MUKADIMAH Reaksi diterima menyusul pengungkapan adanya tarekat baru yang memiliki kaitan dengan Tarekat Nasyabandiah Al-Aliyyah yang diharamkan. Ada tuduhan yang dilemparkan mengatakan mereka yang menulis tentang tarekat tersebut tidak memiliki ilmu.

Pertanyaannya apakah perbuatan seperti baiat, sujud di kuburan dan beryaqazah bersesuaian dengan umat Islam di negara ini yang menjunjung paham Ahli Sunnah Wal Jamaah. Untuk mendapatkan penjelasan sehubungan hal tersebut dan memahami bahaya tarekat baru berlaku, wartawan Mingguan Malaysia, ZULKI Flee BAKAR dan MOHD. RAD ZI MOHD. ZIN mewawancara pendakwah bebas, MUHAMMAD ASRI YUS OFF di Kota Bharu, Kelantan, Selasa lalu.

  • Baiah

Ketika terima baiah, hal itu bukan bisa dibuat main-main karena ia berarti segala kepercayaan dan praktek tarekat tersebut akan dituruti. Jika Sheikh Muhammad Hisham Kabbani menyebut nama Sheikh Nazim, itu berarti ia membawa tarekat yang sama.

  • Yaqazah

Sebenarnya bahaya konsep yaqazah ketika diterima seperti yang dipahami. Sebab setiap orang bisa dakwa jumpa Nabi Muhammad SAW. Orang lain tak nampak. Pengikut percaya sebab anggap dia wali dan tidak mungkin menipu tapi sebenarnya dia berbohong. Jadi siapa bisa efek? Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) pun sah isytihar bahwa salah satu kesesatan tarekat itu sebab ia membawa paham yaqazah.

• Zikir Menari

Kalau benar-benar wali, mereka akan ikut metode agama. Harus tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Tapi bagaimana kita nak tahu nabi buat atau tidak. Misalnya pernahkah nabi menari saat zikir? Ketika nabi tak buat maka seorang wali tak akan buat. Bila kita kaji hadis, satu pun tak ada, maka mudah kita tolak. Tapi ketika ada beberapa ulama kata dapat zikir menari, ini membingungkan masyakat.

Konon nas mereka adalah ayat al-Quran. Terjemahannya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pada pertukaran malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan, dan keluasan rahmat Allah SWT) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah SWT saat mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menciptakan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. “(Ali ‘Imran: 190-191)

Ini menyebabkan masyarakat terikut-ikut. Yang bagi pendapat pula dianggap ulama besar., Dalam ayat itu tidak ada sebut menari tetapi yang ada mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, mengiring.

  • Dakwa Keturunan Nabi

Susah juga kita akan nafi. Bagi kita anak cucu Rasulullah SAW sampai kiamat pun tak ada jaminan akan tetap berada dalam jalan yang lurus bahkan bisa jadi perusak. Dia dakwa ada silsilah Nabi Muhammad SAW. Kalau betul tak apa tapi banyak yang membingungkan. Pakaian itu membingungkan, tarekat pun membingungkan dan dakwa keturunan nabi pun membingungkan.

Kalau betul cucu nabi, harus tak buat perubahan kepada ajaran nabi bahkan akan jaga sebaik-baiknya tetapi kita tengok mereka ini ubah. Namun, akan nafikan terus berhubung keturunan nabi, kita tak berani juga.

Tapi pertanyaannya, kenapa anak cucu Rasulullah SAW sekadar Hasan dan Husin saja. Bahkan sebenarnya banyak lagi. Cucu-cucu beliau yang dapat dilacak dari kitab-kitab hadits dan sirah adalah tujuh orang. Bahkan ada yang berpendapat delapan orang.

Bahkan di Iran, anak mut’ah dikatakan Syed dan Syarifah. Sharifah dan Syed ini bukan jalinan anak cucu Rasulullah SAW. Sekadar ingin hubungkan dia anak cucu Rasulullah SAW. Semua orang bisa buat macam itu.

