Barisan Ansor Serbaguna (Banser) membisu ketika ada demo membawa bendera bintang kejora, namun berteriak ketika ada seseorang membawa bendera tauhid.

 

Demikian dikatakan aktivis politik Rahman Simatupang dalam pernyataan kepada suaranasional, Jumat (23/8/2019). “Bendera bintang kejora itu simbol Papua merdeka,” ungkapnya.

 

Kata Rahman, harusnya Banser mempunyai sikap konsisten dalam membela NKRI ketika ada sekelompok yang mengibarkan maupun membawa bendera bintang kejora.

 

“Petinggi Banser maupun anak buahnya diam saja. Berbeda ketika ada orang membawa bendera Tauhid langsung dituding radikal, HTI seperti yang menimpa Enzo,” ungkap Rahman.

 

Selain itu, Rahman kecewa, aparat polisi membiarkan demonstran membawa (bendera) bintang kejora. “Polisi terlihat lemah dalam menghadapi kelompok pendukung Papua merdeka,” pungkas Rahman. /https://suaranasional.com
23/08/2019


***

 

Terungkap, Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid Sebanyak 12 Orang Anggota Banser NU


Posted on 29 Oktober 2018

by Nahimunkar.com


Foto ytb

Ustaz Haikal Hassan menyebut jumlah pelaku pembakaran bendera adalah sebanyak 12 orang anggota Banser NU Garut.

Hal tersebut diungkapkan Ustaz Haikal Hassan dalam tausiah yang diunggah Channel TQ Salam pada Jumat (26/10/2018).

Dalam rekaman video tersebut, Ustaz Haikal mengaku bertemu langsung dengan para pelaku pembakaran.

Ustaz Haikal Hassan pun bertanya langsung kepada para pelaku pembakaran.

Ketiganya bernama Faisal, Muhidin dan Aziz.

Inilah beritanya.

***

Ustaz Haikal Hassan Interogasi Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid di Garut

 

USTAZ Haikal Hassan mengunggah sejumlah fakta terkait kasus bendera‘>pembakaran benderatauhid yang dilakukan oleh Anggota Barisan Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) dalam perayaan Hari Santri Nasional di Lapangan Alun-Alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10/2018) lalu.

Fakta tersebut meliputi jumlah pelaku pembakaran serta kronologis kejadian sebelum bendera Ar Royah itu dibakar.

Fakta pertama adalah jumlah pelaku pembakaran bendera yang disebut pihak Kepolisian sebanyak tiga orang.

Ustaz Haikal Hassan menyebut jumlah pelaku  pembakaran bendera adalah sebanyak 12 orang anggota Banser NU Garut.

Hal tersebut diungkapkan Ustaz Haikal Hassan dalam tausiah yang diunggah Channel TQ Salam pada Jumat (26/10/2018).

Dalam rekaman video tersebut, Ustaz Haikal mengaku bertemu langsung dengan para pelaku pembakaran.

Ceramah Ustaz Haikal

Mereka katanya sangat takut, berbeda ketika saat membakar bendera Ar Royah dan memngenakan seragam loreng Banser NU.

Ketika bertemu dengannya, para pelaku katanya membungkuk sembari melipat tangan.

“Jangan lupa, saya bocorin satu lagi satu (fakta). Bukan tiga yang bakar, dua belas orang, saudara. Galak pada waktu bakar, pada waktu ketemu saya gini,” ungkapnya menirukan gestur para pelaku pembakaran yang menunduk ketakutan.

Ustaz Haikal Hassan pun bertanya langsung kepada para pelaku pembakaran.

Ketiganya bernama Faisal, Muhidin dan Aziz.

Serupa dengan gaya jenakanya ketika memberi tausiah, Ustaz Haikal Hassan mengulas kembali perjumpaannya dengan ketiga pelaku pembakaran Ar Royah.

