Di ruangan 10 x 4 meter itu sejumlah orang tampak hilir mudik. Ruang belakang yang berfungsi sebagai dapur sekaligus tempat makan keluarga itu hanya dipenuhi perempuan dan anak balita. Kaum lelaki lebih banyak berada di ruang tamu dan pekarangan depan rumah, mereka pun sibuk menyambut tamu yang terus datang.

Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Anak-anak kecil yang sudah mengantuk tergeletak lelap begitu saja di bangku panjang yang terbuat dari bambu. Gelas-gelas kaca berisi teh tubruk tampak berjejer di sebuah meja kecil berkelir hitam. Sebagiannya sudah diminum.

Malam itu, malam Ahad (12/03) keluarga besar Marso Diyono (62 tahun) tengah menunggu kedatangan putranya Siyono (35 tahun) yang sudah tak bernyawa.

Kartu tanda penduduk milik Siyono.

Kematian Siyono begitu mendadak. Seluruh keluarga besar Marso Diyono, juga para tetangga tak ada satu pun yang menyangka kejadian itu bakal terjadi. Semua orang malam itu jadi kalang kabut. Bahkan, sapi satu-satunya peliharaan Marso pun sampai lupa dikasih makan. “Sapine mbengak-mbengok, urung dike’i pakan,” sergah Marso ketika sapinya melenguh panjang. Semua perhatian tertuju pada Siyono. Tak ada yang lain.

Lima hari sebelumnya, Siyono ditangkap orang tak dikenal. Pada Selasa, (08/03), Siyono masih mengimami warga untuk Shalat Magrib berjamaah di Masjid Muniroh, Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Masjid Muniroh, yang baru dua tahun dibangun itu berdiri gagah bersebelahan dengan kediaman Marso. Masjid itu terletak di atas tanah wakaf Marso Diyono. Putranya, Siyono, sedikit banyak turut membantu pembangunan masjid itu dengan hasil keringatnya sebagai penjual obat herbal keliling.

Usai Shalat Magrib, Siyono pun berzikir sejenak. Sebagian jamaah sudah ada yang kembali ke rumah masing-masing. Marso yang masih berada di masjid melihat ada tiga pria asing di masjid tersebut. Salahsatu pria asing itu kemudian kentut dengan suara besar dan membuat jamaah yang tersisa tertawa.

“Orang yang kentut itu berjalan ke arah ke belakang, para jamaah masjid mengira ia akan ambil wudhu, tapi ada jamaah ibu-ibu yang mendengar orang itu menelpon seseorang,” kata Marso kepada Kiblat.net.

Tak lama, Siyono pun dibawa oleh ketiga orang itu ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Siyono yang masih mengenakan sarung tak bisa berbuat banyak, sebab salah seorang pria tampak menodongkan pistol lewat balik ketiaknya. “Gak apa-apa, pak! Ini cuma urusan utang piutang,” kata salah seorang pria yang membawa Siyono. Malam itu Siyono ‘diculik’ dan tak pernah berkabar pada keluarga.

Densus Datang, Murid TK Tunggang Langgang

Dua hari setelah Siyono diculik, Suratmi, (30 tahun) istri Siyono, masih dihantui rasa khawatir. Ia bingung dimana suaminya kini berada, siapa gerangan pria misterius yang menculiknya? Namun, rasa penasaran itu tak mampu terjawab. Ia tahu betul suaminya orang baik. Tak pernah sekalipun menyakiti sanak famili atau para tetangganya. Siyono juga merupakan ayah yang baik kepada anak-anaknya. Di kampung, ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan aktif menghidupkan pengajian. Terutama setelah Masjid Muniroh berdiri.

Karena tak mengerti apa yang sedang terjadi, Suratmi pun tetap melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Rumah Siyono pada pagi hari kerap dijadikan tempat belajar sementara untuk menampung kegiatan belajar Raudhatul Atfal (TK) Amanah Ummah. Bangunan asli TK tersebut untuk sementara sedang diperbaharui. Sebanyak 62 siswa-siswi dari wilayah sekitar Kecamatan Cawas ikut belajar di rumah Siyono.