  • Ziarah Makam

Nas sahih hanyalah menziarahi makam Nabi Muhammad SAW, yang lain tak bisa percaya. Begitu juga dakwaan Wali Songo mohon pada Rasulullah SAW untuk ampunkan kita. Itu salah. Hanya Rasulullah SAW saja yang bisa bilang begitu. Waima istri, anak, cucu nabi tidak bisa bilang begitu.

Rasulullah SAW tidak suka kuburan dibesar-besarkan sampai ke tingkat memuja tetapi mereka buat. Tok guru pondok dulu pun tak buat begitu.

Agenda mereka adalah hendak ubah ajaran nabi atas nama orang yang cinta Rasulullah SAW. Macam Syiah juga nak ubah agama atas nama Islam. Ini parah. Tidak mungkin orang alim akan cakap begitu. Kalau kita yang belajar ini dapat terus nafikan dakwaan itu.

  • Penampilan, Logo Dan Cium Kaki:

Pada pandangan masyarakat kita, kalau alim harus pakai sorban dan jubah. Cara berpakaian ini pula “dipaksa” agar dicontoh. Jadi semua syarat ada pada orang ini. Kita sekian lama ajar sehingga tak ada benda ini. Guru bukan parkir pada pakaian. Tapi yang itu sudah lama tertanam, maka mudah orang percaya.

Gambaran nabi kepada kita hanya sejauh yang ada dalam hadis. Tapi hendak kata kalau pakai begitu (jubah, sorban) harus dapat keuntungan atau pahala lebih banyak, itu sudah salah dalam bab berpakaian ini. Ia terikat dengan waktu.

Abu Jahal tak pakai jubah ke? Jadi kita tak bisa kata seseorang itu ada kelebihan dengan alasan pakaian. Zaman nabi tak ada listrik tapi pakai lilin. Jadi, kita kena pakai lilin jugakah untuk dapat pahala lebih?

Ada pula yang menggunakan logo tertentu. Ini sudah jadi akidah ketika bertawassul kepada capal nabi. Mana ada dalil capal itu tidak dipakai oleh orang kafir saat itu. Kalau kita hendak kata hanya Nabi Muhammad SAW seorang saja yang pakai capal itu, apa dalilnya?

Dalam Islam, kena jelas kalau hendak jadikan argumen. Jika tawassul ini seharusnya lebih mudah doa dapat dikabulkan Allah, seolah-olah Islam harus macam itu, ada logo dan sebagainya.

Tarekat Nasyabandiah Al-Aliyyah memang ada persamaan dengan Syiah. Syiah atas nama imam sebagai pengganti Rasul. Tak ada dalil dakwa mereka itu maksum. Sebab itu, mereka pun macam suka kalau orang akan cium kaki. Mereka tidak larang sedangkan hadis nabi larang. Mereka seolah-olah seperti dibuat begitu. Ini salah satu cara akan jadi terobsesi.

Kita sebagai tanda hormat pada seseorang, paling tinggi pun cium tangan sebab ada dalam hadis. Apa yang hadis larang kita tak bagi buat. Sebab itu, orang kita tidak terobsesi. Sebab itu kita takut melihat ajaran ini.

Mereka dakwa cium kaki tanda hormat karena mereka dakwa Nabi Muhammad SAW pernah buat. Kita tanya bila? Rasulullah SAW pernah biar perlakuan begitu alasan seorang pria yang awalnya menganut Kristen memeluk Islam. Jadi dia dah biasa kucup kaki.Tetapi setelah itu tidak terjadi lagi insiden yang sama.

Begitu juga dengan para sahabat. Tidak ada sahabat yang sujud pada nabi. Ini adalah khusus untuk Baginda. Setelah itu, orang yang sama pun tidak mengulangi perbuatan itu lagi.

Persitiwa itu terjadi ketika dua orang Yahudi datang menanyakan banyak hal kepada Rasulullah SAW. Pertanyaan yang diajukan itu adalah sulit dan tidak mampu dijawab oleh orang biasa. Hanya Rasulullah SAW yang mampu menjawabnya.

