بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

banjir-ilustrasi_83426575238

Banjir berupa air yang lewat bahkan menggenang sementara karena meluap dari salurannya, telah menimpa penduduk Jakarta.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, DR. Sutopo Purwo Nugroho,  menjelaskan, banjir menggenangi 500 RT, 203 RW di 44 kelurahan yang tersebar di 25 kecamatan. Jumlah penduduk yang terendam 25.276 KK atau 94.624. “Pengungsi mencapai 15.447 jiwa. Data sementara tercatat 5 orang meninggal sejak Selasa (15/1) hingga hari ini. Pendataan masih dilakukan,” ujarnya dalam rilisnya kepada Tribun, Kamis (17/1/2012).

Mereka yang terkena musibah banjir itu berupaya untuk menyelamatkan diri dan barang-barangnya. Kesedihan dan rasa cape hingga kelelahan, kurang tidur, kurang makan- minum dan berbagai derita menyeliputi jiwa mereka.

Setelah banjir surut, mereka harus cepat-cepat membersihkan lantai rumah masing-masing yang biasanya tergenangi lumpur cukup tebal. Bila lumpur yang masuk ke rumah-rumah itu tidak disiasati dengan cara didorong agar ikut hanyut bersama surutnya banjir, maka kemungkinan bisa mencapai hampir sedengkul. Dapat dibayangklan, betapa repotnya membersihkan rumah yang penuh lumpur.  Dan yang kadang lebih sedih lagi, baru saja mereka bekerja keras membersihkan rumah dari genangan lumpur, tahu-tahu banjir pun datang lagi. Hingga mereka harus lari mengungsi lagi sambil menunggu detik-detik kapan mau surutnya banjir, untuk menggiring lumpur lagi. Dapat dibayangkan, betapa cape’nya mereka. Belum lagi kalau lumpurnya itu bau dan kotor banget, entah karena ada bangkai atau memang dari selokan-selokan yang sangat kotor. Maka betapa melelahkannya  dalam membersihkannya.

Itulah limbah, kotoran, dan lumpur yang mesti harus dibersihkan. Bahkan lumpur yang menggenang di jalan-jalan raya setelah terkena banjir pun sangat membahayakan bagi pengendara sepeda motor bahkan pejalan kaki. Betapa banyaknya pengendara motor yang jatuh terpeleset akibat jalanan berlumpur yang licin setelah banjir.

Demikianlah sifat banjir fisik yang melelahkan manusia.

Ada hikmah

Di balik itu, ada hikmah. Bagi orang yang terketuk hatinya, mereka memberikan bantuan apa saja untuk meringankan beban. Bila itu ikhlas lillahi Ta’la maka insya Allah mereka yang mengulurkan bantuan itu mendapatkan pahala. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berrsabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ(رواه عبد الرزاق ، وأحمد ، ومسلم ، وأبو داود ، والترمذى ، وابن ماجه ، وابن حبان عن أبى هريرة)

“Barangsiapa meringankan satu kesusahan seorang muslim di dunia, maka Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (HR Abdul Razzaq, Muslim, Abu Daud  NO – 4295, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah, shahih).

Demikian pula bila seorang Muslim yang tertimpa musibah itu bersabar, maka insya Allah baik baginya.

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “perkara orang mu`min itu mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” (HR Muslim NO – 5318).

Menimbulkan dosa

Sebaliknya, musibah itu juga akan menimbulkan dosa bagi orang-orang yang tidak tepat dalam menyikapinya. Misalnya, menggerutu sampai mencaci masa. Atau sama sekali tidak peduli terhadap penderitaan sesama Muslim, bahkan senang dengan penderitaan mereka. Atau bahkan lebih dari itu, misalnya justru menggelapklan bantuan yang seharusnya sampai kepada muslimin yang kena musibah. Sehingga banjir pun termasuk dalam ujian iman pula.

Banjir jenis lain yang lebih berbahaya

Ketika banjir berupa air keruh yang menyisakan lumpur, maka manusia bersegera  membersihkannya. Bila tidak, tentu saja rumah-rumah akan tidak nyaman lagi dihuni.

