Banner Tolak Syiah Terbentang di Probolinggo, Kesepakatan NU, MUI dan Muspika



PROBOLINGGO- Banner berisi penolakan terhadap aliran Syiah terbentang di sejumlah titik di Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Banner penolakan atas ajaran Syiah tersebut bertuliskan “Kami Masyarakat Desa Jangur Menolak Keras Faham Syiah dan Kegiatan yang Berhubungan Faham Syiah”.

Marzuki Zarkasih, warga setempat mengatakan penolakan tersebut dialamatkan pada salah satu figur diduga tokoh Syiah bernama Hasan Fadli.

Menurut Marzuki, Hasan sering melaksanakan kegiatan-kegiatan Syiah termasuk ritual Karbala dengan dibungkus santunan duafa dan anak yatim.

“Bahkan beberapa buku yang berkaitan dengan ajaran Syiah juga sudah tersebar di desa ini,” katanya, Jumat ( 25/10/2019).

Terkait penolakan tersebut, Marzuki mengatakan telah menjadi keputusan bersama Majelis Wakil Cabang (MWC) NU, MUI, Koramil dan Kapolsek serta kecamatan (Muspika).

“Warga khawatir jika ini dibiarkan, faham Syiah akan meracuni anak cucu,” ujarnya.

Banner penolakan atas ajaran Syiah tersebut ada sekitar 5 buah yang terpasang di sejumlah titik, termasuk di pertigaan jalan dan pintu masuk masjid.

Sumber: Jatimpos.id

***

Di daerah-daerah lain kapan menyusul?


 


 


 

[portal-islam.id] 26 Oktober 2019.

***

Fatwa MUI Jawa Timur tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah


KEPUTUSAN FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

(MUI) PROP. JAWA TIMUR

No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012

MEMUTUSKAN

1.      Mengukuhkan dan menetapkan keputusan MUI-MUI daerah yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.

  1. Menyatakan bahwa penggunaan Istilah Ahlul Bait untuk pengikut Syi’ah adalah bentuk pembajakan kepada ahlul bait Rasulullah Saw.
  2. Merekomendasikan:
    1. Kepada Umat Islam diminta untuk waspada agar tidak mudah terpengaruh dengan faham dan ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya)
    2. Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam
    3. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar tidak memberikan peluang penyebaran faham Syi’ah di Indonesia, karena penyebaran faham Syi’ah di Indonesia yang penduduknya berfaham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah sangat berpeluang menimbulkan ketidakstabilan yang dapat mengancam keutuhan NKRI.
    4. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku antara lain membekukan/melarang aktivitas Syi’ah beserta lembaga-lembaga yang terkait.
    5. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga harus ada penanganan secara komprehensif.
    6. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani aliran menyimpang karena hal ini bukan termasuk kebebasan beragama tetapi penodaan agama.
    7. Kepada Dewan Pimpinan MUI Pusat dimohon agar mengukuhkan fatwa tentang kesesatan Faham Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah sebagai fatwa yang berlaku secara nasional.

Surabaya    27 Shofar 1433 H

21 Januari  2012 M

 
 

DEWAN PIMPINAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)

PROPINSI JAWA TIMUR

 
 

Ketua Umum                                     Sekretaris Umum

KH. Abdusshomad Buchori                 Drs. H Imam Tabroni, MM

bachtiarnasir.net

(nahimunkar.com)

Fatwa selengkapnya dapat dibaca di link ini: https://www.nahimunkar.org/fatwa-mui-jawa-timur-tentang-kesesatan-ajaran-syiah/

 

***

 

MUI Pusat mensahkan dan mendukung Fatwa MUI Jatim tentang Kesesatan Syiah


 


Kaum Muslimin Indonesia hendaknya bersyukur pada Allah subhana wa ta’ala, pasalnya penjelasan MUI Pusat tentang Fatwa MUI Jatim yang mengatakan Syiah adalah Sesat dan Menyesatkan yang selama ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang sudah lama kebingunan akhirnya keluar juga.

Dalam penjelasannya di Harian Republika pada hari ini (8/11/2012), Ketua MUI Pusat, KH. Ma’ruf Amin mengatakan, “Setelah melakukan serangkaian penelitian dan berkonsultasi dengan MUI Pusat, MUI Jatim mengukuhkan fatwa serupa. Mencermati hal itu, penulis menyimpulkan, bahwa Fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah sudah pada tempatnya dan sesuai aturan.”

KH. Ma’ruf Amin adalah ulama di MUI Pusat yang diberikan amanah oleh Dewan Pimpinan MUI Pusat untuk dapat berbicara atas nama MUI, selain beliau di jajaran ketua-ketua MUI Pusat tidak berhak mengeluarkan statement dan pernyataan tentang berbagai masalah atas nama MUI, seperti Umar Shihab yang selama ini banyak mengeluarkan pernyataan bahwa Syiah tidak sesat. Ini sesuai dengan rapat Dewan Pimpinan MUI Pusat hari Selasa, 9 shafar 1433 H/ 3 jan 2012. Agendanya membahas masalah syiah. Hasilnya antara lain sbb :

  1. Rapat memutuskan Umar Shihab (salah satu ketua MUI, bukan ketua umum!) bersalah karena menyatakan Syiah tidak sesat dengan mengatasnamakan institusi MUI. Yang berhak memberi statement adalah K.H. Ma’ruf Amin (selaku koordinator Ketua II MUI) atau yg ditunjuk oleh Rapim DP MUI.
  2. MUI tetap konsisten dengan Keputusan Rakernas MUI tgl 7 Maret 1984 tentang faham Syiah (yang berbeda dengan ahlussunnah dan wajib diwaspadai).

