Balada Long March Santri Ciamis-Jakarta

 


Anggota Organisasi Islam se-Jawa Barat melakukan “Aksi Damai Bela Islam” di kawasan jalan Merdeka, Bandung, 21 Oktober 2016. ANTARA/Agus Bebeng

 

Oleh: Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial

 

Tak terasa gelaran Reuni 212 Aksi Bela Islam tahun 2019 hari-H-nya tinggal menghitung hari. Tak dapat dinafikan oleh siapa pun, tatkala kita mengadakan Reuni 212 tentu para saksi sejarah tidak akan dapat melupakan peristiwa fenomenal yang mewarnai gelaran Aksi Bela Islam pada, 2 Desember 2016 yang lalu.

 

Salah satu peristiwa fenomenal yang tak dapat kita lupakan adalah Balada Long March Santri Ciamis ke Jakarta yang harus menempuh jarak 270 km. Tepatnya, pada hari Senin, 28 November 2016 berawal dari Masjid Agung Ciamis Jawa Barat ribuan santri yang kemudian disebut mujahid 212 mulailah berjalan menyusuri jalan raya dengan niat dan tekad mencapai titik tujuan Monas Jakarta, pada Jum’at 2 Desember 2016. 

 

Sangat menarik untuk layak kita renungkan bersama tentang kenapa mesti para mujahid 212 dari Ciamis yang notabene mereka masih berstatus santri mau bersusah-payah berjalan kaki ratusan kilometer menuju Monas? Jawabnya singkat: karena “Iman”. Satu sisi “Iman” mereka terusik tatkala ada seorang yang berani melecehkan firman Allah yakni Surat Al Maidah ayat 51 dalam hal ini yang dilakukan oleh Ahok, di sisi lain proses hukum bagi Ahok tidak segera dijalankan oleh yang berwajib. Dua sisi inilah ghirah mujahidnya muncul dalam gerakan Aksi Bela Islam saat itu.

 

Dengan ghirah mujahidnya inilah mereka pantang surut untuk mundur setapak pun, walaupun harus menghadapi kendala transportasi yang saat itu beberapa perusahaan PO-Bus yang semula sudah siap mengangkut, tiba-tiba membatalkan sepihak dengan berbagai alasan. Hanya Allah-lah Yang Mengetahui rekayasa mereka.

 

Singkat kisahnya, tepat hari Jum’at, 2 Desember 2016 pagi, para mujahid 212 pelaku sejarah Balada Santri Long Marsch Ciamis-Jakarta memasuki arena acara Aksi Bela Islam di Monas yang telah disediakan tempat khusus berkarpet merah yang disambut dengan seruan takbir oleh jutaan hadirin yang telah hadir saat itu

 

Sungguh, kisah Aksi 212 tak luput telah meninggalkan torehan sejarah yang sangat mendalam bagi para alumninya, tak terkecuali penulis, yang juga merupakan pelaku sejarah, baik Aksi 411 maupun 212. Penulis tak mudah melupakan apa yang disampaikan oleh MC saat membuka acara di Monas pada Aksi 212 bahwa acara Aksi Damai kali ini tak akan lagi mengetuk Pintu Istana sebagaimana Aksi 411, tapi acara kali ini semata-mata hanya Mengetuk Pintu Langit-Nya.

 

Allahu Akbar… Subhanallah…dengan hanya berniat Mengetuk Pintu Langit-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan Kekuasaannya untuk menggerakkan para penghuni Istana mau melangkahkan kaki menuju Monas, Pusat Lokasi Aksi 212. Penghuni Istana hadir di Monas saat jelang khutbah dan shalat Jum’at yang artinya mereka mau tidak mau harus juga mendengarkan isi khutbah dan jadi ma’mum shalat Jum’at yang digelar oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-MUI (GNPF-MUI) saat itu.

 

Reuni 212 tahun 2019 ini masih layaklah disebut Aksi Bela Islam – sekaligus Aksi Bela Nabi Muhammad SAW seiring masih ada orang yang berani membandingkan Nabi SAW dengan sosok manusia yang lain. Selain itu, mengajak hadirin untuk pula peduli terhadap nasib muslim Gaza di Palestina dan Uighur di China. Partisipasi kehadiran pada momen Reuni 212 tahun ini semoga didasari atas ketulusan, persaudaraan dan persahabatan untuk sama-sama membela Islam dan ummatnya, bagi yang berhalangan hadir tentu masih dapat berpartisipasi baik melalui donasi maupun doa-doanya.

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.772 kali, 1 untuk hari ini)