Coba kita bandingkan. Bila banjir itu bukan air dan lumpur tapi adalah lontaran kata-kata yang berisi lebih kotor dibanding lumpur-lumpur. Misalnya lontaran kata-kata pembelaan terhadap kekufuran, kemusyrikan, kesesatan, kemusyrikan baru dengan aneka macam istilah (liberalism agama, pluralism agama, multikulturalisme dan sebagainya), yang semua itu mengotori iman; apakah banyak manusia yang menyadarinya?

Apakah banyak manusia yang ingin membersihkan dari banjir lumpur berupa gelontoran kata-kata yang merusak iman itu?

Coba kita bandingkan, seandainya ada orang yang sengaja mengalirkan air comberan ke dalam rumah-rumah penduduk, dan di sisi lain ada orang-orang yang menggelontorkan perkataan yang mengotori iman penduduk Muslimin. Manakah yang akan ramai-ramai ditangkap dan mungkin langsung dipukuli? Tentu orang yang sengaja mengalirkan air comberan ke dalam rumah penduduk. Padahal, lebih jahat dan lebih bahaya mana? Tentu lebih jahat dan lebih bahaya yang menyebarkan kata-kata yang merusak iman, mempengaruhi untuk membela kemusyrikan baru, kekafiran, dan kesesatan itu. Karena mereka jelas menjerumuskan manusia ke kemurkaan Allah. Sedangkan Ummat Islam ini yang dicari adalah ridha Allah. Namun mereka yang membanjiri Ummat Islam dengan pendapat-pendapat, kata-kata, bahkan kebijakan yang mendukung kekufuran, kemusyrikan, dan kesesatan itu menjerumuskan Ummat Islam ke kemurkaan Allah. Karena  Allah murka terhadap kekufuran.

وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; (QS Az-Zumar/39: 7).

Banjir yang mereka bikin berupa gencarnya mempengaruhi Ummat Islam agar rela terhadap kekafiran, kemusyrikan, dan kesesatan itu justru dilaksanakan secara beramai-ramai oleh manusia-manusia durjana dan durhaka kepada Allah Ta’ala namun berlagak seakan mengemban kepentingan bersama. Sejatinya mereka lebih jahat dibanding orang yang menggelontorkan air comberan ke rumah-rumah penduduk. Sayangnya, banyak Ummat Islam belum mampu menyadari kejahatan mereka itu.

Banjir perusak iman lewat televisi

Sebagaimana manusia tidak menyadari, banjir perusakan iman yang digelontorkan lewat televise dengan aneka tayangan. Padahal akibatnya sangat dahsyat.

Betapa ngerinya ketika kita menyadari limbah kotor yang digelontorkan televise berupa tontonan wanita yang mengumbar aurat, berpakaian ketat atau mini, pergaulan bebas dan sebagainya. Hinga para wanita di aneka tempat kini telah menirukan tingkah artis dan pelawak yang sama sekali tidak menjaga aurat bahkan moral.

Betapa merajalelanya banjir dahsyat pengaruh mengumbar aurat dan berpakaian ketat atau bahkan mini melanda wanita, padahal di kalangan mayoritas Muslimin bahkan jumlahnya terbesar di dunia. Para wanita telah banyak yang kasiyat ‘ariyat, berpakaian tetapi telanjang. Itu akibat derasnya banjir perusakan moral dan iman lewat televise dan sebagainya. Padahal betapa dahsyatnya ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para wanita yang kasiyat ‘ariyat itu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat. (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang. (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat, atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak masuk surga, dan tidak mendapatkan bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan begini dan begini.” (HR Muslim  NO – 3971)

 ( ولا يجدن ريحها وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا ) أي من مسيرة أربعين عاماً كما في رواية

التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (2 / 185)

“Wanita-wanita tersebut tidak masuk surga, dan tidak mendapatkan bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan begini dan begini.” Artinya dari jarak perjalanan empat puluh tahun sebagaimana dalam suatu riwayat. (Al-Munawi, syarah Al-Jami’ As-Shaghir huruf shad).

Betapa dahsyatnya bahaya yang melanda para wanita Muslimah akibat banjir yang digencarkan aneka tayangan televise dan lainnya berupa perusakan moral dan iman, hingga menjadikan para wanita mengikuti gaya pakaian syetan yang sangat menyeret ke neraka. Namun, apakah para manusia peduli untuk membersihkan itu semua? Atau bahkan menikmatinya?

