Bantahan untuk Imam Besar Masjid Istiqlal

Imam Besar Masjid Istiqlal Tidak Meyakini Islam? Dalam Islam, Wabah Penyakit Itu Azab untuk Orang Kafir dan Pelaku Dosa Besar, tapi Rahmat bagi Mukmin

Inilah berita dan bantahan untuk Imam Besar Masjid Istiqlal yang menyiarkan agar wabah virus corona jangan dianggap sebagai azab. Padahal dalam hadits shahih, wabah itu adalah azab bagi orang kafir dan rahmat bagi kaum mukminin.

Silakam simak berita ini dan di bagian bawah ada kajian, yang sekaligus untuk membantah Nasaruddin Umar yang tampaknya menjerumuskan Umat Islam seperti biasanya, menampakkan diri sebagai tokoh yang tidak yakin terhadap Tauhid Islam, hingga menyamakan Asaamul Husna dengan Trinitas segala. Bahkan ia memelopori salam oplosan (salam Islam diteruskan dengan salam-salam agama2 lain termasuk salam agama Hindu, yang itu menurut Islam bisa mengakibatkan murtad dan musyrik. Kalau konsekuen, hendaknya Nasaruddin Umar sesekali ikut acara pesta wong Hindu India yakni minum kencing sapi dan mandi pakai tai sapi untuk mencegah virus corona. Toh virus corona sudah dianggap bukan azab, sedang salam Hindu sudah dia sebarkan pula.

***

Imam Besar Masjid Istiqlal: Virus Corona Bukan Azab!

Agung Sandy Lesmana | Ummi Hadyah Saleh

Jum’at, 13 Maret 2020 | 12:45 WIB


Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, Ph.D, angkat bicara soal vaksin dan imunisasi dalam hukum Islam. (Suara.com/Risna Halidi)

“Azab sudah tidak ada lagi, yang ada hanya musibah. Kalau azab hanya menimpa orang kafir, tidak menimpa orang beriman…”

Suara.com – Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menegaskan virus Covid-19 (Corona) bukanlah sebuah azab yang diberikan Allah SWT. Ia meminta masyarakat tidak mempolitisasi kasus virus Corona di Indonesia.

“Yang ingin saya garisbawahi bahwa virus ini tidak ada kaitannya dengan kebijakan yang, ya jangan dipolisitir lah,” ujar Nasaruddin di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (14/3/2020).

Pernyataan Nasaruddin merespons bahwa virus corona dianggap azab yang diberikan Allah SWT.

Menurutnya, di dalam hadist, disebutkan bahwa tidak ada lagi azab setelah doa Nabi Muhammad SAW dikabulkan. Namun berdasarkan Alquran, yang ada hanyalah musibah dan bala, bukanlah azab.

“Saya ingin mengatakan bahwa dalam hadist Nabi, azab sudah tidak ada lagi setelah doa Rasulullah dikabulkan. Yang muncul nanti musibah dan bala. Dalam Al Quran ada musibah dan ada bala. Dalam Alquran ada musibah, ada bala, ada azab,” kata dia.

“Azab sudah tidak ada lagi, yang ada hanya musibah. Kalau azab hanya menimpa orang kafir, tidak menimpa orang beriman. Tapi kalau musibah, dua-duanya kena, siapa yang lengah, kena. Sama dengan bala,” sambungnya.

Karena itu Nasaruddin meminta masyarakat untuk tidak menanggap virus corona sebagai azab.

“Karena itu kita jangan anggap ini (Corona) adalah azab. Definisi azab dalam Alquran diciptakan kepada umat terdahulu. Doa Rasulullah inilah yang kita bersyukur kepada Nabi, tidak akan ditimpakan azab lagi kepada umat. Ini ada hadisnya,” katanya./ https://www.suara.com

***

Berkut ini kajian hadits, sekaligus untuk membantah Nasaruddin Umar Imam Bear Masjid Istiqlal, agar Umat Islam tidak terjerumus oleh penyesatannya.