Sinar mentari baru naik sepenggalah pada Kamis, (10/03). Siswa-siswi TK Amanah Ummah tengah asyik belajar dan bermain dengan para ustazah. Suratmi meminta izin untuk keluar sebentar kepada keluarga karena hendak menjemput salah seorang anaknya pulang sekolah.

densus

Aparat kepolisian saat melakukan penggeledahan di depan rumah Siyono pada Kamis, (10/03)

Sekonyong-konyong datang pasukan berbaju hitam-hitam. Mereka memasuki desa yang terpencil dan jauh aksesnya dari jalan raya itu secara bergerombol. Atraksi penebar ketakutan itu semakin naik tensinya ketika pasukan berbaju siap tempur itu menodongkan senjata laras panjang ke arah anak-anak sambil berteriak, “BUBARR.. BUBARR!”

Sontak seluruh walimurid dan murid TK tanpa dosa itu pun kaget bukan kepalang. Tanpa sanggup mengerti apa yang terjadi mereka semua lari tunggang langgang.

Jangankan anak-anak, walimurid saja menangis histeris karena ketakutan,” ujar salah seorang walimurid kepada Kiblat.net menggambarkan suasana penggerebekan itu pada Ahad siang (13/03) di Masjid Muniroh. Ia berulangkali minta agar Kiblat.net tidak memfoto dan mengutip namanya demi alasan keamanan.

Anak-anak didampingi walimurid lantas secepat mungkin segera kembali ke rumah. Sumber anonim Kiblat.net menyebutkan, pada saat pasukan hitam-hitam itu datang, ada salah seorang wali murid perempuan yang tak kuasa menyalakan motornya, saking gemetar ketakutan. Sampai rumahnya, tangan sang ibu masih gemetar tak sanggup menahan rasa takut di dalam dada.

Pihak keluarga belakangan baru mengetahui bahwa pasukan yang datang adalah Densus 88 Mabes Polri. Tanpa surat penggeledahan, juga tanpa koordinasi dengan pihak aparat desa, mereka membubarkan kegiatan belajar. Kemudian, mereka masuk ke rumah Siyono dengan dalih mencari barang bukti.

“Awalnya, Densus mau mengambil uang sebanyak Rp4juta dan laptop. Tapi dijelaskan bahwa itu punya TK bukan barang kepunyaan Siyono,” kata Fadli (bukan nama sebenarnya), salah seorang kerabat dekat Siyono.

Setelah mengobrak-abrik seisi rumah, akhirnya Densus 88 hanya mengambil potongan-potongan kertas dan sebuah sepeda motor milik Siyono.

Kabar Kematian

Esoknya, Jumat (11/03), Sadiman, Kepala Dusun Brengkungan datang ke kediaman Siyono. Ia mengabarkan pada keluarga, polisi mengizinkan keluarga untuk menjenguk Siyono. Sebagian keluarga mengernyitkan dahi, apalagi setelah mengetahui Densus 88 terlibat dalam urusan Siyono. Sebuah perkara yang tak lazim. Biasanya, polisi baru mengizinkan keluarga menjenguk seseorang yang ditangkap Densus di atas waktu pemeriksaan pertama selama 7×24 jam. Yang sering terjadi, malah lebih lama dari itu. Tapi kali ini kurang dari sepekan, Densus 88 mengizinkan keluarga Siyono menjenguk sang korban.

Keluarga bisa jenguk, tapi hanya hari ini, hari lainnya sudah tidak bisa lagi,” kata Sadiman menyampaikan pesan dari aparat kepolisian kepada keluarga Siyono.

Akhirnya, pihak keluarga memutuskan Wagiyono (kakak Siyono) dan Suratmi (istri Siyono) yang berangkat ke Jakarta. Sadiman, sebagai aparat desa juga diminta turut ke Jakarta. Sekitar pukul 14.30 WIB, mereka bertiga dibawa oleh tiga mobil Densus 88.

