.

Jakarta telah dilanda banjir berkali-kali selama dua pekan.

Kerugian dan kerusakan serta beban psikologis cukup besar. Akibat terendam banjir, jumlah Jalan Rusak di Jakarta Bertambah 133,6 Persen.

Umat Islam perlu menyadari, hidup ini adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menghadapinya.

Ada tuntunan untuk menghadapi musibah.

Silakan menyimak berita banjir di Jakarta dan tuntunan untuk menghadapi musibah secara Islami berikut ini.

***

Korban Banjir di Jakarta: Ini Terparah dalam 14 Tahun

 

Jakarta. Banjir yang kembali menyerbu Jakarta hari ini ‘numpang lewat’ di Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Di pemukiman yang pekan lalu terendam hingga dua meter itu, hanya ada sisa-sisa banjir.

Situasi ini dimanfaatkan warga untuk membersihkan rumah, Rabu (29/1/2014) sore. Salah satunya adalah Pak Mugi, warga Jl Bina Warga, Rawajati, Jakarta Selatan.

“Ini sudah empat kali saya bersih-bersih rumah. Sangat melelahkan. Semoga banjir nggak naik lagi,” harap Mugi.

Pria yang sehari-harinya berdagang beras ini mengaku masih sempat menyelamatkan hartanya ke lantai dua rumah. Namun tinggi dan lamanya banjir menggenangi, membawa kerugian yang cukup tinggi.

“Mungkin sepertiga stok beras dagangan saya rusak. Padahal sudah diamankan di lantai dua,” ujarnya.

Kerugian lainnya akibat banjir selama dua pekan adalah hancurnya isi tujuh petak kontrakan miliknya. Tujuh televisi, tujuh lemari dan tujuh springbed yang ada di dalamnya harus dibuang.

“Sudah resiko sih tinggal di dekat sungai. Tapi ini banjir paling parah selama 14 tahun,” kata pria paruh baya ini.

Editor: Luhur Hertanto

Laporan: Doni Agus Setiawan

metrotvnews.com Rabu, 29 Januari 2014 | 20:28 WIB

***

Telah Dua Pekan Jakarta Dilanda Banjir

Jumlah Jalan Rusak di Jakarta Bertambah 133,6 Persen

Jakarta: Dalam tempo dua pekan terakhir Jakarta dilanda banjir. Akibatnya jumlah titik kerusakan pada ruas jalan bertambah cukup signifikan yaitu mencapai 133,6%.

Bila dihitung per tanggal 28 Januari, jalan rusak mencapai 3.905 titik pada 521 ruas jalan. Angka ini meningkat sebanyak 2.234 titik ruas jalan dibandingkan jumlah titik ruas jalan rusak per tanggal 16 Januari lalu.

“Bila dilihat dari sisi waktu, jalan rusak terjadi setiap 2,6 menit. Hal itu bisa dilihat dari selama 14 hari dikalikan 60 menit. Hasilnya 840 menit dibagi dengan pertambahan kerusakan jalan sebanyak 2.234 titik,” kata Humas Dinas PU DKI Jakarta, Puka Yanwar, di Jakarta, Rabu (29/1).

Puka menambahkan, dari jumlah 3.903 titik jalan rusak tersebar di lima wilayah Jakarta. Total luas jalan rusak di lima wilayah Ibu Kota seluas 119.448,5 meter persegi.

“Ruas jalan yang diperbaiki sebanyak 161 ruas. Sisanya kami sedang mengupayakan perbaikan segera di sebanyak 351 ruas jalan rusak,” kata Puka.

Dia merinci jalan rusak yang terjadi di kawasan Jakarta Pusat terdapat 116 ruas pada 437 titik. Luas jalan rusak di kawasan ini mencapai 7.177,5 meter persegi.

Di wilayah Jakarta Utara terdapat 136 ruas jalan rusak pada titik jalan sebanyak 2.590 titik seluas 81.049 meter persegi. Hingga saat ini sudah ada sebanyak 32 ruas jalan rusak yang diperbaiki, sedang sisanya 104 ruas jalan belum diperbaiki.

“Lalu di wilayah Jakarta Barat total ruas jalan rusak sebanyak 108 ruas jalan pada 210 titik ruas jalan rusak seluas 7.649 meter persegi. Dari jumlah itu baru sebanyak 75 ruas jalan diperbaiki, namun ada 32 ruas jalan belum diperbaiki,” ujarnya Puka.

Selanjutnya, jalan rusak di wilayah Jakarta Selatan tercatat di sebanyak 153 ruas jalan seluas 14.885 meter persegi. Yang sudah diperbaiki sebanyak 33 ruas jalan dan 120 ruas jalan rusak lain belum diperbaiki, kata Puka.

