▶Cerita Ust Yusuf Mansur Saat Didatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam acara Damai Indonesiaku Spesial Maulid

▶ #Bantahan _ Bisakah Bertemu Rasulullah Dalam Kondisi Terjaga? – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📚Berikutnya Dagelan Pak Yusuf_ Kok yg ndengerin percaya ya yg begini……⁉👇
=====================

#Allahul_Mustaan..Perhatikan dari mana kita mengambil Ilmu (👉https://almanhaj.or.id/2602-jangan-mengambil-ilmu-dari-ahli…)
, Ambillah ilmu dari ulama/Ustadz yang aqidahnya lurus yang menyampaikan Kalamullah dan qola’rosul sabda nabi kita tercinta yang shahih bukan cerita subhat serta dusta(andaikata benar maka itupun adalah jebakan iblis dan bala tentaranya) yang merusak aqidah ummat..

📚☝Sebesar-besarnya kedustaan, melihat Rasulullah dalam keadaan terjaga (sadar).

⚠Jika ada seseorang yang mengklaim (baca : mengaku) melihat Rasulullah dalam keadaan terjaga (baca : dalam kondisi sadar), maka ketahuilah bahwa dia telah berdusta, hal ini dapat diketahui dari beberapa sisi, diantaranya :

➡[1]. Tatkala dia mengklaim seperti itu, akan ada sebuah pertanyaan besar yang mengganjal yaitu :

“Apakah Rasulullah yang ia lihat (hadir) pada saat itu dalam bentuk ruh atau ruh bersama jasad (bangkit dari kubur)?”

✔Jika dikatakan dalam bentuk ruh, maka sungguh ia telah berdusta karena Allah عز وجل berfirman :

Allah memegang jiwa saat ia mati dan memegang pula jiwa yang belum mati (saat tidurnya), maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar [39] : 42)

📖 Di dalam ayat yang mulia ini, Allah سبحانه و تعالىٰ telah mengkhabarkan kepada kita bahwasanya ruh yang telah meninggal berada di tangan-Nya dengan menahan (baca : memisahkan) dari jasadnya.

💦Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah bersabda,

“Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah akan mengembalikan ruhku hingga aku menjawab salamnya.” (Hasan, HR. Abu Dawud, no. 2041, Shahiih Sunan Abi Dawud, I/570)

📖 Di dalam hadits ini, Rasulullah telah mengkhabarkan bahwa Allah سبحانه و تعالىٰ akan mengembalikan ruh beliau hanya untuk menjawab salam, tidak dikatakan untuk jalan-jalan atau mendatangi seorang pun dari kalangan ummat beliau, dan itu terbukti tatkala di hari Kiamat Rasulullah sendiri tidak mengetahui keadaan ummat beliau, dimana ada sebagian ummat beliau yang terusir dari telaga Rasulullah karena berbuat bid’ah.

Rasulullah bersabda,
“Aku akan mendahului kalian di al-Haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-Haudh, mereka dijauhkan (diusir) dariku.”
Aku lantas berkata,
“Wahai Rabbku, mereka adalah ummatku.”
Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
“Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.”
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 6576, 7049, Muslim, no. 2297, dan Ahmad, no. 3457)

▪Dalam lafazh yang lain disebutkan :

“Wahai Rabbku, sungguh mereka bagian dari pengikutku.”

Lalu Allah عز وجل berfirman :

“Sungguh, engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu.”

Kemudian Rasulullah bersabda,

“Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti (merubah) ajaranku sepeninggalku.” (Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 7050, dan Muslim, no. 2290, 2291)

✒Al-‘Aini رحمه الله تعالىٰ berkata,

“Hadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai ummatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi ﷺ, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap orang yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak di ridhai Allah سبحانه و تعالىٰ itu tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti ajaran agama dan mengada-ada.” (Umdatul Qaari, VI/10)

📌 Ini adalah setegas-tegasnya dalil bahwa beliau tidak mengetahui keadaan ummatnya setelah beliau wafat (baca : meninggal dunia) sebab jikalau ruh beliau kembali untuk berjalan-jalan niscaya akan dengan mudah beliau ketahui keadaan ummatnya, namun justru nash tersebut membantah argumentasi tersebut.

✔Kemudian, jika dikatakan Rasulullah hadir dalam bentuk ruh dan jasad maka ini adalah sebesar-besarnya kedustaan, karena nash hadits begitu jelas dan gamblang bahwasanya Rasulullah adalah orang yang pertama kali dibangkitkan pada hari Kiamat yang maknanya tidak mungkin beliau bangkit dari kubur dalam keadaan ruh bersama jasad beliau.

