Ilustrasi: Kepercayaan kemusyrikan Yunani, Hermes dianggap sebagai dewa atletik, melindungi para olahragawan. / foto will4cesc – WordPress.com

Ingatlah dan lihatlah.

Zaman kini.

Sebagian kyaine njilat punggowo. Punggawane ngusung2 api pesta olahraga simbul kemusyrikan penyembahan dewa ke berbagai kota.

Ijab (betapa) dosane….

dan pakai duwite sopo..

ijab (betapa) borose, menghabiskan duit…

ijab dholime… (betapa zalimnya)…

Anehnya, kok dho meneng wae (mereka banyak yang diam saja). Katanya kita wajib memberantas kemusyrikan… lha kok sama2 diam seperti orong-orong kepidak…

***

Ketika acara menjurus kepada kemusyrikan jelas-jelas di depan mata, sedangkan manusia yang faham serta mampu untuk bicara mengingatkan akan bahayanya tetapi tetap saja diam, maka jangan menyesal bila digolongkan apa yang disebut sebagai setan bisu. Sebab dalam riwayat disebutkan, Abu Ali Ad-Daqqooq An-Naisaburi Asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithon Akhros (yakni setan yg bisu dari jenis manusia).” (Disebutkan oleh imam An-Nawawi di dlm Syarah Shohih Muslim).

***

Soale opo (sebabnya kenapa)

Ono sing kondho (ada yang bilang), keadaannya sudah setengah bubrah (setengah rusak).

‘Ashobiyah (fanatik golongan) sudah nggegirsi (berlebihan sangat mengkhawatirkan).

Sampai-sampai ada yang bilang, (entah ini benar atau salah tapi ada yang bilang) mbok nganti pendeng, gepeng,  tetep banteng (walau sudah sampai terhimpit, sangat sulit, mlarat sekarat, tetep nekat ikut kerbau –banteng).

Atau dengan kata lain, mbok nganti kepepet, mlethet, menc*et, tetep pedet. (Walau sampai terpepet, sangat sulit hidup, keblangsak, tetap ikut anak sapi).

***

Lha kalau sudah seperti itu kenapa kita masih perlu bicara?

Ketika keadaannya, manusia-manusianya, dari yang berlabel ulama sampai yang orang awam jelata sudah banyak yang bubrah rusak dan seperti tidak bisa dinasehati, kenapa kita masih tetap bicara menasihatinya?

Ya tetap masih harus bicara dengan baik-baik, sabar, dan sampaikan kebenaran. Agama ini harus disampaikan kepada manusia, bukan hanya ketika mereka sedang dalam keadaan baik, dekat kepada Allah, beribadah, menjauhi dosa, jujur, tidak bohong dan sebaginya… tidak. Dalam kondisi yang setengah bubrah, setengah rusak, bahkan sudah rusak sekalipun, ya tetap harus kita sampaikan kebenaran itu. Agama Islam ini tidak harus disembunyikan ketika orang-orang sudah jauh dari agama, hanya memikirkan perut dan kelaminnya atau syahwatnya. Tapi tetap harus disampaikan kebenaran Islam ini.

Lho kenapa? Bukan kah itu bikin cape’ saja?

Kok lho kenapa. Soalnya, kalau yang setengah bubrah atau bahkan bubrah sekalian itu tidak didakwahi, tidak ditunjuki, tidak diingatkan ke jalan yang benar, apakah ada kemungkinan jadi benar? Jadi baik dengan sendirinya?

Di samping itu, orang yang memiliki ilmu agama, dan dirinya istiqomah, konsisten, menghamba kepada Allah benar-benar; itu belum cukup ketika masyarakatnya dalam keadaan setengah bubrah bahkan bubrah tapi dibiarkan saja, pura-pura tidak tahu, tutup mata. Tidak cukup itu. Nanti bahkan ditanya: Kenapa kamu tidak menasihatinya. Kenapa kamu diam saja. Kenapa kamu tidak menyampaikan kebenaran.

Oleh karena itu, keadaan setengah bubrah atu bhkan bubrah seklian pun, itu bukan alasan untuk kemudian diam saja, tidak menyampaikan kebenaran, pura-pura tidak tahu. Itulah yang  ditunjuki dalam Al-Qur’an.

{وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ} [الأعراف: 164]

  1. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa [Al A’raf164]

Di samping itu, ada ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaii wa sallam, bila kemunkaran merajalela, kemudian dibiarkan saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus. (HR Ahmad).

Nabi saw. menjelaskan, maraknya zina dan riba sebagai penyebab kehancuran sebuah masyarakat. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ الله‏ِ

Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka. (HR ath-Thabarani dan al-Hakim).

Membiarkan merajalelanya kemunkaran akan mengakibatkan kerusakan. Kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat atau munkar itu tidak hanya menimpa pelakunya, namun juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Realitas ini digambarkan Rasulullah saw. dengan sabdanya:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُوْدِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةِ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِيْنَ فِيْ أَسْفَلَهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوْا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا ِفي نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيِدِيْهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعاً

Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa; jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya. (HR al-Bukhari).

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 377 kali, 1 untuk hari ini)