Setelah itu, karena terlalu gembira dengan jawaban beliau salah seorang bertindak mengecup kaki nabi. Ini yang disebut maghluibulhal (tidak dapat kawal perasaan).

  • Punca Tarekat Tersebar

Masalahnya orang majlis agama sendiri tak kenal dengan tarekat ini. Kalau kita sebut mereka marah. Sebenarnya semua hendak buat kerja Islam tetapi kadang-kadang kita kecewa. Orang yang mahu menjelaskan benda ni (penyelewengan) disekat. Sebaliknya orang yang membawa ajaran ini dibenarkan bebas berceramah di sana sini.

Sebenarnya, mekanisme kawalan pendakwah yang sedia ada memang dah baik. Kita terkawal berbanding negara lain seperti Pakistan. Tetapi kalau mufti sendiri dah naik atas pentas, habislah.

Masalah kita bukan dengan orang ramai tetapi dengan orang yang ada kuasa iaitu orang politik dan jabatan agama. Yang agak terbuka sedikit adalah Jakim tapi jabatan itu pun macam diikat tangan dan kaki. Jakim dah lama keluar fatwa tentang gerakan tarekat ini tetapi nampaknya tidak berkesan.

Saya nampak ini bukan masalah habib saja, bahkan ia ada kaitan dengan banyak pihak. Kalau tidak, ibarat getus (petik) pucuk sahaja, tak sampai ke batang dan akar.

Saya lihat keadaan ini berlaku kerana beberapa sebab. Yang pertama, kelemahan institusi agama yang rasmi. Yang kedua, membiarkan golongan sufi dan tarekat amalkan ajaran dengan agak bebas tanpa ada kawalan. Kita tak kata semua tasawuf itu salah tetapi kebanyakannya salah. Sebab itu, saya berpendapat halang terus lagi mudah. Mengikut pengalaman saya, di India dan Pakistan hanya orang alim dibenar ikut tarekat.

Kumpulan tarekat juga dakwa ilmu itu diterima daripada dua orang sahaja iaitu Saidina Abu Bakar dan Saidina Ali. Cuba kita fikir kenapa daripada sekian ramai sahabat Rasulullah SAW, hanya dua sahaja yang layak. Mengapa nabi tidak ajar kepada semua yang lain? Tidak layakkah mereka?

Hari ini, kita sebar tarekat kepada semua orang waima orang yang buta huruf pun boleh diajar tasawuf. Maknanya zaman ini lebih hebat lagi. Padahal Rasulullah SAW dikatakan hanya pilih dua sahabat, kalau betullah tetapi saya tak percaya.

Ketiga, wujud golongan Ahbash yang mudah mengkafirkan dan menyesatkan orang. Ini pengaruh dari luar. Semua ulama besar dikafirkan. Kalau kita perhati, dalam muzakarah ulama sedunia baru-baru ini, tidak ada ulama terkemuka. Seolah-olah hendak tunjuk mereka sahaja Ahli Sunnah Wal Jamaah iaitu yang pergi kubur dan pakai selipar capal.

Keempat, yang dalam negara pula membawa masuk atau mempopularkan mereka. Mereka ini berselindung di sebalik pertubuhan Ahli Sunnah Wal Jamaah tetapi sebenarnya terpengaruh dengan Ahbash.

Mereka suka menyebar fitnah kerana mahu tegakkan fahaman pondok dahulu. Kitab kuning dan kitab jawi hendak dijadikan kemuncak ilmu yang pada hakikatnya merendahkan umat Islam. Bukan kita mahu menafikan jasa kitab-kitab itu. Rakyat kita sudah maju dan belajar agama di merata-rata tempat tetapi tidak dibenarkan mengajar lebih daripada itu.

Mereka memperlekeh ulama besar yang diakui dunia seperti Dr. Yusof Al-Qaradawi dan Syeikh Nashiruddin Al-Albani. Tak patut buat begitu. Kita patut hormat orang. Ada salah silap pada mereka itu kita akui tetapi orang sudah pahami mereka ini.

