Konten porno memiliki pengaruh kuat dalam mempercepat kedewasaan seksualitas. Anak-anak yang terekspos konten porno biasanya lebih cepat baligh walaupun tidak diikuti dengan kedewasaan mental. Kondisi ini sangat berbahaya. Kedewasaan seksualitas tanpa kesiapan mental menjadikan manusia cenderung diperbudak/dikontrol oleh hawa nafsu. Akalnya belum cukup siap untuk mempertimbangkan, apakah suatu tindakan pantas/baik.

Dalam mendidik anak-anak perlu memberi kefahaman kepada mereka tentang hukum zina dan akibat-akibat buruk yang menyertai, seperti kehamilan yang tidak sah, berdosa dan menanggung malu, penyakit menular, dsb, dengan menggunakan bahasa yang disesuaikan dengan hasil konseling.

Berikut ini konsultasi tentang anak SD menonton video porno. Di bagian bawah, fatwa tentang menggunakan internet untuk maksiat.

Selamat menyimak.

***

Anak SD Menonton Video Porno

ilustrasi-anak-sd

google image

Assalamu’alaykum wr wb,

Perkenalkan nama saya Abdullah. Saya salah satu pengajar TPA di daerah Sukoharjo. Ada santri (anak SD) di TPA yang kedapatan melihat film yang tidak pantas (video porno). Yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara mendidik anak bila sudah seperti itu?

Abdullah – Solo

Wa’alaykum salam wr wb.

Akhi Abdulloh yang dirahmati Allah,

Pornografi merupakan problem kita bersama. Arus teknologi dan globalisasi tanpa penjagaan dari negara membuka akses informasi secara liberal (bebas), termasuk konten pornografi. Situs terlaris di dunia, Google, dengan gamblang menampilkan gambar-gambar tidak senonoh, walaupun kita tidak berniat melihat pornografi. Salah seorang ibu bercerita bahwa anak laki-lakinya yang baru berusia 11 tahun menjadi baligh. Selidik punya selidik, Google menyajikan gambar seorang pemain bola berduaan dengan pacarnya (dengan pakaian terbuka) saat ia mencari informasi tentang sepak bola! Akibatnya, si anak menjadi terangsang. Belum lagi pengaruh teman. Seorang anak yang pernah melihat pornografi cenderung mengajak teman-temannya untuk ikut melihat.

Akhi Abdullah, Konten porno memiliki pengaruh kuat dalam mempercepat kedewasaan seksualitas. Anak-anak yang terekspos konten porno biasanya lebih cepat baligh walaupun tidak diikuti dengan kedewasaan mental. Kondisi ini sangat berbahaya. Kedewasaan seksualitas tanpa kesiapan mental menjadikan manusia cenderung diperbudak/dikontrol oleh hawa nafsu. Akalnya belum cukup siap untuk mempertimbangkan, apakah suatu tindakan pantas/baik. Oleh karena itu, Akhi pantas merasa khawatir atas penemuan ini.

Namun, Akhi Abdullah jangan membatasi pada satu anak ini saja. Fenomena ini ibarat gunung es: Yang ketahuan hanya sedikit, sisanya tidak ketahuan. Untuk itu, ada beberapa langkah pencegahan yang juga harus diperhatikan agar anak-anak yang belum terjerumus dapat diminimalisir dari kesalahan ini.

Beberapa langkah pencegahan adalah:

1. Diskusikan masalah ini dengan seluruh orang tua murid (tanpa perlu menyebutkan nama-nama pelaku). Minta kesadaran orang tua murid untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan, dengan cara:

a. Pastikan aktivitas suami-istri tidak terekspos kepada anak. Jangan sampai orang tua sendirilah yang merusak otak anak-anaknya.

b. Ajari anak-anak untuk mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua.

c. Apabila orang tua merasa perlu berkomunikasi dengan anak via HP, jangan memberi anak HP yang memiliki fitur video/internet. Cukup yang bisa untuk telepon dan sms.

d. Pisahkan tempat tidur anak laki-laki yang sudah mencapai usia 10 tahun dari saudara-saudara perempuannya.

e. Ibu atau anak-anak perempuan hendaknya tidak mengenakan pakaian yang terlalu terbuka apabila ada anak laki-laki yang sudah berusia 10 tahun. Catatan: usia 10 tahun di sini adalah usia normal, yakni apabila anak-anak belum terekspos konten pornografi. Dalam keadaan abnormal, yaitu anak-anak sudah melihat pornografi, maka orang tua harus sudah melakukan terhitung sejak mereka melihat konten pornografi.

f. Minta orang tua untuk menyimpan video-video yang kurang pantas untuk anak (percintaan, kekerasan, dll).

g. Komputer (terutama yang memiliki akses internet) hendaknya diletakkan di tengah ruang keluarga/ruang terbuka untuk lalu lalang anggota keluarga untuk mempersempit kesempatan anak melihat-lihat konten porno.