Sebelumnya, MUI Pusat  juga mengukuhkan dan mendukung Fatwa MUI Sampang tentang kesesatan Syiah, beliau mengatakan, “Berdasarkan bukti-bukti lapangan, akhirnya MUI Sampang menetapkan bahwa ajaran Syiah yang diajarkan Tajul Muluk adalah menyimpang dan ditetapkanlah fatwa sesat terhadap ajaran tersebut. Dalam kajian MUI Pusat, fatwa MUI Sampang tersebut sudah memenuhi aturan dalam menetapkan sebuah fatwa, sebagaimana diatur dalam internal MUI. Fatwa tersebut juga telah memenuhi aspek sistematika, yakni melakukan studi lapangan, studi kitab-kitab rujukan, merujuk fatwa MUI tahun 1984, dan menggunakan tool kriteria aliran menyimpang, sebagaimana hasil keputusan Rakernas MUI tahun 2007.”

MUI Daerah Punya Wewenang

Banyak di antara orang-orang Syiah atau yang pro ke Syiah menanggapi Fatwa MUI Jatim bahwa itu hanyalah Fatwa untuk daerah Jawa timur saja yang bersifat lokal, maka MUI Pusat melalui KH. Ma’ruf Amin menjawab, “MUI Juga mempunyai enam aturan khusus terkait dengan kewenangan dan wilayah fatwa ini. Dalam aturan itu jelas bahwa MUI (MUI Daerah-red) juga punya kewenangan menetapkan fatwa sepanjang hal itu belum difatwakan MUI Pusat. Dan. fatwa MUI Daerah itu juga hendaknya telah dikonsultasikan dengan MUI Pusat.”

Fatwa MUI Pusat tidak dapat membatalkan Fatwa MUI Daerah

Dalam penjelasannya, beliau mengatakan, “Apakah fatwa MUI daerah bisa direvisi atau dibatalkan? Pada hakikatnya, fatwa MUI merupakan hasil ijtihad jama’i (ijtihad kolektif) yang dilakukan oleh para pengurus MUI, baik pusat atau daerah, khususnya yang ada di komisi fatwa. Sebagai hasil ijtihad, fatwa tidak bisa dibatalkan, dianulir, atau direvisi sesuai kaidah al-ijtihadu la yanqudhu bil-ijtihadi. Hasil ijtihad pun tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya.” 

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com) KAMIS, NOVEMBER 08, 2012  LPPI MAKASSAR

 

Posted on 9 November 2012

by Nahimunkar.com

 

 

***

 

Semua Syiah Sesat

Posted on 1 Oktober 2012by Nahimunkar.com

Zaidiyyah selama ini digolongkan sebagai faksi moderat dalam Syiah. Namun Hartono Ahmad Jaiz punya pandangan lain. Ulama yang terkenal dengan bukunya “Ada Pemurtadan di IAIN”, menggolongkan Zaidiyyah sama dengan Syiah pada umumnya.

 

“Belakangan Syiah Zaidiyyah sudah sesat. Mereka sudah terkontaminasi sejak utusannya pergi ke Iran,” tandasnya kepada Islampos.com, Ahad, 30/9/2012, di Universitas Indonesia.

 

Hartono mengambil kasus penyerangan Syiah Zaidiyyah terhadap Ahlus Sunnah (Umat Islam) di Dammaj, Yaman.

 

“Mereka menyerang ahlus sunnah setelah pergi ke Iran. Jadi bohong jika ada Syiah yang tidak sesat,” bebernya.

 

Hartono juga meminta umat Islam untuk tidak mencari-cari persamaan antara Syiah dengan Ahlus Sunnah (Islam).

 

“Rukun Iman dalam Islam dan Syiah saja sudah berbeda. Bahkan bagi Syiah tingkatan Imam lebih tinggi dibanding nabi,” tegasnya.

 

Sebelumnya, Syaikh Mahir Al Munajib, ulama dari Suriah, juga berpendapat senada. Dalam Kajian Islam di Mesjid Muhammad Ramadhan, Bekasi, Ahad, (2/9/2012) ia membeberkan bahwa kebanyakan Syiah Rafidhoh dan golongan Syiah lainnya akan mengaku (taqiyah) Zaidiyah ketika posisi mereka lemah. Ketika mereka kuat, maka mereka akan menampakkan wujud aslinya dalam menghina sahabat, bahkan membantai Ahlus Sunnah (Umat Islam). (Pizaro/Islampos.com) 01 Oct 2012 | Berita Nasional | pizaro

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 601 kali, 1 untuk hari ini)