💦Rasulullah bersabda,

“Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari Kiamat, orang yang pertama kali keluar (dibangkitkan) dari kubur.” (Shahiih, HR. Muslim, no. 2278, Abu Dawud, no. 4673, dan Ibnu Majah, no. 4308)

☝Jadi Rasulullah tidak akan bangkit (baca : keluar dari kubur), kecuali setelah hari Kiamat dan beliau lah orang yang pertama kali dibangkitkan.

➡[2]. Jika dia mengklaim melihat Rasulullah dalam keadaan terjaga (baca : sadar), maka dapatlah dipastikan ia sebagai Shahabat Nabi , sebab para ‘ulamaa telah mendefinisikan Shahabat Nabi adalah mereka yang pernah bertemu Nabi dalam keadaan beriman dan wafat di atas Islam sebagaimana penjelasan Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله تعالىٰ.

Beliau رحمه الله تعالىٰ berkata,

“Siapa saja yang menyertai Rasulullah setahun, sebulan, sehari, sesaat atau melihat beliau (dalam keadaan beriman) maka ia termasuk Shahabat Nabi .” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya’la dalam ath-Thabaqaat, I/243, Al-Khathib al-Baghdaadi dalam al-Kifaayah, hal. 51, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu’ Fataawaa, XX/298)

📙al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani رحمه الله تعالىٰ berkata,

“Pendapat paling benar yang aku pegang ialah bahwa Shahabat Nabi Muhammad adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi dalam keadaan beriman kepada beliau dan meninggal di atas Islam. Masuk juga dalam pengertian ini setiap orang (beriman) yang bertemu dengan beliau baik lama maupun sebentar dalam menyertai beliau , yang meriwayatkan hadits dari beliau maupun yang tidak, yang berperang bersama beliau maupun tidak, yang pernah sekali melihat beliau meskipun tidak ikut duduk bersama, dan yang tidak pernah melihat beliau karena suatu penghalang seperti orang yang buta.” (Al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah, I/7)

Jika klaim mereka yang melihat Rasulullah dalam keadaan terjaga (baca : sadar) bisa diterima maka akan begitu banyak ‘Shahabat-Shahabat’ baru utamanya dari Indonesia, dan yang melihat ‘Shahabat-Shahabat’ ini akan menjadi ‘Tabi’in-Tabi’in’ baru, jikalau demikian apalah faidahnya hadits ini, sebab jikalau kita menerima klaim tersebut para ‘Shahabat dan Tabi’in’ baru akan selalu ada sampai hari Kiamat.

💦Dari Abu Musa al-Asy’ariy رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah bersabda,

“Bintang-bintang adalah pemberi rasa aman bagi langit. Maka, apabila bintang-bintang itu telah pergi, niscaya langit akan mengalami apa yang telah dijanjikan kepadanya. Aku adalah pemberi rasa aman bagi para Shahabatku. Maka, apabila aku telah pergi, niscaya akan datang kepada para Shahabatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka. Dan semua Shahabatku adalah pemberi rasa aman bagi ummatku. Maka, apabila semua Shahabatku telah pergi, niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka.” (Shahiih, HR. Muslim, no. 2531)

📗Begitu pun perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله تعالىٰ عنه untuk meneladani Shahabat Nabi ﷺ.

Beliau رضي الله تعالىٰ عنه berkata,

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah . Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling lurus ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, kesemak mereka berada di jalan yang lurus.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, IV/126 – 127, Abu Dawud, no. 4607, at-Tirmidzi, no. 2676, Ibnu Majah, no. 42, ad-Darimi, I/44, al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, I/205, dan al-Hakim, I/95, Irwaa-ul Ghaliil, no. 2455)

💭💡 Jika ada ‘Shahabat’ baru -sementara hakikatnya tidak-, niscaya akan hancur agama ini, sebab bagaimana mungkin kita meneladani ‘Shahabat’ baru sebagaimana anjuran ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله تعالىٰ عنه diatas.

Ketahuilah bahwasanya melihat Rasulullah dalam keadaan terjaga (baca : sadar) adalah sebuah kemustahilan (baca : kedustaan), adapun dalam mimpi mungkin saja terjadi namun itu pun harus dicek dan diteliti akan kebenarannya dari ciri-ciri yang ada di dalam mimpi tersebut apakah itu seperti dan sesuai dengan ciri-ciri Rasulullah yang telah disebutkan dalam hadits ataukah sebaliknya. Memang syaithan tidak bisa menyerupai Rasulullah namun syaithan bisa mengaku-aku sebagai Rasulullah di dalam mimpi seorang hamba.

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq..

✒ Abu ‘Aisyah Aziz Arief_ [Copas&PostedBy Fp Ittiba’ Rasulullah jazaakumullahu khairan].

https://web.facebook.com/abu.abdillah.925602/videos/173945476736590/

https://web.facebook.com/abu.abdillah.925602/videos/174047153393089/

Via Fb Abu Abdillah

(nahimunkar.org)

(Dibaca 4.807 kali, 1 untuk hari ini)