Fungsi perbankan sebenarnya sudah terjadi di zaman Salaf. Hanya pastinya, namanya kala itu bukanlah ‘bank’. Karena secara global, bank adalah lembaga yang melaksanakan 3 fungsi utama, yaitu:

  1. Menerima simpanan uang
  2. Meminjamkan uang
  3. Memberikan jasa pengiriman uang

Kita katakan: ‘fungsi perbankan’ sudah tergiatkan di zaman Salaf, tidak berarti bahwa di zaman Salaf sudah ada bank. Institusi bank asalnya tidak dikenal dalam kosa kata fiqh Islam, karena memang asalnya tidak dikenal oleh masyarakat Islam. Bank itu katakanlah hanya suatu istilah modern, yang tidak haram mutlak secara dzat dan tidak halal mutlak secara dzat. Ibarat kartu-kartu muhdatsah yang hanya ada di zaman sekarang, seperti kartu bayar tol, kartu kredit, kartu debit, dan seterusnya. Halal atau haramnya tergantung dari fungsi, penggunaan dan ikutannya.

Dahulu di zaman Salaf, umumnya kegiatan ekonomi dan fungsi perbankan dilakukan dengan sangat memperhatikan prinsip-prinsip mu’amalah syar’iyyah sebagai berikut:

  1. Menghindari perdagangan materi yang haram secara dzat, entah karena najisnya atau karena faktor lain. Contoh: minuman keras, bangkai, daging babi dan lainnya.
  2. Menerapkan prinsip ‘an taradhin minkum’ (rela atau suka sama suka) dan ‘la tazhlimun wa la tuzhlamun’ (tidak menzhalimi dan tidak dizhalimi). Berangkat dari prinsip ini, lahirlah undang-undang syariah berkaitan dengan masalah tadlis, gharar, ihtikar, najasy, riba, maysir/qimar, risywah dan seterusnya.
  3. Memperhatikan rukun dan syarat sah transaksi.

Dahulu Salaf memperhatikan 3 prinsip di atas. Dan merekalah contoh terbaik untuk kaum Muslimin kapanpun dan dimanapun. Namun dalam perkembangan dunia ekonomi berikutnya, datanglah bangsa Eropa yang mulai menjalankan praktik perbankan dan fungsinya. Persoalan mulai timbul disebabkan transaksi yang mereka lakukan menggunakan instrumen bunga.

Raja Henry VIII pada tahun 1545 membolehkan bunga sekalipun kala itu tetap mengharamkan riba. Bunga dengan riba memiliki perbedaan. Bunga disebut Interest. Riba disebut Usury. Usury itu lebih umum daripada interest. Dan pada asalnya, baik di kalangan Yahudi maupun Nashrani, Usury atau Riba adalah haram.

Karena itulah setelah Raja Henry VIII wafat digantikan oleh Raja Edward VI, barulah pembolehkan bunga uang (interest) dibatalkan. Tapi tidak berlangsung lama. Setelah wafat, Ratu Elizabeth I kembali membolehkan praktik pembungaan uang.

Maka bisa kita lihat bagaimana perekonomian Eropa sangat kental dengan riba dan bunga. Mereka juga menancapkan kuku di negara-negara Muslim. Kaum Muslimin yang tidak mempelajari 3 prinsip dasar Islam dalam ranah Mu’amalah, tanpa ragu ikut arus Barat dalam perbankan. Sehingga ketika ditanya dimana kerjanya lalu menjawab “Di Bank”, makan kesannya mapan dan banyak uang. Dan gengsi lebih tinggi.

Padahal, bank ribawi adalah institusi terjahat, terhalus dan paling resmi dalam melakukan kecurangan bahkan bisa jadi perampokan. Kendatipun begitu, manusia modern ini tak ada yang bisa menjauh dari mereka. Sekalipun tidak ridha berdekatan, mau tidak mau semuanya terkena percikan. Sudah diceritakan oleh Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-:

“Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu masa, yang ketika itu semua orang memakan riba. Yang tidak makan secara langsung, akan terkena debunya.” [H.R. An-Nasa’i, namun didhaifkan oleh beberapa ulama]

Kaum Muslimin tidak bisa tidak kecuali harus belajar pula Fiqh Islam. Terutama Muslimin perkotaan. Terutama pebisnis bahkan termasuk pula pegawai. Jangankan yang belum, yang telah mempelajari pun belum tentu bisa mempraktekkan 100% dan menghindari yang haram dari mu’amalah. Masih ada teman-teman kita yang kita tegur mengapa jenggot selalu dipangkas habis namun dengan entengnya menjawab, ‘Tuntutan kerja’ tanpa ada rasa bersalah atau ada usaha mencari kerja lain. Itu masih lebih ringan dibandingkan sektor ribawi.

Maka, mari belajar. Kalau merasa sudah hilang kesempatan untuk belajar, maka berarti Anda sudah mati. Sekalipun merasa masih hidup, tapi sebentar….Anda sudah mati.

Via Fb Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunka.com)