2. Ajari murid-murid TPA tentang makna dan konsekuensi baligh, khusus bagi anak-anak yang sudah di atas 7 tahun. Seluruh aturan hukum syara’, baik mereka siap atau tidak, mulai berlaku saat mereka baligh. Kegiatan ini harus dilakukan secara terpisah antara anak laki-laki dengan anak perempuan agar anak-anak lebih serius dan tidak malu bertanya. Demikian pula guru/pematerinya (guru laki-laki untuk kelompok anak laki-laki).

3. Beri anak-anak pemahaman tentang bahaya melihat konten pornografi, termasuk adegan/gambar ciuman. Mereka akan cepat baligh sebelum fisik dan mental mereka siap.

4. Kondisi baligh untuk anak perempuan lebih mudah diketahui daripada anak laki-laki. Karena itu, guru (atau orang tua) harus memberikan suasana yang nyaman bagi anak untuk mereka berterus terang apabila sudah mengalami mimpi basah.

Bagi anak-anak yang sudah “terekspos” konten pornografi, diperlukan:

1. Jangan pernah mengolok-oloknya di depan teman/umum karena itu bisa membuatnya semakin bangga atau semakin kehilangan rasa malu. Dua-duanya dapat semakin menjerumuskan mereka ke dalam penyimpangan.

2. Konseling secara pribadi untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang dirasakan anak. Penikmat pornografi juga cenderung berkata jorok.

3. Pahamkan tentang hukum zina dan akibat-akibat buruk yang menyertai, seperti kehamilan, penyakit menular, dsb, menggunakan bahasa yang disesuaikan dengan hasil konseling (no. 2).

4. Ajari cara mengendalikan diri apabila keinginan untuk menonton datang. Beberapa caranya adalah: berwudlu, sholat, berdoa, mengajak teman-teman untuk bermain olah raga (basket, sepak bola, dll), atau jika memungkinkan sampaikan hal itu kepada orang tua agar orang tua dapat membantu mencarikan jalan keluar.

5. Apabila anak sudah pada kondisi kritis, tawarkan opsi (pilihan) untuk menikah, dengan segala tanggung jawab yang harus dia pikul.

Demikian beberapa langkah praktis yang dapat saya sampaikan pada kesempatan singkat ini. Semoga para pemimpin kita segera menyadari bahwa liberalisme telah merusak bangsa ini dari berbagai sisi, agar kita bersegera menuju pada kehidupan bersyariah.

 Diasuh oleh:

Dr. Erma Pawitasari, M.Ed

Doktor Pendidikan Islam PKU DDII bekerjasama dengan BAZNAS

suara-islam.com Senin, 28/02/2013 17:58:22 | Shodiq Ramadhan

***

Menggunakan Internet untuk Maksiat

Soal:

Saya pemuda beristeri, umurku 30 tahun, dan kadang-kadang aku masuk ke internet terutama program chatting dan masukkan nama pemudi dalam rangka untuk mengenal dan komunikasi dengan mereka di chat dan kamera. Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangi kebiasaan buruk ini?

Fatwa:

Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Rasulillah, dan atas keluarganya dan sahabatnya. Adapun setelah itu: maka sesungguhnya internet itu termasuk ni’mat Allah yang diberikan di masa ini, maka wajib bersyukur kepada Allah atasnya dengan menggunakannya dalam taat atau paling kurang dalam hal yang mubah (dibolehkan).

Dan yang lebih baik menggunakannya untuk menuntut ilmu syari’I, mendengarkan Al-Qur’an dan ceramah-ceramah ilmiyah atau menggunakannya dalam hal yang bermashlahat yang bermanfaat, dan harus dijauhi dari penggunaannya dalam lagho (hal yang batil atau sia-sia) dan lebih lagi dari penggunaan dalam kemaksiatan-kemaksiatan dan ikut serta pelaku-pelaku kejelekan dalam kebatilan mereka, maka manusia jatuh menjadi mangsa syaitan dan pengikut-pengikutnya yaitu para pengekor hawa nafsu syahwat yang menginginkan rusaknya pemuda Ummat, dan agar mereka menyeleweng dengan penyelewengan yang besar dari hidayah kepada kebatilan, dan menyia-nyiakan waktu mereka dan potensi mereka dengan sia-sia dalam hal yang tidak ada gunanya dalam agama maupun dunia, sehingga sempurnalah penjajahan atas mereka.

Adapaun mengenai bagaimana menghilangi kebiasaan buruk ini maka wajib atasamu untuk selalu ingat pengawasan Allah atasmu yang Dia itu tahu rahasiamu dan bisikanmu. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ {التوبة:78}.

Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib. (QS At-Taubah: 78).

