas. Mereka dapat diduga sebagai orang yang menjajakan ilhadiyah ataupun neo komunisme yang menjadikan Islam –ala pemahaman kacau mereka– sebagai objek jualan di lembaga pendidikan tinggi Islam dengan bungkus apa yang mereka klaim sebagai ‘ilmiah”. (haji/tede)