Setelah menempuh perjalanan selama 12 jam, ketiganya langsung dibawa ke sebuah hotel di bilangan Jakarta Timur untuk beristirahat. Pagi harinya, Sabtu, (12/03), Suratmi baru diberi tahu oleh seorang polwan bernama Ayu, bahwa suaminya telah tiada.

Suami ibu terkait dengan kepemilikan senjata api, ia mau dipertemukan dengan Awang di Wonogiri. tapi Siyono shock terus melawan polisi. Dalam perjalanan mau diobati ke rumah sakit, tapi akhirnya meninggal di perjalanan,” kata Suratmi menirukan ucapan Ayu kepadanya.

Suratmi diberi kabar bahwa suaminya meninggal pada Jumat, (11/03). Namun, saat di hotel ia disuruh menandatangani dua berkas. Yang pertama adalah surat penangkapan, yang kedua adalah sertifikat medis penyebab kematian. Dalam sertifikat tersebut dijelaskan bahwa Siyono telah meninggal sejak Kamis, (10/03). Pemeriksa jenazahnya adalah Dr Arif Wahyono, Sp.F. Tak ada penjelasan apa penyebab kematian Siyono dalam sertifikat itu.

sertopikat medis

Sertifikat penyebab kematian Almarhum Siyono.

Terkait surat penangkapan, Suratmi pun hanya diperlihatkan dan disuruh menandatanganinya saja. Ia tidak diberikan salinannya. Adapun surat penahanan dan surat penggeledahan sama sekali tidak pernah ia terima, ataupun ia lihat. Begitu selesai menandatangani berkas-berkas tersebut, Suratmi pun dibawa ke RS Polri Kramat Jati.

“Saya lihat suami di RS Polri sudah dikafani, itu pun cuma lihat mukanya saja. Saya cium dia, pipinya terlihat memar. Di bagian kepala masih ada darah merah segar,” kata Suratmi kepada Kiblat.net. Tak ada intonasi melemah dalam nada suaranya. Suratmi terlihat tegar.

Saat itu Suratmi kembali diyakinkan oleh aparat bahwa suaminya adalah orang baik. Sehingga polisi tidak memborgol Siyono. Sebuah pesan yang ditangkap aneh oleh Suratmi. Sementara kasus-kasus salah tangkap selama ini terjadi, baik yang dibawa maupun yang disimpan di Polsek saja selalu dalam keadaan tangan terikat dan mata tertutup. (Baca juga: Operasi Akhir Tahun: Begini Kesaksian Korban Salah Tangkap Densus 88 di Surakarta)

Suami ibu itu baik, gak berontak. Jadi diperlakukan dengan baik, tidak diborgol. Saya salut sekali sama suami ibu,” ujar sang polwan. Suratmi sadar, polwan tersebut berniat mengambil hati Suratmi.

Sore itu juga, Suratmi dan Siyono yang sudah terbujur kaku dipulangkan ke Klaten dengan menggunakan mobil ambulans. Sebanyak dua mobil lain mengiringi ambulans yang berisi sepasang suami-istri nan malang itu.

– Sejak Jumat siang, kabar kematian Siyono sudah menyebar di media sosial. Entah darimana asalnya, informasi itu dengan cepat mengalir deras dari satu gadget ke gadget lainnya. Maka, ketika kabar itu terkonfirmasi oleh sejumlah media pada hari Sabtu, malam itu juga, rumah Siyono didatangi ribuan pelayat. Mereka adalah sanak famili terdekat, keluarga jauh, teman-teman, maupun aktivis Islam yang simpati atas kematian Siyono.

Sebelumnya, Kiblat.net mendapatkan kiriman surat elektronik terkait berita penggerebekan Densus 88 di rumah Siyono dari seseorang tak dikenal. Setelah berkomunikasi via surat elektronik, akhirnya orang tersebut bersedia menjadi informan dan mengantarkan Kiblat.net ke rumah Siyono.