Limbahnya lebih kotor dibanding banjir biasa

Banjir yang sifatnya maknawi dengan merusak moral dan iman ini tidak diprotes orang dan seolah tidak dibersihkan. Padahal limbahnya lebih kotor dan lebih berbahaya dibanding lumpur banjir biasa. Namun kadang justru bahaya besar itu diucapkan dengan kata-kata sambil cengengesan atau bahkan dianggap tidak ada bahayanya, hingga enteng saja. Padahal perkataan dan pengaruh yang mereka lontarkan sangat berbahaya.

Oleh karena itu Allah langsung yang mengancam mereka lewat Nabi-Nya yang bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

“Bisa jadi seseorang mengatakan satu patah kata yang menurutnya tidak apa-apa tapi dengan kalimat itu ia jatuh ke neraka selama tujuhpuluh tahun.” Berkata Abu Isa: hadits ini hasan gharib melalui sanad ini. (HR At-Tirmidzi No 2236)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sungguh seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang diridlai Allah, suatu kalimat yang ia tidak mempedulikannya, namun dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang dibenci oleh Allah, suatu kalimat yang ia tidak memperdulikannya, namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR Al-Bukhari no. 5997).

Mereka sejalan dengan Fir’aun tapi tanggung

Banjir air dan lumpur mudah dibersihkan. Namun banjir suara dari mulut-mulut yang membela kekafiran, kemusyrikan baru (sepilis, sekularisme, pluralism agama, liberalism), dan kesesatan tidak mudah dibersihkan, sedangkan bahayanya pun lebih besar.

Untuk apa mereka itu membela kekafiran, kemusyrikan baru, dan kesesatan?

Untuk memadamkan Islam, walau mereka mengaku sebagai orang Islam, bahkan tokoh, atau bahkan tokoh ormas Islam atau partai Islam. Memadamkan Islam itu pun sia-sia, hanya akan menyengsarakan diri mereka sendiri. Allah menyifati kejahatan mereka dengan firman-Nya:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ  [التوبة : 32]

32. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS At-Taubah/9:32).

Ketika manusia tidak becus mengatasi banjir dan lumpur, mereka masih dimaklumi. Tetapi ketika tokoh-tokoh pembela kekafiran, kemusyrikan baru dan kesesatan membanjiri Ummat Islam dengan kata-kata lewat media massa yang juga menyerang Islam; maka tidak boleh dimaklumi, namun wajib ditolak, dan disebarkan bahwa itu besar bahayanya bagi Ummat Islam. Dan mudah-mudahan Ummat Islam yang menolak dan memberitahu kepada Ummat agar tahu bahwa itu berbahaya ini termasuk orang-orang yang dinilai Allah Ta’ala sebagai orang yang membela agama-Nya di hadapan para musuh-Nya.

Banjir yang hanya membawa lumpur saja dibersihkan lumpurnya, apalagi banjir  jenis lain yang mengotori keimanan, maka harus dibersihkan. Sudah siapkah wahai saudara-saudaraku?!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7) وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (8) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ  [محمد : 7 – 9]

7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

8. Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka.

9. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (QS Muhammad/ 47: 7-9).

Betapa beruntungnya Ummat Islam yang membela agama Allah. Sebaliknya, betapa ruginya orang-orang yang memadamkan cahaya (agama Allah). Padahal apa-apa yang mereka miliki berupa kepintaran, jabatan, ketokohan dalam kekuasaan atau ormas atau partai, pengaruh, dan harta bila mereka gunakan untuk membela agama Allah, maka betapa bagusnya. Namun sayang, ternyata banyak orang yang justru menggunakan kepintarannya, jabatannya, ketokohannya, pengaruhnya, hartanya dan sebagainya itu untuk memadamkan cahaya (agama) Allah. Dan itu sifatnya tanggung. Tidak seberapa, namun celakanya tidak beda dengan Fir’aun dan wadyabalanya. Betapa tercela dan ruginya. Hidup di dunia ini seharusnya untuk mengumpulkan bekal untuk hidup agar bahagia di akherat kelak, tahu-tahu sebagian banyak manusia justru sebaliknya. Yakni hakekatnya mereka hanya menjermuskan diri mereka sendiri, namun mereka tidak menyadari. Na’udzubillahi min dzalik!

(Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 448 kali, 1 untuk hari ini)