Di wilayah Jakarta Timur terdapat 115 ruas jalan rusak dengan 668 titik jalan rusak seluas 8.688 meter persegi. Hingga saat ini sudah ada 20 ruas jalan yang diperbaiki dan 95 ruas jalan belum diperbaiki. (Selamat Saragih)

Editor: Irvan Sihombing/ Metrotvnews.com, Rabu, 29 Januari 2014 | 19:27 WI

***

Bersabarlah Wahai Saudaraku Menghadapi Musibah Ini

Posted by Admin pada 01/10/2009

Sabar dan tetaplah bersabar wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, dengan tetap memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan banyak memanjatkan doa kepada-Nya. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ummu Salamah ketika beliau tertimpa musibah:

Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada Allah kita akan kembali. Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik dengannya.” (HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha)

Hikmah Ilahi di balik musibah gempa

Di sebuah tempat di negeri ini, seorang ibu berkerudung tengah duduk ditemani tiga anaknya. Di depannya tampak sebuah rumah yang hampir rata dengan tanah. Itulah harta berharganya yang telah terenggut oleh gempa. Hampir tak ada lagi yang tersisa setelah itu.

Namun sedikitpun tidak tampak gurat kesedihan pada dirinya. Padahal kini dengan sisa harta yang tidak seberapa, dia harus berjuang untuk hidup. Ia pun mesti mengubur dalam-dalam bayang kenyamanan tinggal di sebuah rumah. Karena ‘rumah’-nya kini, hanya beralaskan bumi dan beratapkan langit.

Apapun yang terjadi, dia tetap memiliki sebuah keyakinan bahwa di balik itu semua ada hikmah dari Rabb subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan di dalam Al-Qur’an:

الم ﴿١﴾ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿۳﴾ [العنكبون: ١ – ۳]

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al -‘Ankabuut: 1-3)

Saudara-saudaraku seiman -semoga Allah merahmatimu-, selama hayat masih di kandung badan, selama jantung masih berdetak dan darah masih mengalir, demikian pula selama nafas masih berhembus, adalah sebuah kemestian jika cobaan, rintangan, musibah demi musibah, silih berganti mendatangi kita, sebagaimana yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan dalam ayat di atas.

Perlu kita ketahui pula bahwa segala sesuatu yang menimpa kita, kebaikan maupun kejelekan, kesenangan ataupun kesedihan, dan yang lainnya, merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan dan ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala nyatakan dalam firman-Nya:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴿٢٢﴾ [الحديد: ٢٢]

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)

Takdir ini telah Allah subhanahu wa ta’ala tentukan 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah telah menulis takdir-takdir seluruh makhluq (pada kitab lauh mahfudz) 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash radhiyallahu ‘anhu)

Dengan demikian kita sadar bahwa gempa yang merobohkan rumah-rumah kita, mengubur harta kita, dan melukai saudara-saudara kita, bahkan menyebabkan terambilnya sebagian nyawa mereka, semuanya telah Allah Subhanahu wa ta’ala takdirkan. Tiada seorangpun yang mampu untuk mengelakkannya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin bahwa apa yang harus menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa-apa yang luput darimu tidaklah akan menimpamu.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Ibnu Abbas)

Apa Rahasia di Balik itu Semua?

Apakah Allah subhanahu wa ta’ala hendak berbuat dzalim kepada hamba-Nya atau menyakitinya? Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Allah akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu).

Hadits tersebut menjelaskan bahwa apabila Allah subhanahu wa ta’ala menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menyegerakan hukuman baginya di dunia. Maka bergembiralah, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin! Karena musibah ini kita harapkan sebagai bukti bahwa Allah lmenghendaki kebaikan untuk diri-diri kita, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:

Barangsiapa dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Allah akan menimpakan baginya musibah.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Janganlah patah semangat, wahai saudaraku kaum muslimin, atas musibah apapun yang menimpamu, karena itu akan menjadikan besar pula pahalamu, sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam:

Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung dengan besarnya ujian/musibah yang menimpamu.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas radhiyallahu ‘anhu)

Bangkitlah wahai saudaraku! Karena ini merupakan bukti bahwa Allah lmencintaimu, sebagaimana sabda Rasulmu shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka ia akan mendapatkan keridhaan Allah, dan barangsiapa yang murka maka ia akan mendapatkan kemurkaan dari Allah.”

Besarkanlah hatimu wahai kaum muslimin! Karena ini merupakan tanda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa-dosamu, sehingga meringankanmu di hari perhitungan nanti. Sebagaimana ini dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

Cobaan akan terus senantiasa menimpa seorang mukmin, laki-laki dan wanita, baik pada jiwanya, anaknya, demikian pula hartanya sehingga ia berjumpa dengan Allah (meninggal) dan tidak ada padanya satu dosapun (tidak menanggung satu dosapun).”

Sabar dan tetaplah bersabar wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, dengan tetap memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan banyak memanjatkan doa kepada-Nya. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ummu Salamah dketika beliau tertimpa musibah:

Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada Allah kita akan kembali. Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik dengannya.” (HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha)

Sepantasnya kaum muslimin senantiasa memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memilihnya untuk dihapuskan dosa-dosanya, bertambah banyak pahalanya, dan akan Allah angkat derajatnya.

Sekalipun rumah hancur atau harta musnah, namun kenikmatan yang agung tetap ada pada kita. Yaitu kenikmatan iman dan kenikmatan Islam, sebagaimana yang Allah firmankan:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah:3)

Dikutip dari: Salafy.or.id offline Penulis oleh Al-Ustadz Abdul Haq, Judul: Hikmah Ilahi di balik musibah gempa

Diarsipkan pada: http://qurandansunnah.wordpress.com/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 895 kali, 1 untuk hari ini)