AntiLiberalNews – “Kita harus curiga jangan-jangan banyak dari anak (pengungsi) ini dan para remajanya masuk ke dalam lingkaran kejahatan, dimana mereka dipaksa menjadi pelacur atau organ mereka diambil,” ujar Mazyek dalam sebuah Konferensi Pers, sebagaimana dikutip Daily Mail dari Die Welt, Jum’at (12/2/2016).

“Dimanakah (tanggungjawab) negara? Pembiaran di muka terhadap para orang hilang dapat didengar kencang.”

Pihak Jerman pekan lalu bahwa negara itu tidak sanggup menanggulangi kasus hilangnya 5000 anak-anak para pengungsi dari Suriah, sejak mereka masuk kesana.

“Saya harus memperingatkan anda, banyak pihak dan relawan punya akses terlalu mudah terhadap anak-anak itu dan mereka dapat menjadi terlalu dekat dan itu bisa menjadi sebuah jalan eksploitasi,” dikutip wartawan.

“Krisis pengungsi ini juga krisis anak-anak. Mereka kerap mengalami peristiwa buruk dan khususnya miskin juga lemah.”

Roerig dari pihak Jerman mendata sejumlah perubahan dalam pemerintahan Jerman yang harus dilakukan agar dapat lebih melindungi anak-anak.

Hal ini termasuk toilet yang terpisah antara wanita dan aanak-anak; dan sebaiknya dibuat terpisah dengan pencari suaka dari negara lain juga. Sistem ini telah diterapkan di negara-negara tujuan pengungsian lainnya. Salah satu alasan mengapa ini terjadi, adalah akibat wanita dan anak-anak terjebaknya mereka dalam pengungsian yang campur-baur, sehingga sering terjadi pelecehan seksual dan kekerasan fisik, ujarnya.

Dewan Pusat Muslim bekerjasama dengan Roerig telah merilis brosur dalam bahsa Jerman, Turki dan Arab guna mengedukasi anak-anak tentang pelecehan dan cara menghindarinya, sehingga jika itu terjadi mereka dapat melaporkannya juga. Pihak Dewan memperkirakan sekitar 10% dari anak-anak pengungsi mengalami pelecehan.

Red : Adiba Hasan/ antiliberalnews.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.399 kali, 1 untuk hari ini)