Jadi, yang ada dalam kitab itu semuanya otentik. Itu juga yang sesuai dengan kitab berzanji. Sekarang mereka panggil dari Indonesia, sebenarnya untuk lawan golongan tegakkan sunnah. Kita mengajar supaya memahami hadis dengan cara yang benar. Tiba-tiba mereka anggap kita mengancam.

Sayangnya, golongan yang ingin ajar tarekat yang tak tahu penyebabnya diizinkan. Bila rasa tidak kuat akan “lawan”, bawa habib dan sheikh untuk membantu. Tarekat ini ada yang sudah kuat mengakar dalam negara kita. Kelompok Ahbash ini begitu mudah menuduh orang yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai Wahabi. Orang yang tak baca qunut saja dicap sebagai Wahabi. Kalau begitu mazhab Hanafi dan Hambali itu Wahabi jugalah.

Berbagai reaksi diterima menyusul pengungkapan adanya tarekat baru yang memiliki kaitan dengan Tarekat Nasyabandiah Al-Aliyyah yang diharamkan. Ada tuduhan yang dilemparkan mengatakan mereka yang menulis tentang tarekat tersebut tidak memiliki ilmu.

Pertanyaannya apakah perbuatan seperti baiat, sujud di kuburan dan beryaqazah bersesuaian dengan umat Islam di negara ini yang menjunjung paham Ahli Sunnah Wal Jamaah. Untuk mendapatkan penjelasan sehubungan hal tersebut dan memahami bahaya tarekat baru berlaku, wartawan Mingguan Malaysia, Zulkiflee BAKAR dan MOHD. RADZI MOHD. ZIN mewawancara pendakwah bebas, MUHAMMAD ASRI YUSOFF di Kota Bharu, Kelantan, Selasa lalu.*/utusan.com.my – 24 Mei 2015

***

(Bahasa Melayu)

Bahaya Tarekat Nasyabandiah Al-Aliyyah

MUHAMMAD ASRI YUS OFF

MUKADIMAH Pelbagai reaksi diterima berikutan pendedahan wujudnya tarekat baharu yang mempunyai kaitan dengan Tarekat Nasyabandiah Al-Aliyyah yang diharamkan. Ada dakwaan yang dilemparkan mengatakan mereka yang menulis mengenai tarekat tersebut tidak mempunyai ilmu.

Persoalannya apakah perbuatan seperti baiah, sujud di kubur dan beryaqazah bersesuaian dengan umat Islam di negara ini yang berpegang kepada fahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah. Bagi mendapatkan penjelasan berhubung perkara tersebut dan memahami bahaya tarekat baru berkenaan, wartawan Mingguan Malaysia, ZULKI FLEE BAKAR dan MOHD . RAD ZI MOHD . ZIN mewawancara pendakwah bebas, MUHAMMAD ASRI YUS OFF di Kota Bharu, Kelantan, Selasa lalu.

  • Baiah

Apabila terima baiah, perkara itu bukan boleh dibuat main-main kerana ia bermaksud segala kepercayaan dan amalan tarekat tersebut akan dituruti. Jika Sheikh Muhammad Hisham Kabbani menyebut nama Sheikh Nazim, itu bermakna ia membawa tarekat yang sama.

  • Yaqazah

Sebenarnya bahaya konsep yaqazah apabila diterima seperti yang difahami. Sebab setiap orang boleh dakwa jumpa Nabi Muhammad SAW. Orang lain tak nampak. Pengikut percaya sebab anggap dia wali dan tidak mungkin menipu tetapi sebenarnya dia berbohong. Jadi siapa boleh kesan? Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) pun sah isytihar bahawa salah satu kesesatan tarekat itu sebab ia membawa fahaman yaqazah.

  • Zikir Menari

Kalau betul-betul wali, mereka akan ikut kaedah agama. Mesti tidak bercanggah dengan apa yang diajar Nabi Muhammad SAW. Tapi bagaimana kita nak tahu nabi buat atau tidak. Misalnya pernahkah nabi menari semasa zikir? Apabila nabi tak buat maka seorang wali tak akan buat. Apabila kita kaji hadis, satu pun tak ada, maka mudah kita tolak. Tetapi apabila ada beberapa ulama kata boleh zikir menari, ini mengelirukan masyakat.