***

Wabah Penyakit adalah Azab bagi Orang Kafir dan yang Berdosa Besar, tapi Rahmat bagi Orang Mukmin

Pandemi koronavirus 2019–2020


Peta persebaran kasus COVID-19 di seluruh dunia:

  1000+ Kasus terkonfirmasi

  100-999 Kasus terkonfirmasi

  10-99 Kasus terkonfirmasi

  1-9 Kasus terkonfirmasi

Penyakit

Penyakit koronavirus 2019 (COVID-19)

Galur Virus

SARS-CoV-2

Lokasi

Seluruh dunia

Asal

WuhanHubei, Republik Rakyat Tiongkok

Kasus terkonfirmasi

169.415

Kasus pulih

77.436

Kematian

6.515

Sumber: id.wikipedia.org

 

Inilah penjelasannya.

***

Pahala Orang Mukmin yang Sabar Menghadapi Wabah Penyakit

(Kajian Hadis Shahih Bukhari Nomor 5734)

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.
  •  

Wabah penyakit yang menyebar di suatu wilayah tertentu membuat khawatir para penduduknya. Wabah penyakit ini terkadang mematikan. Oleh karena itu, orang yang bersabar menghadapi wabah penyakit, dan sampai meninggal itu digolongkan sebagai orang yang mati syahid.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa beliau pernah bertanya pada Rasulullah mengenai wabah penyakit atau tho’un. Rasulullah saw. memberi isyarat demikian:

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ» تَابَعَهُ النَّضْرُ، عَنْ دَاوُدَ

Artinya:

(tho’un) itu azab yang Allah timpakan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya rahmat bagi mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Hadis ini diperkuat riwayat al-Nadhr dari Daud (HR Bukhari). (Tafsir Surah Yasin Ayat 18-19: Mengaitkan Musibah dengan Kesialan Bukan Ajaran Islam)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang berpesan, “Wabah penyakit itu di antaranya disebabkan kemaksiatan yang merajalela” (HR Ibnu Majah)*. Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi demikian,

شعب الإيمان (5/ 22)

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ

“Kemaksiatan tidak akan tampak di suatu masyarakat sama sekali, sampai mereka sudah terang-terangan melakukan kemaksiatan itu, maka menimpa mereka wabah penyakit dan kelaparan yang tidak pernah terjadi sebelumnya” (HR Baihaqi).

*[tambahan dari redaksi NM: Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhuma menyampaikan sabda Rasulullah,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262), red NM].

Apakah orang yang mukmin atau muslim yang terdampak dari kemaksiatan yang menyebar di suatu daerah itu termasuk yang mendapatkan pahala mati syahid? Jawabannya iya. Ini adalah bentuk rahmat Allah untuk umat Nabi Muhammad yang beriman.

Namun, sebagaimana hadis di atas, orang yang mendapatkan pahala setara orang yang mati syahid itu harus bersabar, tidak mengeluh, dan pasrah pada ketentuan Allah saat wabah penyakit tersebut menimpanya.

Menurut Imam Ibnu Hajar terdapat tiga gambaran mengenai orang yang terkena wabah penyakit ini berkaitan dengan pahala mati syahid. Pertama, orang yang terkena wabah penyakit, kemudian dia meninggal itu otomatis tergolong mati syahid. Kedua, orang yang terkena wabah penyakit, namun tidak sampai meninggal, ia mendapatkan pahala setara orang mati syahid. Ketiga, orang yang di daerahnya tidak terdapat wabah penyakit, namun ia tertular wabah penyakit dari orang lain, ini pun bila meninggal akan mendapatkan pahala mati syahid. Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis

 Ibnu Kharish

 –

BincangSyariah.Com – 28 Januari 2020

 

(nahimunkar.org)

 

 

(Dibaca 689 kali, 1 untuk hari ini)