Tiba di Klaten pada malam Ahad, (12/03), Kiblat.net segera meluncur ke kediaman Siyono di RT 11 RW 05, Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Jalanan sepanjang arah rumah Siyono sejak pukul 21.00 malam sudah dipenuhi banyak orang. Masjid Muniroh, di samping rumah Siyono mendadak sesak dipenuhi tamu yang datang dari berbagai daerah. Semakin malam, tamu dan pelayat semakin berdatangan, bukannya malah berkurang.

Kematian yang begitu mendadak, apalagi dalam kondisi di bawah pemeriksaan polisi jelas membuat keluarga curiga. Beredar kabar, pihak kepolisian meminta agar keluarga segera menyalati dan menguburkan jenazah Siyono sesampainya di Klaten.

Ayah Siyono, Marso Diyono jelas berkeberatan. Sejatinya, permintaan Marso pun bukan hal yang besar. Ia tak meminta jasad anaknya diotopsi ulang atau divisum oleh dokter independen. Ia hanya ingin agar kain kafan anaknya diganti dengan kain kafan yang sudah dibelikan keluarga.

“Seperti halnya orang mau sholat, pakaian kita harus suci. Meskipun gak kita cuci, kita tanggalkan dan ganti yang baru. Kalau kain kafan dari polisi itu ikut kekubur, tapi dia menghadap Allah SWT pakai kainnya sendiri. Kita kan tidak tahu kainnya polisi itu belinya pakai uang dari mana,” kata Marso kepada Kiblat.net menjelang Siyono dimakamkan. (Baca juga: Jenazah Siyono Tiba di Klaten Dini Hari, Kain Kafannya Langsung Diganti)

Namun, permintaan Marso bukannya tak mendapat penentangan dari sebagian keluarga besar. Ada beberapa paman Siyono yang enggan jenazah dibuka. Entah karena ada tekanan dari pihak-pihak tertentu atau memang karena alasan lain. Kiblat.net mendapatkan informasi ada keluarga yang ditekan oleh aparat berpakaian preman agar keluarga segera menguburkan jenazah secepatnya. “Kalau ada apa-apa nanti kami tidak bertanggung jawab,” kata mereka setengah mengancam.

Setelah mendapatkan izin dari pihak keluarga, akhirnya Kiblat.net diberi kesempatan untuk mengambil gambar secara eksklusif di kediaman Siyono. Sejak pukul 02.00 WIB, Kiblat.net menunggu di ruang belakang rumah Siyono bersama beberapa kerabat laki-laki. Padahal, sebagaimana diceritakan di awal, tempat itu lebih banyak dihuni keluarga, terutama perempuan dan anak-anak.

Berbeda dengan situasi di dalam rumah Siyono yang lebih tenang, suasana di luar rumah sedikit menegang. Menjelang kedatangan ambulans yang membawa jenazah Siyono, tiba-tiba satu peleton Dalmas Polres Klaten datang menutup jalan. Dipimpin oleh Kapolres Klaten AKBP Faizal, mereka bersiaga dengan senjata laras panjang siap tembak dan tameng fiberglass.

Aparat kepolisian

Aparat kepolisian berjaga dengan tangan siaga memegang senjata

Sontak, sejumlah orang pelayat jenazah yang berasal dari berbagai golongan itu ada yang tersulut emosinya. Mereka menganggap pengamanan ini terlalu berlebihan. Yang lainnya menduga, kedatangan Dalmas tersebut berniat memaksakan agar jenazah Siyono langsung dikuburkan tanpa sempat dilihat oleh pihak keluarga.

Salah seorang aktifis lainnya berkesimpulan, ”penjagaan ini justru bertujuan untuk menakut-nakuti warga sekitar. Seolah Siyono adalah teroris, sehingga pemakamannya dijaga polisi. Padahal para pelayat yang datang hanya ingin menjenguk korban,” kata Ahmad, yang mengaku berasal dari wilayah Klaten.