Kononnya nas mereka adalah ayat al-Quran. Terjemahannya: “Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan, dan keluasan rahmat Allah SWT) bagi orang-orang yang berakal. (Iaitu) orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah SWT semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.” (Ali ‘Imran: 190-191)

Ini menyebabkan masyarakat terikut-ikut. Yang bagi pendapat pula dianggap ulama besar., Dalam ayat itu tidak ada sebut menari tetapi yang ada ingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, mengiring.

  • Dakwa Keturunan Nabi

Susah juga kita hendak nafi. Bagi kita anak cucu Rasulullah SAW sampai kiamat pun tak ada jaminan akan tetap berada dalam jalan yang lurus bahkan boleh jadi perosak. Dia dakwa ada salasilah Nabi Muhammad SAW. Kalau betul tak apa tetapi banyak yang mengelirukan. Pakaian itu mengelirukan, tarekat pun mengelirukan dan dakwa keturunan nabi pun mengelirukan.

Kalau betul cucu nabi, mesti tak buat perubahan kepada ajaran nabi bahkan akan jaga sebaik-baiknya tetapi kita tengok mereka ini ubah. Bagaimanapun, hendak nafikan terus berhubung keturunan nabi, kita tak berani juga.

Tetapi persoalannya, kenapa anak cucu Rasulullah SAW sekadar Hasan dan Husin sahaja. Bahkan sebenarnya ramai lagi. Cucu-cucu baginda yang dapat dikesan daripada kitab-kitab hadis dan sirah adalah tujuh orang. Bahkan ada yang berpendapat lapan orang.

Bahkan di Iran, anak mutaah dikatakan Syed dan Syarifah. Sharifah dan Syed ini bukan jalinan anak cucu Rasulullah SAW. Sekadar hendak hubungkan dia anak cucu Rasulullah SAW. Semua orang boleh buat macam itu.

  • Ziarah Makam

Nas sahih hanyalah menziarahi makam Nabi Muhammad SAW, yang lain tak boleh percaya. Begitu juga dakwaan Wali Songo mohon pada Rasulullah SAW untuk ampunkan kita. Itu salah. Hanya Rasulullah SAW sahaja yang boleh kata begitu. Waima isteri, anak, cucu nabi tidak boleh kata begitu.

Rasulullah SAW tak suka kubur dibesar-besarkan sampai ke tahap memuja tetapi mereka buat. Tok guru pondok dulu pun tak buat begitu.

Agenda mereka adalah hendak ubah ajaran nabi atas nama orang yang cinta Rasulullah SAW. Macam Syiah juga nak ubah agama atas nama Islam. Ini teruk. Tidak mungkin orang alim akan cakap begitu. Kalau kita yang belajar ini boleh terus nafikan dakwaan itu.

  • Penampilan, Logo Dan Cium Kaki:

Pada pandangan masyarakat kita, kalau alim mesti pakai serban dan jubah. Cara berpakaian ini pula “dipaksa” agar dicontohi. Jadi semua syarat ada pada orang ini. Kita sekian lama ajar supaya tak ada benda ini. Guru bukan letak pada pakaian. Tetapi yang itu sudah lama tertanam, maka mudah orang percaya.

Gambaran nabi kepada kita hanya setakat yang ada dalam hadis. Tetapi hendak kata kalau pakai begitu (jubah, serban) mesti dapat kelebihan atau pahala lebih banyak, itu sudah salah dalam bab berpakaian ini. Ia terikat dengan masa.

Abu Jahal tak pakai jubah ke? Jadi kita tak boleh kata seseorang itu ada kelebihan dengan sebab pakaian. Zaman nabi tak ada elektrik tetapi pakai lilin. Jadi, kita kena pakai lilin jugakah untuk dapat pahala lebih?