“Iye ustaz’, ‘Kamu siapa namanya?’, ‘Faisal’. Kamu?.. Mukidi, eh Mukidi, Muhidin-Muhidin,” celoteh Ustaz Haikal Hassan memancing tawa jemaahnya.

“Kamu Siapa?’, ‘Aziz’. ‘Kenapa kamu bakar?’, ‘karena pimpinan kami menyuruh tidak boleh bendera lain selain bendera merah putih, jadi itu kami bakar inisiatif kami sendiri’. ‘Kamu menyesal?’, ‘menyesal Ustaz’,” cerita Ustaz Haikal Hassan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Haikal Hassan mengungkap fakta jika tidak ada bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) seperti yang disebutkan oleh pipimpinan Banser NU ataupun pihak Kepolisian.

Bendera yang dibakar diketahui adalah bender Ar Royah, bendera Nabi Muhammad SAW.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan ini bersalah?, ‘iya ustaz’. Dan Saya pancing, ‘Mustinya kamu gi=unting dulu bendera HTI-nya, baru kamu bakar yang itu, yang lain kamu lipat’. ‘Nggak ustaz, nggak ada benderaHTI’. Haaaa,” ujarnya.

MUI kecewa

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain kecewa dengan aparat Kepolisian.

Pasalnya, walau sejumlah pelaku  pembakaran bendera telah diketahui identitasnya, anggota Banser NU tersebut tidak satu pun ditanggap dan menjalani proses hukum.

Pihak Kepolisian justru tengah memburu dan hendak menangkap pelaku yang membawa bendera Ar Royah dalam perayaan Hari Santri Nasional di Lapangan Alun-Alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10/2018) lalu.

“Anggota Banser Bakar Bendera Tauhid. Saya Mau Tanya Banser Itu TNI Kah…? atau Polri Kah…? Kok Kayaknya Kuasa Sekali…? Polisi Tdk Tangkap Pembakar Bendera krn Tdk Ketemu Niat Jahat, terus Pembawa Bendera Ditangkap? Apa Niatnya Jahat Kah? Besok Saya Mau Bawa Bendera Itu!” ungkap Ustaz Zulkarnain lewat akun @ustadtengkuzul pada Jumat (26/10/2018).

Seperti diketahui sebelumnya, dikutuip dari Tribun Jabar, Polda Jawa Barat belum menetapkan dua pembakar bendera di upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut sebagai tersangka kasus penistaan agama karena membakar bendera berlafaz tauhid.

Direktur Ditreskrimu Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana menjelaskan, alasan belum ada penetapan tersangka terhadap pembakar benera karena pada penyelidikan tahap awal terhadap dua orang itu, polisi belum menemukan niat berbuat pidana.

“Niat dua anggota Banser ini membekar bendera karena mereka tahunya bahwa bendera itu adalah bendera HTI. Dalam rapat persiapan upacara peringatan HSN, sudah disepakati bahwa bendera yang boleh dibawa hanya bendera merah putih. Namun faktanya, ada soerang pria yang membawa benderatersebut,” ujar Umar di Mapolda Jabar, Rabu (24/10/2018).

“Si pembakar bendera masih saksi, karena pemeriksaan pada mereka, belum ditemukan mens rea atau niat jahat membakar bendera itu dilandasi kebencian pada yang tertulis di bendera. (untuk penistaan agama). Niat mereka membakar bendera itu karena mereka tahu bendera itu bendera HTI, ormas yang dilarang dan sudah dibubarkan pemerintah, tidak ada niat lain,” ujar Umar.

Lantas, siapa yang bisa dijerat pidana dalam kasus itu? Umar menjelaskan, ada kemungkinan polisi menerapkan Pasal 174 KUH Pidana tentang menganggu rapat umum yang tidak terlarang.

Untuk menerapkan pasal itu, polisi harus terlebih dulu mengamankan dan memeriksa si pembawa bendera. (dwi)/ http://wartakota.tribunnews.com/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 8.295 kali, 1 untuk hari ini)