Tepat pukul 02.30, Ahad dini hari, ambulans yang membawa jenazah Siyono tiba di rumah duka. Jenazah dibawa ke ruang tengah. Selain pihak keluarga diminta keluar. Akhirnya, kain kafan Siyono diganti oleh keluarga.

Yang paling pertama dibuka adalah kain kafan bagian kepala. Kiblat.net yang berada di ruangan tersebut melihat wajah Siyono. Bagian mata sebelah kanan tampak biru akibat luka lebam. Wagiyono, kakak Siyono menjadi orang pertama yang mencium jasad Siyono, disusul kemudian oleh Marso Diyono. Belakangan, Marso bercerita kepada Kiblat.net, sewaktu mencium Siyono, Marso yakin tulang hidung anaknya patah.

Jenazah Siyono, terlihat matanya juga memar akibat pukulan benda keras

Jenazah Siyono, terlihat matanya juga memar akibat pukulan benda keras

Keempat putra-putri Siyono pun turut melihat wajah ayah mereka untuk yang terakhir kalinya. Fatimah (12 tahun), putri pertama Siyono tampak sedih. Yang paling bungsu, Abdul Hakim (3 tahun) hanya diam terpaku. Abdul Hakim turut diajak oleh Suratmi ke Jakarta untuk mengambil jenazah ayahnya. Cerita ibunya, sepanjang perjalanan Abdul Hakim tak pernah rewel apalagi menangis. “Subhanallah, sepanjang jalan dia anteng saja,” kata Suratmi.

Selain luka memar di wajah, salah seorang kerabat Siyono menuturkan bahwa jasad Siyono masih mengalirkan darah segar. “Sewaktu saya angkat kepalanya, di bagian belakang banyak sekali kapas berwarna merah terang. Tapi tak sempat keambil gambarnya karena keburu ditutup yang lain,” kata Fadli, yang enggan disebutkan nama sebenarnya.

Di bagian kaki Siyono, pihak keluarga juga mendapati adanya luka memar. Sayangnya, keluarga tak sempat mengganti seluruh kain kafan Siyono. Terutama di bagian badan jenazah Siyono yang penuh dengan kapas. Seorang pria berambut putih terlihat sangat agresif ‘menjaga’ bagian tengah tubuh Siyono. Saat hendak diusir oleh seorang ipar Siyono, pria itu mengaku, “Saya dari TPM, TPM!”

Karena mengira pria itu dari Tim Pembela Muslim (TPM) Achmad Michdan yang kerap mengadvokasi aktifis Islam, maka pria berambut putih itu dibiarkan saja. Pria yang diketahui bernama Nurlan itu ternyata bagian dari tim pengacara yang sering ditunjuk oleh Densus 88 dalam kasus terorisme. Ia merupakan anggota TPM bentukan Asludin. Nurlan, menurut keluarga, bahkan sampai menyikut orang-orang yang hendak mendekat ke jenazah untuk mengganti kain kafan. Ia juga menghalangi aktivis Islam yang hendak mengambil gambar jenazah Siyono.

anggota TPM Asludin

Nurlan, anggota TPM Asludin tampak turut dalam barisan keluarga saat proses penggantian kain kafan.

Setelah kain kafan diganti seadanya, jenazah Siyono dibungkus ulang dan digotong beramai-ramai ke Masjid. Di dalam masjid, ia dishalati oleh para pengunjung yang hadir. Ribuan pelayat membuat Masjid Muniroh yang berukuran 10×10 meter itu penuh sesak. Sebanyak dua gelombang pelayat bergantian menshalati jenazah Siyono.
Begitu jenazah Siyono usai dishalatkan, ada permintaan dari sejumlah aktivis Islam untuk membuka kembali kain kafan Siyono. Namun permintaan itu tak diluluskan keluarga.

Akhirnya, jenazah langsung dibawa ke liang kubur yang sudah disiapkan. Kuburan untuk Siyono memang sudah dipersiapkan sejak siang hari. Letaknya hanya sekira 300 meter dari kediaman Siyono. “Karena kuburan itu masih campur (Muslim-Kristen), kuburan untuk beliau kita gali di paling pojok,” kata salah seorang keponakan Siyono. Malam itu juga, Siyono dimakamkan. Saat proses pemakaman berlangsung, aparat kepolisian dan Dalmas Polres Klaten berangsur-angsur menarik diri.