Ada pula yang menggunakan logo tertentu. Ia sudah jadi akidah apabila bertawassul kepada capal nabi. Mana ada dalil capal itu tidak dipakai oleh orang kafir masa itu. Kalau kita hendak kata hanya Nabi Muhammad SAW seorang sahaja yang pakai capal itu, apa dalilnya?

Dalam Islam, kena jelas kalau hendak jadikan hujah. Jika tawassul ini kononnya lebih mudah doa dapat dimakbulkan Allah, seolah-olah Islam mesti macam itu, ada logo dan sebagainya.

Tarekat Nasyabandiah Al-Aliyyah memang ada persamaan dengan Syiah. Syiah atas nama imam sebagai pengganti Rasul. Tak ada dalil dakwa mereka itu maksum. Sebab itu, mereka pun macam suka kalau orang hendak cium kaki. Mereka tidak larang sedangkan hadis nabi larang. Mereka seolah-olah suka dibuat begitu. Ini salah satu cara hendak jadi taksub.

Kita sebagai tanda hormat pada seseorang, paling tinggi pun cium tangan sebab ada dalam hadis. Apa yang hadis larang kita tak bagi buat. Sebab itu, orang kita tidak taksub. Sebab itu kita takut melihat ajaran ini.

Mereka dakwa cium kaki tanda hormat kerana mereka dakwa Nabi Muhammad SAW pernah buat. Kita tanya bila? Rasulullah SAW pernah biar perlakuan begitu sebab seorang lelaki yang asalnya menganut Kristian memeluk Islam. Jadi dia dah biasa kucup kaki. Tetapi selepas itu tidak berlaku lagi insiden yang sama.

Begitu juga dengan para sahabat. Tidak ada sahabat yang sujud pada nabi. Ini adalah khusus untuk Baginda. Selepas itu, orang yang sama pun tidak mengulangi perbuatan itu lagi.

Persitiwa itu berlaku apabila dua orang Yahudi datang bertanyakan banyak perkara kepada Rasulullah SAW. Pertanyaan yang diajukan itu adalah sukar dan tidak mampu dijawab oleh orang biasa. Hanya Rasulullah SAW yang mampu menjawabnya.

Selepas itu, disebabkan terlalu gembira dengan jawapan baginda salah seorang bertindak mengucup kaki nabi. Ini yang disebut maghluibulhal (tidak dapat kawal perasaan).

  • Punca Tarekat Tersebar

Masalahnya orang majlis agama sendiri tak kenal dengan tarekat ini. Kalau kita sebut mereka marah. Sebenarnya semua hendak buat kerja Islam tetapi kadang-kadang kita kecewa. Orang yang mahu menjelaskan benda ni (penyelewengan) disekat. Sebaliknya orang yang membawa ajaran ini dibenarkan bebas berceramah di sana sini.

Sebenarnya, mekanisme kawalan pendakwah yang sedia ada memang dah baik. Kita terkawal berbanding negara lain seperti Pakistan. Tetapi kalau mufti sendiri dah naik atas pentas, habislah.

Masalah kita bukan dengan orang ramai tetapi dengan orang yang ada kuasa iaitu orang politik dan jabatan agama. Yang agak terbuka sedikit adalah Jakim tapi jabatan itu pun macam diikat tangan dan kaki. Jakim dah lama keluar fatwa tentang gerakan tarekat ini tetapi nampaknya tidak berkesan.

Saya nampak ini bukan masalah habib saja, bahkan ia ada kaitan dengan banyak pihak. Kalau tidak, ibarat getus (petik) pucuk sahaja, tak sampai ke batang dan akar.

Saya lihat keadaan ini berlaku kerana beberapa sebab. Yang pertama, kelemahan institusi agama yang rasmi. Yang kedua, membiarkan golongan sufi dan tarekat amalkan ajaran dengan agak bebas tanpa ada kawalan. Kita tak kata semua tasawuf itu salah tetapi kebanyakannya salah. Sebab itu, saya berpendapat halang terus lagi mudah. Mengikut pengalaman saya, di India dan Pakistan hanya orang alim dibenar ikut tarekat.