Kemudian ingatlah wahai saudaraku, bahwa apabila anakmu yang kecil masuk kepadamu lalu ia melihatmu atau isterimu menyingkap atau salah satu kerabatmu mengetahui keadaanmu, maka bagaimana jadinya clingusmu dan malumu terhadap mereka?

Seyogyanya clingusmu dan malumu terhadap Penciptamu, Tuhanmu, Pengatur urusan-urusanmu itu lebih sangat dan lebih besar. Dan jangan lupa saudaraku, bahwa di antara yang paling berbahaya sarana hancurnya amal-amal adalah apabila keadaan hamba menampakkan taqwa di hadapan manusia, tetapi ketika ia menyepi sendirian maka sibuk dengan maksiat-maksiat. Karena dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia. Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika menyepi (tidak ada orang lain yang melihatnya) dengan apa-apa yang di haramkan Allah, maka mereka terus (segera) melanggarnya.” (HR Ibnu Majah – 4235, berkata Al-Mundziri: para periwayatnya tsiqot/ kuat-terpercaya, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Maka wajib atasmu untuk menjaga kehormatanmu dengan isterimu karena pernikahan itu adalah sekuat-kuatnya pembentengan sarana-sarana, berdasarkan hadits shahihain:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah memperoleh kemampuan (menghidupi rumah tangga), kawinlah. Karena sesungguhnya, perhikahan itu lebih mampu menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadits;

من تزوج فقد استكمل نصف الإيمان فليتق الله في النصف الباقي . رواه الطبراني وحسنه الألباني .

Siapa yang menikah maka sungguh dia telah menyempurnakan setengan iman, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa. (diriwayatkan At-Thabrani dan dihasankan Al-Albani).

Wajib atasmu untuk memprogram pada dirimu programa pendidikan, latihan, dan hiburan yang mubah (halal) sehingga menyibukkan dirimu dengannya, terhindar dari sibuk dengan apa-apa yang tidak diridhoi Allah ta’ala. Karena sesungguhnya hamba itu akan dihisab (diperhitungkan) dan ditanya tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan dan tentang masa mudanya dalam hal apa ia gunakan dan tentang hartanya dan ilmunya. Sebagaimana dalam hadits:

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

dari Abu Barzah Al Aslami berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.” ((HR At-Tirmidzi, – 2341, dia berkata: Hadits ini hasan shahih, dishahihkan Al-Albani).

Maka infakkanlah wahai saudaraku, waktumu dan hartamu dalam mempelajari ilmu yang manfaat dan dalam kemaslahatan serta pelayanan terhadap Muslimin. Jadikanlah berpaling dari yang lagho (sia-sia) adalah syiarmu di setiap keadaanmu.

Wallahu a’lam.

Mufti Markaz fatwa dengan bimbingan Dr Abdullah Al-Faqih.

Fawa nomor 59157

Tanggal fatwa: 12 Muharram 1426H

(islamweb).

Penjelasan Hadits

Soal:

Assalmu’alaikum. Aku ingin bertanya tentang hadits syarif:

يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia.” Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika menyepi (tidak ada orang lain yang melihatnya) dengan apa-apa yang di haramkan Allah, maka mereka terus (segera) melanggarnya.”

Apakah yang dimaksud itu orang yang melakukan maksiat tetapi tidak terang-terangan di hadapan antara manusia? Semoga Allah membalas Antum kebaikan.

Fatwa:

Alhamdulillah, shalawt dan salam atas Rasulillah dan atas keluarganya dan sahabatnya. Adapun setelah itu: maka hadits itu dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia.” Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika menyepi (tidak ada orang lain yang melihatnya) dengan apa-apa yang di haramkan Allah, maka mereka terus (segera) melanggarnya.” (HR Ibnu Majah – 4235, berkata Al-Mundziri: para periwayatnya tsiqot/ kuat-terpercaya, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Mereka yang dimaksud itu adalah: orang yang menampakkan kesalehan dan menjauhi maksiat sebagai penjagaan diri di depan manusia dan di depan mata orang-orang, tetapi setelah hanya menyepi dengan dirinya sendiri dan tidak terlihat oleh mata orang-orang, maka dengan segera ia melanggar larangan-larangan Allah. Maka ini telah menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penglihat yang paling rendah tingkatannya, lalu ia tidak merasa diawasi Tuhannya, tidak takut kepada Allah yang menciptakannya, sebagaimana ia justru merasa diawasi oleh manusia dan takut kepada mereka.

Adapun orang yang berupaya keras untuk meninggalkan maksiat, kadang lemah, tanpa terus menerus jatuh pada keharaman-keharaman dan tidak meneruskan berbuat kemaksiatan, maka diharapkan tidak termasuk yang demikian.

Wallahu a’lam.

Mufti Markaz fatwa dengan bimbingan Dr Abdullah Al-Faqih.

Fatwa nomor 9268

Tanggal fatwa, 27 Rabiuts Tsani 1422H

(islamweb).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.052 kali, 1 untuk hari ini)