Di sepertiga malam itu, misteri penyebab kematian Siyono terkubur bersama jasad dirinya.

Bahaya Laten Densus 88

Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri Anton Charliyan kepada sejumlah awak media menegaskan kematian Siyono disebabkan oleh pukulan benda tumpul di bagian belakang kepala.

“Dia meninggal karena pukulan benda tumpul di belakang kepala” ujar Anton saat konferensi pers di Mabes Polri pada Senin (14/03). Pernyataan ini bertolak belakang dengan ucapan Karo Penmas Brigjen Agus Rianto yang memberikan alasan ganjil.

Anton menjelaskan kejadian itu terjadi ketika Siyono diminta untuk menunjukkan teman yang terkait dengan kelompoknya. Pada awalnya Siyono kooperatif dengan Densus, sehingga pengawalan diturunkan. Siyono dalam pencarian itu hanya dikawal seorang anggota Densus dan seorang petugas yang menjadi supir. Namun, kemudian, Siyono disebut-sebut melakukan perlawanan dan berkelahi dengan seorang anggota Densus.

Sebelumnya, Agus Rianto menyampaikan pada media bahwa Siyono tewas akibat lemas dan lelah setelah mencoba melawan aparat yang membawanya. Karuan saja penjelasan ini membuat anggota Komisi III DPR-RI Nasir Jamil keheranan dan tak habis pikir. Bagaimana mungkin seseorang yang diborgol dan dikawal ketat bisa melawan aparat yang jumlahnya berlipat dibanding korban. Apalagi, kuasa hukum keluarga Siyono menemukan bekas luka fisik pada jasad almarhum.

Komnas HAM, yang melakukan investigasi pada kasus Siyono, menyatakan keraguannya secara terbuka atas penjelasan polisi terkait kematian Siyono.

“Kita meragukan Densus (Detasemen Khusus 88 Antiterori Mabes Polri), karena 90 persen terduga teroris mengalami penyiksaan,” kata Komisioner Komnas HAM, Siane Indriyani seperti dilansir dari Viva.co.id pada Ahad (13/03).

Komnas HAM menuntut polisi mengautopsi jenazah Siyono dan mengumumkan secara terbuka kepada publik hasilnya, agar masyarakat mengetahui pasti penyebab kematiannya. “Jika tidak, Densus berarti harus bertanggung jawab atas kematian Siyono. Kenapa takut lakukan autopsi, jika kematian Siyono wajar,” kata Siane.

Komnas HAM juga menyebutkan data yang dikumpulkan dari pengaduan masyarakat, kasus pembunuhan di luar pengadilan (extra judicial killing) yang dilakukan Densus 88 terhadap sejumlah orang yang dituduh sebagai teroris jumlahnya mencapai 118 orang. Angka ini belum ditambah dengan kasus kematian Siyono.

Kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan Densus 88 memang sudah sering menjadi sorotan masyarakat. Tingginya jumlah korban yang tewas akibat penyiksaan, korban salah tangkap, korban tembak di tempat hingga kasus orang hilang tak pernah membuat jera aparat. Atas nama perang melawan terorisme, semua aturan dasar hukum dilanggar. Tak ayal, kasus Klaten ini merupakan bahaya laten yang dilakukan aparat negara terhadap warganya sendiri.

Tulisan ini merupakan sambungan dari halaman sebelumnya

Reportase: Fajar Shadiq

Fotografer: Ahmad Subari
Editor: Alamsyah/

By: m.kiblat.net/15 Mar 2016 17:13

***

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS An-Nisaa’/4: 93)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim( HR. An-Nasa-i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ _أحمد ، ومسلم عن عائشة

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

 وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ _ رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.848 kali, 1 untuk hari ini)