Kumpulan tarekat juga dakwa ilmu itu diterima daripada dua orang sahaja iaitu Saidina Abu Bakar dan Saidina Ali. Cuba kita fikir kenapa daripada sekian ramai sahabat Rasulullah SAW, hanya dua sahaja yang layak. Mengapa nabi tidak ajar kepada semua yang lain? Tidak layakkah mereka?

Hari ini, kita sebar tarekat kepada semua orang waima orang yang buta huruf pun boleh diajar tasawuf. Maknanya zaman ini lebih hebat lagi. Padahal Rasulullah SAW dikatakan hanya pilih dua sahabat, kalau betullah tetapi saya tak percaya.

Ketiga, wujud golongan Ahbash yang mudah mengkafirkan dan menyesatkan orang. Ini pengaruh dari luar. Semua ulama besar dikafirkan. Kalau kita perhati, dalam muzakarah ulama sedunia baru-baru ini, tidak ada ulama terkemuka. Seolah-olah hendak tunjuk mereka sahaja Ahli Sunnah Wal Jamaah iaitu yang pergi kubur dan pakai selipar capal.

Keempat, yang dalam negara pula membawa masuk atau mempopularkan mereka. Mereka ini berselindung di sebalik pertubuhan Ahli Sunnah Wal Jamaah tetapi sebenarnya terpengaruh dengan Ahbash.

Mereka suka menyebar fitnah kerana mahu tegakkan fahaman pondok dahulu. Kitab kuning dan kitab jawi hendak dijadikan kemuncak ilmu yang pada hakikatnya merendahkan umat Islam. Bukan kita mahu menafikan jasa kitab-kitab itu. Rakyat kita sudah maju dan belajar agama di merata-rata tempat tetapi tidak dibenarkan mengajar lebih daripada itu.

Mereka memperlekeh ulama besar yang diiktiraf dunia seperti Dr. Yusof Al-Qaradawi dan Syeikh Nashiruddin Al-Albani. Tak patut buat begitu. Kita patut hormat orang. Ada salah silap pada mereka itu kita akui tetapi orang sudah iktiraf mereka ini.

Jadi, yang ada dalam kitab itu semuanya sahih. Itu juga yang sesuai dengan kitab berzanji. Sekarang mereka panggil dari Indonesia, sebenarnya untuk lawan golongan tegakkan sunnah. Kita mengajar supaya memahami hadis dengan cara yang betul. Tiba-tiba mereka anggap kita mengancam.

Malangnya, golongan yang mahu ajar tarekat yang tak tahu puncanya dibenarkan. Apabila rasa tidak kuat hendak “lawan”, bawa habib dan sheikh untuk membantu. Tarekat ini ada yang sudah kuat bertapak dalam negara kita. Kumpulan Ahbash ini begitu mudah menuduh orang yang berlainan pandangan dengan mereka sebagai Wahabi. Orang yang tak baca qunut sahaja dicap sebagai Wahabi. Kalau begitu mazhab Hanafi dan Hambali itu Wahabi jugalah.

Pelbagai reaksi diterima berikutan pendedahan wujudnya tarekat baharu yang mempunyai kaitan dengan Tarekat Nasyabandiah Al-Aliyyah yang diharamkan. Ada dakwaan yang dilemparkan mengatakan mereka yang menulis mengenai tarekat tersebut tidak mempunyai ilmu.

Persoalannya apakah perbuatan seperti baiah, sujud di kubur dan beryaqazah bersesuaian dengan umat Islam di negara ini yang berpegang kepada fahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah. Bagi mendapatkan penjelasan berhubung perkara tersebut dan memahami bahaya tarekat baru berkenaan, wartawan Mingguan Malaysia, ZULKIFLEE BAKAR dan MOHD. RADZI MOHD. ZIN mewawancara pendakwah bebas, MUHAMMAD ASRI YUSOFF di Kota Bharu, Kelantan, Selasa lalu.

Sumber : utusan.com.my – 24 Mei 2015

(nahimukar.com)

(Dibaca 577 kali, 1 untuk hari ini)